MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
29


__ADS_3

Aruna mengakhiri panggilan dan langsung melemparkan ponselnya ke ranjang setelah mendengar suara Adam. Suara yang saat ini tidak ingin Ia dengar.


"Jadi dia nyariin aku?" Gumam Aruna merasakan jantungnya masih berdegup kencang.


Disatu sisi Aruna masih mencintai Adam namun disisi lain, Aruna sangat sakit melihat Adam tega menduakannya padahal hubungan mereka baru satu minggu.


"Bener kata Kak Bian, aku nggak perlu ngampus dulu biar nggak ketemu sama dia, tapi sampai kapan?" Keluh Aruna tertunduk lesu.


Sementara Adam sepertinya tidak menyerah, Aruna sudah memblokir nomornya, juga tidak ingin bertemu dengannya kini Adam tampak pergi kerumah Aruna agar bisa bertemu Aruna dan kembali meyakinkan Aruna, tidak peduli jika Bian akan menghajarnya lagi yang terpenting Adam ingin membuat Aruna kembali hingga Ia bisa menyelesaikan misinya mendekati Aruna.


"Saya nggak dibukain gerbang Mang?" Tanya Adam keluar dari mobil dan mendekati pos satpam didepan rumah Aruna.


"Pacarnya Non Runa ya?" Tanya Mang Asep, satpam penjaga gerbang dirumah Aruna.


Adam mengangguk,


"Maaf, saya sudah diminta Den Bian untuk tidak membiarkan kamu masuk kesini." Kata Asep dengan berani.


"Tapi Om David, Papanya Aruna udah ngijinin gue masuk, jadi apa masalahnya? Lo mau dipecat?" Sentak Adam terlihat marah.


"Sekarang Pak David lagi nggak ada dirumah dan yang ada dirumah hanya Den Bian jadi saya menuruti perintah Den Bian!"


"Sial, belagu banget Lo! Gue aduin sama Om David tahu rasa Lo!" Sentak Adam.


Asep malah tertawa, "Mangga atuh Den, saya tidak takut!"


Adam mengepalkan tangannya, rasanya Ia ingin menghajar wajah Asep hingga babak belur karena tak mengizinkan dirinya masuk ke rumah.


"Sial, gue harus gimana sekarang!" Ucap Adam terlihat frustasi, kembali memasuki mobilnya dan segera meninggalkan rumah Aruna.


Sore hari saat Aruna sedang menontin film sambil ngemil buah, Mbok Inem datang mendekatinya,


"Tadi kata Mang Asep, Pacar Non Runa kesini."


"Adam maksudnya?"


"Iyalah Non, siapa lagi."


"Udah bukan pacar Runa lagi Mbok, aku udah putus."


Mbok Inem memukul jidatnya, "Iya Non, lupa kalau kemarin udah dikasih tahu sama Den Bian!"


"Trus kenapa nggak masuk Mbok?" Tanya Aruna.


"Langsung di usir sama Mang Asep Non. Perintah dari Den Bian."


Aruna tersenyum, entah mengapa Ia mulai menyukai kekhawatiran dan keposesifan Bian.


"Bagus deh Mbok, Runa juga males ketemu sama Dia."


Mbok Inem mengangguk setuju, "Bener banget Non, lagian anaknya juga nggak sopan banget, bukan cowok baik baik." Tambah Mbok Inem membuat Aruna tak menyesali keputusannya sudah memutuskan Adam.


"RUNAAA..." teriak seseorang dari luar rumah sambil mengedor gedor pintu rumah.


"Biar Mbok yang buka Non." Kata Mbok Inem langsung berlari ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Neng Nysa." Sapa Mbok Inem setelah membuka pintu dan melihat Nysa berdiri didepan pintu.


"Aruna mana Mbok?"


Belum sempat Mbok Inem menjawab, Nysa sudah menyerobot masuk begitu saja.


"Eh monyet, katanya sakit tapi Lo kok nggak ada pucet pucetnya malah ngemil begini!" Tanya Nysa langsung ikut duduk disamping Aruna dan langsung ikut nyemil buah Aruna.


"Kan gue udah bilang, gue sakit hati jadi tetep bisa makan soalnya perut gue nggak sakit." Balas Aruna santai membuat Nysa terheran.


"Non Nysa mau minum apa nih?" Tawar Mbok Inem pada Nysa.


"Apa aja deh Mbok asal jangan air kran aja."


Mbok Inem tergelak, Ia mengangguk dan segera ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Harusnya air comberan aja." Sentil Aruna.


"Gila, gue nggak minum air comberan aja mulut gue udah bau gimana kalau minum air comberan, bisa busuk mulut gue!"


Kini giliran Aruna yang tergelak,


"Lo sakit hati sama siapa?" Tanya Nysa masih penasaran.


"Sama Abang Elo!" Balas Aruna jujur karena semua sudah selesai jadi tidak ada yang harus ditutupi lagi.


"Abang gue? Bang Adam?"


Aruna mengangguk membuat Nysa terkejut, "Seriusan Lo? Emang pacarnya sekarang siapa? Kok Lo bisa sakit hati?" Tanya Nysa yang masuh belum mengerti maksud dari ucapan Aruna.


Aruna akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya sejak awal hingga akhir membuat Nysa sangat terkejut, tak percaya jika kakak sepupunya berbuat seperti itu pada sahabatnya.


"Udahlah Nys, nggak usah dibahas lagi, lagian udah berlalu juga!"


"Ya tetep aja gue nggak terima Lo digituin sama Mas Adam."


"Tapi gue beneran udah nggak apa apa Nysa!"


"Pantesan aja dua hari ini dia nyariin elo, ternyata."


Aruna hanya tersenyum,


"Sorry baru cerita ke elo sekarang. Gue sempet dilarang sama Kak Adam."


Nysa berdecak, "Ya itu biar kedoknya nggak ketahuan aja lihat aja nanti kalau ketemu mau gue gecek gecek sampai habis." Kesal Aruna.


"Udahlah jangan dipepanjang lagi!"


Keduanya asyik bercerita hingga tak sadar sudah malam hati, Bian pun baru saja pulang.


"Eh kak Bian." Sapa Nysa masih ramah meskipun cintanya ditolak oleh Bian.


Bian hanya mengangguk lalu pergi ke atas untuk mandi.


"Gila abang Lo makin ganteng aja. Kalau pakai kemeja kayak gitu duh deh damagenya nggak ada yang ngalahin!" Puji Nysa.

__ADS_1


"Tapi dia masih ngeselin." Adu Aruna.


"Jangan jangan dia suka sama Lo Run!"


Aruna menoyor dahi Nysa, "Gila Lo! Abang gue tuh."


Kini Nysa, Aruna dan Bian makan malam bersama di meja makan.


Aruna tak henti hentinya mengambilkan Nysa lauk hingga sepiring penuh.


"Gila, gue bisa kekenyang" keluh Nysa.


"Nggak mau tahu, harus habis!"


"Nyiksa gue Lo!"


Bian berdecak, "kalian mau makan apa berantem!"


Aruna dan Nysa sampai menundukan kepala mereka karena takut.


Ketiganya makan malam dengan tenang.


Selesai makan malam, Bian mengantar Nysa pulang kerumah, tentu saja Aruna ikut bersama Bian mengantar Nysa sampai rumah.


"Tadi kak Adam kerumah!" Adu Aruna saat sudah perjalanan pulang kerumah.


"Trus?"


"Kata Mbok Inem di usir sama Mang Asep."


Bian tersenyum puas, "Bagus, dengan gitu dia nggak akan ganggu Lo lagi!"


"Tapi kak, Sampai kapan aku libur kuliahnya?"


"Ya sampai dia nggak ngejar Lo."


"Gila, bisa di Do kalau lama lama nggak masuk!" Protes Aruna.


"Ya udah kalau Lo nekat masuk, paling disamperin trus dia minta maaf dan akhirnya bikin Lo luluh lagi!"


"Enggak semudah itu lah kak."


"Ck, Lo aja bucin nya kebangetan!"


"Kenapa kalau bucin sama orang? Kakak cemburu?" Goda Aruna.


Citttt.. Bian menghentikan mobilnya mendadak membuat dahi Aruna terbentur dashboard.


"Lo bilang gue apa?" Bian seolah kesal dan tak terima, Ia mengelitiki Aruna hingga Aruna cekikikan merasa geli.


"Ampun kak, ampun!" Ucap Aruna masih cekikikan.


Bian tak peduli, terus mengelitiki Aruna hingga tak sadar telapak tangannya menyentuh salah satu gunung kembar Aruna.


"KAK BIANNNN!"

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like vote dan komeenn


__ADS_2