MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
49


__ADS_3

Anneta baru saja membuka pintu kamar Bian dan terkejut saat melihat Bian dan Aruna berada disofa. Mereka terlihat sangat dekat, bahkan Bian merangkul Aruna.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Anneta menatap curiga ke arah Bian dan Aruna karena keduanya tidak sedekat ini sebelumnya.


"Kak Bian Ma, nakal. Masa Runa dijitak." Adu Aruna berlari ke arah Anneta dan bersembunyi dibelakang punggung Anneta seperti anak kecil.


"Ck, Bian kamu itu ya, masih saja usil sama Aruna!" Kata Anneta yang akhirnya duduk disamping Bian yang terlihat sedikit gugup. Sementara dibelakangnya, Aruna menghela nafas lega karena mereka tidak ketahuan oleh sang Mama.


"Mama kok udah rapi, mau kemana?" Tanya Bian melihat Anneta sudah berganti baju dan sangat rapi.


"Mau arisan, kamu sama Aruna temenin Mama." Ajak Anneta.


"Enggak!" Bian tentu saja menolak seperti biasa. Sejak kecil Bian memang enggan ikut arisan berkumpul bersama teman teman mamanya.


"Ck, nggak boleh nolak. Anggap saja ini permintaan dari adik kamu yang masih ada diperut." Kata Anneta membuat Bian memutar bola matanya malas.


"Kak Bian katanya kalau nolak permintaan ibu hamil bisa bikin anaknya ileran, kak Bian mau punya adik ileran?" Tambah Aruna membuat Bian semakin sebal.


"Bener kata Aruna, kamu nggak mau kan calon adik kamu ini ileran?"


Bian menghela nafas panjang, tanpa mengatakan apapun Ia berdiri untuk bersiap ikut membuat Anneta dan Aruna tersenyum senang karena berhasil membuat Bian ikut.


Ketiganya memasuki mobil dan Bian yang menyetir mobilnya.


"Bian nunggu di mobil aja ya Ma." Kata Bian saat ketiganya sampai disebuah rumah mewah milik salah satu teman Mamanya.


"Ikut masuk ke dalam." Ajak Anneta menunggu Bian keluar lebih dulu.


"Nggak mau, Bian mau disini aja." Kekeuh Bian.


"Ma, anaknya Mama yang ganteng itu masih suka ikut nggak? Runa mau ketemu nih." Kata Runa membuat mata Bian melotot ke arah Runa.


"Anaknya tante Laras? Kayaknya dia ikut deh." Balas Anneta.


"Bian ikut masuk!" Kata Bian lalu keluar dari mobil membuat Anneta keheranan karena Bian mudah sekali berubah pikiran.


Aruna hanya bisa tersenyum geli melihat Bian yang begitu penurut.


"Wah ini anaknya yang baru pulang dari luar negeri ya jeung, ganteng amat." Puji salah satu teman Anneta saat Bian menyalaminya.


"Iya nih, udah ganteng, pinter lagi wah kayaknya cocok kalau dijodohin sama putriku," kata salah satu teman Anneta lagi yang langsung membuat Bian malas. Salah satu alasan yang membuat Bian tidak mau ikut acara orangtua karena mereka selalu menjodohkan dengan anak anaknya seperti saat ini.


"Kalau saya terserah anaknya saja." Balas Anneta.

__ADS_1


"Maaf tante, saya sudah punya calon istri." Ungkap Bian yang membuat semua orang terkejut termasuk Anneta.


Aruna yang mendengar Bian mengatakan itu mendadak kesal sendiri dan memilih keluar.


Aruna duduk ditaman belakang, Ia lebih senang berada disini ketimbang mendengar celotehan teman mamanya yang ingin menjodohkan Bian dengan putri mereka, membuat Aruna kesal dan cemburu.


"Dicariin ternyata ngumpet disini!" Bian menatap kesal ke arahnya.


"Ngapain kesini? Bukannya didalam seneng bisa dijodohin sama anaknya temen Mama juga bisa pamer kalau punya calon istri!" Aruna terdengar kesal.


Bian tertawa geli, "Cemburu nih?"


"Enggak, enggak cemburu!"


"Kan sejak awal kamu udah tahu kalau punya calon istri." Kata Bian.


Aruna semakin kesal, Ia memukuli lengan Bian, "Kalau udah punya calon istri ngapain Kak Bian cium cium Runa!"


Bian semakin terkekeh, Ia pasrah saja menerima pukulan Aruna yang tidak terasa sakit justru terasa menyenangkan.


"Eh ada Runa." Sapa seseorang dari belakang yang membuat Aruan dan Bian menengok ke belakang.


Bian menatap ke arah pria muda tampan yang menyapa adiknya itu ralat, kekasihnya itu.


"Jadi ini Bian kakak kamu yang kuliah diluar negeri itu?"


Aruna mengangguk.


Rama mengulurkan tangannya pada Bian, "Rama kak."


"Bian," balas Bian ikut mengulurkan tangannya, "jangan panggil gue kak. Kita seumuran." Kata Bian dengan suara dingin yang akhirnya diangguki Rama.


"Eh Run, didalam ada kue mochi kesukaan kamu, nggak nyobain?" Kata Rama yang seolah tahu kesukaan Aruna membuat Bian semakin panas.


"Boleh deh mas." Kata Aruna mengikuti langkah Rama tanpa memperdulikan Bian yang masih ada disana karena Aruna memang sedikit kesal dengan Bian.


Bian melotot ke arah Aruna yang sama sekali tidak mengubrisnya.


"Bisa bisanya dia pergi tanpa izin dari ku!" Kesal Bian berdiri dan mengikuti langkah Aruna yang sudah menjauh.


Aruna dan Rama duduk disebuah sofa sambil membawa beberapa cemilan juga minuman.


"Kakakmu terlihat sangat posesif padamu." Kata Rama menunjuk Bian yang berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


"Ya, dia memang seperti itu." Balas Aruna acuh dan lebih memilih makan kue mochi kesukaannya.


Bian menyeret salah satu kursi lalu duduk diantara Aruna dan Rama.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" Tanya Rama pada Aruna seolah tak mengubris Bian yang duduk diantara mereka.


"Lancar mas."


"Lalu dengan pria yang kau sukai itu?" Tanya Rama lagi membuat Aruna hampir tersedak karena Rama menanyakan saat ada Bian.


"Eum, aku sempat berpacaran tapi hanya beberapa minggu karena dia selingkuh." Akui Aruna yang memang pernah menceritakan tentang Adam pada Rama. Bukan tanpa sebab karena dulu Rama pernah menyatakan cinta pada Aruna namun Aruna menolak dengan alasan sudah menyukai seseorang yang tak lain adalah Adam.


"Sayang sekali, gadis secantik dirimu harus berakhir pada toxic relationship." Kata Rama.


Aruna menanggapi ucapan Rama dengan senyuman. Ia tak ingin lagi menambah amarah Bian jika obrolan mereka dilanjutkan apalagi Bian sudah menatapnya tajam sedari tadi.


Cukup lama hingga akhirnya waktu yang ditunggu mereka datang. Waktu mereka untuk pulang karena acara arisan sudah selesai.


"Gimana seneng kan ikut Mama arisan? Tanya Anneta saat sudah berada didalam mobil.


"Nggak!"


Aruna hanya menunduk, tahu jika Bian sedang marah dan kesal.


"Ck, karena nggak ada ceweknya kan jadi kamu bosen." Tebak Anneta yang tak dijawab oleh Bian.


"Run, tante Laras pengen kamu main kesana, katanya mau diajak bikin kue soalnya Rama suka banget makan kue." Kata Anneta, Aruna hanya tersenyum kikkuk apalagi saat Bian menatapnya tajam dari arah spion membuat Aruna sama sekali tak berkutik.


Sampai dirumah, Aruna buru buru masuk kamarnya, tak ingin lagi melihat Bian yang sedang marah.


"Gila, kak Bian serem banget kalau lagi cemburu." Ucap Aruna sambil memeganggi dadanya yang berdegup kencang.


Aruna meletakan tas selempangnya, mulai membuka kancing bajunya hingga terlepas sampai bawah karena Ia ingin mandi.


Aruna mengambil handuk dan bersiap memasuki kamar mandi hingga Ia dikejutkan oleh pintu yang terbuka kasar.


"Ka-" belum sempat Aruna berteriak, Bian sudah berlari untuk membegap mulut Aruna.


"Shitt!" Umpat Bian saat melihat kancing baju Aruna terlepas, terlihat bra yang menutupi gunung kembar Aruna juga dada yang putih mulus.


Bian melepaskan Aruna dan segera berlari keluar.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2