MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
118


__ADS_3

Sejak pertemuaanya dengan Jessi, Bian lebih banyak diam dan melamun. Sadam yang sedari tadi menemani Bian cukup paham dengan apa yang Bian rasakan.


Jessi adalah masa lalu Bian, tentu saja Bian shock melihat Jessi setelah sekian lama mereka tak bersama.


"Apa Bapak berencana memindahkan kampus Nona Aruna?" tanya Sadam akhirnya tak tahan hanya diam saja sedari tadi.


"Aku tidak tahu, jika ku pindahkan sekarang mungkin Aruna akan curiga, aku tidak mau Aruna mengetahui jika Jessi itu wanita masa lalu ku."


"Mungkin Nona akan mengerti Pak."


Bian berdecak, "Dia tahu aku memiliki wanita masa lalu saja langsung marah apalagi jika mengetahui jika wanita itu Jessi, aku benar benar tidak bisa membayangkan."


Sadam tersenyum geli, mengingat semua wanita itu sama, sama sama akan marah dan posesif jika mengetahui masa lalu pria yang dicintainya. Beruntung Keisha tidak seperti itu karena masa lalu Keisha lebih parah dari dirinya.


"Kau mengejek ku?" Bian menatap Sadam kesal karena menertawakannya.


"Tidak pak, mana berani saya menertawakan Bapak."


Bian kembali berdecak, "Aku masih tak menyangka Jessi nekat pindah ke indonesia."


"Dia sangat terobsesi padamu pak jadi dia akan selalu mengikutimu."


"Tapi seharusnya dia sadar, aku sudah tidak mencintainya, aku bahkan sudah menikah."


"Tapi dia masih mencintai Bapak jadi-"


"Sudahlah, bicara denganmu malah membuatku semakin pusing!" omel Bian.


Sadam kembali tersenyum, "Jadi apa kita harus mengurusnya pak?"


"Biarkan saja, cukup perhatikan apa yang dia lakukan jika terlihat membahayakan langsung bawa dia pergi dari sini." perintah Bian.


"Baik pak."


Semetara itu, jam kampus Aruna sudah berakhir, hukumannya pun juga sudah selesai waktunya Ia pulang sekarang. Ia segera memasuki mobilnya pulang kerumah istirahat sebentar sebelum sore nanti Ia pergi menjemput Bian.


Dikamarnya Aruna melamun memikirkan ucapan Keisha.


"Mungkinkah Miss Jessi adalah mantan kekasih Kak Bian?" tebak Aruna lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, mana mungkin ada kebetulan seperti ini." ucap Aruna lagi.


"Tapi mereka terlihat seumuran.." Aruna kembali menggelengkan kepalanya, "Sebaiknya nanti ku tanyakan pada Kak Bian saja."


Pintu kamar terbuka, Bik Siti asisten rumah tangga yang baru terlihat masuk ke kamar Aruna.


"Nona tidak makan siang?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Aku sudah makan di kampus."


"Apa malam ini Nona dan Tuan makan diluar lagi?" tanya Mbok Siti mengingat Aruna dan Bian memang jarang makan dirumah semenjak mereka menikah.

__ADS_1


"Mungkin iya Mbok, aku sedang malas makan diluar." ucap Aruna yang akhirnya diangguki oleh Mbok Siti.


Tepat pukul enam sore menjelang malam, Aruna bergegas menjemput Bian. Meskipun ada Mang Torik yang siap sedia mengantar jemput Bian namun Aruna kekeh ingin dirinya saja yang menjemput Bian.


"Kak Bian sudah menunggu lama?" tanya Aruna saat melihat Bian sudah berdiri didepan kantor.


"Tidak, aku baru saja keluar. kau pasti kelelahan, seharusnya kau minta mang Torik yang menjemput." kata Bian mengingat Aruna baru saja menerima hukuman dari Jessi.


"Aku lebih suka menjemputmu kak dari pada menunggu dirumah."


Aruna segera melajukan mobilnya,


"Maafkan aku sayang, aku ingin memberimu surprise tapi malah berakhir seperti itu." ucap Bian penuh penyesalan.


"Tidak apa kak, tapi lain kali jangan lakukan itu, aku merasa tidak enak dengan Keisha karena harus menuruti perintah suaminya malah berakhir ikut mendapatkan hukuman."


"Ya, mungkin lain kali aku akan melakukan ditempat lain." ucap Bian yang langsung diangguki Aruna.


Sampai dirumah, Aruna membantu Bian membersihkan diri lalu keduanya makan malam bersama.


"Enak.." ucap Bian saat merasakan sayur asem buatan Mbok siti.


"Syukurlah jika Tuan menyukai masakan saya." ucap Mbok Siti tersenyum lega.


Selesai makan malam, Bian dan Aruna segera ke atas untuk istirahat.


"Ada yang ingin ku tanyakan pada Kak Bian."


"Kak... Malah melamun!"


"Eh... Ada apa sayang?" tanya Bian pura pura terkejut.


"Kak Bian kenal sama Miss Jessi?"


"Miss Jessi?" Bian pura pura mengerutkan keningnya.


"Dosen bule ku yang tadi memarahi kita."


"Dasar wanita, kenapa dia begitu peka!" batin Bian.


"Tentu saja tidak." bohong Bian. "Maafkan aku sayang, aku terpaksa membohongimu." batin Bian lagi.


Aruna tertawa, "Aku memang gila kak, menganggap semua bule yang ada disini mantan kekasihmu."


Bian ikut tertawa namun tawanya sedikit kaku, "Mulai sekarang kita tutup lembaran masa lalu dan kita mulai kehidupan yang baru, jangan di ingat lagi setuju?"


Aruna mengangguk, "Baiklah kak, aku tidak akan mengungkit lagi."


"Bagus, aku haus bisakah ambilkan air minum?"

__ADS_1


Aruna mengangguk dan segera keluar dari kamarnya.


Dengan jari tertutup perban, Bian mencoba mendial nomor Sadam.


"Kenapa lama sekali angkatnya!" omel Bian saat panggilannya dijawab oleh Sadam.


"Ada apa pak? Ini sudah bukan jam kerja jadi Bapak tidak bisa menghubungi saya seenaknya." ucap Sadam begitu santai.


"Ohh jadi kau minta dipecat?"


"Tidak pak, tadi bukan suara saya. Ada apa Bapak mencari saya?" tanya Sadam langsung panik.


"Tentang Jessi jangan kau ceritakan pada istrimu, aku tidak ingin istrimu tahu lalu mengadu pada Aruna jika Jessi adalah mantan kekasihku, kau tahu lah bagaimana mulut wanita itu." ucap Bian.


"Siap pak, tenang saja pak semua aman terkendali."


"Bagus, matikan panggilan sekarang sebelum Istriku masuk kamar." kata Bian dan tak berapa lama panggilan berakhir.


"Aku sudah mendengar semuanya kak." Suara Aruna terdengar, Bian berbalik melihat Aruna berdiri didepan pintu sambil membawa segelas air.


"Sejak kapan kamu disana?" tanya Bian, wajahnya pucat karena melihat tatapan sendu Aruna.


"Kenapa Kak Bian harus membohongiku?"


Bian berdiri menghampiri Aruna namun Aruna berjalan menjauh.


"Inilah yang tidak ku inginkan, jika kau tahu pasti kau akan marah dan bersikap kekanakan jadi aku terpaksa membohongimu, maafkan aku sayang."


"Aku begitu kekanakan ya hingga mudahnya di bohongi?"


"Astaga sayang, tidak seperti itu. Ku mohon jangan salah paham!" ucap Bian.


"Baiklah jika aku kekanakan, seharusnya Kak Bian menikah saja dengan Jessi yang lebih dewasa dan tidak bersikap kekanakan!" ucap Aruna meletakan gelas di meja lalu keluar dari kamar Bian.


"Astaga sayang, bukan seperti itu maksudku." ucap Bian berlari mengejar Aruna namun sayang Aruna lebih dulu memasuki kamar dan menutup pintu.


"Sial aku tidak bisa membuka pintu." umpat Bian.


"Aargghhhhh!"


Bian terduduk didepan pintu kamar Aruna.


"Apa salahku? Itu hanya masa lalu, kenapa harus mengungkitnya? Kenapa dia harus seperti ini? Kenapa kenapa kenapaa..."


Bian berdiri, "Aruna, dengarkan aku. Jika kau tak keluar dalam lima menit, lihat saja aku tidak akan berbicara lagi denganmu!"


Tidak ada suara tanggapan dari Aruna, Bian menunggu hampir sepuluh menit dan Aruna tidak keluar,


"Baiklah, lihat saja aku tidak akan berbicara padamu lagi. Dasar istri posesif!" umpat Bian lalu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2