MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
67


__ADS_3

Tidak peduli berapa kali Dokter itu mengucapkan maaf hingga kembali bersimpuh, Bian masih ingin tetap memukuli dokter itu.


Aruna akhirnya menghentikan emosi Bian karena tak ingin keributan ini berlanjut.


Dan Anneta yang masih duduk diranjangnya tampak diam, menatap kosong ke depan.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi!" Ancam Bian.


"Ampun Tuan, ku mohon jangan lakukan itu." Pinta Dokter itu kembali menangis ketakutan.


Sangat sulit bagi dokter itu mencapai posisi ini mengingat Ia dulu hanyalah orang miskin yang mendapatkan beasiswa sekolah dokter.


"Ku mohon jangan lakukan itu Tuan, saya bisa apa tanpa pekerjaan ini. Saya masih memiliki adik adik yang harus saya sekolahkan." Ungkap Dokter itu sambil menangis.


"Sudah cukup Bian!" Teriak Anneta.


"Tapi Ma... dia sudah membuat mama seperti ini." Protes Bian masih tak terima.


"Bukan salahnya, tapi salah Papamu, dia hanya mengerjakan tugasnya. Seseorang datang meminta obat sudah pasti dia akan memberikannya karena dia seorang dokter." Tambah Anneta masih dengan pandangan kosong.


"Bukan salahnya, tapi memang Papa mu yang tidak menginginkan bayi itu dan mungkin ini lebih baik karena jika bayi itu lahir tanpa diharapkan, rasanya akan lebih menyakitkan dari ini jadi biarkan dokter itu pergi."


Bian mendengus kesal sementara Dokter itu terlihat senang karena Anneta mau memaafkanya.


"Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan berlimpah untuk Ibu, sekali lagi maafkan saya." Ucap Dokter itu lalu keluar dari ruangan Anneta.


Setelah mengurus semua administrasi dan membereskan semua barangnya, Anneta akhirnya keluar dari ruang rawatnya dengan bantuan kursi roda. Terlihat Bian begitu telaten mengendong Anneta, membawanya masuk ke mobil.


Saat perjalanan, tidak yang mengeluarkan suara, semua tampak diam dengan pemikiran masing masing hingga mobil mereka sampai dirumah.


"Akhirnya Nyonya pulang juga." Mbok Inem menyambut kedatangan Anneta dengan senyum mengembang.


"Apa dia masih dirumah bersama kekasihnya?" Tanya Anneta saat turun dari mobil.


Mbok Inem menganggukan kepalanya, "Kekasihnya pergi sejak semalam dan Tuan menunggunya di ruang tamu sampai ketiduran." Jelas Mbok Inem.


Bian tersenyum sinis, Ia membantu Anneta kembali duduk di kursi roda lalu mendorongnya membawa masuk.


"Jangan langsung emosi kak, ingat saat ini kesehatan Mama lebih penting dari apapun." Aruna memperingatkan Bian.


"Ck, jika bukan karena kamu, aku sudah menghajar pria tua itu"


"Kak..." Aruna menatap Bian dengan tatapan memohon.


"Baiklah baiklah."

__ADS_1


Ketiganya tampak memasuki rumah, melewati ruang tamu dimana memang David terlelap disalah satu sofa yang ada disana.


"Mama ingin ke kamar tamu saja." Pinta Anneta.


"Kenapa harus dikamar tamu, bukankah kamar Mama disini?" Protes Bian.


"Mama mohon Bi..."


Aruna melotot ke arah Bian, meminta Bian menuruti keinginan Mama tanpa protes.


Bian kembali mendengus sebal "Baiklah,"


Bian kembali membantu Anneta berbaring diranjang.


"Terima kasih Bi..."


"Ck, sudah seharusnya Bian melakukan ini untuk Mama." Kata Bian.


Anneta mengangguk, "Bi, apa boleh Mama minta tolong sesuatu?"


"Apapun Ma... katakan saja."


"Tolong urus surat perceraian Mama, segera!"


Senyum Bian langsung mengembang kala mendengar permintaan sang Mama.


Anneta tersenyum, "Terima kasih Bi..."


"Setelah ini Mama harus bahagia, nggak boleh sedih lagi."


Anneta mengangguk, "Setelah surat perceraian selesai, kamu harus segera mengurus pernikahanmu dengan Aruna."


"Memang itu rencananya Ma." Balas Bian sambil tertawa cengengesan.


Bian langsung memeluk Anneta, "Terimakasih Ma, buat segala hal indah yang Mama kasih ke Bian."


"Mama juga terimakasih karena kamu ada dan menjaga Mama saat seperti ini."


"Sekarang Mama istirahat, jangan keluar kamar. Kalau butuh apapun bilang sama Mbok Inem."


Anneta mengangguk sambil tersenyum.


Bian segera keluar untuk bersiap ke kantor karena ada banyak hal yang harus Ia urus hari ini termasuk perceraian Mamanya.


Sementara itu diluar, Mia yang baru saja turun dari taksi memasuki gerbang rumah melewati mang Asep yang menatap kesal ke arahnya.

__ADS_1


"Dasar wanita nggak tahu malu!" Umpat Mang Asep yang didengar oleh Mia namun seperti biasa, Mia acuh saja dengan hinaan mang Asep itu.


Mia melewati mobil mewah Bian, "Anak anaknya pulang lagi, apa istrinya juga sudah pulang?" Gumam Mia kembali acuh dan terus melangkahkan kakinya memasuki rumah.


Mia sedikit terkejut saat melihat David duduk disofa, menatap ke arahnya. Sepertinya David baru saja bangun tidur. Terlihat muka bantal juga piyama yang masih dipakai David.


"Sayang... kau baru bangun? Tidak bersiap ke kantor?" Tanya Mia dengan suara ramah langsung duduk disamping David.


"Dari mana kau?" Tanya David suaranya terdengar marah.


"Bukankah semalam sudah ku katakan jika aku pergi ke rumah Ibu karena Ibu sakit!" Mia tak mau kalah, Ia ikut membentak David.


"Apa harus semalaman? Ponselmu juga tidak aktif!'


"Karena aku sibuk merawat ibuku jadi aku lupa charger ponsel yang kehabisan baterai, apa masalahmu?" Kesal Mia karena David tak mempercayainya.


"Sibuk merawat ibumu ya? Lalu ini apa?" Sentak David menunjuk leher Mia yang dipenuhi bekas merah, David bahkan menarik baju Mia hingga setengah Dada Mia terlihat dan ada banyak tanda merah disana.


Mia tentu saja terkejut mengingat semalam Ia yang menguasai permainan dan Rico sama sekali tak memberi tanda ini, lalu bagaimana bisa?


Mia terlihat sangat bingung.


"Apa merawat Ibumu bisa membuat ada banyak tanda merah ini huh?"


Mia menatap David kesal, "Jika kau tidak percaya padaku, ya sudah!" Kesal Mia hendak pergi memasuki kamar David namun David menahannya.


"Wah wah, ada drama apa pagi ini?" Suara Bian saat melewati ruang tamu bersama Aruna disampingnya.


"Apa sepasang kekasih ini sedang bertengkar?" Ejek Bian lagi.


"Kak..." Aruna mencoba mengingatkan Bian melihat David menatap kesal ke arah Bian apalagi saat ini Bian mengenggam erat tangan Aruna.


Bian tersenyum, "Aku hanya ingin mengatakan jika kalian masih ingin menumpang disini boleh saja asal jangan menganggu Nyonya yang sedang istirahat dikamar."


"Menumpang? Ini bahkan rumah Papa!"


"Apa kau yakin pria tua? Kau bahkan tidak memiliki hak atas rumah ini, kau pasti lupa? Apa aku harus mengatakan sekarang disini?"


David tampak terkejut, "Apa yang kau katakan? Memang benar ini rumahku!"


Bian tersenyum sinis, "Sebaiknya kau bersiap mengemasi barangmu karena setelah surat cerai keluar kau harus ikut keluar dari rumah ini!"


"Sura cerai?" David langsung tertawa, "Apa kau yakin Mama mu akan menceraikan Papa? Sepertinya tidak mungkin." Ucap David meremehkan.


Bian tidak menjawab apapun, Ia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan David dan Mia.

__ADS_1


"Apa benar rumah ini bukan milikmu? Perusahaanmu hampir bangkrut jika kau tidak memiliki kuasa akan rumah ini bagaimana? Aku tidak mau hidup miskin!" Ucap Mia yang membuat kepala David semakin pusing.


Bersambung....


__ADS_2