
Aruna yang waktu itu baru berusia sepuluh tahun, baru pulang dari sekolah setelah dijemput Mang Torik.
Aruna memasuki kamarnya mendengar keributan dari kamar sebelah, kamar kakaknya Bian.
Karena penasaran akhirnya Aruna menguping di pintu, Aruna mendengar itu suara Papa dan Bian kakaknya.
"Sekarang apa lagi Bian? Kenapa kamu tidak mau menurut pada Papa, disekolah bermasalah terus membuat Papa malu!" Sentak David terdengar marah pada Bian.
"Untuk apa Papa peduli? Bukannya Papa lebih sayang pada Aruna dari pada Bian!"
"Bian, kamu itu putra Papa satu satunya jelas Papa harus peduli."
"Tapi nyatanya Papa dan Mama lebih sayang dan peduli pada Aruna, anak angkat itu dari pada aku."
Deg, jantung Aruna berdegup kencang mendengar amarah dari Bian kakaknya. Dan mulai saat itu Aruna menjadi mengerti kenapa kakaknya selalu nakal padanya dan tidak menyukainya.
Meskipun Aruna baru berumur sepuluh tahun namun Aruna sudah sangat paham tentang apa yang Bian dan Papanya bicarakan.
Beberapa bulan setelah pertengkaran, Bian disekolahkan diluar negeri karena Bian kembali membuat masalah hingga Ia dikeluarkan dari sekolah.
Sejak saat itu mereka berpisah sepuluh tahun lamanya dan baru bertemu lagi sekarang. Namun Aruna merasa Bian yang sekarang berbeda dengan Bian yang dulu.
Aruna bisa merasakan kasih sayang seorang kakak dari Bian yang sekarang. Sementara untuk masalah orangtua, tidak peduli Anneta dan David bukan orangtua kandung Aruna yang terpenting bagi Aruna mereka menyayanggi Aruna seperti putri kandungnya sendiri. Meskipun mereka jarang ada waktu untuk Aruna namun mereka bekerja keras memberi masa depan terbaik untuk Aruna.
Aruna tertunduk dilantai, Ia memikirkan betapa dirinya ingin mengetahui siapa orangtuanya yang sesungguhnya dan kenapa Ia bisa bersama dengan David dan Anneta.
Aruna hanya harus menunggu sampaiĀ Anneta dan David memberi tahu dirinya siapa orangtua Aruna yang sebenarnya.
"Sabar Aruna, sabar. Yang terpenting sekarang Kak Bian tidak lagi membencimu seperti dulu." Gumam Aruna lalu tersenyum.
Aruna turun kebawah untuk makan malam,
"Loh Mbok Inem nggak masak?" Tanya Aruna saat melihat meja makan masih kosong tidak ada apapun disana.
"Nggak boleh masak sama Den Bian katanya Non Runa mau diajak makan malam diluar."
Aruna memanyunkan bibirnya "Kok nggak bilang."
Aruna kembali naik ke atas, ke kamar Bian dimana kakaknya itu sedang fokus menatap layar laptopnya.
"Mbok Inem bilang kakak mau ngajak makan malam diluar?" Aruna duduk dipinggir ranjang, menatap Bian yang masih fokus pada layar laptopnya.
"Enggak, gue nggak bilang gitu." Balas Bian acuh.
"Loh, gimana sih!" Aruna mulai kesal.
__ADS_1
Bian masih saja acuh tidak mengubris Aruna,
"Ya udahlah, aku bikin mie aja." Kata Aruna berdiri dan keluar dari kamar Bian.
Aruna baru saja selesai memasak mie instan, Ia meletakan dimeja dan siap duduk untuk makan namun tiba tiba Bian turun sudah berpakaian rapi.
"Ayo." Ajak Bian membuat Aruna mengerutkan keningnya heran.
"Kemana kak?"
"Makan malam diluar."
Langsung saja Aruna kesal karena Ia sudah bersiap makan dan Bian malah mengajaknya.
"Kakak aja sana, aku makan ini aja." Balas Aruna mencoba bersabar meskipun didalam hatinya sangat kesal.
Bian mengambil piring berisi mie milik Aruna, "Buruan ganti baju."
"Kak Bian! Runa udah nggak mood mau keluar!"
"Bodo amat! Buruan gue udah laper!" Kata Bian.
Aruna memanyunkan bibirnya, Ia sempat menghentakan kedua kakinya sebelum akhirnya naik ke atas untuk bersiap.
"Ck, bibirnya bikin nggak nahan, emang paling jago kalau godain orang!" Gumam Bian menatap punggung Aruna yang menaiki tangga.
"Belum dimakan, buat Mbok Inem aja." Kata Bian memberikan piringnya pada Mbok Inem.
"Mbok udah makan den tapi nggak apa apa deh makan lagi. Makasih ya Den." Kata Mbok Inem segera meninggalkan Bian.
Aruna sudah siap, Ia mengenakan dress floral dibawah lutut yang memberikan kesal manis dan sangat cantik dipakai Aruna.
"Jelek ya kak? Aku ganti lagi deh." Kata Aruna saat Bian menatapnya dari atas sampai bawah.
Bian mencekal tangan Aruna, "Kelamaan, udah ayo!" Ajak Bian yang langsung diangguki Aruna.
Keduanya keluar dari rumah dan berpapasan dengan Mang Torik saat akan mengambil mobil.
"Den Bian sama Non Aruna mau kemana?"
Bian tidak menjawab pertanyaan Mang Torik, langsung masuk mobil begitu saja.
"Kita mau makan malam diluar mang, mau dibelikan apa Mang?" Tawar Aruna.
Mang Torik menggelengkan kepalanya, "Nggak usah Non."
__ADS_1
"CEPETAN MASUK!" suara Bian terdengar galak membuat Aruna segera memasuki mobil.
"Sabar kak, orang lagi ditanya juga!" Kata Aruna namun Bian tidak mengubris dan langsung melajukan mobilnya.
Keduanya sama sama diam, sebelum akhirnya Aruna memberanikan diri untuk bertanya, "Kakak kenapa sih kalau sama Mang Torik judes?"
"Lo emang nggak curiga sama dia?" Bian kembali bertanya.
"Curiga masalah apa kak?" Aruna tak mengerti maksud Bian.
"Ck, udahlah percuma ngomong sama Lo, yang jelas gue nggak suka sama orang itu." Ungkap Bian.
"Aneh banget sih!" Kata Aruna lalu memanyunkan bibirnya.
"Bibir Lo nggak usah dimanyun manyunin bisa nggak sih?" Kesal Bian yang merasa tergoda karena Aruna memanyunkan bibirnya sedari tadi.
"Kenapa? Kakak mau nyium lagi?" Goda Aruna kembali memanyunkan bibirnya agar Bian bertambah kesal.
Aruna berhasil membuat Bian kesal dan tergoda. Bian menepikan dan langsung menghentikan mobilnya membuat Aruna panik karena Ia hanya berniat mengerjai Bian.
Aruna langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya, "Sini Lo!"
Bian menarik tangan Aruna agar tidak menutupi bibir Aruna membuat Aruna langsung menjerit.
"Sadar kak, nanti kalau kita digrebek lagi gimana?"
Bian menghentikan aksinya, Ia melihat ke arah luar dan mobilnya berhenti didekat pemukiman warga.
Bian berdecak dan kembali melajukan mobilnya membuat Aruna menghela nafas.
"Lo godain gue lagi, habis Lo dirumah!" Ancam Bian.
"Ck, habis kak Bian ngeselin sih!"
Keduanya sampai direstoran yang dituju, Bian dan Aruna segera masuk dan mencari tempat duduk agar bisa segera memesan makanan.
"Lo mau makan apa?" Tanya Bian saat membuka buku menu.
Hening tidak ada jawaban hingga akhirnya Bian mendongak, menatap Aruna yang tengah melihat ke arah meja lain dengan mata berkaca.
"Kenapa Lo?" Tanya Bian yang akhirnya ikut melihat apa yang Aruna lihat.
Bian tersenyum sinis dengan apa yang Ia lihat saat ini.
"Itu bukannya Adam ya kak?" Tanya Aruna dengan suara serak menahan tangis saat melihat Adam kekasihnya tengah makan malam berdua dengan seorang gadis cantik yang berpenampilan terbuka.
__ADS_1
Bersambung...