
Adam membanting kasar pintu apartemennya. Ia sudah gagal meniduri Aruna dan sekarang, Aruna malah memutuskan hubungan mereka.
Meniduri Aruna menjadi misi Adam, mengingat selama ini tidak ada yang menolak segala pesona Adam, hanya Aruna. Ya hanya Aruna yang masih belum bisa Ia taklukan membuat Adam sangat penasaran ingin merasakan tubuh Aruna.
Adam mengambil ponselnya, Ia segera menelepon David, Papa Aruna. Saat ini hanya David yang bisa membantu Adam mencapai keinginannya.
"Om..." sapa Adam saat David sudah menerima panggilannya.
Tidak ada jawaban dari David namun sedetik kemudian, Adam mendengar suara ******* seorang gadis.
"Sangat nikmat sayang, lebih keras lagi lebih keras lagi." Suara gadis itu terdengar bersamaan dengan desahannya.
"Sial, apa yang sedang mereka lakukan!" Umpat Adam.
"Oh shitt, kau sangat sempit sayang." Giliran suara David yang terdengar.
"Hey Tua bangka, apa yang sebenarnya kau lakukan!" Teriak Adam mulai emosi.
David tak menjawab dan malah mematikan panggilan teleponnya.
"Sial, dasar tua bangka tidak tahu umur. Bisa bisanya dia bercinta dengan gadis muda sementara dia sudah punya istri!" Omel Adam membanting ponselnya disofa
Tak berapa lama ponsel Adam kembali berdering, panggilan balik dari David.
"Ada apa?" Tanya David terdengar sudah puas.
"Aku gagal meniduri Aruna dan sekarang Aruna malah memutuskanku!" Adu Adam pada David.
David tertawa, "Aruna memang cerdas, dia melakukan yang terbaik." Puji David membuat Adam kesal.
"Om tidak lupa kan kalau aku punya kartu Om, jangan macam macam." Ancam Adam.
"Aku tidak melakukan apapun, aku sudah membantumu lalu apa lagi sekarang?"
"Karena putra sialan mu itu aku gagal meniduri Aruna."
"Berhenti mengatakan putraku sialan, kau yang sialan!" Umpat David terdengar marah, tak terima Bian dihina oleh Adam.
Adam tersenyum sinis, "Bantu aku lagi bagaimanapun caranya atau aku akan membuka kartu om pada semua orang." Ancam Adam.
Klik, panggilan kembali diputuskan oleh David.
"Lihat saja, jika dia tidak membantuku, aku akan membuka kartunya." Gumam Adam tersenyum menyerigai.
Semalaman Bian tidak bisa tidur karena memikirkan siapa penguntit Aruna yang sebenarnya. Sebelum semalam Bian menuduh Mang Toriklah yang selama ini menguntit Aruna melihat gerak gerik mang Torik yang mencurigakan selama ini namun mengingat semalam, Bian melihat secara jelas postur tubuh penguntit itu jelas bukan Mang Torik karena terlihat masih sangat muda.
Lalu siapa?
"Kak, kok malah melamun?" Tanya Aruna melihat Bian hanya menatap roti bakar dipiringnya tanpa menyentuhnya.
__ADS_1
"Ck, pusing gue nggak bisa tidur." Keluh Bian membuat Aruna tersenyum geli.
"Aku yang patah hati kok kak Bian yang nggak bisa tidur."
Bian berdecak, "Lo mau ke kampus emang udah ngerasa baikan?"
Aruna mengangguk, "Aku udah baik baik aja kak."
"Trus kalau nanti cowok brengsek itu nyamperin Lo? Udahlah nggak usah berangkat dulu." Kata Bian.
Aruna terdiam, sama sekali tidak terpikirkan jika sampai Adam mendatanginya seperti yang Bian katakan. Jujur Aruna masih belum ingin bertemu dengan Adam.
"Jangan ngeyel, nggak usah ke kampus dulu. Takutnya dia ada niat nggak baik sama Lo. Hari ini gue sibuk nggak bisa ngontrol Elo lagi." Ucap Bian membuat Aruna mengerutkan keningnya dan ingat jika Ia ingin menanyakan sesuatu pada Bian.
"Kemarin Kak Bian kok bisa tahu Aruna diapartemen Adam? Kakak juga tahu apartemen Adam?" Tanya Aruna membuat Bian yang baru saja mengunyah rotinya tersedak.
"Ck, gue tahu dari mana itu urusan gue yang terpenting gue datang tepat waktu." Balas Bian kembali menyuapkan roti ke mulutnya.
"Ya aneh aja sih kak, jangan jangan Kak Bian ngintilin aku ya?" Tebak Aruna membuat Bian melotot tak terima.
"Eh monyet, gue aja sibuk ngurusin kantor, ngapain juga gue ngintilin Elo!"
Aruna memanyunkan bibirnya, "Ya nggak usah manggil monyet juga kali kak!"
Bian tertawa, "Lah bukannya emang kembaran ya?"
Aruna berdecak, "Biar kayak monyet gini kemarin Kak Bian juga nyiu-" belum sempat Aruna menyelesaikan ucapannya, Bian sudah menutup mulut Aruna.
"Den Bian sama Non Aruna ngapain sih?" Heran Mbok Inem yang akhirnya membuat Bian melepaskan tangannya dari bibir Aruna.
"Kak Bian usil banget sih!" Aruna pura pura marah agar Mbok Inem tidak curiga.
"Biarin salah sendiri Lo ngeselin!" Balas Bian yang hanya membuat Mbok Inem menggelengkan kepalanya tak percaya melihat kakak beradik yang sudah dewasa namun masih sering bertengkar.
Bian sudah berangkat ke kantor dan Aruna memutuskan untuk kembali meliburkan diri, tidak berangkat ke kampus. Aruna masih tidak ingin bertemu dengan Adam. Aruna takut tidak bisa menghindar dari Adam jika sampai Adam menemuinya.
Sementara itu Adam yang berada dikampus sejak pagi tidak menemukan keberadaan Aruna lagi.
Adam bahkan berkali kali melewati kelas Aruna namun tidak melihat Aruna berada dikelasnya.
"Aruna nggak berangkat lagi?" Tanya Adam pada Nysa.
"Nggak tahu tuh, di Wa juga cuma diread."
"Ck, coba ditelepon." Pinta Adam.
"Ngapain emang Bang? Naksir Lo?" Goda Nysa.
"Udah tinggal telepon aja apa susahnya sih!" Sentak Adam.
__ADS_1
"Gila, nggak usah ngegas kali!" Balas Nysa tak kalah galak.
Nysa menuruti permintaan Adam, Ia mendial nomor Aruna dan tak berapa lama Aruna menjawab panggilannya.
"Napa Nys?"
"Masih tanya kenapa lagi, Lo ngapa nggak masuk?" Tanya Nysa sewot.
"Sakit gue!"
Nysa terkejut, "Sakit apa Lo?"
"Sakit hati hahaha." Suara Aruna terdengar jelas ditelinga Adam.
Segera Adam merebut ponsel Nysa, "Run, aku mau ketemu."
Mendengar suara Adam, Aruna langsung mematikan panggilan sepihak.
"Ck, dimatiin!" Adam tampak kesal dan mengembalikan ponsel Nysa lalu keluar dari kelas Nysa.
Nysa terlihat masih bingung dengan apa yang terjadi pada Aruna dan Adam.
Ia sama sekali tidak tahu kapan Aruna dan Adam menjadi dekat seperti ini.
Adam yang keluar dari kelas Aruna, kembali ke kelasnya. Disana sudah ada Keisha yang duduk dibangkunya.
"Ngapain Lo ke kelas Nysa?" Tanya Keisha yang tak sengaja melihat Adam memasuki kelas adik sepupu Adam.
"Bukan urusan Lo!"
Keisha berdecak, "lagi kesel? Sama siapa?"
Adam menatap Keisha malas, "Gue bilang bukan urusan Lo, balik sana. Males gue ngeliat Lo!" Sentak Adam membuat Keisha sangat sakit hati karena Adam tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Lo pacaran bocah tengil itu?"
"Siapa maksud Lo?"
"Aruna."
"Kalau iya kenapa? Bukan urusan Lo juga kan? Toh kita juga nggak ada hubungan apa apa!"
Keisha mengepalkan tangannya, semakin hari ucapan Adam sama sekali tidak menjaga perasaanya.
"Bisa Lo ngomong gini sama gue, nggak inget kalau lagi pengen elo pasti nyari gue, dasar cowok brengsek!" Umpat Keisha lalu pergi meninggalkan Adam.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1
.