MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
105


__ADS_3

Anneta masih menangis, meskipun Ryan sudah menghiburnya untuk tidak menangis lagi namun air mata Anneta seolah enggan untuk berhenti mengalir.


"Apa yang membuatmu begitu sedih? Seharusnya kita bahagia bukan karena semua sudah terbuka." kata Ryan pada Anneta.


"Aku begitu bodoh, aku seorang Mama yang bodoh yang tidak menyadari jika David bukanlah Papa dari Bian."


Ryan kembali mengelus kepala Anneta, "Sudahlah, yang terpenting sekarang semua sudah terungkap dan kita bisa bersama lagi. Mulai sekarang aku akan menjaga kalian, tidak akan ku biarkan ada yang menyakiti Kamu dan Bian lagi." ucap Ryan dan Anneta semakin mempererat pelukannya.


....


Sadam baru saja membuka matanya, Ia melihat ke samping Keisha masih terlelap.


Sadam tersenyum, mengingat pertempuran semalam yang mungkin membuat Keisha kelelahan hingga belum bangun padahal biasanya Keisha bangun awal untuk menyiapkan segala keperluannya.


Setelah menikah, Keisha memang berubah menjadi istri yang baik untuk Sadam.


Tidak pernah berbicara kasar lagi, selalu bersikap lembut dan melayani Sadam dengan sangat baik membuat Sadam semakin mencintai istrinya itu.


Sadam bangun lebih dulu untuk mandi karena Ia harus segera berangkat ke kantor. Keluar dari kamar mandi, Ryan melihat Keisha masih terlelap, Ia berjalan mendekat dan mengusik tidur Keisha dengan menciumi pipi Keisha.


"Sudah siang, aku terlambat bangun. Maafkan aku." ucap Keisha bergegas bangun membuat Sadam tersenyum geli.


"Tidak perlu buru buru sayang, kita bisa memesan makanan untuk sarapan." kata Sadam gemas dan langsung memeluk istrinya itu.


"Tapi itu membuatku tidak menjadi istri yang baik untukmu."


Sadam berdecak, "Kamu sudah menjadi istri yang baik, terimakasih karena sudah menjadi istri yang baik untuk ku." kata Sadam membuat Keisha tersipu malu.


Saat Sadam ingin mencium bibir Keisha, ponselnya berdering mengejutkan keduanya.


"Aku akan mengambilkan untukmu." kata Keisha segera bangkit mengambil ponsel Sadam yang sedang di charger.


"nomor tak dikenal." kata Keisha mengulurkan ponsel Sadam.


Sadam tak tahu itu nomor siapa, namun Ia segera menerima panggilan itu.


"Ya... Ada apa?" tanya Sadam.


Seketika raut wajah Sadam berubah saat mendengar ucapan si penelepon.


"Aku akan segera kesana." kata Sadam mengakhiri panggilan dan segera bersiap memakai bajunya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Keisha.

__ADS_1


"Pak Bian kecelakaan."


Keisha pun ikut terkejut, "Jika ingin kerumah sakit, aku ikut." pinta Keisha.


"Tidak untuk hari ini sayang, aku harus memastikan apakah kecelakaan ini disengaja atau tidak." jelas Sadam.


"Baiklah, hati hati dan segeralah pulang setelah selesai." kata Keisha yang langsung diangguki oleh Sadam.


Sadam mengecup keningnya Keisha sebelum akhirnya Ia berangkat menuju rumah sakit tempat dimana Bian dirawat.


Sampai dirumah sakit, sudah ada anak buah Bian yang menunggu kedatangannya.


"Semalam aku dan Tuan baru saja menyelesaikan masalah tentang orang yang menguntit Nona selama ini dan pagi ini saat aku hendak kerumah Tuan, Satpam dirumah Tuan mengatakan jika Tuan kecelakaan saat dini hari tadi." jelasnya pada Sadam.


"Lalu apa kau sudah menyelidikinya? Apa itu disengaja atau tidak?"


"Aku sudah ke lokasi kecelakaan dan sepertinya murni kecelakaan, namun setelah ini aku akan menyelidiki lebih dalam lagi." kata Anak Buah Bian yang langsung diangguki Sadam.


Sadam dan anak Buah Bian segera masuk untuk melihat keadaan Bian.


"Dia masih belum sadar." kata Aruna dengan raut wajah sedih, Ia berjaga sendirian disana.


"Pak Bian pasti baik baik saja Nona." hibur Sadam yang diangguki oleh Aruna.


"Saya akan mencari tahu penyebab kecelakaan Tuan Nona." kata anak buah Bian yang langsung diangguki Aruna.


"Terima kasih banyak karena kalian mau membantu."


Setelah berbincang cukup lama, Sadam segera ke kantor untuk mengurus masalah pekerjaan sementara anak buah Bian pergi mencari bukti lain penyebab kecelakaan Bian.


Kini tinggalah Aruna sendirian diruangan itu karena Anneta dan Ryan tak kunjung kembali sejak pamit keluar untuk berbicara berdua.


"Bangun kak... Sampai kapan kau akan terus tidur? Bagaimana dengan pernikahan kita jika kau terus tidur seperti ini." ucap Aruna sambil mengenggam tangan Bian.


Aruna tidak tahu apa yang Bian lakukan semalam, Bian hanya mengatakan jika Ia sedang menyelesaikan masalah yang Aruna bahkan tak tahu masalah apa itu.


"Bangunlah kak, aku ingin segera menikah denganmu." kata Aruna tanpa Ia sadari air matanya menetes jatuh ke tangan Bian.


Tetesan air mata Aruna membuat jari tangan Bian bergerak. Aruna senang bukan main karena Bian juga membuka matanya perlahan.


"Kak Bian... Kak Bian..." panggil Aruna.


Bian membuka matanya, merasakan kepalanya pening dan seluruh tubuhnya terasa sakit.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Bian dengan suara lemah.


Aruna tak segera menjawab, Ia malah pergi berlaro mencari Dokter agar kembali memeriksa Bian yang sudah sadar.


"Syukurlah semua berjalan baik, sekarang hanya menunggu semua luka pulih." kata Dokter yang baru saja datang dan memeriksa Bian.


"Terima kasih banyak dok." ucap Aruna dan dokter itu segera keluar dari ruang rawat Bian.


"Apa yang terjadi?" tanya Bian masih dengan suara lemah.


"Tadi kakak kecelakaan, memang kak Bian dari mana saja? Kenapa bisa kecelakaan seperti itu?" tanya Aruna.


Bian hendak bangun namun Aruna melarang, "Jangan bangun dulu kak, berbaring saja." pinta Aruna.


"Tapi aku ingin duduk." Bian memaksa untuk duduk, namun saat Ia hendak bangun kakinya terasa sakit membuat Bian mengurungkan niatnya untuk duduk.


"Bukankah sudah ku bilang untuk berbaring saja!" omel Aruna.


"Aku ini sedang sakit, seharusnya kau memanjakan aku bukan malah mengomeliku seperti itu!" kata Bian tak mau kalah.


Aruna tersenyum geli, "Baiklah kak, maafkan aku tapi jangan membantah lagi agar aku tak mengomel lagi." kata Aruna.


"Sampai kapan aku harus disini? Aku ingin sembuh dan segera mengurus pernikahan kita." kata Bian.


"Jangan memikirkan tentang pernikahan dulu kak, yang terpenting saat ini Kak Bian sembuh lebih dulu."


"Ck, jika menunggu ku sembuh pasti lama. Apa kau masih belum ingin menikah dengan ku?" tanya Bian dengan nada sebal.


"Bukan seperti itu kak, aku hanya-"


"Sudahlah, sejak kemarin kamu memang masih belum ingin menikah, aku tidak akan memaksa lagi." potong Bian membuat Aruna menghela nafas panjang.


Pintu terbuka, Anneta dan Ryan memasuki ruangan.


Hal yang tak terduga terjadi, Ryan tampak berlari mendekati Bian lalu memeluk Bian yang berbaring.


"Putraku, akhirnya kau sadar juga." ucap Ryan membuat Bian melotot tak percaya.


"Hey pria tua apa yang kau lakukan!" kesal Bian merasakan sakit saat Ryan menempel ke tubuhnya.


"Aku hanya ingin memeluk putraku."


Bian bergindik jijik, Pandangannya beralih pada Anneta yang malah tersenyum geli melihat apa yang dilakukan Ryan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2