
Seorang wanita paruh baya memasuki kamar putranya termenung diam seperti sedang banyak masalah.
"Kau tidak makan? Apa kau tidak lapar?" tanya Harti pada putra satu satunya, Leo.
Leo hanya menggelengkan kepalanya,
"Apa ada masalah Nak?" tanya Harti merasa cemas karena tidak biasanya Ia melihat putranya seperti ini.
"Aku sudah melakukan kejahatan Bu..." adu Leo yang membuat Harti terkejut.
"Apa yang sudah kau lakukan Nak?"
"Bukan kah Tuan Bian sudah baik pada kita Bu? Tapi aku jahat Bu, aku sudah mengkhianati Tuan Bian." akui Leo.
Kemarin saat Ia berjaga dikampus, Ia melihat Jessi memeluk Bian dan entah mengapa Ia malah memotret momen itu.
Tidak ada niat Leo untuk mengkhianati Bian namun hatinya sudah tergoda, Leo tergoda pada Aruna istri cantik Bian.
Sejak awal pertemuan dengan Aruna , Leo sudah jatuh cinta pada Gadis itu namun Ia coba menahan diri karena itu milik Tuannya namun setelah Leo kembali bertemu, menolong Aruna saat terjadi bullying, tak sengaja Leo menyentuh kulit Aruna membuat Leo menginginkan lebih meskipun Ia tahu apa yang Ia rasakan itu salah.
Hingga akhirnya Leo memiliki rencana jahat bersama Jessi, Ia memberikan foto itu pada Jessi. Membantu Jessi menyebarkan foto itu menggunakan akun baru dan berhasil, sudah dipastikan Aruna akan marah besar pada Bian namun entah mengapa Leo justru tidak senang saat ini. Yang Ia rasakan justru perasaan bersalah karena sudah melakukan ini pada Bian yang sudah banyak membantu keluarganya.
"Datanglah pada Tuanmu dan minta maaf padanya, entah dia mau menerima atau tidak setidaknya kau sudah berniat meminta maaf karena memang kau bersalah." nasehat Harti.
"Tapi bagaimana jika Tuan tidak memaafkan ku bu?"
"Itu sudah menjadi resiko mu nak, setidaknya kau sudah mengakui kesalahanmu."
Leo terdiam, rasanya sungguh menyesakan untuknya. Sama sekali tidak ada niat Leo untuk menjadi pengkhianat seperti ini.
Leo akhirnya bertekad untuk meminta maaf, ya meskipun Ia tahu konsekuensi dari pengakuannya mungkin Ia tidak akan lagi mendapatkan kepercayaan dari orang sebaik Bian.
...****************...
Aruna baru saja sampai dikantor Bian, Ia segera masuk ke dalam. Ini sudah jam makan siang, sudah waktunya Bian untuk makan.
"Nona..." Sadam menatap ke arah Aruna seolah tak percaya Aruna akan datang. Sadam pikir Aruna marah karena foto Bian dan Jessi, tidak akan datang siang ini, Ia sudah mempersiapkan mentalnya untuk menyuapi Bian namun ternyata Aruna datang.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" heran Aruna.
"Ti tidak Nona, Silahkan masuk Nona, Pak Bian sudah menunggu makan siangnya." ucap Sadam yang langsung diangguki oleh Aruna.
Aruna masuk, melihat Bian sedang duduk dikursinya dengan mata menatap ke arah laptop.
Saat Aruna meletakan makanan dimeja, Bian menatap ke arahnya terkejut karena Bian pikir yang baru saja masuk Sadam ternyata Aruna.
__ADS_1
"A Aruna..."
"Ada apa dengan semua orang, kenapa mereka menatap ku seperti itu, apa ada yang salah denganku?" heran Aruna.
"Ti tidak sayang, hanya saja..."
"Hanya saja kenapa?"
"Ku pikir kau akan marah dan tidak akan datang siang ini." jawab Bian jujur.
Aruna menghela nafas panjang, "Berdirilah..."
Bian menurut, langsung berdiri dari duduknya dan siapa sangka Aruna malah memeluknya dengan erat.
"Apa ini benar benar kau sayang?" gumam Bian merasa tak percaya dengan apa yang Aruna lakukan.
"Aku ingin menghilangkan bekas Jessi di tubuhmu, berani sekali dia menyentuh milik ku." ucap Aruna membuat Bian tersenyum.
Bian ikut memeluk Aruna dengan erat, "Maafkan aku, maaf karena tidak bisa menjadi diri dengan baik."
Aruna melepaskan pelukannya, Ia mengangguk dan mengatakan, "Untuk kali ini jika lain kali terjadi lagi aku tidak akan memaafkan mu dengan mudah."
"Tidak, aku tidak akan melakukan nya lagi."
"Baiklah, aku akan menyuapimu sekarang karena aku harus segera kembali ke kampus, masih ada satu kelas lagi yang harus ku selesaikan." ucap Aruna.
Aruna menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah suaminya yang seperti anak kecil namun tetap memeluk Bian sekali lagi.
Selesai menyuapi makan siang, Aruna hendak kembali ke kampus karena tak ingin tertinggal kelas terakhirnya.
"Jemput aku lebih cepat, aku ingin pulang awal agar bisa segera istirahat." pinta Bian.
Aruna menatap ke arah suaminya, Ia seperti ikut merasakan kesedihan yang dirasakan suaminya itu persis seperti yang Keisha katakan pagi tadi jika Bian sedang down saat ini karena pengkhianatan Leo.
"Baiklah, selesai kelas aku akan kembali lagi kesini untuk menjemputmu kak."
Bian mengangguk, mencium kening istrinya dan membiarkan Aruna segera pergi ke kampus.
Dua jam akhirnya jam kampus Aruna sudah usai, seperti biasa Ia keluar kelas sendirian karena Nysa tidak pernah mengikuti kelas terakhir, Nysa selalu pulang lebih awal dari dirinya.
Aruna melihat jam tangannya, sudah pukul empat sore, keadaan kampus sangat sepi karena memang banyak yang sudah pulang.
Saat Aruna berjalan menuju parkir mobilnya, seseorang menghadang jalannya.
Aruna menatap ke arah orang itu yang tak lain adalah Jessi.
__ADS_1
"Ada yang ingin ku bicarakan padamu." kata Jessi.
"Maaf Miss, tapi saya buru buru." tolak Aruna karena Ia sudah tidak ingin berurusan dengan Jessi lagi.
"Tapi aku ingin bicara padamu, setidaknya ini yang terakhir sebelum aku pulang ke negara ku." ucap Jessi yang akhirnya di angguki oleh Aruna.
"Kenapa harus bicara disini?" tanya Aruna saat Jessi membawanya ke gudang belakang kampus.
"Aku tidak ingin ada orang yang menguping pembicaraan kita." ungkap Jessi.
"Aku pikir kau mengajak ku kesini karena ingin mencelakai ku." tebak Aruna.
Jessi tersenyum, "Apa aku terlihat sejahat itu?"
Aruna tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Lalu katakan apa yang ingin kau bicarakan padaku."
"Aku masih mencintai Bian."
Aruna tersenyum, "Itu masalahmu."
"Tentu kau juga menjadi masalahku karena kau menghambat hubungan kami."
Aruna kembali tersenyum, "Bukankah kalian sudah lama putus, seharusnya kau juga sudah move on sama seperti yang dilakukan Kak Bian."
"Aku tidak bisa melupakan Bian, putusnya kami hanya keinginan Bian saja bukan keinginanku."
"Jika kau mencintai Kak Bian kenapa kau harus mengkhianati cintanya? Bukan salah Kak Bian karena meninggalkanmu."
"Kau bahkan tidak tahu apapun jadi jangan sok tahu."
Aruna tersenyum, "Maaf tapi alasan itu yang ku dengar dari Kak Bian, lalu apa mau mu sekarang?" tanya Aruna.
"Aku hanya ingin Bian merasakan apa yang kurasakan!"
Aruna mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud Jessi,
"Jika Aku tidak bisa memiliki Bian pria yang ku cintai, Bian pun juga tidak boleh bersama dengan wanita yang Ia cintai." ungkap Jessi lalu tersenyum.
Aruna benar benar bingung apa maksud ucapan Jessi hingga Aruna sadar saat Jessi mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya.
Aruna hendak berlari namun Jessi mencegahnya dan saat Jessi ingin melayangkan pisau itu pada Aruna, seseorang mencekal tangan Jessi.
"Sialan, apa yang kau lakukan!" umpat Jessi marah.
Bersambung...
__ADS_1
Like dan komeenn yukk biar tambah semangat...
Semakin hari like nya semakin dikit bikin syedihhh hehehe