MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
32


__ADS_3

Keisha baru keluar dari rumah dan terkejut kala melihat ada sebuah mobil yang terparkir didepan rumahnya.


Mobil yang Keisha kenali, mobil milik pria semalam, Sadam.


Keisha mendekati mobil itu dimana ada Sadam didalam. Sadam mengayunkan tangannya, meminta Keisha untuk masuk.


"Bukankah aku sudah mengatakan tidak ingin bertemu denganmu lagi." Ucap Keisha yang kini sudah memasuki mobil Sadam.


"Tapi aku ingin bertemu denganmu." Balas Sadam mulai melajukan mobilnya.


"Ada apa? Apa yang kau inginkan dari ku?" Tanya Keisha menatap Sadam curiga.


Sadam tertawa, "Aku tidak ingin apapun, aku hanya kebetulan lewat dan mengingatmu jadi aku menunggumu didepan."


"Bohong, pasti ada yang kau inginkan dariku, kau orang kaya sudah pasti kau ingin memberiku uang agar bisa tidur denganmu." Tuduh Keisha yang lagi lagi membuat Sadam kembali tertawa.


"Pikiranmu terlalu mesum."


Keisha menunduk malu,


"Aku hanya ingin tahu namamu, aku lupa ah bukankah semalam kau belum mengatakan siapa namamu?"


"Keisha, panggil aku keisha."


"Baiklah Keisha, apakah sekarang kita bisa berteman?"


Keisha mengerutkan keningnya, "Berteman? Kau ingin berteman dengan gadis miskin sepertiku?" Heran Keisha.


"Kenapa? Tidak boleh?"


"Ck terserah saja." Balas Keisha acuh.


"Dimana kampusmu?"


"Kampus Bina jaya."


"Bukankah itu kampus-"


"Ya kampus elite, hanya orang orang kaya yang bisa berkuliah disana, aku beruntung mendapatkan beasiswa dan bisa berkuliah disana." Ungkap Keisha.


"Kau sepertinya salah paham, aku tidak ingin bertanya tentang itu. Aku hanya ingin mengatakan jika adik dari bosku berkuliah disana."


"Oh..." Keisha menunduk malu.


"Apa kau selalu seperti ini?"


"Apa maksudmu?" Keisha tak mengerti.


"Selalu menganggap orang akan meremehkan tentang status sosialmu?"

__ADS_1


"Karena memang biasanya seperti itu bukan?" Kata Keisha sinis.


"Mungkin beberapa orang ada yang seperti itu tapi tidak semua orang."


Keisha terdiam.


Mobil berhenti karena sudah sampai didepan kampus.


"Kau selesai jam berapa?"


"Jam dua."


"Oke aku akan menjemputmu nanti."


"Tidak perlu aku bisa pulang sendiri."


"Baiklah." Balas Sadam santai.


Keisha mendengus sebal dan langsung keluar dari mobil Sadam, "Setidaknya memaksa lah sedikit." Gerutu Keisha berjalan memasuki kampus.


Sementara itu Bian saat ini menatap Aruna dengan tatapan terkejut. Bian tidak menyangka jika Aruna sudah mengetahui statusnya bukan anak kandung dari David dan Anneta.


"Dari mana kamu tahu? Apa Papa dan Mama mengatakan padamu?" Tanya Bian tampak penasaran.


"Tidak, aku mendengarnya sendiri."


"Mendengar dari siapa?"


Bian benar benar bingung, sepuluh tahun yang lalu itu sudah lama sekali, Bian bahkan lupa jika pernah mengatakan hal seperti itu.


Memang Bian akui jika dulu Ia sangat membenci Aruna tapi itu sudah lama sekali. Hanya perasaan benci anak kecil karena merasa diduakan setelah kedatangan Aruna.


Waktu itu umur Bian masih lima tahun, Papa dan Mamanya pulang membawa Aruna yang masih bayi.


Kasih sayang dari orangtuanya yang sangat terbatas menjadi hilang setelah kehadiran Aruna.


Orangtua Bian sibuk dengan bisnis mereka dan saat pulang mereka lebih memperhatikan Aruna, tentu saja membuat Bian cemburu dan benci pada Aruna.


Bian tumbuh menjadi anak yang nakal bahkan pembangkang. Selalu membuatĀ  masalah agar mendapatkan perhatian dari orangtuanya namun orangtuanya malah mengirimnya keluar negeri membuat Bian sangat membenci Aruna, awalnya.


Namun setelah Bian sudah semakin dewasa dan mengerti segalanya membuat rasa benci Bian sedikit mereda, kini Ia tak lagi benci dan malah jatuh cinta pada Aruna.


Dua tahun yang lalu saat Mamanya video call dan memperlihatkan wajah polos Aruna, pertama kali Bian melihat Aruna yang sudah dewasa yang entah mengapa langsung membuat jantung Bian berdegup kencang.


Bian jatuh cinta.


Setelah itu Bian sering memikirkan Aruna, Ia bahkan stalking akun media sosial Aruna setiap hari untuk melihat foto foto Aruna yang semakin cantik.


"Jadi Papa dan Mama tidak tahu kalau kamu sudah tahu?" Tanya Bian.

__ADS_1


Aruna mengangguk, "Aku percaya, Papa dan Mama pasti akan menjelaskan semuanya padaku saat aku sudah dewasa, sekarang aku hanya menunggu itu kak, menunggu Papa dan Mama mengatakan siapa orangtua ku yang sebenarnya dan kenapa mereka membuangku seperti ini." Ungkap Aruna penuh harap.


"Mereka tidak membuangmu Aruna, mereka dibunuh dan Papa Mama tidak akan mungkin mengatakan yang sebenarnya padamu." Batin Bian merasa sangat sedih Aruna berharap berlebihan seperti itu.


"Lalu bagaimana jika mereka tidak mengatakan padamu?" Tanya Bian.


"Aku tidak tahu kak." Wajah Aruna berubah sedih.


Bian menarik tangan Aruna, membawa tubuh Aruna kedalam pelukannya.


"Dulu kakak nakal sekali denganku, kenapa sekarang sebaik ini?"


Bian melepaskan pelukannya, "Jadi kamu ingin aku nakal lagi seperti dulu hmm." Kata Bian sambil menoel hidung mancung Aruna.


"Tidak, aku suka kakak yang sekarang." Balas Aruna sambil tersenyum memperlihatkan gigi rapinya membuat Bian mendadak gemas.


Entah mendapatkan bisikan setan darimana, tangan Bian terangkat mengelus pipi Aruna lalu berpindah ke bibir tipis Aruna. Sontak perlakuan Bian membuat jantung Aruna berdegup kencang. Mata keduanya saling berpandangan hingga Aruna tak tahan dan akhirnya memutuskan kontak mata lebih dulu. Bian mulai memajukan bibirnya hingga bibir keduanya semakin dekat dan saat akan menempel,


"Astagfirullah..." suara teriakan Mbok Inem dari arah pintu mengejutkan keduanya. Bian dan Aruna langsung saja gugup dan menjauh.


"Mb mbok mau apa?" Tanya Aruna berjalan mendekat.


"Non sama Aden tadi mau ngapain?" Tanya Mbok Inem pada Bian dan Aruna, menatap keduanya curiga sambil memeganggi dadanya.


"Itu tadi bibir Aruna ada semut makannya aku lihatin dulu eee ada Mbok Inem teriak ya kaget kita." Ungkap Bian mencari alasan.


Mbok Inem menghela nafas lega, "Kirain mau ciuman Den."


"Ng nggak mungkin lah Mbok kita ciuman, masa Aruna mau nyium kakak Aruna sendiri!" Jelas Aruna membuat Mbok Inem semakin yakin jika Ia salah lihat.


"Ya sudah Non, tadinya mau bersihin kamar sini, karena Aden mau istirahat, besok aja dibersihin nya." Kata Mbok Inem segera pergi dari kamar Bian.


Bian dan Aruna terlihat menghela nafas lega.


"Sini..." kata Bian menepuk nepuk ranjangnya, meminta Aruna kembali mendekat.


Aruna menggeleng, "Aku mau ke kamar dulu kak."


Aruna yang masih gugup langsung keluar begitu saja.


"Ck, ngeselin banget Mbok Inem, ganggu aja!" Omel Bian kesal karena gagal mencium Aruna.


Aruna memasuki kamarnya, Ia memegang dadanya yang berdegup sangat kencang.


"Kok jadi gini sih." Gumam Aruna.


"Sadar Aruna, dia kakak kamu, jangan sampai kamu jatuh cinta pada kakak kamu sendiri, sadar Aruna, sadar."


Bersambung .. .

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2