
Adam tersenyum lebar saat mengetahui David datang dan mengusir kelima anak buah Bian yang berjaga didepan apartemennya.
Tentu bukan hal yang sulit untuk David mengusir kelima anak buah Bian, hanya dengan memberikan segepok uang, mereka mengkhianati Bian dan pergi dari apartemen Adam.
"Akhirnya kau datang juga Om." Kata Adam menyambut David dengan senyuman berbeda dengan David yang menatap Adam muak.
"Sekarang apa lagi?"
"Apa Om tidak lihat wajah ku seperti ini karena putra Om dan aku berniat ke klinik tapi para penjaga itu tidak membiarkan aku keluar." Jelas Adam.
"Lalu apa mau mu sekarang?"
"Aku ingin ke klinik tapi aku juga sudah tidak punya uang." Keluh Adam.
David menatap wajah Adam yang babak belur, Ia kasihan namun Ia juga merasa Adam pantas mendapatkan itu. David melemparkan sebuah kartu kredit, "Pakai itu untuk berobat."
"Apa aku bisa membeli apapun dengan ini?"
"Terserah."
Adam semakin senang, "Terimakasih Om dan jangan lupa untuk membantuku tidur dengan Aruna." Kata Adam lalu pergi meninggalkan David yang masih di apartemennya.
David mengepalkan tangannya, Ia benar benar tak tahan lagi dengan perilaku Adam dan Ia harus segera mengakhiri ini semua.
Dengan kartu kredit milik David, Adam tidak hanya berobat ke klinik namun Ia juga berbelanja kebutuhan pribadinya. Adam membeli beberapa baju dan makanan disupermarket, mengingat Ibunya masih belum mengirim uang jadi Ia harus bertahan hidup dengan cara apapun.
Sementara itu David pulang kerumah, namun Ia tidak mendapati Aruna dan Bian padahal ini hari libur.
"Semalam mereka nggak pulang?" Tanya David terkejut dengan pengakuan Mbok Inem.
"Benar Tuan, saya tidak tahu kemana Non Aruna dan Den Bian."
"Ck, kemana mereka!"
"Pagi kemarin, Den Bian mengantar Non Aruna ke kampus dan Den Bian juga memakai baju kantornya, tidak ada yang aneh Tuan."
"Memakai baju kantor?" David akhirnya ingat jika Bian sudah memiliki kantor baru dari usaha yang Ia rintis, Ia juga mendengar dari beberapa rekan pengusahanya.
David mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, "Cari alamat kantor Bian sekarang!" Kata David lalu mengakhiri panggilan.
"Nyonya juga belum pulang Tuan." Adu Mbok Inem mengingat biasanya Anneta pulang lebih dulu dari David.
"Biarkan saja dia bersenang senang dengan temannya, aku akan mengurus masalah yang ada disini." Kata David lalu pergi meninggalkan Mbok Inem.
__ADS_1
"Memang ada masalah lain? Bukannya masalah disini hanya karena Den Bian dan Non Runa nggak pulang? Ah sudahlah lebih baik jangan ikut campur." Gumam Mbok Inem.
Setelah mendapatkan alamat kantor Bian, David segera melajukan mobilnya menuju kantor Bian yang ternyata lokasinya tak jauh dari kampus Aruna.
Keadaan kantor sangat sepi karena memang ini hari libur, hanya ada dua satpam yang berjaga didepan.
"Apa Bian ada didalam?"
"Maaf, anda siapa?" Tanya satpam Bian menatap David curiga.
"Aku ini Papanya, kudengar Ia tak pulang semalam. Apa Bian menginap disini?" Tanya David.
"Tunggu sebentar Tuan." Salah satu satpam itu tampak masuk ke pos dan menelepon seseorang, tak berapa lama Ia kembali menemui David.
"Pak Bian ada didalam, mari saya antar." Ajak Satpam itu langsung diangguki David.
David mengikuti langkah kaki Satpam itu hingga keduanya sampai disebuah ruangan dimana ada Bian yang sudah menunggunya. Satpam itu segera meninggalkan Bian berdua dengan David.
"Hebat sekali, tanpa sepengetahuan ku, kau membangun perusahaan ini sendiri." Puji David namun terdengar sinis.
"Untuk apa Papa kemari?" Tanya Bian tak ingin basa basi.
"Tentu saja untuk menemuimu karena semalam kau dan Aruna tidak pulang, kemana kalian pergi?"
"Tentu saja itu urusanku karena kalian anak anak ku!"
"Anak?" Bian tersenyum sinis.
"Bagaimana mungkin Papa menganggap kami Anak sementara dibelakang kami Papa menyakiti kami!"
David nampak terkejut, "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Bian berdecak, "Papa hanya pura pura tidak mengerti! Sekarang untuk apa Papa kemari?"
"Aku hanya ingin menjemput Aruna pulang!"
Bian kembali tertawa sinis, "Menjemput? Untuk Papa berikan pada pria brengsek yang akan menghancurkan masa depan Aruna?"
Lagi lagi David terkejut, "Papa benar benar tak mengerti apa maksudmu."
"Papa menjual Aruna hanya karena tidak ingin perselingkuhan Papa terbongkar, apa aku salah?"
Deg, jantung David seolah berhenti berdetak mendengar ucapan Bian yang mengetahui perselingkuhannya.
__ADS_1
"Papa tidak-"
"Papa selingkuh! Papa selingkuh dari Mama, aku sudah tahu itu."
"Dari mana kau tahu? Apa Adam mengatakan semua padamu?' Tanya David penasaran darimana Bian bisa mengetahui tentang perselingkuhannya.
"Aku sudah tahu bahkan sudah lama aku mengetahui ini jauh sebelum Adam. Jadi dugaan ku benar kan? Adam tahu perselingkuhan Papa dan karena Adam mengancam membuat Papa membantu Adam menjebak Aruna tanpa memikirkan nasib Aruna setelahnya." Ungkap Bian.
"Papa tidak bermaksud menyakiti Aruna, Papa tahu Adam sangat mencintai Aruna jadi Papa pikir, memberikan Aruna pada Adam menjadi pilihan terbaik, lagipula Aruna hanyalah anak angkat." Jelas David.
"Omong kosong apa ini? Papa bahkan tidak tahu bagaimana brengseknya Adam!"
"Papa tahu Bian, tapi Papa tidak punya pilihan lain." Batin David.
"Aku sudah mengetahui perselingkuhan Papa dan aku juga akan menutup mulutku, tidak akan ku ceritakan pada siapapun. Aku hanya minta Papa untuk tidak menyentuh Aruna ataupun memberikan Aruna pada siapapun." Tegas Bian.
"Apa kau menyukai Aruna?" Tanya David menatap Bian curiga.
"Itu urusanku, bukan urusan Papa."
"Ingat Bian, Aruna itu adikmu."
"Aku selalu mengingatnya Pa, dan aku juga tidak pernah lupa jika Aruna hanyalah anak angkat dikeluarga kita jadi aku bebas sekalipun akan menikahinya!" Ungkap Bian membuat mata David melotot tak terima.
"Dia adikmu, selamanya akan menjadi adikmu! Jangan pernah bermimpi bisa bersamanya." Ucap David mulai emosi setelah mendengar pengakuan Bian.
"Papa tidak akan bisa mengatur hidupku lagi. Ingat, Papa sudah menyakiti Mama, aku bahkan sudah mengetahui segala kebusukan Papa di masa lalu, aku tidak akan mempercayai Papa lagi!"
David mengepalkan tangan, Ia sangat marah karena Bian seolah tak menghormatinya sebagai orangtua.
"Jika sudah tidak ada yang ingin Papa katakan lagi, sebaiknya Papa pergi dari sini." Usir Bian.
Tanpa mengatakan apapun lagi, David pergi meninggalkan kantor Bian.
David memasuki mobil, dirinya masih sangat emosi.
Ting... satu pesan masuk membuat David membuka pesan dari bank.
"Seratus juta? Apa yang Adam beli hingga menghabiskan uang sebanyak ini? Dasar laknat!" Omel David lalu mendial nomor seseorang.
"Lakukan seperti rencana kita, sekarang." Kata David lalu mengakhiri panggilan.
"Seharusnya sejak awal aku melakukan ini lalu semua selesai, bocah ingusan itu tidak akan bisa mengancamku lagi." Ucap David lalu tersenyum puas.
__ADS_1
Bersambung....