
Satria kembali menaiki motornya, Ia tampak tersenyum puas karena merasa beruntung hari ini. Sejak kemarin Ia selalu mengikuti gerak gerik Aruna namun tidak tahu kemana Aruna tinggal dan pagi ini Ia malah tak sengaja bertemu Aruna, mengantarnya sampai ke tempat tinggal Aruna yang baru.
"Nomor dua ratus tujuh." Gumam Satria lalu tersenyum lebar.
"Aku akan selalu mengingatnya Nona."
Satria melajukan motornya, tidak terlalu kencang hingga Ia sadar jika ada mobil yang mengikutinya.
Satria menatap ke arah spion, mobil yang sama yang selalu mengikutinya setiap hari kemanapun Ia pergi.
"Sial, sebenarnya siapa dia!" Umpat Satria karena akhir akhir ini Ia memang merasa selalu diikuti oleh mobil itu.
Satria menambahkan kecepatan laju motornya dan Ia memasuki gang kecil yang mungkin tidak akan bisa dilewati mobil itu. Satria harus mencari jalan pintas agar tidak diikuti sampai rumah.
"Bodoh, dia tidak akan bisa mengikuti ku lagi." Ucap Satria tersenyum puas.
Sementara didalam mobil, pria yang mengikuti Satria hanya tersenyum karena Ia mendapatkan info baru lagi yang mungkin akan membuatnya diberi bonus lagi oleh Bian.
...
Setelah meletakan semua yang Ia beli didalam kulkas, Aruna mengambil cangkir untuk membuat teh hangat lalu Ia letakan didepan Bian duduk.
"Aku tidak suka teh."
"Lalu apa?" Tanya Aruna, mengingat hubungan mereka sedang tidak baik dan bisa bisanya Bian banyak permintaan.
"Aku lebih suka... kamu."
Pipi Aruna langsung saja merona mendengar gombalan Bian.
"Ck, dasar perayu." Omel Aruna.
Bian tersenyum, "Sedikit melegakan karena bisa melihatmu tersenyum." Kata Bian membuat Aruna salah tingkah.
"Aku ingin memasak dulu." Kata Aruna ingin menghindar namun Bian menahan tangannya, tidak membiarkan Aruna pergi.
"Duduklah sebentar, aku ingin bicara."
"Apa ini tentang pernikahan?" Tanya Aruna seolah belum siap jika Ia harus menikah seminggu lagi sementara hatinya saja masih merasa patah setelah mengetahui fakta menyakitkan tentang kedua orangtuanya.
"Bukan, tentang ini." Bian memberikan sebuah map coklat pada Aruna.
"Bacalah..." pinta Bian.
Dengan tangan bergetar, Aruna membuka map itu lalu membaca isinya dan betapa terkejutnya Aruna saat mengetahui ternyata itu surat penahanan David yang sudah menjadi tersangka saat ini.
"Mungkin ini memang tidak bisa membayar nyawa orangtuamu tapi setidaknya, Papa dihukum atas apa yang sudah dia lakukan." Kata Bian.
Aruna terdiam, memandangi map itu. Entah dia harus merasa senang atau sedih yang pasti rasanya semua ini tak akan cukup dan adil.
"Jika kau ingin membalas lebih, kita bisa melakukanya setelah pria itu keluar dari penjara." Kata Bian lagi.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin kak, dia Papa kita." Kata Aruna dengan suara lemah.
"Seorang Papa tidak akan mungkin membuat anak anaknya kecewa melihat apa yang Ia lakukan dimasa lalunya."
Aruna menutup mapnya lalu mengembalikan pada Bian, "Tidak perlu melakukan apapun lagi, ini sudah lebih dari cukup." Ungkap Aruna.
"Dan untuk masalah pernikahan, aku tidak akan memaksa harus secepatnya, katakan jika kamu sudah siap." Kata Bian.
Aruna tersenyum lalu menganggukan kepala, merasa lega karena Bian mau mengerti tentang apa yang Ia rasakan saat ini.
"Sebaiknya kau segera memasak karena aku sudah kelaparan." Pinta Bian memudarkan senyum Aruna.
"Ck, tadi Kak Bian melarangku sekarang meminta ku untuk memasak." Protes Aruna.
Bian tersenyum, "Karena aku sudah selesai bicara dan sekarang aku ingin merasakan masakan calon istriku."
Pipi Aruna kembali merona mendengar ucapan Bian. Aruna segera pergi ke dapur untuk memasak meninggalkan Bian yang masih cekikikan dimeja makan.
"Udah akur nih ceritanya." Suara Nysa terdengar mendekat.
Nysa baru saja bangun tidur.
"Lo tu kalau disini jangan cuma nemenin tapi bantuin Aruna." Protes Bian melihat jam dinding sudah pukul delapan pagi dan Nysa baru bangun.
"Ck, biasanya juga pesen nggak masak sendiri." Jawab Nysa dengan santai menuangkan air ke gelas lalu meneguknya.
"Caper tuh anak pake masak segala." Celetuk Nysa.
"Potong gaji!"
"Nggak mau tahu, kalau Lo males malesan gini. Potong gaji!" Ucap Bian yang langsung membuat Nysa berlari ke dapur membantu Aruna.
Bian memang memberikan uang untuk Nysa karena Nysa mau menemani Aruna tinggal di apartemen sementara ini.
Ponsel Bian berdering, panggilan dari salah satu anak buahnya.
"Ada apa?"
Anak buah Bian tampak mengatakan sesuatu yang membuat Bian terkejut dan langsung emosi namun seketika emosi Bian mereda saat anak buahnya juga menceritakan kecerdikan Aruna saat mengelabui Satria.
"Jadi kapan kita akan mengeksekusi pria sialan itu Tuan?" Tanya anak buah Bian setelah menceritakan apa yang terjadi pagi ini.
"Belum saatnya, pastikan jangan lengah dan terus mengikutinya." Ucap Bian.
"Baik Tuan saya mengerti."
Bian meletakan ponselnya, Ia berbalik melihat punggung Aruna yang tengah memasak bersama Nysa.
"Ck, calon istriku memang bisa diandalkan." Gumam Bian lalu tersenyum.
Aruna selesai memasak, Ia segera menyiapkan semua makanan dimeja makan dimana Bian sudah menunggu disana.
__ADS_1
"Aku sangat penasaran bagaimana rasanya." Gumam Bian segera mengisi nasi beserta lauknya ke dalam piringnya.
"Jika enak itu masakanku jika tidak enak itu masakan Aruna." Celetuk Nysa penuh percaya diri.
"Potong gaji!"
"Baiklah aku akan mengunci bibirku dan pergi sekarang." Ucap Nysa lalu kembali memasuki kamarnya.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Kak Bian mengatakan potong gaji pada Nysa apa Kak Bian membayar Nysa karena menemaniku?" Tanya Aruna merasa curiga.
Bian tersenyum lalu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Aruna penasaran ingin mengetahui kometar Bian tentang masakannya.
"Hmm..." Bian tak kunjung menjawab dan malah kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Tidak enak ya kak?" Tanya Aruna dengan wajah cemas karena Ia juga baru beberapa kali memasak saat tinggal dirumah itupun karena Mbok Inem sedang sakit.
"Hmm..."
Aruna berdecak, merasa kesal karena Bian tak kunjung menjawab, Ia akhirnya berdiri dan berniat meninggalkan Bian namun Bian menahan tangannya.
"Enak... masakanmu sangat enak sayang." Ucap Bian dan pipi Aruna kembali merona.
Selesai sarapan Bian mengantar Aruna dan Nysa pergi ke kampus. Hari ini mereka ke kampus lebih siang dari biasanya.
Nysa keluar dari mobil lebih dulu sementara Aruna masih ditahan oleh Bian didalam mobil.
"Ada apa kak Bian?"
"Aku sangat bangga padamu."
"Bangga?" Aruna menatap Bian heran.
Bian hanya tersenyum lalu mengecup kening Aruna, "Nanti aku akan menjemputmu." Kata Bian.
"Tidak perlu menjemputku kak."
"Jadi kau masih tidak ingin bertemu denganku?"
"Bu bukan seperti itu kak." Aruna tak ingin Bian salah paham.
"Baiklah aku tidak akan datang menjemputmu, sekarang keluarlah."
Wajah Aruna memucat melihat Bian salah paham dan terlihat marah padanya.
"Kelualah sana, aku tidak akan menjemputmu nanti."
Aruna tak tahu apa yang harus Ia lakukan, Ia akhirnya memberanikan diri memeluk Bian.
Tanpa Aruna sadari, Bian tersenyum lebar.
__ADS_1
Bersambung...