MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
59


__ADS_3

David pikir dengan mengancam Bian akan meninggalkan Anneta bisa membuat Bian luluh dan menuruti semua keinginannya namun ternyata David salah.


Saat ini Bian malah menertawakan dirinya.


"Kau tertawa? Apa kau tahu Papa tidak main main dengan ucapan Papa!" Sentak David.


"Tinggalkan saja Mama, memang itu yang Bian inginkan sejak dulu." Balas Bian santai.


"Apa!" David terkejut dengan respon Bian yang sangat santai.


"Tinggalkan saja, Mama juga berhak bahagia dan bersama orang yang mungkin bisa mencintai Mama dari pada harus bertahan dengan pria brengsek seperti Papa!" Ucap Bian lantang.


"Pria brengsek? Berani sekali kau menyebut Papa mu pria brengsek!"


"Lalu aku harus menyebutnya apa? Papa memang brengsek!" Ucap Bian membuat David mengepalkan tangannya, sangat marah dengan Bian.


"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, sebaiknya Papa pergi saja, Bian sibuk dan sudah tidak ada waktu untuk mengurusi Papa!"


"Sial!" Umpat David sebelum akhirnya Ia keluar dari ruangan Bian.


Melihat David sudah keluar, Bian duduk dikursinya, Ia mengendurkan dasinya. Merasa sangat kesal dengan ucapan papanya yang menggunakan sang Mama untuk mengancamnya.


"Dia bukan suami yang baik untuk Mama, tidak perlu dipertahankan." Omel Bian.


Tak berapa lama pintu kembali terbuka, Bukan David yang memasuki ruangannya melainkan Sadam.


"Apa ada masalah pak?"


Bian menggelengkan kepalanya, "Hanya masalah kecil, bagaimana denganmu? Sampai mana proses pernikahannya?"


"Seminggu lagi pak," ucap Sadam sambil tersenyum.


"Ck, aku iri padamu bisa menikah secepat ini."


"Bapak juga harus menyegerakan pernikahan, ini sudah waktunya." Kata Sadam yang hanya membuat Bian tersenyum.


Sore sepulang kerja, Sadam menuju rumah Keisha untuk mempersiapkan segala sesuatu pernikahan mereka, mengingat pernikahan mereka seminggu lagi.


"Ada apa dengan pipimu?" Tanya Sadam saat melihat pipi Keisha memerah.


Keisha terlihat gugup, "Tadi aku tak sengaja terbentur dinding, memang masih kelihatan merah?" Tanya Keisha pura pura.


"Hmm, ku pikir ada yang menamparmu."


Uhuk uhuk... Keisha terbatuk membuat Sadam curiga.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa?"


"Tidak ada, aku hanya-"


"Jangan bohong, aku tahu kamu bohong." Potong Sadam.


Keisha menghela nafas panjang, "Tadi siang Ayah datang, kami bertengkar dan dia menamparku." Akui Keisha langsung membuat Sadam mengepalkan tangannya. Merasa heran, bagaimana bisa seorang Ayah menampar putrinya seperti itu.


"Apa masalahnya?"


"Tidak penting, jangan dibahas lagi."


"Ck, apa kau masih tidak mau jujur? Kita akan menikah sebentar lagi."


Keisha terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia mengatakan, "Ayah meminta sertifikat tanah dan uang sepuluh juta jika kita memintanya untuk menjadi wali dipernikahan kita nanti."


Giliran Sadam yang terdiam,


"Sudah jangan pikirkan lagi. Aku bisa mengatasinya sendiri." Kata Keisha merasa tak enak.


"Berikan saja apa yang dia mau."


"Haa?" Keisha menatap Sadam terkejut.


"Berikan saja sertifikat rumah dan uangnya, tidak masalah." Kata Sadam santai.


"Tentu saja Ibu akan tinggal dirumah kita, aku sudah menyiapkan rumah untuk kita dan Ibu jadi berikan saja apapun yang Ayahmu mau, asal pernikahan kita bisa berjalan lancar." Kata Sadam membuat Keisha terharu, tak menyangka jika Sadam juga memikirkan ibunya.


"Aku beruntung mendapatkanmu, sementara kamu tidak beruntung bersamaku." Ucap Keisha menahan tangis.


"Tapi aku sangat beruntung memilikimu." Kata Sadam membuat Keisha meleleh.


Mereka saling memandangi satu sama lain, tanpa sadar wajah keduanya saling berdekatan hingga saat Sadam memajukan bibirnya lebih dulu ingin mencium Keisha,


"Ibu sudah memasak mie untuk ka-" Asih tak melanjutkan ucapannya kala melihat Sadam dan Keisha hampir ciuman.


Seketika Sadam dan Keisha terkejut dan saling menjauh.


"Oh maaf, Ibu tidak berniat menganggu." Ucap Asih lalu memasuki kamar, tak ingin menganggu.


Sadam dan Keisha sama sama gugup.


"Sebentar lagi kita akan menikah, kenapa kamu tidak mengenalkan ku pada keluargamu, apa mereka akan merestui kita?" Tanya Keisha saat keduanya sedang makan di meja makan.


"Tentu saja mereka akan merestui siapapun yang menjadi pilihan ku."

__ADS_1


Keisha mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan ucapan Sadam.


"Besok kita akan kesana, meminta restu." Ucap Sadam sambil tersenyum.


"Baiklah."


Sementara itu di klinik, Anneta sedari tadi hanya diam saja padahal ada Aruna dan Bian yang menemaninya saat ini.


"Mama mau makan?"


Anneta hanya menggelengkan kepalanya,


"Ngemil sesuatu atau minum biar Bian belikan."


Lagi lagi Anneta hanya diam sambil memandangi ke arah pintu seolah sedang menunggu kehadiran seseorang.


"Kapan Mama bisa pulang? Mama bosan." Ungkap Anneta.


"Nanti Bian tanya sama dokter dulu, kalau boleh, Besok kita segera pulang."


Anneta mengangguk, "Setelah pulang, Mama mau liburan lagi."


Bian tersenyum, "Iya Mama bisa liburan kemanapun dan dengan siapapun."


"Kecuali dengan Papamu, Mama tidak mau!" Ungkap Anneta dengan mata memerah menahan tangis.


Bian mengenggam kedua tangan Anneta lalu menciumnya, "Mama pasti bisa bahagia setelah ini." Kata Bian.


Anneta terdiam cukup lama, mendengar ucapan Bian membuat Anneta menebak jika Bian sudah mengetahui perselingkuhan Papanya sama seperti dirinya yang sudah mengetahui perselingkuhan David.


Awalnya Anneta tidak mempercayai jika David selingkuh karena David selalu memperlakukan dirinya dengan baik dan sangat romantis. Berkali kali Anneta melihat ada tanda merah di leher juga dada David jika David pulang larut malam, namun Anneta masih menyakinkan dirinya jika itu mungkin hanya gigitan serangga hingga akhirnya malam kemarin sebelum Ia kehilangan janin dalam kandungannya, pertama kali selama pernikahan Anneta menerima panggilan telepon dari ponsel David dan ternyata adalah seorang wanita yang merengek manja. Setelah itu Anneta merasa prasangkanya selama ini benar.


Ditambah lagi saat David menemaninya  disini kemarin, Anneta sempat pura pura tidur hingga Ia mendengar percakapan David diluar bersama seorang wanita, Ya Anneta mendengar sebelum suara mereka hilang dan entah kemana mereka pergi.


Apa yang dirasakan Anneta saat ini sangat menyakitkan. Tidak hanya kehilangan calon Anaknya, Ia juga harus bisa menerima fakta jika Ia sudah kehilangan David.


Dan pagi tadi, David hanya mengatakan jika akan pergi menemui Bian namun belum kembali lagi sampai saat ini.


"Menangislah jika Mama ingin menangis." Ucap Bian masih mengenggam erat tangan Anneta.


Akhirnya Anneta menangis setelah Ia mencoba menahan diri sedari tadi agar tidak menangis.


Anneta sedang tidak baik baik saja, Ia sangat terluka saat ini.


Melihat Anneta menangis, Aruna yang juga berada disana tak tahan hingga akhirnya Ia juga ikut menangis. Keluarga harmonis yang Ia idamkan selama ini hancur sudah karena Papanya tergoda oleh wanita lain.

__ADS_1


"Mama harus bahagia setelah ini, jangan menahan toxic terlalu lama yang akhirnya membuat Mama merasakan sakit."


Bersambung....


__ADS_2