MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
84


__ADS_3

Satria baru saja memasuki area perkampungan menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, Satria merasa ada yang mengikutinya, entah hanya perasaannya saja atau memang ada yang mengikutinya, Satria tidak terlalu memperdulikan toh Ia merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun.


Satria menghentikan laju motornya saat sudah sampai disebuah rumah sederhana. Ia segera membawa masuk motornya ke dalam rumah tak lupa mengunci pintu.


Mbok Inem, Ibu angkatnya itu bekerja dirumah Bian membuatnya harus tinggal sendirian selama bertahun tahun dirumah ini.


Setelah membersihkan diri, Satria mengambil ponselnya, Ia duduk sambil menatap ke ponselnya dimana ada foto seorang gadis cantik yang tengah terlelap.


Tak hanya satu foto, ada beberapa foto bahkan ada foto yang memperlihatkan lekuk tubuh gadis yang sudah lama Ia incar itu.


"Sampai kapan aku harus menjadi pemuja rahasia seperti ini? Aku ingin memilikimu. Tubuhmu sangat indah dan seksi." Gumamnya merasakan hasratnya mulai muncul dan menjadikan foto itu fantasi liarnya.


....


Malam ini Bian tidak tidur dikamarnya, Ia tidur dikamar Aruna sambil berjaga jika penguntit itu kembali namun sepertinya penguntit itu tidak kembali malam ini.


Kali ini Bian benar benar yakin jika penguntit itu adalah Satria.


Bian melihat ada respon tak biasa dari raut wajah Satria saat mengetahui Aruna tidak pulang bahkan Satria juga langsung pulang kerumahnya. Ia mendapatkan laporan dari anak buahnya jika Satria tidak lagi keluar setelah pulang kerumah dan benar saja sekarang kamar Aruna sangat aman tidak ada yang masuk karena Satria tidak keluar rumah lagi.


Sangatlah mudah bagi Satria keluar masuk kamar Aruna saat siang hari karena keadaan rumah sepi saat siang dan Satria bebas mengotak atik apapun yang ada dikamar Aruna, termasuk menutupi cctv atau bahkan merusak pintu balkon. Semua itu bisa saja dilakukan Satria saat siang hari.


Tak terasa kantuk Bian muncul membuat Bian segera terlelap.


Paginya, saat sarapan bersama Anneta, seseorang datang. Orang itu tak lain adalah David.


Dua hari tak pulang David terlihat lemas dan kelelahan karena Ia harus menjalani hukuman sebagai office boy dihotel.


Saat pulang, David berharap bisa bertemu Mia untuk menghilangkan lelahnya namun Mia tidak ada dikamarnya.


"Kemana Mia? Apa kalian mengusirnya?" Tanya David menghampiri Bian dan Anneta dimeja makan.

__ADS_1


"Anda baru pulang dan langsung menanyakan keberadaan wanita itu? Mana kami tahu!" Balas Bian dengan nada ketus. Sungguh kepulangan David membuatnya kesal, seharusnya Ia menambahkan masa hukuman David lebih lama lagi agar tidak pulang secepat ini.


"Katakan dimana Mia!"


Anneta dan Bian hanya diam, tidak mengubris David membuat David kesal dan segera keluar rumah. Kini David mencari keberadaan Mang Torik, satu satunya orang yang mungkin masih berpihak padanya karena selama ini Ia selalu memberi banyak bonus pada mang Torik.


"Yang saya tahu, nona Mia pergi keluar kemarin siang dan tidak kembali lagi." Ucap Mang Torik berbohong karena sebelumnya Ia sudah diberikan arahan pada Bian agar tidak ada yang mengatakan jika Mia dipenjara saat ini.


"Sial, kemana gadis itu pergi! Apa dia tidak mengatakan sesuatu sebelum pergi?" Tanya David lagi.


"Tidak Tuan, saya hanya melihat Dia dijemput oleh seseorang yang mengendarai mobil mewah."


"Apa!" David sangat terkejut.


"Saya permisi Tuan" kata Mang Torik tak ingin membohongi David lagi jadi Ia memilih menghindar.


David mengepalkan tangannya, tak menyangka jika Mia tega melakukan itu padanya disaat dirinya sedang terpuruk seperti ini.


"Dasar wanita murahan!" Umpat David.


David baru ingin masuk kerumah, melihat ada sebuah mobil mewah melewati gerbang rumahnya dan masuk ke pelataran rumah membuatnya menghentikan langkahnya.


David menatap ke arah mobil itu, tadinya Ia pikir itu adalah Mia dan kekasih barunya namun ternyata David salah.


Seorang pria yang mungkin seumuran dengannya dan terlihat tak asing keluar dari mobil membawa sebuah map melihat ke arahnya.


David menatap lebih intens ke arah pria berkaca mata yang juga mengenakan masker itu, membuat David tidak bisa mengenali pria itu. dan saat pria itu semakin dekat lalu membuka kaca mata serta maskernya, David sangat terkejut karena Ia sangat mengenali pria itu.


Jantung David berdegup sangat kencang, tubuhnya bahkan bergetar saat melihat senyum dari pria itu.


"Apa kabar?"

__ADS_1


....


Aruna sudah bangun sedari tadi namun Ia masih berbaring belum beranjak dari ranjang apalagi melihat Nysa yang berada disampingnya masih terlelap membuat Aruna ikut malas untuk bangun.


Aruna menatap ke arah jam dinding, sudah pukul setengah tujuh pagi, biasanya jika berada dirumah pasti saat ini Ia tengah sarapan bersama Bian dan Mama. Mengingat itu sontak saja membuat Aruna sangat kesal karena Ia tak bisa berkumpul dengan keluarganya malah terdampar disini sendirian.


"Kenapa kak Bian sangat menyebalkan, membiarkan ku tinggal disini sendirian." Omel Aruna.


"Apa kau bicara sendiri?" Suara Nysa terdengar membuat Aruna berbalik dan melihat Nysa sudah bangun.


"Aku masih kesal dengan Kak Bian karena menyuruhku tinggal disini sendirian!"


"Ck, bukankah itu malah bagus." Decak Nysa.


"Bagaimana bisa kau mengatakan seperti itu!" Kesal Aruna karena Nysa membela Bian.


"Ya bagus, jika dirumah itu mungkin kalian tidak akan bisa berduaan karena ada banyak orang dirumah sementara jika kau tinggal disini, Kak Bian bisa kapan saja datang dan kalian bisa selalu berduaan disini."


Aruna akhirnya diam tak lagi protes, apa yang dikatakan Nysa memang benar. Setelah Mama Anneta pulang kerumah, baik Aruna maupun Bian memang jarang bersama seperti saat tidak ada Anneta.


"Apa kalian pernah berciuman?" Tanya Nysa dengan senyum tengilnya membuat pipi Aruna langsung saja memerah malu.


"Jika melihat responmu, aku pikir kau memang sudah pernah berciuman dengan Kak Bian." Kata Nysa lagi lalu tertawa membuat Aruna semakin malu.


"Ck, jangan menanyakan hal seperti itu, sadar menyebalkan!" Ucap Aruna beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Nysa yang masih menertawakan dirinya.


"Hanya pertanyaan seperti itu kenapa membuat wajahku panas seperti ini." Gumam Aruna menatap dirinya didepan cermin.


Aruna memeganggi bibirnya, Ia malah membayangkan saat Bian menciumnya lalu sejenak Ia sadar dan langsung menggelengkan kepalanya, "Dasar gila, apa yang ku pikirkan!" Umpat Aruna lalu menguyurkan air diwajahnya agar Ia segera sadar.


"Tapi kenapa aku tiba tiba merindukan Kak Bian? Ck dasar menyebalkan. Aku tidak ingin merindukan kak Bian dan tidak akan lagi membiarkan Kak Bian menciumku, lihat saja. Aku akan membuatnya tersiksa!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2