MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
101


__ADS_3

Aruna menatap ke arah Satria dengan tatapan tak percaya, Ia merasa tak mungkin Satria melakukan itu. Selama ini Aruna melihat Satria sangat baik.


Aruna terkejut kala ada yang merengkuh pundaknya, saat Aruna berbalik ternyata itu Bian, tersenyum hangat menatap ke arahnya.


"Ayo kembali ke apartemen." Ajak Bian.


"Tapi dia..." Aruna menunjuk ke arah Satria yang tersungkur dilantai dengan wajah dipenuhi luka lebam.


"Ada orang yang lebih berhak mengurus dia." Kata Bian yang akhirnya diangguki oleh Aruna.


Bian menatap ke arah seorang pria yang sedari tadi berada dibelakangnya, pria yang tak lain adalah anak buah Bian.


"Urus sisanya." Perintah Bian.


"Baik Tuan."


Bian merangkul Aruna, membawa Aruna memasuki lift.


"Siapa pria itu?" Tanya Aruna.


"Orang yang selama ini membantuku." Balas Bian santai.


"Membantu apa?" Aruna menatap Bian heran.


Bian hanya tersenyum, Ia malah menatap penampilan Aruna, "Kau mau pergi?"


Aruna mengangguk,


"Di jam malam seperti ini?"


Aruna kembali mengangguk,


"Apa kau gila? Apa kau tidak memikirkan keselamatanmu?" Tanya Bian mulai kesal.


"Aku tidak gila, aku hanya kesepian berada di apartemen sendirian. Aku hanya ingin pulang kerumah!" Tegas Aruna.


Bian menghela nafas panjang, "Baiklah, kita akan pulang sekarang."


Bian menekan tombol ke lantai dasar apartemen.


"Pulang? Kak Bian serius?" Tanya Aruna terlihat senang.


"Tentu saja, aku tidak mungkin tega meninggalkan kekasihku sendirian di apartemen." Ucap Bian.


Aruna berdecak, "Seharusnya Kak Bian mengatakan itu kemarin, untuk apa membeli apartemen hanya membuang buang saja." Omel Aruna.


Bian tertawa, "Itu uangku, untuk apa kau harus marah."


"Dan sebentar lagi uang kak Bian akan menjadi uangku." Ucap Aruna penuh percaya diri membuat Bian semakin tergelak.


"Baiklah Nyonya Bian, jadi kapan kita bisa mengurus pernikahan kita?" Tanya Bian penuh harap.


Aruna tak menjawab, hanya memperlihatkan pipinya yang merona memerah malu.


"Besok?" Pinta Bian.


"Aku anggap diam mu itu Iya." Kata Bian yang akhirnya membuat Aruna mengangguk tanda setuju.


Bian tersenyum lebar lalu mempererat rangkulannya.

__ADS_1


Keduanya memasuki mobil, segera Bian melajukan mobilnya meninggalkan Apartemen.


"Apa yang akan terjadi pada Satria setelah ini kak?" Tanya Aruna terlihat masih mengkhawatirkan Satria.


Bian diam, "Jika kamu tahu apa yang sudah dia lakukan padamu, apa kamu masih bisa peduli padanya seperti ini?" Batin Bian.


"Apa dia akan dipenjara kak?" Tanya Aruna lagi.


"Mungkin..."


"Lalu bagaimana dengan Mbok Inem, pasti Mbok sangat sedih." Kata Aruna dengan wajah murung.


Bian menghela nafas panjang, "Apa kau masih belum menyadari semuanya?" Heran Bian pada Aruna yang masih belum tahu sadar siapa yang di incar oleh Satria.


"Menyadari apa kak?"


"Ck, sudahlah jangan dibahas lagi."


"Selalu seperti itu." Omel Aruna.


Bian hanya tersenyum.


Keduanya sampai dirumah, saat akan masuk bersamaan dengan Mbok Inem yang akan keluar dengan raut wajah kacau seperti habis menangis.


"Biar diantar mang Torik Mbok." Kata Anneta terlihat cemas.


"Terima kasih Nyonya, saya permisi dulu." Ucap Mbok Inem lalu keluar dari rumah.


"Akhirnya kalian pulang juga." Kata Anneta saat melihat Bian dan Aruna.


"Mbok Inem pasti sedih..." gumam Aruna.


"Apa kalian sudah tahu?" Anneta tampak terkejut.


"Kemana kak?"


"Ada yang harus ku urus."


"Apa benar dia pelakunya Bian?" Tanya Anneta.


Bian mengangguk, "Sekarang sudah aman."


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Aruna tak mengerti.


Bian hanya tersenyum, mengelus kepala Aruna sebentar lalu segera pergi meninggalkan rumah.


"Sebenarnya mau kemana Kak Bian?" Tanya Aruna.


"Ada yang harus dia urus."


"Apa masalahnya Ma?" Tanya Aruna.


Anneta menggelengkan kepalanya, "Besok biar Bian yang cerita sama kamu."


Anneta merangkul pundak Aruna mengajaknya memasuki kamar Anneta.


"Duduklah, ada yang ingin mama perlihatkan." Pinta Anneta yang langsung di angguki oleh Aruna.


Anneta membuka lemari miliknya dan mengambil sebuah kotak kecil yang ada disana.

__ADS_1


Anneta membawa kotak itu dan duduk bersama Aruna.


Anneta membuka kotak itu lalu mengambil sebuah foto.


"Lihatlah..."


Aruna melihat di dalam lembar foto itu terdapat empat orang. Dua wanita dan dua pria.


Aruna terkejut saat melihat pria yang tak asing untuknya.


Pria itu adalah Ryan, pria tua tampan yang sangat ramah.


"Aku pernah bertemu dengan pria ini, namanya Om Ryan kan?" Tanya Aruna memastikan jika Ia benar.


Anneta mengangguk, "Ya... dia mantan kekasih mama sewaktu masih muda."


Lagi lagi Aruna terkejut, " Mantan kekasih Mama? Jadi wanita yang membuatnya tidak bisa move on sampai sekarang hingga Ia tak menikah itu Mama?" Tanya Aruna karena Ryan pernah menceritakan itu padanya saat dikantor Bian.


"Apa dia menceritakan itu? Dia membuatku malu." Ucap Anneta tersenyum malu malu.


Aruna kembali menatap foto itu, Ia melihat ada sepasang pria dan wanita yang terlihat bahagia. Entah mengapa melihat pasangan itu membuat hati Aruna menghangat.


"Dia Rega dan ini Amina." Kata Anneta jarinya menujuk ke arah foto, "Mereka adalah... orangtua kamu."


Deg...


Aruna menatap Anneta lalu kembali melihat ke fotonya.


"Orangtua ku?" Tanya Aruna seolah masih tak percaya.


"Ya kami dulu bersahabat. Itulah kenapa Ryan datang kepadamu, karena kamu adalah putri mereka yang sangat berharga."


Tanpa disadari air mata Aruna menetes mendengar ucapan Anneta.


Anneta mengenggam tangan Aruna, "Maafkan atas segala kesalahan David yang membuat hidupmu seperti ini. Jika saja Mama tahu sejak awal, mungkin Mama tidak akan membiarkan David berada disini sampai saat ini." Ucap Anneta terlihat merasa sangat bersalah.


Aruna menggelengkan kepalanya, "Bukan salah Mama, memang semua sudah harus seperti ini. Mama jangan merasa bersalah lagi."


Anneta tersenyum, "Mama cuma berharap kamu bisa segera menikah dengan Bian karena dulu Mama dan Mama kamu pernah berjanji akan menjodohkan kamu saat sudah dewasa dan mungkin sekarang waktunya."


Aruna tersenyum lalu mengangguk setuju, Ia tak ingin lagi marah pada Bian atas apa yang terjadi saat ini karena semua terjadi bukan salah Bian.


"Simpan foto ini untukmu." Kata Anneta.


"Terima kasih Ma... terima kasih karena Mama sudah menjaga dan menyayanggi Aruna selama ini." Ucap Aruna.


"Tentu saja Mama harus melakukan itu. Jika saja Amina dan Rega masih ada mereka pasti akan bangga memiliki putri cantik yang sangat baik hati sepertimu."


Aruna tersenyum kembali memandangi foto yang masih ada ditangannya.


"Mama... papa... rasanya senang karena akhirnya Aruna tahu siapa orangtua Aruna yang sebenarnya.


Maaf karena sempat membenci kalian, Aruna pikir Aruna anak yang tak di inginkan tapi ternyata...


Bahagia disana Ma... Pa... Aruna juga sudah bahagia disini.


Orang jahat yang sudah menyakiti Mama dan Papa sudah ditangkap sekarang.


Aruna sayang Mama dan Papa." Batin Aruna lalu mencium foto kedua orangtuanya.

__ADS_1


Bersambung ..


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2