
Jessi salah satu dosen bahasa asing yang mengajar dikampus Aruna. Dosen cantik yang juga terkenal killer. Jessi baru beberapa bulan berada di indonesia namun Ia sudah bisa menguasai bahasa indonesia.
Jessi menjadi Dosen yang disukai para mahasiswa kampus karena kecantikannya namun banyak juga yang takut karena Ia terkenal galak dan tegak, taks segan menghukum murid bandel yang susah diatur.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Jessi berjalan mendekat ke arah Bian dan Aruna. "Apa kau tahu kau sudah membuat keributan dikampus?"
Keisha langsung pasang badan, Ia mendekat dan mencoba menjelaskan karena Ia juga terlibat dalam membantu Sadam suaminya.
"Begini miss, Suami Aruna ingin memberikan surprise pada Aruna jadi saya inisiatif meminjam lapangan ini sebentar, saya juga sudah membuat laporan pada Pak Gito." jelas Keisha.
"Saya tidak mau tahu apapun alasannya, ini kampus bukan tempat untuk membuat acara pribadi seperti itu!" tegas Jessi.
"Kalian berdua harus mendapatkan hukuman." Jessi menunjuk ke arah Aruna dan Keisha.
"Apa harus seperti itu? Mereka tidak salah apapun." kata Bian membela setelah cukup lama Ia diam.
"Jika kau tidak terima, bawa istrimu pergi dari sini dan jangan biarkan dia kembali lagi kesini." ucap Jessi sinis membuat Bian mengepalkan tangannya.
"Baik Miss, kami akan terima hukumannya tapi tolong jangan diperpanjang masalah ini." ucap Aruna.
"Aku baik baik saja, sebaiknya kau segera pergi dari sini." ucap Aruna pada Bian.
"Pak Wartoo!" panggil Jessi pada pria paruh baya yang baru saja lewat membawa alat kebersihan.
"Iya miss, ada apa panggil saya?" tanya Pak Warto yang kini sudah berada didepan Jessi.
"Bawa dua anak ini untuk membersihkan seluruh kamar mandi kampus!"
"Apa kau gila?" ucap Sadam dan Bian secara bersamaan.
"Jika kalian masih ingin kuliah dikampus ini sebaiknya ikut pak Warto sekarang tapi jika kalian tidak ingin ku anggap kalian out!" kata Jessi yang langsung diangguki Keisha dan Aruna.
"Kami baik baik saja, sebaiknya kalian segera pulang." ucap Aruna pada Sadam dan Bian.
Aruna dan Keisha segera mengikuti Pak Warto.
"Bagaimana kabarmu? kau terlihat sedang tidak baik baik saja." tanya Jessi melihat kedua tangan Bian diperban dan ada banyak bekas luka diwajahnya.
"Bukan urusan mu, bebaskan istriku dari hukuman tidak bermutu yang kau buat itu!" sentak Bian.
__ADS_1
Jessi tertawa, "Wow, istriku? jadi benar gadis kecil itu istrimu. Apa seleramu sudah berubah sekarang?" ejek Jessi.
Bian diam tidak menjawab pertanyaan Jessi, Ia memilih pergi dari pada melayani ucapan Jessi yang hanya memancing emosinya saja.
Jessi seolah belum puas, Ia berlari menghadang Bian, "Apa kau gila? kau tidak malu?"
Jessi melihat ke sekitar dimana banyak mahasiswanya yang menatap heran ke arahnya namun Jessi seolah tak peduli dengan tatapan para anak kampusnya.
"Aku datang ke indonesia menetap ke sini karena ingin lebih dekat denganmu tapi ternyata kau sudah menikah dengan orang lain , aku sangat kecewa." ungkap Jessi.
"Aku sama sekali tak peduli dengan apa yang kau ucapkan, kita sudah selesai lama jadi berhenti mengikutiku!" ucap Bian terlihat muak.
Selama berada diluar negeri Bian memang masih sering diikuti oleh Jessi namun Ia mengabaikan gadis itu dan Bian tak menyangka jika Jessi nekat mengikutinya sampai Indonesia.
"Bukankah dia adikmu? Bagaimana bisa kalian menikah?" tanya Jessi merasa sudah kecolongan karena anak buah yang Ia sewa untuk menyelidiki Bian mengatakan jika Aruna itu hanya adik Bian bukan kekasih apalagi istrinya.
"Kau tidak pernah berubah, sampai kapan kau akan menyelidikiku seperti itu?" tanya Bian terlihat muak.
"Sampai aku bisa mendapatkan mu kembali." ucap Jessi mantap.
"Jangan terlalu berharap, aku tidak ingin kau kecewa." ucap Bian sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan Jessi.
Jessi kembali ingin mengejar namun dihentikan oleh Sadam, "Sudah cukup Nona, usahamu akan sia sia karena Pak Bian sudah sangat mencintai istrinya." ucap Sadam tersenyum mengejek pada Jessi lalu meninggalkannya.
Sementara Aruna dan Keisha sudah melakukan tugasnya, membersihkan kamar mandi.
"Maaf, karena membantu Kak Bian kamu malah ikut menerima hukuman ini." ucap Aruna merasa bersalah pada Keisha yang harus ikut membersihkan kamar mandi bersamanya.
"Tidak perlu sungkan Runa, Suamimu sudah banyak membantu suamiku jadi apa yang ku lakukan saat ini tidak seberapa." ucap Keisha tersenyum.
"Ck, aku juga terkejut Kak Bian melakukan hal konyol seperti itu."
Keisha kembali tersenyum, "Karena dia mencintaimu jadi melakukan itu." ucap Keisha yang langsung membuat pipi Aruna memerah malu.
Tiba tiba Jessi masuk membuat keduanya terkejut, "Apa kalian hanya mengobrol dan tidak mengerjakan apapun?" Sentak Jessi.
"Apa Miss tidak lihat kami sedang membersihkan tempat ini?" ucap Keisha melawan Jessi.
"Tapi kalian terlalu banyak mengobrol!"
__ADS_1
"Kami bukan anak sekolah yang harus mendapatkan hukuman seperti ini, lagipula kesalahan kami tidak fatal seharusnya kami tidak harus melakukan ini!" ucap Keisha lagi.
"Jika kalian tidak mau melakukan ini, sebaiknya kalian keluar saja dari kampus ini!"
"Sudahlah, jangan diperpanjang lagi." bisik Aruna pada Keisha namun Keisha tak mengubris Bisikan Aruna dan tetap melawan Jessi.
"Kau baru beberapa bulan disini namun sudah menjadi penguasa, apa karena ada orang dalam yang membantumu?"
"Jaga ucapanmu! Aku akan menambah hukumanmu!"
Keisha malah tertawa, "Jadi aku benar kan? Aku pernah melihatmu masuk hotel bersama donatur kampus, apa yang kalian lakukan? Tidur bersama agar kau jadi penguasa kampus?"
Jessi terlihat geram, Ia hendak menampar Keisha namun tangannya lebih dulu dicekal oleh Keisha, "Jangan kasar Miss, ada banyak cctv tersembunyi disekitar sini." ucap Keisha lalu melepaskan cekalannya.
"Ayo kita keluar dari sini Run, hukuman kita sudah berakhir." ajak Keisha, mengandeng tangan Aruna membawanya keluar dari kamar mandi.
Jessi mengepalkan tangannya, Ia merasa sangat marah saat ini.
Kini Aruna dan Keisha sudah berada diluar, Aruna menghentikan langkahnya, "Seharusnya kita tidak melawan tadi." ucap Aruna pada Keisha.
"Jika kita tidak melawan, dia akan semakin menindas kita."
"Tapi bukankah-"
"Ck, sudahlah. Apa kau tidak sadar semenjak dia menjadi dosen dikampus kita, banyak peraturan menyebalkan yang dia buat, aku sungguh muak." omel Keisha.
Aruna terdiam, merasa jika ucapan Keisha memang benar. Setelah adanya Miss Jessi ada banyak peraturan aneh dikampusnya.
"Dia menjadi simpanan Para Donatur sangat wajar jika Ia bisa berkuasa seperti itu." ucap Keisha lagi.
"Apa itu benar?"
"Aku melihatnya sendiri dihotel tempat honeymoonku bersama Sadam."
Aruna terdiam, masih tak menyangka namun itulah faktanya. Mungkin jika bukan karena orang dalam, Jessi tidak akan bisa seperti sekarang.
"Tapi apa kau tidak merasa aneh, saat Suamimu dan Jessi bertemu dilapangan, keduanya terlihat sangat terkejut, apa mereka saling mengenal?"
Aruna menatap Keisha,
__ADS_1
Mungkinkah...
Bersambung...