
Saat ini semua orang dikampus ramai membicarakan hubungan gelap antara donatur kampus dan Jessi.
Kebanyakan para mahasiswa kampus memuji kemolekan tubuh Jessi sementara para mahasiswi menyebut Jessi wanita sampah karena menjalin hubungan gelap dengan suami orang hanya karena uang dan kekuasaan.
Keisha yang mengetahui apa yang terjadi terlihat berlari ke kelas Aruna dimana disana Aruna duduk termenung ditemani Nysa.
"Jangan salah paham Run, Pak Bian dijebak. Gue dan Mas Sadam bisa kok jadi saksinya." ucap Keisha.
"Nah bener kan, gue juga udah ngira kalau Kak Bian dijebak sama ulet keket yang gatelnya minta ampun itu." ucap Nysa tak mau kalah.
"Gimana ceritanya bisa gitu?"
"Pak Bian tahu kalau Kamu digangguin sama Jessi itulah sebabnya kemarin Pak Bian minta anter Mas Sadam buat nemuin Jessi, ditemenin sama Leo juga."
"Siapa Leo?" potong Nysa.
"Lo tu emang bener bener deh!" kesal Keisha pada Nysa karena memotong ucapannya.
"Leo anak buahnya Kak Bian." Jawab Aruna.
"Ganteng nggak?"
"Buat apa sih ganteng kalau pengkhianat!"
"Haa?" Aruna dan Nysa sama sama terkejut.
"Gimana maksud kamu?" tanya Aruna butuh penjelasan.
"Yang fotoin Bian pelukan sama Jessi itu Leo, nggak tau motifnya apa, Mas Sadam juga baru nyelidikin." jelas Keisha.
"Aku mohon sama kamu, jangan marah sama pak Bian cuma karena kesalahpahaman ini, kamu harus bisa kuatin Pak Bian karena mungkin saat ini Pak Bian sedang down karena tahu Leo pengkhianat." ucap Keisha sambil mengenggam tangan Aruna penuh harap.
Aruna mengangguk paham, Ia memang sedikit kesal melihat foto pelukan itu namun kini kesalnya itu perlahan hilang karena penjelasan dari Keisha.
Beberapa teman Aruna lainnya juga datang memberikan support untuk Aruna.
"Awalnya gue kesel sama suami Lo Run tapi sekarang gue paham, jagain suami ganteng Lo itu Run biar nggak digatelin sama uler keket." ucap salah satu teman Aruna yang langsung membuat Aruna tersenyum.
Dan benar saja apa yang dikatakan Keisha, saat ini Bian sedang down karena Ia mengetahui pengkhianatan Leo.
Sadam baru saja memberikan informasi tentang pengkhianatan Leo.
__ADS_1
Tidak, bahkan sebelum Sadam memberitahunya, Bian memang sudah mengetahui, kemarin saat bertemu dengan Jessi, Ia melihat Leo mengarahkan kamera ponsel ke arahnya dimana saat itu Ia sedang dipeluk oleh Jessi.
Bian memang bodoh membiarkan Leo melakukan semua ini namun dengan masalah yang Ia hadapi sekarang, setidaknya Ia menjadi tahu mana yang baik dan tidak baik untuknya.
"Bagaimana bisa dia melakukan ini pak, apa dia lupa apa yang sudah Bapak lakukan untuknya!" ucap Sadam terlihat emosi.
Tadinya Sadam melancak ponsel akun yang menyebarkan itu dan cukup mengejutkan karena itu berasal dari ponsel Leo.
"Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Kita hanya perlu memecatnya."
"Semudah itu pak? Kita bisa memberikan dia hukuman." kata Sadam.
"Tidak, biar bagaimanapun dia sudah membantu banyak. Kita hanya perlu tahu alasan dia melakukan ini semua."
Sadam menghela nafas panjang, rasanya sangat kesal melihat Bian terlalu baik pada pengkhianat seperti Leo.
"Baiklah, apa saya perlu menyeretnya kemari?" tanya Sadam.
Bian menggelengkan kepalanya,"Aku memberi waktu libur untuknya, Dia pasti akan datang sendiri dan mengakui kesalahannya."
"Baiklah pak, saya permisi." ucap Sadam terlihat kesal namun Ia tidak bisa melakukan apapun.
Ditempat lain, Jessi sedang menghadapi sidang dimana ada para dosen dan petinggi kampus yang berkumpul disana. Beberapa donatur kampus juga tampak hadir kecuali Pras, pria tua yang sering bercinta dengannya.
"Seharusnya jangan tanyakan padaku, tanyakan pada Pras yang memintaku melakukan ini disini!" balas Jessi melawan.
"Hey kau menjawab? Apa kau tidak merasa malu dan bersalah atas semua kekacauan ini?" sentak dosen lainnya yang tampak geram dengan sikap Jessi.
"Aku malu tentu saja aku malu tapi aku dijebak!"
Pintu ruangan terbuka, dimana ada seorang wanita datang membawa beberapa bodyguardnya.
Kedatangan wanita itu membuat Jessi mendadak takut karena tahu siapa wanita itu.
"Dasar wanita murahan!" umpat wanita itu lalu berlari ke arah Jessi dan langsung menjambak rambut Jessi.
Jessi ingin melawan namun dua bodyguard yang dibawa wanita itu terlihat memeganggi tangannya, membuat Jessi tak bisa melawan dan semua orang yang ada diruangan tidak ada yang mau membantunya, mereka hanya melihat sambil tersenyum puas.
"Sakit, lepaskan aku!" teriak Jessi tak tahan karena rambutnya terasa ingin lepas.
"Sakit? Lalu apa kau tak tahu bagaimana sakitnya hatiku saat ini?"
__ADS_1
Jessi berdecak, "Bukan aku yang menggoda suamimu tapi suami mu sendiri yang datang padaku!"
Plakk.. Satu tamparan mendarat di pipi mulus Jessi.
"Jadilah istri yang baik agar suamimu tidak berpaling!" ucap Jessi membuat Istri Pras semakin geram dan menampar Jessi berkali kali.
"Aku akan melaporkan mu ke polisi atas kekerasan ini!" ancam Jessi.
"Lalu aku juga akan melaporkan mu atas perselingkuhan ini, bagaimana? Kau mau dipenjara bersama ku?"
"Brengsek! Lepaskan aku!" umpat Jessi pada kedua bodyguard yang masih mencekal kedua tangannya.
"Pecat dia dari sini pak, bagaimana bisa seorang pendidik memiliki perilaku menjijikan seperti dia." pinta istri Pras pada pemimpin kampus.
"Kami memang berniat memecatnya."
Jessi melotot tak percaya, "Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku!"
"Anda sudah mencoreng nama baik kampus ini tentu kami harus menyingkirkan Anda dari kampus ini." ucap pemimpin kampus.
"Lalu bagaimana dengan Pras? Dia juga sudah mencemarkan nama kampus ini!"
"Pak Pras tetap menjadi donatur tetap kampus ini."
Istri Pras tersenyum puas dan Jessi terlihat kecewa dan marah.
"Apa kau kecewa tidak ada yang menolongmu? Bahkan Pras saja tidak datang untuk menolongmu." ejek Istri Pras.
"Jadilah wanita baik agar kau diperlakukan baik tidak hanya dibutuhkan saat pria ingin menuntaskan hasratnya saja." ucap istri Pras lagi lalu keluar dari ruangan itu.
Jessi tampak diam dan masih shock, Ia memikirkan ucapan istri Pras yang memang benar. Saat ini dirinya terlihat seperti sampah sementara Pras, pria yang menikmati tubuhnya setiap hari bahkan tidak datang untuk membelanya.
Hidupnya sudah hancur saat ini, karirnya hancur dan sudah tidak ada harapan bersama Bian lagi.
Bian... Yang pria itu yang membuatnya rela pindah ke indonesia dan melakukan segalanya, berharap cintanya bisa kembali namun Ia sudah gagal sekarang.
Bian sudah mencintai wanita lain.
Jessi berjalan keluar dari ruang sidang, Ia harus segera pergi dari sini karena Ia sudah tidak diharapkan ditempat ini, semua orang memandangnya jijik dan rendah sekarang.
Saat ingin memasuki ruangannya, Jessi melihat Aruna berjalan bersama teman temannya, gadis itu tersenyum ceria seolah tanpa beban membuat Jessi benci dan sangat iri.
__ADS_1
Tanpa sadar, Jessi mengepalkan tangannya.
Bersambung...