
Dikantornya, Bian mencoba konsetrasi dengan pekerjaannya, Ia tidak ingin kemarahan Aruna menganggu pekerjaannya.
"Sudah jam makan siang kenapa Nona belum datang pak?" tanya Sadam merasa heran karena biasanya Aruna selalu datang tepat waktu saat jam makan siang untuk menyuapi Bian.
"Mungkin dia tidak akan datang." balas Bian.
Sadam tersenyum, "Apa Bapak sedang bertengkar?"
"Ck, kau tahu wanita selalu merasa dirinya itu benar, hanya karena tahu masa lalu ku saja dia marah padahal dia sendiri juga memiliki masa lalu!" ungkap Bian terdengar kesal.
"Jadi Nona sudah tahu tentang Jessi?"
Bian mengangguk, "Dia bertanya dan aku hanya menceritakan, apa masalahnya? Aku hanya ingin menjalani hubungan yang sehat dan penuh kejujuran"
Sadam tersenyum geli, "Tapi untuk urusan masa lalu sebaiknya kita sebagai pria untuk sedikit menutupi Pak, karena wanita memang seperti itu tidak mudah menerima masa lalu kita." jelas Sadam.
Bian mengangguk, "Kau memang benar, aku menyesal sudah menceritakan pada Aruna."
"Tidak apa pak, Nona hanya sedang kesal saat ini dan sebentar lagi dia akan segera melupakannya."
Bian kembali mengangguk, "Kita tunggu tiga puluh menit lagi, jika dia belum datang mungkin dia benar benar marah padaku."
Sadam mengangguk setuju.
Namun hampir tiga puluh menit menunggu, Aruna tak kunjung datang. Sadam yang tadinya keluar untuk makan siang pun kini sudah kembali ke kantor.
"Nona baru saja menghubungi saya pak jika Ia tidak bisa datang karena ada tugas susulan dari dosen." ungkap Sadam memperlihatkan pesan dari Aruna.
Bian berdecak, "Itu pasti hanya alasannya saja karena masih marah.
Sadam tersenyum, "Ya, mungkin memang seperti itu pak, jadi bagaimana Bapak akan makan siang?"
"Tentu saja kau yang harus menyuapi ku!"
Sadam terkejut, "Sa saya pak?"
"Jadi apa kau menolak dan membiarkan ku kelaparan?"
Sadam menggelengkan kepalanya, "Baik pak, saya akan menyuapi bapak."
Baik Sadam maupun Bian terlihat sangat canggung namun Bian juga tidak memiliki pilihan lain, Ia sudah sangat kelaparan dan rasanya tak mungkin jika meminta anak buahnya yang lain untuk menyuapinya, apalagi jika perempuan sudah pasti mereka tidak hanya menyuapi namun juga menggoda dirinya.
"Bapak ingin nambah?" tanya Sadam saat Bian sudah menghabiskan sebungkus nasi padang.
"Tidak, sudah cukup."
Sadam mengangguk, Ia bersiap untuk keluar dan kembali ke ruangannya.
"Sadam..." panggil Bian membuat Sadam berbalik mengurungkan niat untuk membuka pintu, "Terimakasih." ucap Bian membuat Sadam tersenyum.
"Tidak masalah pak."
__ADS_1
Sadam segera keluar karena suasana semakin canggung.
Jujur Sadam lebih menyukai Bian yang sering menyuruhnya kesana kemari seperti biasanya dibandingkan dengan Bian yang merasa tak enakan seperti ini.
Sementara Bian sendiri masih belum bisa konsentrasi karena memikirkan Aruna. Bian pikir Aruna hanya kesal sebentar namun ternyata kekesalan Aruna berlarut sampai sekarang.
Bian berpikir bagaimana agar Aruna tak lagi marah padanya.
Bian merasa frutasi, Ia akhirnya memanggil Sadam untuk kembali ke ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Bantu aku mendapatkan cara agar Aruna tak lagi marah padaku." pinta Bian.
Sadam terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia mengatakan, "Saya memiliki ide bagus pak."
"Katakan apa itu?"
Sadam menceritakan rencananya yang membuat Bian mengangguk setuju,
"Persiapkan semuanya!"
"°Baik Pak."
Sementara itu dikampus, Aruna baru saja menyelesaikan tugas dadakan dari dosennya, Ia segera keluar kelas membuka ponselnya tak ada notif pesan dari siapapun.
"Aku tidak bisa ke kantor Kak Bian karena tugas ini, dia pasti sangat kesal padaku karena tidak menyuapi makan siang." gumam Aruna berjalan menuju kantin untuk makan siang sebelum kelas kembali dimulai.
"Siap neng."
Aruna mencari tempat duduk, Ia sendirian saat ini karena Nysa tidak berangkat ke kampus.
Soto pesanan Aruna baru saja datang, Aruna segera menikmati soto hangatnya itu hingga tiba tiba seseorang duduk didepannya, "Tumben sendirian aja?" tanya Seseorang yang tak lain adalah Keisha yang langsung ikut duduk didepannya.
"Nysa nggak berangkat jadi ngerasa nggak ada temen." balas Aruna.
"Ck, makanya cari temen sebanyak banyaknya biar nggak ngerasa kesepian kalau pas lagi nggak ada."
Aruna tersenyum, "Nggak usah banyak, satu kalau orangnya tulus sama kita malah bikin kita bahagia dari pada banyak tapi cuma baik didepan aja." jelas Aruna.
"Eh bener juga," balas Keisha setuju dengan ucapan Aruna, "Ngomong ngomong gimana keadaan suami Lo?"
"Baik kok cuma tinggal tangannya aja masih belum sembuh."
"Gue ikut prihatin ya atas apa yang terjadi sama suami Lo." ucap Keisha.
"Iya makasih."
Aruna sudah menghabiskan makanannya, "Lo nggak pesen makan?" tanya Aruna melihat Keisha hanya menemaninya.
"Masih kenyang, oh ya ikut gue yukk!"
__ADS_1
"Kemana?"
"Ntar Lo tahu sendiri."
Tanpa menunggu persetujuan dari Aruna, Keisha menarik tangan Aruna membawanya keluar dari kantin.
"Mau kemana kita?" tanya Aruna namun tak dijawab oleh Keisha.
Langkah kaki Aruna terhenti saat keduanya berada di lapangan kampus.
Aruna terkejut menatap ke arah pria yang berdiri ditengah kampus memeluk bucket bunga.
Pria itu adalah Bian suaminya ditemani oleh Sadam yang berdiri disamping Bian membawa microfon genggam.
Sadam terlihat membantu Bian, mendekatkan microfon ke bibir Bian.
"Aruna sayang..." panggil Bian yang membuat semua mahasiswa menatap ke arah Bian, para mahasiswa langsung mendekat dan menyorak i, memberi semangat untuk Bian.
Sungguh Aruna sangat malu saat ini, rasanya Aruna ingin kabur saja dari sini.
"Lihatlah suamimu, bukankah dia sangat manis?" celetuk Keisha.
"Aruna sayang, apa kau mendengarku?" panggil Bian sekali lagi membuat sorakan semakin keras.
"Jika kau mendengarkan ku, aku hanya ingin minta maaf dan aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu sangat mencintaimu." ucap Bian yang kembali disambut sorakan para anak kampus.
"Jika mau memaafkan ku, terimalah bunga ini." ucap Bian lagi.
Bak memiliki banyak suporter, semua orang yang melihat pun kompak membantu Bian, mereka bahkan berteriak bersama agar Aruna menerima bunga yang dipeluk oleh Bian.
"Terima..."
"Terima..."
"Terima..."
Aruna menundukan pandangan, menyembunyikan wajah merah malunya karena kini semua mata tertuju padanya.
"Tidak perlu melakukan ini." ucap Aruna sambil menerima bucket bunga.
"Karena aku ingin kau tidak lagi marah padaku." ucap Bian membuat Aruna terharu dan akhirnya memeluk Bian.
Cieee...
Teriakan para anak kampus kembali mengema hingga ada satu teriakan yang membuat semua anak kampus langsung bubar.
"ADA APA INI? APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?"
Aruna melihat ke arah suara itu yang tak lain adalah dosen bule yang mengajar bahasa asing dikampusnya.
Sementara Bian tampak terpaku melihat ke arah dosen bule itu begitu juga dengan dosen bule itu yang terkejut melihat keberadaan Bian.
__ADS_1
Bersambung...