MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
46


__ADS_3

Gila, satu hal yang selalu ingin Aruna ucapkan saat berciuman dengan Bian. Kegiatan panas yang akhir akhir ini sering Ia lakukan bersama Bian.


Awalnya mereka berciuman karena Bian ingin melepaskan pengaruh obat perangsang yang diberikan oleh Adam namun semakin lama, Aruna merasa mereka sering melakukannya dan lagi, Aruna merasa sangat nyaman saat berciuman dengan Bian bahkan terkadang Ia menginginkan nya namun malu untuk mengungkapkan pada Bian.


Aruna mencoba menyadarkan dirinya, tentang status persaudaraan mereka. Tidak seharusnya mereka melakukan hal seperti ini.


"Bian kakakmu Aruna, sadarlah!" Batin Aruna mencoba melepaskan bibirnya yang masih bertaut dengan bibir Bian namun entah mengapa rasanya sangat sulit hingga akhirnya Bian yang lebih dulu melepaskan ciumannya.


"Dasar nakal!" Ucap Bian membuat wajah Aruna memerah malu.


Bian sendiri tampak gugup setelah mencium Aruna, Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan parkir bioskop.


"Mau makan apa?" Tanya Bian setelah keduanya diam cukup lama.


"Apapun."


"Ck, setidaknya memilihlah. Jangan membuatku bingung!"


"Eum, bagaimana kalau bakso?"


"Aku tidak suka."


"Ramen?"


Bian menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak suka."


"Lalu apa?" Giliran Aruna yang bertanya.


"Bagaimana kalau steak?" Giliran Bian yang memilih.


"Ck, kenapa kakak menyuruhku memilih jika akhirnya Kakak yang menentukan!" Kesal Aruna.


"Aku hanya ingin membuatmu kesal." Jawab Bian sambil tertawa, Aruna hanya mendengus sebal.


"Kita makan disini." Kata Bian menghentikan mobilnya disebuah restoran dengan menu utama steak daging.


Keduanya turun dari mobil, Bian tampak menunggu Aruna berjalan mendekat ke arahnya dan hap... Bian langsung mengenggam tangan Aruna.


Jika dilihat lihat, mereka tidak seperti kakak adik melainkan sudah seperti sepasang kekasih.


Aruna sendiri merasa jantungnya berdegup sangat kencang merasakan perlakuan Bian padanya.


Setelah memesan, keduanya menunggu makanan datang. Bian tampak membuka ponselnya, terkejut melihat pesan yang dikirimkan Sadam.


Adam baru saja masuk penjara.


Tak menunggu lama, Bian langsung mendial nomor Sadam.


"Bagaimana bisa?"


"Saya juga masih belum tahu Tuan, tapi saya akan menyelidikinya segera."


"Ya sudah," kata Bian lalu mengakhiri panggilan.


"Ada apa kak?" Tanya Aruna penasaran melihat perubahan raut wajah Bian.

__ADS_1


"Tidak apa, makan saja." Kata Bian saat makanan sudah datang.


Keduanya pun mulai makan dan sama sama diam hingga Bian menyodorkan garpu yang berisi sepotong daging.


"Aaaa..." Bian ingin menyuapi Aruna.


Tanpa ragu Aruna langsung melahap potongan daging yang diberikan Bian.


"Aku juga ingin mencicipi milik mu!" Pinta Bian.


Awalnya Aruna mengerutkan keningnya heran, makanan yang mereka pesan sama, namun Ia segera memotongkan daging miliknya karena Bian sudah menunggu suapannya.


"Enak..." puji Bian.


"Bukankah makanan yang kita pesan sama kak?" Heran Aruna.


"Memang sama tapi rasanya berbeda jika kamu menyuapiku."


Blush... pipi Aruna merona merah saat Bian mengatakan hal manis seperti itu.


Selesai makan, keduanya keluar dari restoran dan memasuki mobil.


Bian melihat jam tangannya, masih pukul delapan malam, terlalu awal untuk pulang karena ini malam minggu, besok mereka masih libur.


"Mau kemana lagi?" Tanya Bian.


"Terserah kakak saja."


Bian yang bingung mau kemana, akhirnya menghentikan mobilnya ditaman dimana ada danau disana.


"Kita gangguin nggak sih kak?" Tanya Aruna merasa tak enak saat tidak sengaja melihat sepasang kekasih tengah berciuman dibalik semak.


"Ya enggak ganggu, lagian salah mereka sendiri ciuman disini, kayak nggak ada hotel aja!"


Aruna tersenyum geli mendengar omelan Bian,


"Duduk disini aja." Ajak Bian mencarikan tempat duduk dengan view danau.


Keduanya pun sama samam duduk dengan memandangi air danau yang tenang.


"Udaranya seger banget." Gumam Bian terlihat nyaman berada disana.


Aruna hanya diam, memandangi danau sambil memikirkan sesuatu yang terasa menganggu.


"Kenapa diam saja? Biasanya kamu sangat bawel." Heran Bian.


"Kak... masalah calon istri kakak itu, kenapa dia tidak pernah diajak pulang kerumah?" Tanya Aruna tiba tiba teringat akan calon istri Bian dan ingin menanyakan pada Bian mengingat Aruna semakin hari semakin dekat dengan Bian. Bukan lagi dekat sebagai saudara melainkan lebih dari saudara.


"Ck, kenapa tanya itu!" Bian terlihat tak suka.


"Akhir akhir ini kita sering eum... berciuman aku hanya takut jika calon istrimu tahu dan dia akan marah." Ungkap Aruna.


Bian tertawa, "Dia tidak akan marah, tenang saja." Kata Bian sambil mengelus kepala Aruna.


Aruna mengerutkan keningnya heran, "Bagaimana bisa dia tidak marah? Apa dia tidak mencintai kakak?"

__ADS_1


Bian hanya tersenyum, tidak menjawab.


"Lalu apa kalian akan menikah?"


"Tentu saja." Balas Bian santai membuat dada Aruna tiba tiba terasa sesak.


Apa yang kamu harapkan Runa? Bian hanya menganggapmu sebagai adik dan dia akan melupakanmu setelah menikah. Kamu hanya akan tetap jadi adiknya sampai kapanpun batin Aruna.


Aruna sendiri merasa heran, kenapa Ia bisa memiliki perasaan seperti ini. Setelah Adam mengkhianatinya, entah mengapa perasaan cinta yang tadinya hanya untuk Adam kini beralih pada Bian, ya Aruna sangat mencintai Bian, entah sejak kapan perasaan itu ada, yang pasti saat bersama Bian, Aruna merasa sangat nyaman.


Bian mengeser tubuh Aruna, membawanya mendekat karena udara semakin dingin menembus kulit mereka.


Aruna hanya pasrah saja karena Ia juga menyukai saat berdekatan dengan Bian.


"Ada apa?" Tanya Bian yang kini menatap Aruna semakin dekat, melihat raut wajah sedih Aruna.


"Jangan menatap ku seperti itu kak." Ucap Aruna merasakan jantungnya berdegup sangat kencang saat Bian menatapnya.


"Aku suka menatapmu seperti ini."


Cup... Bian mengecup pipi Aruna.


"Kenapa kakak suka menciumku?" Tanya Aruna.


"Karena aku suka."


"Bagaimana jika calon istri kakak tahu?"


Bian tersenyum, "kau cemburu?"


Aruna langsung saja panik, karena Bian tahu apa yang Ia rasakan.


"Te tentu saja tidak, aku ini hanya adik kakak bagaimana bisa aku cemburu." Sangkal Aruna dengan wajah gugup.


"Ck, sayang sekali padahal aku ingin kamu cemburu." Balas Bian membuat Aruna mengerutkan keningnya heran, menatap Bian.


Bian mengelus rambut Aruna, Ia menatap wajah Aruna, wajah yang tidak pernah membuatnya bosan. Entah mengapa Ia memiliki perasaan gila seperti ini.


Jatuh cinta pada adikmu sendiri, perasaan terlarang yang seharusnya tidak pernah ada di antara mereka.


"Apa kamu masih mencintai Adam?" Tanya Bian dengan jantung berdesir, takut mendengar jawaban Aruna yang mungkin akan membuatnya kecewa.


Aruna menggelengkan kepalanya pelan membuat Bian langsung tersenyum.


"Lalu siapa yang kamu cintai sekarang?" Tanya Bian langsung membuat pipi Aruna memerah malu.


Aruna masih diam, tidak menjawab ucapan Bian.


"Siapa?" Tanya Bian terlihat tak sabar.


Bukannya menjawab, Aruna melihat ke sekitar, tidak ada orang,keadaan aman dan Ia langsung mencium bibir Bian.


Ya kali pertamanya Aruna memberanikan diri mencium bibir Bian.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa...


__ADS_2