
#Semimggu sebelumnya....
Handoko segera menyuruh Broto untuk menyelidiki kasus tabrakan Janaka diam-diam.
Ia hanya ingin memastikan apakah ucapan Janaka benar atau tidak sangat mendengar ia mengatakan jika kecelakaan yang menimpanya bukan kecelakaan tapi upaya pembunuhan.
Han yang sudah memahami tabiat putra tunggalnya tentu saja tak meragukan ucapan Janaka. Hanya saja sebagai ayah tentu saja ia tak mengira hal itu akan terjadi. Apalagi mengingat bahwa Janaka adalah figur kakak yang baik bagi Khalif meskipun ia hanya seorang kaka tiri.
Dengan kemampuan Broto Adiwijaya ia akhirnya berhasil menemukan mobil yang dipakai untuk menabrak mobil Janaka di sebuah tempat rongsokan.
Lelaki itu berusaha mencari tahu siapa pemilik mobil itu, dan pencariannya memerlukan waktu yang panjang karena mobil itu adalah mobil curian.
Namun Broto berhasil menemukan siapa penyewa mobil itu meskipun harus mengeluarkan uang yang cukup banyak.
*Flash back off
Handoko tampak memukuli dadanya saat mengetahui kenyataan bahwa Khalif lah sudah membunuh wanita yang dicintainya.
Broto segera memakaikan alat bantu pernafasan saat melihat Han mulai kesulitan bernafas.
"Sebaiknya anda tidak perlu mengungkit masalah ini lagi karena istri anda sudah memusnahkan semua bukti-bukti yang ditinggalkan Khalif," ujar Broto
"Tapi tetap saja aku harus memberikan pelajaran kepadanya, agar ia tahu apa akibat perbuatannya," jawab Handoko
"Sebaiknya anda harus fokus kepada kesehatan anda lebih dulu, jangan sampai masalah ini akan membuat kesehatan anda semakin menurun,"
"Kau tidak perlu khawatir," jawab Handoko menatap nanar kearah dinding kamarnya
Sore itu Dama sengaja mengadakan pesta untuk merayakan kebebasan Khalif.
Acara berlangsung meriah meskipun hanya dihadiri para keluarga Wiraatmadja.
Semua orang tampak tercengang melihat kedatangan Mariyah ibu dari Handoko, yang sebelumnya tinggal di luar negeri.
"Nenek,"
Khalif berlari menyambut kedatangan Mariyah, nenek kesayangannya dengan wajah bahagia.
"Kapan nenek tiba di Jakarta, kenapa tidak mengabari ku?" tanya Khalif
"Aku baru saja tiba, sekitar dua jam yang lalu. Aku sudah menghubungi mu, tapi ponselmu di pegang oleh ibumu karena kau sedang di tahan di kantor polisi. Dasar berandal kenapa kau masih saja menjadi anak nakal!" jawab Mariyah kemudian menghampiri Dama dan menyingkirkan wanita itu saat hendak duduk di kursi utama.
"Sudah ku bilang jangan pernah duduk di kursi ini selama aku masih hidup!" seru Mariyah menatap sinis kearah Dama.
__ADS_1
"Maaf Ibu, aku tidak tahu kalau ibu akan pulang ke rumah," jawab Dama segera menundukkan kepalanya
"Dasar menantu gak tahu diri, meskipun aku tidak ada di rumah ini harusnya kau tidak duduk di singgasana ku kecuali aku sudah memberimu izin. Asal kau tahu Kursi ini hanya boleh di duduki oleh wanita yang memiliki hati yang bersih bukan ular seperti mu," Seru Mariyah memukulinya
Dama hanya menunduk dan tak melawan saat wanita tua itu terus memukulinya.
Ia bahkan berkali-kali meminta maaf berharap Mariyah segera berhenti merundungnya di depan saudara iparnya, "Maafkan aku Ibu, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Dama kemudian bersimpuh di depan Mariyah.
"Cih, selalu saja seperti ini minta maaf terus, tapi dengan mudah mengulangi lagi kesalahan mu," sahut Maryam kemudian mendorongnya
Dama tampak mengepalkan tangannya dan juga mengeratkan giginya menahan amarahnya.
Ia hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan rasa kesalnya atas kedatangan ibu mertuanya tersebut.
"Aku dengar kau sudah memiliki calon istri apa itu benar?" tanya Alifah
"Darimana nenek tahu?" jawab Khalif
"Tentu saja aku tahu dari media," jawab Alifah.
Wanita itu bahkan mulai celingukan mencari wanita itu.
"Apa dia ada di sini?" tanya Alifah
"Kenapa kau tidak mengundangnya, bukankah kalian sudah jadian?"
"Belum nek, kami baru tahap pendekatan jadi aku belum berani membawanya ke sini. Tapi nenek jangan khawatir nanti aku pasti perkenalkan sama nenek," jawab Khalif
"Janji ya,"
"Heem," jawab Khalif mengangguk pelan
*Tak, tak, tak!!
Semua orang tiba-tiba menoleh saat mendengar suara derap langkah sepatu pantofel memasuki ruangan itu.
Mariyah tampak menatap lekat gadis didepannya tersebut.
"Siapa dia?" tanyanya kepada Khalif
"Perkenalkan saya, Nina Aryakunto perwakilan dari Hawi Corporation. Saya datang untuk memberikan selamat kepada Khalif mewakili Tuan Handoko," ucap Nina kemudian memberikan bunga yang dibawanya kepada Khalif
Dama yang sedang menahan marah berusaha melampiaskan kemarahannya kepada Nina.
__ADS_1
"Dasar lancang, meskipun Kau dan Khalif sedang dekat, tapi kau tak perlu memakai cara seperti ini untuk bisa masuk ke istana Wiraatmadja," tutur Dama kemudian membuang bunga pemberian Nina.
"Maaf Nyonya, tapi saya tidak bohong," jawab Nina
"Aku kira kau wanita yang berbeda hingga suamiku memilih mu sebagai calon istri untuk putraku, tapi ternyata kau sama saja dengan wanita lainnya,"
*Plaakkk!!
Semua orang seketika menganga saat melihat Mariyah menampar wajah Dama.
"Apa yang ibu lakukan!" seru Dama begitu marah
"Dasar wanita jahat, karena hatimu selalu dipenuhi dengan kebencian makanya kau tak bisa melihat kejujuran di mata gadis itu. Meskipun aku belum mengenalnya tapi aku bisa melihat kejujuran dalam dirinya," ucap Mariyah membuat Dama yang kesal segera berlari meninggalkan tempat itu.
Mariyah kemudian mendekati Nina, "Apa wanita yang sedang dekat dengan cucuku?"
Nina berusaha mengelak dan mengatakan jika hubungannya dengan Khalif tidak lebih dari seorang penggemar dengan idolanya.
"Kau terlalu merendah nak, aku bisa melihat ada cinta dari matamu meskipun kau tak mengatakannya," ucap Mariyah
Khalif buru-buru menghampiri Nina dan meminta maaf atas perlakuan ibunya. Nina tak mempermasalahkan hal itu.
"Wajar saja jika Ibumu bersikap seperti itu, sebagai seorang ibu dia pasti menginginkan putranya mendapatkan calon istri yang baik. Kalau aku jadi dia mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama," jawab Nina membuat Mariyah kembali memujinya
Wanita itu begitu menyukai Nina sejak pertama melihatnya. Belum lagi melihat tutur bahasa santun Nina dan sikap ramahnya membuat Ia semakin mendukung Khalif untuk menjadikan Nina sebagai calon istrinya.
"Orang tua selalu memilihkan yang terbaik untuk putra-putrinya, kali ini aku setuju dengan pilihan Han, semoga kalian berjodoh dan bisa hidup bahagia selamanya,"
"Aamiin,"
Setelah acara selesai Khalif sengaja mengantar gadis itu pulang. Namun Nina menolaknya dengan alasan ia tak mau terlalu dekat dengannya.
"Sebaiknya aku pulang sendiri saja,"
"Kenapa?" tanya Khalif
"Aku tak mau kau membuatku merasa nyaman denganmu. Meskipun aku berusaha bersikap biasa tapi yang namanya hati siapa yang tahu. Karena aku tak mau terluka jadi sebaiknya jangan terlalu memberiku harapan," jawab Nina
"Kenapa kau berkata sepatu itu, apa kau sakit hati karena ucapan ibuku?"
"Tidak, aku hanya tidak mau terlalu berharap,"
"Terserah apa katamu asal kau tahu jika selama ini aku tak pernah menyukaimu jadi jangan geer. Seperti yang kau minta mulai hari ini aku tidak akan menemui mu lagi, hubungan kita cukup sampai disini saja," jawab Khalif
__ADS_1