My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 23


__ADS_3

"Sampai kapanpun aku tidak pernah sudi menikahinya. Aku hanya menikahinya untuk mendapatkan HAWI Corporation agar bisa menaklukkan hati wanita yang aku cintai, jadi tolong singkirkan dia dan buat kematiannya seperti kecelakaan murni dan jangan ada jejak yang tertinggal," ucap Khalif kepada pengawalnya


"Baik Tuan,"


Ia kemudian memberikan sejumlah uang kepadanya dan segera bergegas meninggalkannya.


Saat semua orang tengah menikmati pesta yang begitu meriah. Seorang pengawal pribadi Khalif menyelinap masuk ke kamar pengantin.


Ia kemudian menyiram sebotol minyak ke toilet. Ia kemudian membersihkan ruangan itu hingga minyak itu tak terlihat.


Setelah itu ia sengaja menyabotase lift dan memasang tulisan lift rusak sehingga tak ada orang yang berlalu lalang di sekitar kamar pengantin.


Melihat Nina seharian berdiri bersamanya membuat Khalif mengambilkan segelas air untuknya.


"Minumlah, kau pasti sangat kehausan," ucap Khalif


"Terimakasih," jawab Nina segera meraih gelas dari tangannya


Mariyah tampak bahagia melihat keromantisan keduanya.


"Kau pasti sangat menyayanginya, hingga begitu tahu kalau dia kehausan," ucap Mariyah


"Tentu saja nenek, kalau aku tidak menyayanginya, mana mungkin aku menikahinya," jawab Khalif


"Ah benar juga,"


Tiba-tiba Nina merasa kebelet pipis setelah meminum air itu. Ia kemudian meminta ijin kepada Khalif untuk pergi ke toilet.


Namun Khalif tak membiarkan ia pergi sendirian. Ia memanggil dua orang penta rias untuk menemaninya.


"Maaf aku tak bisa menemanimu karena temanku baru saja tiba," ucap Khalif menunjuk dua orang pemuda yang datang menghampirinya


"Iya tidak apa-apa, aku bisa sendiri kok," jawab Nina


"Bagaimana kalau nenek temani," ujar Mariyah


"Tidak usah Nek, nenek di sini saja temani Ibu Dama," tolak Nina dengan halus


"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya sayang,"


"Iya nek," jawab Nina kemudian bergegas pergi


Dua orang penata rias membantunya mengangkat gaun pengantin Nina yang sangat panjang.


Sementara itu Janaka sengaja terus mengamati Khalif yang tampak berbincang dengan teman-temannya.


Sudah puas melihat Mutia, Janaka pun bergegas kembali ke kamarnya.


Saat hendak naik lift ia melihat sebuah tulisan yang memberitahukan jika Lift rusak hingga memutuskan untuk naik tangga.


"Bagaimana bisa lift hotel bintang lima rusak, apalagi saat ada acara penting seperti hari ini,"


Ia begitu terkejut saat mendengar seseorang berteriak meminta tolong. Ia pun buru-buru berlari menghampiri seorang pria gemulai yang terlihat berlarian mencari bantuan.

__ADS_1


"Tolong bantu aku!" seru lelaki itu menarik lengan Janaka menuju ke kamar Nina.


Janaka terkejut saat melihat seorang wanita tergeletak di kamar mandi bersimbah darah.


Saat ia hendak melangkahkan kakinya seorang pria menghentikannya.


"Tunggu dulu, lantainya sangat licin, kau bisa bernasib sama sepertinya jika langsung masuk ke sana!" seru pria lain kemudian melemparkan handuk sebagai pijakan Janaka.


"Cepat hubungi ambulance!" seru Janaka


"Baik,"


Tanpa berpikir panjang, Janaka segera menggendong Nina dan membawanya keluar dari ruangan itu dengan menuruni tangga.


Salah seorang pria itu segera melaporkan kejadian itu kepada Damayanti. Sementara satunya lagi mengikuti Janaka mengantar Nina ke rumah sakit.


Seketika suasana pesta berubah menjadi riuh. Mariyah tampak panik saat mengetahui menantu kesayangannya di bawa ke rumah sakit di hari pernikahannya.


Sementara itu Dama segera meminta Broto untuk menghandle para awak media yang mulai membuat suasana pesta semakin ricuh.


Dado yang mendengar putrinya di larikan ke rumah sakit segera bergegas menyusulnya. Sementara itu Dama justru melarang Mariyah saat hendak ikut dengan Dado dan malah membawanya pergi meninggalkan hotel bersama keluarga Wiraatmadja yang lainnya.


Dado segera menuju resepsionis dan menanyakan dimana putrinya di rawat.


"Masih ada di ruang UGD pak," ucap seorang resepsionis


"Terimakasih," jawab Dado kemudian bergegas menuju ruang UGD.


Ia segera beranjak dari duduknya saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan putriku dok?" tanya Dado dengan, wajah panik


"Maaf siapa nama putri anda?" tanya dokter itu


"Nina!"


"Alhamdulillah pendarahannya sudah berhasil di hentikan karena ia segera di larikan ke sini," ucap sang dokter


"Syukurlah," tukas Dado lega


"Sebaiknya anda harus berterima kasih kepada suaminya yang telah membawa ke sini. Aku yakin jika dia telat membawanya ke sini nyawa putri anda bisa tak tertolong," tukas sang dokter


"Suami??" Dado tampak terkejut mendengar jawaban sang dokter


"Iya," jawab sang dokter kemudian menunjuk kearah pemuda yang berjalan mendekatinya


"Itu dia orangnya," imbuhnya


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Janaka


"Alhamdulillah kondisinya sudah membaik dan ia sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kalian tunggu saja sebentar karena dokter bedah sedang menjahit luka di kepalanya. Jika sudah selesai maka ia akan di pindahkan ke ruang perawatan," jawab Sang dokter


"Syukurlah kalau begitu, terimakasih banyak dok," jawab Janaka

__ADS_1


Dado terus menatap Janaka yang mengaku sebagai suami Nina, sedangkan suaminya sendiri malah tak peduli dengannya.


"Apa kau yang sudah membawa putriku ke sini?" tanya Dado membuat Janaka terkejut dan segera meminta maaf kepadanya karena sudah mengaku sebagai suaminya di depan sang dokter.


"Maaf Tuan, saya terpaksa melakukannya agar mereka segera mengambil tindakan untuk menolongnya. Karena mereka tidak akan melakukan tindakan jika tidak mendapatkan tanda tangan dan persetujuan dari wali pasien," tutur Janaka menjelaskan alasannya kenapa ia sampai mengaku sebagai suami Nina


"Tidak masalah, bagiku yang terpenting sekarang putriku selamat. Terimakasih banyak sudah mau peduli dengannya meskipun ia bukan siapa-siapa mu," ujar Dado kemudian terkesiap melihat begitu banyak darah di baju pria itu.


"Gara-gara menolong putriku, bajumu sampai dipenuhi darah . Sekali lagi terimakasih," ucap Dado merasa terharu dengan ketulusan Janaka


Seorang pria gemulai menghampiri mereka, "Aku sudah menghubungi Tuan Khalif, dan beliau meminta saya untuk memberikan ini kepada anda karena sudah menolong istrinya." pungkas pria itu kemudian memberikan amplop coklat berikan uang


Dado benar-benar merasa malu saat mengetahui Khalif tidak menghargai orang yang sudah menyelamatkan istrinya.


"Bagaimana dia bisa berkata seperti itu, bukanya berterimakasih ia malah memberinya uang. Apa dia pikir semua bisa di nilai dengan uang. Apa semua orang kaya seperti itu. Bukannya datang ke sini melihat kondisi istrinya yang sekarat mereka malah kabur dan meninggalkannya sendirian di sini," tutur Dado begitu sedih


"Maaf, tapi saya ikhlas melakukannya dan saya tidak butuh ini," jawab Janaka menolak amplop yang di sodorkan pria itu.


Dado kemudian meminta maaf kepada Janaka atas perlakuan tidak menyenangkan menantunya.


"Maafkan kalau tindakan menantu saya tidak berkenan di hati anda," ucap Dado tampak malu dan terus menundukkan wajahnya


"Tidak apa-apa Tuan, memang kebanyakan orang kaya seperti itu dan aku sudah terbiasa," jawab Janaka


"Anda benar-benar bijak sekali," Dado kemudian mengambil kartu namanya dan memberikannya kepada Janaka


"Kalau tidak keberatan datanglah kapan-kapan ke rumah kecil kami, agar aku bisa berterima kasih dengan benar kepada anda," imbuh Dado


"Insya Allah," jawab Janaka kemudian pamit pergi


"Kalau boleh tahu siapa nama anda?" tanya Dado lagi


"Saya Panji Gemilang," jawab Janaka memperkenalkan dirinya.


Tidak lama Nina pun sudah siuman dan dipindahkan ke ruang perawatan.


"Syukurlah kau akhirnya sadar juga," tutur Dado kemudian mengusap lembut wajah putrinya


"Dimana Mas Alif, apakah pesta pernikahannya sudah selesai, apa semuanya berjalan lancar, terus bagaimana malam pertama kami?" tanya Nina memberondong ayahnya dengan beberapa pertanyaan


"Astaghfirullah Nina, bukannya menanyakan bagaimana kabar ayahmu kau malah mengkhawatirkan seseorang yang sama sekali tak peduli denganmu!" gerutu Dado tampak marah


Ia kemudian memberitahukan Nina jika tak ada satupun perwakilan keluarga Wiraatmadja yang menemaninya saat ia di rumah sakit.


"Harusnya suamimu ada di sini untuk menjagamu, tapi pecundang itu malah menghilang. Ia bahkan tega hanya memberikan uang kepada pria yang menolong mu tanpa berterima kasih kepadanya, benar-benar manusia tak berakhlak!" seru Dado mengepalkan tangannya


Melihat ayahnya begitu murka, Nina berusaha meredam amarah sang ayah.


"Ayah jangan marah ya, mungkin saja Al dan keluarga yang lain belum bisa kesini karena mereka harus menyelesaikan masalah ini dan menghandle para wartawan. Ayah tahu kan kalau para wartawan sangat suka membesar-besarkan masalah, apalagi ini berkaitan dengan keluarga Wiraatmadja, mereka pasti membuat mereka pusing. Mudah-mudahan saja mereka bisa melalui semua ini dengan baik," tutur Nina membuat Dado gemas dengannya


Ia tak mengira jika putrinya malah mengkhawatirkan suami dan keluarganya daripada kondisinya yang masih kritis.


"Bagaimana bisa kau berkata sepatu itu, padahal mereka sama sekali tak peduli denganmu. Jangankan menanyakan kondisi mu, ia bahkan tak datang kesini atau menelpon ku untuk menanyakan kondisi mu. Sebaiknya kau jangan terlalu baik saat berada di tengah-tengah mereka, aku takut mereka akan menggunakan kelemahan mu ini untuk menindas mu,"

__ADS_1


__ADS_2