
Nina tampak tegar di depan Khalif dan Mutia, namun ia seketika menangis tersedu-sedu saat berada di dalam mobil bersama Panji.
Panji yang juga merasakan hal yang sama dengan Mutia sengaja menghentikan mobilnya dan membiarkan wanita itu meluapkan kesedihannya.
Ia kemudian turun dari mobil untuk memberikan privasi kepada Nina.
Tidak lama Ia kembali dan memberikan es batu batu kepadanya.
"Tempelkan ini di pipimu agar tidak lebam," ucap Panji
"Terimakasih," jawab Nina kemudian meraihnya
"Kalau kau butuh teman cerita aku siap mendengarkan semua keluhan mu, tapi aku tidak janji bisa memberikan solusi terbaik untukmu," ucap Panji
"Apa yang aku lakukan salah?" tanya Nina tampak tersedu-sedu
"Sebagai seorang istri wajar jika kau marah saat tahu suamimu berselingkuh. Jangankan seorang istri, bahkan orang yang masih berstatus pacar saja bisa marah jika melihat kekasihnya berselingkuh dengan wanita atau pria lain. Jadi menurutku kamu tidak salah hanya kau perlu lebih bijak dalam menghadapi mereka. Jangan terlalu terbawa emosi sesaat yang akan merugikan dirimu nantinya," jawab Panji
"Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi hidup seperti ini. Apa tidak masalah jika aku menuntut cerai saja, toh meskipun aku memilih bertahan dengannya Khalif tetap tidak akan meninggalkan Mutia. Dan seperti yang pernah ia katakan ia akan menceraikan diriku setelah semua keinginannya tercapai," jawab Nina menerawang
"Memang benar lebih baik berpisah, jika kita sudah tidak merasa nyaman dengan pasangan kita. Apalagi saat dia sudah tak mencintai kita lagi. Tapi kalau boleh saya sarankan jangan sekarang. Karena itulah yang Khalif inginkan darimu. Ia sengaja memanfaatkan dirimu untuk mendapatkan posisi CEO dan ia tak mau kehilangannya dengan menceraikan mu meskipun ia sudah mengkhianati mu. Ia ingin kau menceraikannya karena dengan begitu ia akan tetap menjadi CEO Perusahaan meskipun sudah bercerai darimu," jawan Panji
...💔💔💔💔...
Sementara itu Khalif nampak khawatir dengan ucapan Mutia. Ia takut jika Mutia benar-benar menceritakan kejadian hari itu kepada sang nenek Mariyah.
Namun Mutia langsung menepisnya. Sebagai sahabat dekatnya, Mutia tahu benar bagaimana sifat Mutia.
"Dia tidak akan berani mengatakan hal itu kepada nenek, karena ia tahu nenek bisa terkena serangan jantung jika mengetahui perselingkuhan kita. Untuk itulah saat ini yang perlu kita lakukan adalah dengan membuatnya semakin rapuh hingga ia mengajukan gugatan cerai kepadamu, jadi dengan begitu kau kan akan tetap menjadi CEO Hawi Corporation Meskipun sudah berpisah dengannya," jawab Mariyah
"Kamu benar-benar genius sayang, aku tidak menyangka kau akan berpikir sejauh ini," puji Khalif kemudian mencium kekasihnya itu
...💕💕💕...
__ADS_1
Malam itu Khalif sengaja tak pulang dan memilih tidur di apartemen Mutia.
Keesokan harinya, foto-foto Nina menghadiri acara ulang tahun Anderson sendirian mulai beredar di berita online.
Mariyah begitu kesal saat mengetahui malam itu Khalif tak mendampingi Nina menemui Anderson.
"Bagaimana kau bisa membiarkan dia sendirian menemui Anderson. Apa kau tidak tahu betapa pentingnya pertemuan itu. Harusnya kau berterima kasih kepadanya karena Ninalah yang membuat Anderson mau menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan kita. Bukan hanya menjadi seorang investor ia juga bahkan mempromosikan perusahaan kita kepada teman-temannya," tandas Mariyah
Khalif pun meminta maaf kepadanya dan. mengatakan jika hari itu ia ada pertemuan penting dengan kliennya.
Meskipun Mariyah kesal dengan Khalif namun tetap saja ia tak bisa membencinya. Ia terlalu menyayangi cucu semata wayangnya sedari dulu hingga membuat Khalif memang lebih dekat dengannya daripada dengan kedua orang tuanya.
Sepulang kerja Nina sengaja menyiapkan makan malam spesial. Ia sengaja mengundang Mutia untuk datang ke kediamannya begitupun dengan Khalif.
Malam itu Khalif sengaja menyempatkan waktunya untuk menghadiri acara makan malan bersama Nina.
Ia memang tak mau membuat masalah lagi dengannya karena ia tak mau nenek Mariyah mencium ketidak harmonisan hubungannya dengan Nina.
Nina begitu senang saat Khalif bisa menyempatkan waktunya yang berharga untuk hadir pada acara makan malam tersebut.
Nina tak tahu harus membalas apa ketika tahu Khalif akan datang. Jujur Saja rasanya ia masih tak Percaya melihat Khalif ada di sana bersamanya.
Baginya ini seperti sebuah momen langka yang hingga ia terlihat beberapa kali memegangi pundak suaminya untuk meyakinkan jika itu adalah Khalif suaminya.
"Kenapa sih kamu seperti seseorang yang baru melihat aku di rumah ini?" tanya Khalif
.
"Entahlah, rasanya bahagia aja saja sampai aku perlu sesuatu yang membuat ku percaya," jawan Nina
Melihat kepolosan istrinya tentu saja membuat Khalif selalu merasa jika Nina begitu bodoh dengan mempercayai semua ucapannya.
Ia bahkan sengaja membuatnya ke semakin melambung dengan menawarkan diri untuk membuatkan makanan spesial untuknya.
__ADS_1
"Tunggulah di sini aku akan memberikan kejutan untukmu," ujar Khalif kemudian meninggalkan meja makan
Nina tampak begitu penasaran begitu pun dengan Dama dan Mariyah.
Saat Khalif pergi ke dapur, Mutia pun datang. Dam begitu terkejut saat Mutia mengatakan ia mendapatkan undangan makan malam dari Nina.
Nina segera menjelaskan kepada Dama dan Mariyah jika ia memang sengaja mengundang Mutia untuk makan malam bersamanya.
"Memangnya ada acara apa sampai kau mengundang Mutia, kau bahkan tak memberitahu nenek ada rencana apa malam ini mengumpulkan kami," ucap Mariyah
"Oh itu, Aku hanya ingin memperkenalkan seseorang kepada Nenek." Jawab Nina
"Memperkenalkan siapa?" tanya Dama semakin penasaran dengannya
Tidak lama Khalif keluar dari dapur dengan membawa sepiring nasi goreng spesial untuk Nina.
*Praannng!!
Khalif tak sengaja menjatuhkan nasi gorengnya saat ia melihat Mutia ada di tempat itu.
Ia mulai panik saat Nina mulai bercerita alasan dia mengundang Mutia ke acara makan malam tersebut.
"Apa yang dia pikirkan hingga sengaja mengundang aku dan Mutia di acara makan malam keluarga ini. Jangan bilang ia akan membongkar rahasia hubungan kami," gumam Khalif seketika memucat.
"Ada apa sayang, kenapa kamu tampak gugup?" tanya Nina dengan menghampirinya
"Sebenarnya apa maksudmu mengundang Mutia," bisik Khalif menahan amarahnya
"Oh itu, tentu saja aku mengundangnya agar kau bisa berterus terang kepada Nenek tentang hubungan kalian," jawab Nina
"Kau sudah gila, bagaimana mungkin aku bisa memberitahu nenek tentang hubungan kami. Apa kau ingin nenek mati?" tanya Khalif
"Tentu saja tidak, untuk itulah aku ingin memberikan kesempatan kepada mu untuk bisa menikahi wanita yang kau cintai," ujar Nina seketika membuat wajah Khalif merah padam
__ADS_1
"Apa kau bilang, kau akan mengizinkan aku menikah dengan Mutia, atau kau menginginkan aku menceraikan mu?" tanya Khalif dengan nada tak percaya
"Yang jelas aku hanya ingin nenek tahu kalau kau tidak bahagia dengan ku dan aku ingin memberikan izin kepada mu untuk menikahi Mutia di depannya !" ucap Nina seketika membuat Khalif panas dingin di buatnya.