My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 85 Silakan dibaca


__ADS_3

Melihat perubahan sikap Khalif padanya membuat Nina merasa risih. Bagaimana tidak, tiba-tiba Khalif menjadi manja padanya hingga memanggilnya dengan sebutan sayang yang membuatnya merasa geli.


Hari itu Nina berusaha menjauhinya. Ia sengaja bersembunyi agar Khalif tak menemukannya.


Panji yang melihat Nina mengerjakan pekerjaannya di ruang pantry langsung menghampirinya.


Ia menyapa Nina yang masih sibuk menyelesaikan beberapa laporan.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Panji


"Aku emang sengaja mengerjakan pekerjaan ku di sini, karena aku gak bisa konsentrasi kalau ada Khalif," jawab Nina


Ia kemudian menceritakan perubahan sikap Khalif setelah sembuh dari sakit. Panji tampak antusias mendengarkan cerita Nina.


Lelaki itu tersenyum saat Nina mengeluarkan unek-uneknya.


"Sepertinya dia sudah mulai menyukaimu Nin, harusnya kau senang karena sekarang Al sudah membuka hatinya untuk kamu dan mau menerima kamu," ucap Panji


"Entahlah," jawab Nina Gundah


"Kenapa, apa kamu tidak suka dengannya atau tidak percaya?" tanya Panji


"Sebenarnya aku juga sangat berharap jika Al menjadi seorang suami seperti suami pada umumnya yang mencintai istrinya, tapi sekarang aku sadar aku tidak bisa memaksakan itu. Mungkin sekarang saatnya aku harus membiarkan Al mengejar kebahagiaannya, cinta sejatinya. Aku tak mau egois dengan tetap bertahan karena selain akan menyakiti diriku itu juga akan menyakiti Al. Sepertinya ungkapan cinta tak harus memiliki itu benar, percuma saja berharap sesuatu yang tidak mungkin aku miliki. Aku terlalu takut untuk berharap Nji, aku sudah sering kecewa jadi aku tak mau kecewa lagi," jawab Nina


Wanita itu tampak menerawang saat menceritakan isi hatinya kepada Panji.


"Apa itu alasannya kenapa kau menyerahkan perusahaan ini kepada Al??"


Nina mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang aku akan mulai berdamai dengan keadaan dan menerima semuanya dengan legawa. Biarlah semua orang mengatakan aku ini orang bodoh karena hanya diam saat disakiti suami. Ini adalah pilihanku dan aku tidak menyesalinya. Tapi sekarang semuanya sudah cukup, aku juga ingin hidup bahagia,"


"Aku setuju dengan pendapat mu, harusnya Al bersyukur memiliki istri yang memiliki jiwa besar seperti mu. Kadang aku iri kenapa aku tak seberuntung dia, memiliki seorang wanita yang benar-benar tulus mencintainya,"


Melihat Nina yang mulai berkaca-kaca Panji pun berusaha menguatkan wanita itu. Ia memberikan semangat kepadanya untuk tetap bertahan.


"Apa kau akan tetap meninggalkan Khalif jika ia sudah mulai menyukaimu dan ingin memperbaiki semuanya?" tanya Panji membuat Nina tampak terkejut


"Sebenarnya inilah yang selalu aku inginkan dari dulu. Tapi kembali lagi sepertinya hatiku yang sudah terluka sudah tak bisa membayangkan hal itu lagi. Rasanya kalau melihat Al yang seperti sekarang justru membuat ku takut. Aku takut dia pura-pura lagi seperti dulu dan menyakiti aku lagi. Rasanya susah untuk membangun kepercayaan lagi, mungkin karena aku sudah mati rasa dan kecewa berat dengannya. Meski ku akui masih mencintainya tapi kini aku lebih sadar diri," jawab Nina


Melihat kondisi batin Nina yang ternyata rapuh dan tak setegar apa yang ia perlihatkan selama ini membuat Panji begitu iba dengan gadis itu.


Ia bisa merasakan betapa kecewanya Nina dan bagaimana sulitnya untuk berdamai dengan keadaan setelah apa yang ia lalui selama ini.


Sepertinya aku harus belajar dari Nina, agar bisa memaafkan Al dan Ibunya setelah apa yang mereka lakukan padaku dan ibuku dulu. Nina benar tidak perlu membalas dendam karena itu hanya akan membuat aku berpikir untuk membalas dendam kepada mereka dan begitu pun sebaliknya. Sekarang aku juga harus berdamai dengan keadaan dan mulai memaafkan mereka berdua. Mulai sekarang aku juga akan mengikhlaskan perusahaan ini untuk Al, sepertinya dia memang lebih berhak karena dialah putra sah ayah.


Aku yakin dengan kemampuan ku aku bisa memiliki perusahaan sendiri tanpa mengharapkan warisan dari ayah.


"Ah tidak, aku hanya kelilipan," jawab Panji kemudian menyeka air matanya


"Maaf ya kalau aku bikin aku ikutan sedih?" ucap Nina sambil menepuk-nepuk bahu Panji


"Iya santai saja Nina, justru aku yang harus minta maaf karena audah membuat suasana jadi sedih gini," jawab Panji


"Gak kok, aku malah seneng karena kamu selalu mau mendengarkan semua unek-unek aku, thanks ya Nji," tukas Nin


"Sama-sama Nin,"


Sementara itu Khalif yang tak sengaja melihat keduanya tampak bersedih setelah mengetahui apa yang dirasakan Nina selama ini.

__ADS_1


"Maafkan aku Nin, selama ini aku sudah menjadi suami yang egois yang selalu memikirkan kebahagiaan ku sendiri tanpa menghiraukan perasaan mu, penderitaan mu," ucap Khalif


Ia kemudian meninggalkan tempat itu saat tak bisa lagi membendung kesedihannya setelah mendengar pengakuan Nina.


Khalif menangis di ruang kerjanya. Kali ini ia benar-benar merasakan kesedihan yang begitu mendalam seakan bisa merasakan apa yang Nina .


Suara ketukan pintu membuat Al terhenyak dan segera mengusap air matanya.


Ia segera bergegas membuka pintu. Dilihatnya Dama berdiri di depan pintu membuat Al langsung mempersilakannya masuk.


"Ada apa ibu datang kesini?" tanya Khalif


Dama kemudian memberi tahu Al tentang penangkapan Naira. Ia juga memberitahukan jika Naira lah yang sudah membuat surat palsu yang mengatasnamakan Nina.


"Aku sudah menduganya jika ia adalah pelakunya. Namun aku tak habis pikir bagaimana ia melakukan semua ini. Harusnya ia sudah bahagia dengan kekasihnya bukannya malah kembali ke sini memperkeruh hubungan ku dengan Nina," ucap Khalif


"Sepertinya dia kena karma karena sudah menyakiti kamu nak. Dia sengaja kembali karena ia tahu gak ada lelaki lain yang mencintainya setulus dirimu. Itu juga yang membuatnya tega menulis surat palsu untuk memisahkan kau dan Nina," jawab Dama


"Hmm, sekarang aku sudah mengingat semuanya jadi aku tidak akan mempercayai dia lagi. Cukup sekali aku di sakiti olehnya dan aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."


"Good, ini baru anak Ibu. Ibu bangga dengan mu sayang," jawab Dama kemudian memeluknya erat.


Khalif segera melepaskan pelukannya saat melihat Nina berjalan melewatinya.


"Sayang!" serunya kemudian menghampiri wanita itu


"Sayang??" Dama tampak mengernyitkan keningnya saat mendengar Khalif memanggil Nina dengan sebutan sayang.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Al, apa aku harus membawanya ke dokter Adi lagi??"

__ADS_1


Dam semakin terlihat kebingungan melihat kelakuan putranya yang berusaha manja dan cenderung genit di depan Nina.


"Astaga, jangan bilang kalau Al sudah mulai menyukai upik abu itu. Ah...aku benar-benar bisa gila kalau Al benar-benar menyukainya dan ingin berbaikan dengannya," ucap Dama dengan mimik wajah kesal


__ADS_2