My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 53


__ADS_3

Mutia terlihat terus merenung selama di kantor membuat beberapa orang rekan kerjanya menegurnya.


"Oi, sekarang kamu bukan seorang sekretaris lagi jadi bekerjalah seperti karyawan lainnya. Jangan malas karena kamu bukan selingkuhan bos lagi!" cibir seorang rekan kerjanya


Mutia seketika menoleh kearah sumber suara yang menghujatnya. Ia segera bergegas menghampiri wanita itu dan menjambak rambutnya. Ia pun tak segan menamparnya karena merasa wanita itu sudah menghinanya.


"Jaga mulutmu, aku bisa saja mengirim mu ke luar dari perusahaan ini sekarang juga jadi jangan asal bicara!" seru Mutia kemudian mendorong wanita itu hingga terhempas ke lantai


Ia buru-buru keluar dari ruangannya dan memilih memenangkan diri dengan duduk di mezanin.


Panji yang mendengar kegaduhan di lantai satu segera menghampiri Mutia yang tengah termenung.


Ia memberikan beberapa permen karet kepadanya.


Seketika Mutia menatap lekat wajah pria itu.


"Rasanya aku seperti mengenal mu, meskipun kita belum lama mengenal tapi aku merasa kita sangat dekat. Bahkan situasi ini sangat familiar bagiku hingga membuat aku mengingat seseorang yang begitu menyayangi ku dan selalu menghibur ku dengan memberikan permen karet saat aku sedang sedih seperti yang kau lakukan sekarang," Mutia mengambil satu permen karet dari tangan Panji dan memasukannya kedalam mulutnya


Ia tersenyum saat menikmati manisnya permen itu. Ia kemudian meniup permen itu menjadi sebuah balon besar membuat Panji langsung menusuknya hingga pecah.


Mutia langsung melotot kesal dan memukulnya.


Panji tersenyum melihat sikap Mutia yang tak berubah saat ia meletuskan balon permen karetnya.


"Ish nyebelin banget sih Naka!" celetuk Mutia membuat Panji tersenyum getir mendengarnya


"Siapa Naka?" tanya Panji


"Oh maaf kalau aku salah sebut, abis kau sama jailnya dengan Naka saat aku meniupkan permen karet." jawab Mutia


Gadis itu tampak merenung saat mengingat tunangannya Janaka. Ia bahkan menitikkan air mata saat mengingat betapa tragis kematiannya.


Melihat Mutia yang menitikkan air mata, maka Panji pun segera menyodorkan sapu tangannya kepada gadis itu.


"Terimakasih," ucap Mutia kemudian mengusap air matanya

__ADS_1


Ia menghela nafas panjang sebelum memberanikan diri mengungkapkan siapa Janaka kepadanya.


"Naka itu adalah calon suamiku, kami sudah hampir menikah. Sayangnya sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Aku begitu frustasi saat mengetahui kematiannya hingga nyaris bunuh diri. Karena bagaimanapun juga dia adalah satu-satunya orang yang menyayangi ku begitu tulus dan apa adanya. Dia begitu sabar menghadapi ku yang memang sedikit arogan dan manja, itulah yang membuat aku begitu terpukul dengan kematiannya dan berusaha mengungkap siapa pembunuhnya. Tapi sepertinya aku tak berdaya melawan para pembunuh itu, karena orang kaya cenderung akan melakukan apapun demi menyelamatkan dirinya," terang Mutia


Panji trenyuh mendengar kata-kata Mutia hingga menepuk-nepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya.


"Aku yakin almarhum kekasih mu bangga karena memiliki kekasih seperti mu," ujar Panji


"Tapi aku sudah mengkhianatinya," ucap Mutia getir


"Maksudnya??"


"Aku sudah mengkhianatinya dengan menjadi kekasih adiknya. Padahal aku tahu jika dia adalah orang yang sudah membunuhnya?" jawab Mutia


"Bagaimana kau yakin jika dia yang sudah membunuhnya?" tanya Panji mencoba menelisik lebih dalam lagi


"Sebenarnya aku sudah menemukan semua bukti-bukti yang menunjukkan jika dia adalah pembunuh calon suamiku. Tapi entah kenapa aku selalu gagal untuk menjeratnya ke penjara. Aku merasa frustasi hingga memutuskan untuk mendekatinya. Aku berpikir balas dendam terbaik adalah dengan menghancurkan hidupnya, tapi aku salah. Aku malah terjerat dalam pesonanya dan benar-benar jatuh hati kepadanya," jawab Mutia


"Itu sudah biasa terjadi, sebaiknya kau segera kembali ke tempat kerjamu sebelum Pak Broto melihat mu," ucap Panji menimpali


"Ah benar juga, kenapa aku malah curhat denganmu. Maaf ya Panji kalau aku sudah membuat mu harus duduk lama di sini mendengarkan celotehan ku,"


Ia memberikan semua permen karet yang ada di saku bajunya kepada Mutia.


"Sepertinya kau lebih membutuhkan permen ini, jadi kunyahlah saat kau sedang merasa sedih,"


"Terimakasih," jawab Mutia menyunggingkan senyumnya kearah pria itu


Mutia berjalan malas menuju meja kerjanya.


Sementara itu, Broto sudah berdiri di depan kerjanya dengan tatapan tidak suka.


"Darimana saja kau!" tanyanya ketus


"Aku keluar sebentar untuk cari angin," jawab Mutia tampak ketakutan melihat pria itu yang terlihat begitu marah kepadanya.

__ADS_1


"Kau pikir siapa dirimu sampai berani mencari udara segar disaat semua orang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Apa kau lupa kalau kau harus mengerjakan setumpuk laporan yang harus aku bawa saat rapat nanti!" hardik Broto


"Maaf pak, tapi bukankah itu seharusnya tugas seorang sekretaris," jawab Mutia


"Apa kau sudah tidak mau bekerja di sini lagi?" jawab Broto balik bertanya


"Tentu tidak pak, saya masih mau bekerja di sini," ucap Nina dengan mimik wajah ketakutan


"Kalau begitu kerjakan saja semua tugas yang ku berikan dan jangan pernah protes. Karena kami membayar mu di sini untuk bekerja bukan berdebat, aku tunggu semua dokumen itu paling lambat pukul dua siang!" tegas Broto kemudian meninggalkannya


"What jam 2, yang benar saja. Sekarang saja sudah jam 10. Dia pikir aku robot apa yang bisa mengerjakan tugas sebanyak ini dalam waktu singkat. Menyebalkan sekali dia. Kau pikir siapa dirimu, jadi CEO gara-gara warisan saja sok banget apalagi kalau kau jadi anak Ibu Dama, pasti kepalanya berubah jadi dua!" gerutu Mutia


Ia kemudian melemparkan semu dokumen yang ada di mejanya ke lantai membuat semua orang langsung menertawakannya.


"Sukurin, dulu juga kau sama senga nya seperti dia, sekarang kamu harus menanggung karma yang kau buat dulu!" cibir seorang teman Mutia


Kali ini Mutia memilih tak menghiraukan ucapan temannya itu. Ia memilih fokus karena tak mau berurusan dengan Broto lagi.


Ia bahkan sengaja menunda makan siangnya demi menyelesaikan pekerjaannya.


Panji yang melihat Mutia tampak serius mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk kemudian membelikan makan siang untuknya.


Ia menghampiri gadis itu dan menyuruhnya untuk istirahat.


"Aku tidak bisa istirahat sekarang, karena nanti kalau pekerjaan ku tidak selesai pak Broto pasti akan memarahiku," tandas Mutia dengan wajah sedih


"Kalau begitu serahkan padaku, biar aku yang mengerjakannya. Kau makan lah saja dulu," tukas Panji


Melihat kebaikan Panji yang begitu tulus membuat Mutia akhirnya menurutinya.


Ia makan dengan cepat agar bisa cepat membantunya.


Namun saat ia selesai makan Panji bahkan sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


"Wah hebat, kau bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu sekejap!" puji Mutia

__ADS_1


"Alhamdulillah, semuanya bisa karena terbiasa!!"


"Tetbiasa!!" Mutia tampak mengerutkan dahinya . Gadis itu tak percaya mendengar Panji sudah biasa mengerjakan pekerjaan itu.


__ADS_2