
Khalif mengurungkan niatnya untuk menghadiri acara dinner karena Mutia tak mau mengecewakan Mariyah.
Malam itu Mariyah memintanya Nina untuk bersiap-siap karena, Anderson akan mengundangnya Dinner untuk penandatanganan kontrak kerja sama.
Tentu saja Nina begitu bahagia mendengarnya dan segera masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"Kali ini kau akan datang bersama dengan suami mu, jadi kalian harus tampil harmonis dan seromantis mungkin. Karena image perusahaan ada di tangan kalian. Aku yakin kesan yang baik saat melihat kalian berdua akan membuat Anderson semakin tertarik untuk berinvestasi lagi di perusahaan kita atau mungkin ia bisa menambah jumlah investasinya. Semua tergantung kalian berdua. Jadi semangat ya!" seru Mariyah menghampirinya
"Makasih nek," jawab Nina
Selesai dandan, Nina segera menemui Khalif di ruang kerjanya.
Namun pria itu menolak pergi dengannya dengan alasan kurang enak badan.
Nina terpaksa pergi seorang diri ditemani oleh Panji.
Setibanya di hotel Nina begitu terkejut karena bukan hanya dia seorang yang mendapatkan undangan dari Anderson.
"Aku kira hanya undangan dinner biasa, tapi ini lebih mirip acara ulang tahun. Terus aku harus gimana dong?" tanya Nina kepada Panji
"Bagaimana kalau kita pergi cari hadiah dulu, toh acaranya masih lama di mulainya," jawab Panji
"Ok," jawab Nina kemudian mengikuti Panji
Panji sengaja mengajak kesebuah mall yang berada tepat di depan hotel.
Saat ia sedang memilih-milih hadiah untuk Anderson ia malah melihat Khalif yang sedang menemani Mutia berbelanja.
Nina tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap Khalif. Ia bahkan tak bisa membendung kemarahannya yang selama ini di pendamnya.
"Kau bilang sedang tidak enak badan hingga tak bisa menemaniku dinner bersama investor kita. Tapi kau malah terlihat segar bugar saat mengantar sekretaris mu berbelanja. Apa kau tahu betapa pentingnya acara makan malam kita hari ini!" seru Nina yang tak bisa menahan kemarahannya lagi
"Sudahlah Nina ini hanya acara dinner biasa jadi jangan terlalu di besar-besarkan. Aku tahu kau pasti cemburu dengan Mutia karena aku lebih memilih menemaninya belanja daripada menemani mu dinner dengan klien. Tapi kau tidak perlu lebay seperti ini sampai teriak-teriak seperti ini," sahut Khalif sinis
"Lebay, kau bilang aku lebay?. Apa tidak salah?" tanya Nina dengan air mata yang mulai turun membasahi pipinya
"Apa salah jika seorang istri marah saat melihat suaminya bersama wanita lain?, apa aku berlebihan jika menegur suamiku yang sudah menyimpang karena aku masih peduli dengannya?" tanya Nina sambil menahan emosinya
"Tentu saja, kau tidak perlu berteriak-teriak di sini karena itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri," jawab Khalif
__ADS_1
"Kenapa aku yang harus malu, justru kaulah yang harusnya malu karena sudah mencoreng nama baik keluarga Wiraatmadja. Kau membuat nama baik keluarga mu hancur dengan terang-terangan mengumbar hubungan terlarang kalian di depan umum,"
*Plaakkk!!!
"Sebuah tamparan mendarat di wajah Nina membuat wanita itu hampir terjatuh.
Beruntung Panji segera menangkap tubuh Nina.
"Kau pikir siapa dirimu sampai berani berkata seperti itu padaku. Asal kau tahu jika selama ini aku terpaksa menikahi mu. Jadi jangan berpikir jika aku akan mencintaimu dan memperlakukan dirimu seperti ratu, karena tidak lama lagi aku akan menceraikan mu,"
Nina merasakan dadanya seperti terbakar saat mendengar ucapan Khalif. Api amarah seolah menjalar di sekujur tubuhnya membuat wanita itu sangat ingin melupakannya kepada pria dihadapannya.
Rasanya ia ingin mencabik-cabik mulut Khalif dan menjambak rambut Mutia yang tersenyum menertawakannya.
Bibirnya bergetar seakan tak sabar untuk mengeluarkan makian dan sumpah serapah terhadap bajing*n yang ada di depannya itu. Namun lagi-lagi ia berusaha menahannya karena ia tak mau membuat kegaduhan yang akan menghancurkan nama baik keluarga Wiraatmadja.
"Baiklah kalau itu maumu, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, dan aku juka akan melakukan apa yang ingin aku lakukan," jawab Nina kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Khalif
"Jadi sekarang kau ingin mengancamku, aku tahu kau pasti akan melaporkan kejadian ini kepada nenek agar ia mengusir ku bukan, lakukan saja aku tidak takut!" seru Khalif
"Tenang saja aku tidak akan melakukan hal itu. Karena aku tahu itulah yang kau inginkan bukan?" jawab Nina tersenyum getir kemudian meninggalkan Khalif
Ia berusaha mengacuhkan ucapan suaminya yang terus memakinya, karena ia melihat orang-orang mulai berkerumun dan memperhatikannya.
Sementara itu Nina tetap menghadiri undangan dinner Anderson.
"Apa anda yakin akan tetap datang ke acara Mr. Anderson?" tanya Panji
"Tentu saja, aku tidak bisa mengecewakan nenek. Dia begitu berharap aku akan mendapatkan tanda tangan dari Anderson jadi mana berani aku mengecewakannya," jawab Nina kemudian memasuki hotel itu.
Melihat kedatangan Nina, Anderson segera datang menyambutnya.
"Selamat datang Nina, kenapa kau datang seorang diri, dimana suamimu?" tanya Anderson
"Suamiku sedang sakit jadi maaf dia tak bisa hadir di sini," jawab Nina
"Sorry, kau pasti tak merasa nyaman karena harus meninggalkan suamimu sendirian," sahut Anderson
"It's Ok, tapi maaf aku gak tahu kalau ini acara ulang tahun mu jadi aku tak sempat membawa hadiah untukmu,"
__ADS_1
"Never mind Nina, bagiku kedatangan mu sudah menjadi hadiah terbaik untukku," jawab Anderson kemudian mengajak Nina bergabung dengan teman-temannya
Nina tampak melupakan sedikit kesedihannya saat Anderson mengajaknya bernyanyi.
Ia bahkan tertawa terbahak-bahak saat melihat teman-teman Anderson berjoged saat ia menyanyikan lagu dangdut favoritnya.
Setelah acara selesai Anderson pun tak lupa menandatangani surat perjanjian kerjasama mereka.
Bukan hanya itu saja, Anderson bahkan merekomendasikan kepada sahabat-sahabatnya untuk berinvestasi di Hawi Corporation.
"Thank you so much Anderson karena sudah merekomendasikan perusahaan kami. Semoga kerjasama kita akan berlanjut terus kedepannya," ucap Nina kemudian berpamitan
Setibanya di rumah Khalif langsung menyambutnya dengan wajah dingin.
Ia bahkan tak mengijinkannya untuk tidur seranjang dengannya.
"Mulai hari ini kau hanya boleh tidur di sofa dan jangan pernah menyentuh areaku!" seru Khalif kemudian membuat garis pembatas di kamarnya
Nina hanya tersenyum kecut dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
Pagi itu Nina menemui Broto dan memberikan perjanjian kerjasama yang sudah di tandatangani oleh Anderson.
"Kerja bagus Nina, terimakasih atas kerja kerasnya," ujar Broto
"Sama-sama Pak Broto," jawab Nina kemudian bergegas kembali ke ruangannya
Sepanjang jalan ia mendapati para karyawan sedang bergerombol menggunjingkan kedekatan Khalif dan Mutia yang sudah tak malu-malu memperlihatkan kemesraan mereka di depan para karyawannya.
"Kasian sekali ya Bu Nina, padahal mereka belum lama menikah tapi Pak Khalif sudah main gila aja!" celetuk salah seorang karyawan membuat Nina langsung memelototinya
"Sebaiknya kalian kembali bekerja dan jangan pernah membicarakan sesuatu yang belum tentu kebenarannya!" seru Nina membuat semua orang langsung kembali ke meja kerjanya.
Saat Nina melintasi ruang kerja Khalif ia melihat suaminya itu sedang asyik sedang suap-suapan dengan Mutia.
"Apa kau akan diam saja melihat semua ini?" tanya Dama membuat Nina tersentak saat menyadari kehadirannya
"Apa ibu sudah tahu hubungan mereka?" tanya Nina hati-hati
"Tentu saja, hanya orang bodoh yang tidak menyadari kedekatan mereka," sahut Dama dengan ketus
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan Ibu?" tanya Nina berkaca-kaca
"Kenapa kau malah bertanya kepada ku. Tentu saja kau harus menangkap basah pencuri yang masuk ke rumah mu itu dan bila perlu melaporkannya kepada polisi agar dia kapok dan tak berani datang ke rumah mu lagi!" sahut Dama