My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 56


__ADS_3

Nina langsung merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Ah, nyaman sekali rasanya," ucap Nina sambil mengangkat kedua tangannya keatas.


Terdengar bunyi otot-ototnya yang terasa kaku setelah semalaman harus mengipasi Khalif.


Ia tak lupa menggerakkan kepalanya ke samping dan ke kiri untuk melemaskan otot lehernya yang terasa berat.


Selesai melakukan olahraga ringan Nina kemudian membuka satu persatu map yang ada di mejanya.


"Huft, baru satu hari saja aku izin, pekerjaanku sudah menggunung seperti ini. Bagaiman kalau aku izin seminggu, Mungkin perasaan ini akan berhenti beroperasi," celoteh Nina sambil menyombongkan dirinya


"Benar sekali Nina, Untuk itulah kau tidak boleh lama-lama izin, atau beristirahat di rumah. Karena banyak sekali pekerjaan yang menantimu!" ucap Broto tiba-tiba berdiri di hadapan Nina membuat gadis itu terkejut melihatnya.


"Astoge, aku kira ada jin tomang, eh ternyata bos yang datang," ucap Nina kemudian membungkukkan badannya memberikan hormat


"Apa ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Nina


"Hari ini aku a akan mengadakan rapat internal komisaris. Aku hanya ingin menjelaskan tentang SOP komisaris kepada suamimu, agar dia tidak kaget saat mengetahui pekerjaannya yang baru," jawab Broto


"Kalau begitu aku tidak perlu hadir pak?" tanya Nina


"Justru kau harus hadir karena kau yang akan menjadi pembicara dalam rapat itu," tegas Broto membuat Nina langsung tertunduk lemas


"Sebaiknya kau segera bersiap-siap karena rapat dimulai jam 11,"


"Baik," jawab Nina kemudian segera membuat catatan kecil untuk materi pidatonya nanti


pukul 11.00 pagi semua komisaris sudah berkumpul di ruang rapat. Mereka segera menempati tempat duduk mereka masing-masing.


Nina sengaja berpindah tempat duduk saat mengetahui Khalif duduk di sampingnya.


Tentu saja hal itu membuat Khalif kesal, apalagi saat melihat Nina memilih duduk di samping Panji.


Panji yang bertindak sebagai moderator rapat tampak berwibawa. Entah kenapa Broto seolah tak asing dengan pembawaan Panji yang begitu familiar.


"Kenapa aku seperti mengenalnya, dari kata-kata dan gerak-geriknya ia mengingatkan aku dengan seseorang," batin Broto sambil terus mengawasi Panji


"Untuk penjabaran tentang tugas-tugas seorang Komisaris akan disampaikan oleh Ibu Nina, kepadanya saya persilahkan," ucap Panji kemudian mempersilakan Nina untuk menyampaikan pidatonya


Semua orang tampak mendengarkan pidato Nina dengan antusias kecuali Khalif yang terlihat memainkan memainkan penanya.


Melihat Khalif berusaha mengacuhkannya membuat Nina melemparkan pena kearahnya.


*Buggh!!


Lemparan Nina tepat mengenai kepala Khalif hingga ia mengerang kesakitan.


"Awww!" serunya sambil memegangi kepalanya


Semua orang tanpa menertawakan Khalif yang terlihat lucu siang itu.


Seketika bola mata Khalif langsung menatap tajam kearah Nina.


"Tidak bisakah kau bersikap profesional saat di kantor!" seru Khalif begitu dongkol saat mengetahui Nina adalah orang yang menimpuknya


"Bukankah kebalik, harusnya aku yang mengatakan hal itu kepadamu. Kau sengaja tak mendengarkan pidato ku karena kau tidak menyukai ku. Ingat Pak Khalif sekarang kita sedang bekerja jadi lupakan saja Nah kalau aku ini adalah istrimu agar kau bisa mendengarkan pidatoku," jawab Nina dengan tegas


"Cih, kau berlaga seperti bos besar saja!" gerutu Khalif

__ADS_1


Ia kemudian segera duduk dengan rapi bahkan melipat kedua tangannya seperti seorang pelajar SD yang sedang mendengarkan guru mereka mengajar


Melihat Khalif sudah duduk tenang Nina kemudian melanjutkan pidatonya.


Seperti sebuah nyanyian pengantar tidur pidato Nina seketika membius Khalif hingga ia terlelap di mejanya.


Nina hanya mendengus kecil melihat kelakuan minus suaminya.


Tidak lama Broto berdiri untuk membahas projek baru perusahaan.


Bak sebuah alarm suara Broto seketika membangunkan Khalif dari tidur cantiknya.


Broto mulai menjelaskan tentang rencana Khalif yang ingin mencari Investor untuk membantu memulihkan kondisi perusahaan yang sedang collapse karena kekurangan suntikan Dana.


Pria itu bahkan mengumumkan sudah membuat dua tim khusus untuk melakukan misi ini.


"Tim satu adalah saya dan Panji, tim kedua beranggotakan Khalif dan Nina," ucap Broto seketika membuat Khalif membulatkan matanya


"Kenapa aku harus dengan Nina, apa tidak ada orang lain di kantor ini hingga membuat aku harus terus bertemu dengannya!" protes Khalif


", Kalau begitu Kau boleh memilih aku atau Panji?" jawab Broto dengan singkat


"Ah sial, Kenapa kamu memberikan pilihan yang sulit. Meskipun aku tidak menyukai Nina, tapi sepertinya ia lebih baik dari kalian berdua," sahut Khalif


"Jadi bagaimana apa kau ingin berganti pasangan atau tetap dengan Nina?" tanya Broto memastikan


"Tidak ada pilihan lain terpaksa aku memilih tetap bersama Nina," jawab Khalif


"Ok kalau begitu deal. Kita akan mulai berkompetisi mulai hari ini terhitung setelah rapat ini selesai!" tegas Broto kemudian menutup rapat hari itu.


Nina segera menerima berkas-berkas dari Broto dan membawanya ke ruangannya.


"Hmm, sepertinya aku harus bekerja sendirian. Aku tahu jika si brengsek itu pasti tak mau bekerja sama denganku," gerutu Nina


Ia kemudian segera mengambil tasnya dan memasukkan laptop kedalamnya.


"Sekarang saatnya bergerak," ucap Nina kemudian menggendong tas ranselnya dan bergegas meninggalkan ruang kerjanya


"sudah siap untuk bertempur siang ini, apa kau tidak makan siang dulu untuk mengisi amunisi sebelum memasuki Medan perang?" tanya Panji saat berpapasan dengannya


"Kau benar juga, karena perang juga butuh tenaga sepertinya aku harus makan dulu sebelum berperang. Tidak mungkin juga aku izin untuk makan siang saat berhadapan dengan musuh bukan?" jawan Nina


"Benar, jadi bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum bersaing sebagai rival dalam pertempuran ini,"


"Setuju!" seru Nina kemudian mengikuti Panji menuju ke warung tenda yang ada di belakang gedung.


Ia bahkan sengaja mengabaikan Khalif yang sudah menunggunya di depan lobby gedung.


"Ah sial, sepertinya ia mencoba membalas ku sekarang," gerutu Khalif saat melihat Nina mengacuhkan dirinya


Mau tak mau ia harus mengikuti wanita itu demi memenangkan kompetisi ini


"Andai saja bukan karena kompetisi ini, rasanya enggan mengikuti mu seperti ini!" gerutu Khalif saat mengikuti istrinya itu


Ia mendadak menghentikan kakinya saat melihat Nina dan Panji memasuki warung tenda yang ada di pinggiran kali.


"Apa tidak ada tempat makan yang lain hingga membuat mereka harus makan di tempat menjijikan seperti ini,"


Meskipun merasa jijik Khalif terpaksa mengikuti mereka dan duduk tepat di samping Nina

__ADS_1


Nina segera memesan menu legend yang ada di warung itu begitupun dengan Panji. Keduanya tertawa terbahak-bahak saat mengetahui menu makanan yang mereka pesan sama. Tentu saja hal itu membuat Khalif merasa ill feel dengan keduanya.


"Dasar norak!" cibirnya


"Maaf Mas, sampean mau pesan apa?" tanya seorang pelayan


Khalif tampak kebingungan karena ia tidak mengetahui menu makanan yang ada di tempat itu ia pun buru-buru mengatakan Jika ia memesan menolong sama dengan Nina dan juga Panji.


"Sepertinya ada yang lebih norak?" sindir Nina membuat Khalif seketika memamerkan deretan giginya.


Tidak lama menu yang mereka pesan pun tiba. Nina dan Panji tampak begitu lahap menikmati makanannya. Sedangkan Khalif terlihat terlihat jijik dan enggan memakan menu makanan yang ia nilai tidak steril.


Namun karena penasaran melihat Nina yang begitu menikmati makanannya hal ini mencoba sedikit nasi dengan ayam penyet yang dipesannya.


Khalif tidak mengira jika rasa makanan tenda itu lebih nikmat dari makanan restoran bintang 5 yang biasa ia makan. Karena merasa makanan itu adalah makanan yang paling enak yang ia makan seumur hidupnya Khalif pun tak canggung lagi untuk memakannya. Ia bahkan langsung dengan cepat menghabiskan makan siangnya itu dan memesan satu porsi lagi karena kurang.


"Aarrgghhh!!" Tiba-tiba terdengar suara kali bersendawa setelah menghabiskan dua piring nasi ayam penyet t miliknya seketika Nina langsung menutup mulutnya Yang menganga dengan tisu yang ada di depannya.


"Jangan lebar-lebar mangapnya, bahaya kalau lalat sampai masuk ke dalam mulutmu!" cibir Nina membuat beberapa pengunjung langsung tertawa mendengarnya


"Ish, dasar rese!" sahut Khalif kemudian membuang tisu yang ada di mulutnya.


"Jangan lupa minum obatnya!" saru Nina mengingatkan pria itu untuk meminum obatnya


"baik Ibu Dokter," jawab Khalif dengan ketus


Melihat ada sisa sambel yang menempel di bibir Nina, membuat Panji kemudian mengambil tisu dan berusaha membersihkannya.


Khalif yang seolah mengetahui niat terselubung panji segera merampas tisu yang dipegangnya itu.


"Aku pikir kau seorang pria baik-baik ternyata sama saja. Tak puas sudah berusaha merayu kekasihku, sekarang kau bahkan berusaha menggoda istriku," gerutu Khalif


Ia kemudian memberikan tisu yang dipegangnya kepada Nina sambil menggerutu.


"Jadi cewek tuh harus rapih. Kalau selesai makan bersihkan dulu mulutmu, atau berkacalah untuk melihat apa ada sisa makanan yang masih tertinggal di mulut atau gigimu atau tidak. Jangan biarkan buaya darat berusaha mendekatimu dengan memanfaatkan kecerobohan mu itu!" sindir Khalif melirik kearah Panji


"Yaelah repot amat, kenapa juga aku harus selalu tampil rapih. Toh pada kenyataannya tidak semua pria menyukai wanita yang rapi," jawab Nina kemudian segera menuju ke meja kasir untuk membayar makanannya


"Berapa semuanya?" tanya Nina


"Seratus lima puluh ribu rupiah,"


Khalif segera memberikan kartu kreditnya kepada kasir itu, "Biar aku saja yang membayarnya, pantang bagi Khalif untuk dibayari oleh seorang wanita,"


"Ya ya ya!" jawab Nina kemudian bergegas keluar untuk mencari udara segar


Selesai membayar kemudian Khalif menyusul Nina.


"Hari ini kita akan menemui Tuan Nakamura pengusaha jepang yang dulu menyokong ku saat aku menjadi pembalap," ujar Khalif


Ia kemudian memberikan profil pria itu kepada Nina. Ia meminta Nina mempelajari tentang pria itu agar bisa nyambung saat berbicara dengannya.


"Kau tunggu saja di sini aku akan mengambil kendaraan ku dulu," ujar Khalif kemudian menuju ke parkiran gedung


Di sana seorang pria sudah menunggunya dan memberikan kunci motornya kepadanya.


"Thanks Max," ucap Khalif segera melompat ke atas motor sportnya.


"Jangan lupa pertandingannya jam tiga sore!" seru pemuda itu

__ADS_1


"Ok bro, sampai ketemu di sirkuit nanti!" sahut Khalif kemudian melesatkan motornya


__ADS_2