
Setibanya di Bandara Narita Nina yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Jepang merasa terpukau dengan keindahan negeri sakura tersebut.
Alih-alih menghilangkan rasa penat, ia mengajak Panji jalan-jalan menikmati keindahan kota Jepang di sore hari.
Ia bahkan beberapa kali meminta bantuan Panji untuk memotretnya.
"Sekarang gantian, dari tadi aku mulu yang di foto, sekarang gantian aku yang motoin kamu," tukas Nina kemudian menyuruh Panji untuk berpose
Setelah puas berswafoto Nina mengajak Panji menuju hotel tempat mereka menginap.
Setibanya di Hotel ia di sambut oleh manajer hotel yang juga merupakan rekan bisnis Hawi Corporation.
Nina merasa terhormat saat menerima sambutan hangat dari sang manajer hotel, ia bahkan mendapatkan jamuan makan malam spesial bersamanya.
"Kenapa suami anda belum tiba?" tanya manajer hotel
"Kebetulan suami saya ada urusan pekerjaan mendadak jadi dia akan menyusul. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba," jawab Nina
Nina begitu menikmati makan malamnya meskipun tanpa suaminya. Selesai makan malam ia langsung diantar oleh sang manajer menuju VIP room.
"Selamat malam dan selamat beristirahat," ucap sang manajer kemudian meninggalkan Nina
Melihat Panji yang masih berdiri di kamarnya ia menyuruh pria itu untuk beristirahat.
"Kenapa masih di sini, aku tahu kamu pasti capek. Jadi sebaiknya kamu istirahat saja, karena kita sedang berada di luar rumah keluarga Wiraatmadja jadi tidak perlu kaku seperti biasanya. Sans aja," ucap Nina
"Baik Nyonya,"
"Panggil saja Nina, jangan terlalu kaku lagipula kita tidak sedang berada di kediaman keluarga Wiraatmadja jadi santai saja," ujar Nina
"Baik," jawab Panji kemudian segera keluar dari kamar Nina
Panji kemudian menuju ke kamarnya.
Karena malam itu ia tak bertugas menjaga Nina, Panji memilih menghabiskan malam minggu dengan berjalan-jalan menikmati keindahan kota Tokyo di malam hari.
Di sebuah taman kota Panji tercengang melihat Khalif dan Mutia yang sedang menghabiskan malam Minggu berdua.
"Bagaimana dia tega meninggalkan istrinya dan memilih bersenang-senang dengan sekretarisnya sendiri, dasar bajing*n!" gumam Panji
Panji tak menyangka jika Mutia akan berubah setelah kepergiannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa seorang bidadari seperti mu bisa berubah menjadi seorang penyihir," Panji memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi saat ia membalikkan badannya ia melihat Nina tampak berkaca-kaca saat menyaksikan suaminya bermesraan dengan sahabatnya.
Panji segera menutup mata Nina agar ia tak melihat Khalif yang sedang mencium Mutia.
Butiran kristal bening berderai membasahi pipi Nina.
Panji segera mengeluarkan saputangannya dan memberikannya kepada Nina.
"Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Panji
Nina menangis tersedu-sedu saat perjalanan pulang, tentu saja hal itu membuat Panji merasa iba dengannya.
"Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, mungkin Al belum siap saat harus menikah denganmu dan meninggalkan kariernya yang gemilang hanya demi menjadi CEO Hawi Corporation. Sedangkan Mutia adalah seorang yang pandai menempatkan diri saat seseorang sedang terluka. Mungkin itulah yang membuat Al merasa nyaman dengannya dan membuat hubungan keduanya seperti sekarang. Aku tidak bisa menyalahkan siapa yang salah dalam hubungan mereka atau siapa yang memulai lebih dulu. Aku tahu kau pasti sangat sedih saat mengetahui kenyataan suami yang kau cintai berselingkuh dengan orang lain. Tapi kembali lagi pernikahan mu masih seumur jagung yang mungkin masih berbentuk benih yang masih belum bertunas. Jadi jika kau ingin mempertahankannya maka kau harus rela memaafkan suamimu dan melupakan kesalahannya. Begitupun sebaliknya, semua keputusan ada di tangan mu sekarang," ucap Panji mencoba menasihati Nina
"Bagaimana kau tahu Kalau belum siap menikah denganku?"
"Itu hanya asumsi ku saja berdasarkan pasang suruh hubungan kalian sebelum memutuskan menikah. Dan mungkin saja itu tidak benar," sahut Panji
"Kalau memang dia tidak siap menikah denganku, kenapa dia menikahi aku?" tanya Nina kembali menangis tersedu-sedu
"Itulah yang harus kau cari tahu. Tanyakan itu pada suamimu, setelah itu kau baru bisa membuat keputusan apakah akan melanjutkan pernikahan kalian atau menyudahinya," jawab Panji
Saat perjalanan pulang, Nina melihat seorang wanita hendak bunuh diri dengan melompat dari jembatan.
Lalu Nina pun menghampirinya dan mencoba menahannya saat ia hendak bunuh diri.
Wanita itu menangis tersedu-sedu saat mengetahui Nina menggagalkan upaya bunuh dirinya.
"Kenapa kau menghalangiku, kenapa kau tak biarkan aku mati saja...." ucap wanita itu menangis tersedu-sedu
"Kenapa kau bunuh diri, apa kau tidak kasian dengan keluarga yang kau tinggalkan. Mungkin mereka akan bersedih karena kehilangan dirimu. Jika ada masalah sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin bukan dengan bunuh diri seperti ini," jawan Nina
"Aku ingin bunuh diri karena sudah tidak kuat lagi melihat suamiku berselingkuh dengan orang lain dan meninggalkan aku," jawab wanita itu
"Kalau begitu kau tidak boleh mati karena itu yang diinginkan oleh suamimu dan selingkuhannya. Asal kau tahu jika kamu mati artinya kau kalah dan membiarkan pel*kor itu menang dan melegalkan hubungannya dengan suamimu. Kau harus bertahan dan merebut kembali suamimu darinya, dan bila dia memang tak mau kembali lagi denganmu maka buat ia menyesal karena sudah meninggalkan mu," jawab Nina kemudian memeluk erat wanita itu
Nina bisa merasakan kepedihan wanita itu dan ia pun bisa meluapkan kemarahannya dengan Khalif dengan menangis bersamanya.
Selesai meyakinkan wanita itu untuk tidak bunuh diri lagi, maka Nina pun memilih pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya, Nina terkejut saat melihat kedatangan Dama mengunjunginya.
"Ibu, kenapa tak bilang padaku kalau mau datang ke sini?" tanya Nina
"Kenapa aku harus bilang padamu, memangnya siapa dirimu!" cibir Dama membuat Nina seketika tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kemana Al, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Dama seketika membuat Nina panik
"Al belum sam...." tiba-tiba Nina tak melanjutkan ucapannya saat melihat Khalif memasuki ruangan itu
"Selamat pagi sayang, maaf aku tadi pergi sebentar untuk membelikan souvenir cantik buat kamu," ucap Khalif kemudian memberikan sebuah gelang cantik kepadanya.
"Oh bagus sekali sayang, makasih hadiahnya," ucap Nina tersenyum simpul menerima pemberian Khalif
Meskipun Nina dan Khalif berusaha berbohong didepannya dan tampak terlihat mesra namun Dama bisa merasakan jika ada yang tidak beres dengan keduanya.
"Hmm, sepertinya aku sudah mengganggu bulan madu kalian, yaudah kalau gitu aku akan kembali ke kamar ku," jawab Dama kemudian meninggalkan mereka
Khalif merasa lega saat ibunya sudah pergi dan tak mencurigainya karena baru tiba di hotel.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku kalau ibu datang ke sini?" tanya Khalif dengan nada ketus
"Aku juga tidak tahu dan sempat terkejut saat dia datang ke sini tiba-tiba,"
"Lain kali kau harus menjaga bicaramu saat dengannya, hampir saja kau keceplosan memberitahunya kalau aku belum datang. Kau tahu apa yang terjadi bila ibu tahu kita tidak datang bersamaan ke hotel ini!" seru Khalif dengan nada tinggi
Lelaki itu tak bisa menahan emosinya hingga kemudian memarahi Nina.
"Harusnya sebagai seorang istri kau bisa menutupi hal itu terutama dari ibu. Atau kau sengaja ingin mengatakannya agar hubungan ku dengan ibuku menjadi memanas!" tuduh Khalif membuat Nina meras dipojokkan
"Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu, tapi kenapa seolah kau memojokkan aku!" seru Nina
"Tentu saja itu karena kau bodoh, andai saja kau adalah istri yang pintar maka kau tidak akan berbuat seperti itu. Kenapa aku bisa menikahi wanita bodoh seperti mu!" seru Khalif kemudian pergi meninggalkan Nina
Tentu saja hal itu membuat Nina semakin sedih dan kembali terisak.
Sementara itu Dama yang sudah mencurigai Khalif segera mengikutinya saat ia pergi dari kamarnya.
Khalif turun ke lantai dua dan menghampiri Mutia di kamarnya.
"Gimana sayang, apa rencanamu berhasil?" tanya Mutia begitu sumringah menyambut kedatangan kekasihnya
__ADS_1
"Tentu saja, sepertinya semuanya berjalan dengan lancar dan terkesan alami karena aku tak menyangka ada ibu yang datang ke kamar kami. Dan aku jadi punya alasan untuk memarahinya saat tahu ia hampir saja memberitahukan ibu jika aku baru tiba di hotel," jawab Khalif
"Oh jadi ini alasan kamu baru datang menemui istrimu!" seru Dama dengan suara lantang membuat Khalif dan Mutia tercengang melihat kedatangannya.