My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 58


__ADS_3

Meskipun Khalif berhasil mendapatkan investor tapi ia tidak langsung memenangkan kompetisi itu.


Karena Broto justru mendapatkan lebih banyak investor dari pada dirinya.


Bahkan Broto sendiri begitu terkejut saat mengetahui Panji memiliki kemampuan Diplomasi yang begitu baik.


Ia bahkan mampu membuat beberapa orang membuat beberapa orang investor mempercayakan investasinya di perusahaannya hanya dalam waktu singkat. Broto tak tahu pendekatan apa yang dilakukan Panji hingga pemuda itu selalu mampu membuat semua investor yang ditemuinya langsung menandatangani kontrak kerjasama dengannya tanpa haru melakukan negosiasi yang alot atau dengan merayunya seperti yang selama ini dilakukan oleh Broto.


"Zaman sudah berubah, para Investor sudah tidak butuh lagi janji-janji ataupun rayuan manis untuk meluluhkan hatinya. Baginya yang terpenting adalah kejelasan usaha dengan aturan yang logis dan transparan, serta jaminan iklim usaha yang kondusif itu sudah membuat mereka yakin untuk menanamkan modalnya di perusahaan kita," terang Panji saat Nina menanyakan bagaimana cara menggaet para investor dengan mudah.


"Aku tidak percaya dia bisa semudah itu merayu Para investor hanya dengan sebuah proposal bisnis. Aku yakin ia pasti menggunakan bantuan kekuatan Dukun atau jampi-jampi dan sejenisnya untuk membuat para investor itu setuju untuk berinvestasi di perusahaan kita. Aku yakin dia pasti menggunakan salah satunya," ucap Khalif menatapnya sinis


Panji tak menanggapi serius ucapan Khalif. Ia malah fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Nina hingga membuat Khalif marah dan mengajak Nina pergi dari tempat itu.


"Ah sial, kenapa sih sekarang jadi baperan!" gerutu Panji


...🍀🍀🍀...


Kemampuan diplomasi Panji yang begitu baik membuat Broto kemudian mengangkatnya menjadi tangan kanannya. Kini Panji tak lagi menjadi seorang sekretarisnya tetapi Panji sudah menjadi orang kepercayaan Broto yang membuat Mutia semakin ingin meninggalkan Khalif yang dianggapnya penyakitan dan tak mungkin menjadi pewaris Hawi Corporation Lagi.


Ia kini memutar haluannya dengan mendekati Panji yang di anggap memiliki masa depan cemerlang.


Karena Sebagai seorang tangan Kanan Broto, Panji mulai menjadi sorotan karena semua kebijakan kini harus melalui dirinya.


Ia bahkan menggunakan kesempatan ini untuk mencari bukti-bukti kejahatan Panji dan Dama. Ia berjanji akan menjebloskan keduanya ke penjara karena sudah membunuh ibunya.


Mengetahui Mutia mulai tergila-gila dengannya, Panji juga menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan kembali surat-surat berharga miliknya yang dikuasai oleh Mutia termasuk sertifikat kepemilikan apartemennya yang hendak di jual oleh Mutia.


Ia mulai memprovokasi Mutia untuk mengusut kembali kasus kematian Janaka. Panji bahkan berjanji akan membantunya untuk menjebloskan Khalif ke penjara.


Mutia tampak memikirkan tawaran Panji. Gadis itu kembali mengingat-ingat bagaimana perjuangannya dulu ketika ia sangat ingin menghukum Khalif dan Dama yang sudah membunuh Janaka dan menghancurkan masa depannya.


Namun mengingat semua kegagalannya ia yakin jika sampai kapanpun ia tak bisa menjebloskan kedua orang itu ke penjara.


Ia kemudian menemui Panji untuk membicarakan tawarannya.


Mutia membuka obrolan mereka dengan menceritakan bagaimana ia mencoba melawan Khalif dan Dama.


"Meskipun aku sudah memiliki bukti-bukti kuat jika mereka memang pembunuh Janaka, tapi tetap saja tidak bisa menjebloskan mereka ke penjara. Entahlah, sepertinya mereka memiliki backingan yang kuat hingga keduanya sangat kebal hukum. Jadi alih-alih menghukumnya secara hukum manusia aku mulai merusak kehidupan rumah tangganya dengan mendekati dia, aku pikir aku bisa menyiksa Khalif dengan menjadi selingkuhannya, tapi aku malah jatuh hati padanya," terang Mutia


"Baiklah kalau itu keputusan mu aku tidak akan memaksamu lagi," ucap Panji


Dari penjelasan Mutia Panji mulai mengerti kenapa kasusnya begitu cepat di tutup dan dilupakan. Ternyata Dama berusa keras untuk mengalihkan isu pembunuhannya dengan berita lain yang lebih menghebohkan.


"Sepertinya ucapan Mutia benar, jika aku tak bisa menghukum mereka melalui jalur hukum. Maka aku akan menghukum keduanya dengan caraku sendiri,"

__ADS_1


Panji kini mulai mempersiapkan diri untuk memenangkan kompetisi ini. Ia akan menjadikan ini sebagai serangan pertama untuk menghancurkan Khalif.


Di waktu yang bersamaan Dado Arya Kunto, ayah Nina juga berhasil memecahkan teka-teki kematian nenek Mariyah.


Pengacara itu mulai mendapatkan titik terang setelah menemukan beberapa bukti yang tertinggal di kamar wanita itu.


Salah satunya adalah bekas pisau yang menancap di dinding kamar Mariyah. Dari bukti itu dari bukti itu Dado mulai mengetahui jika pisau yang ada di kepolisian bukanlah pisau yang dipakai oleh si pembunuh.


Dado kemudian memberitahukan Nina tentang kasus itu, ia bahkan meminta Nina untuk membantunya menemukan barang bukti yang mungkin ditinggalkan oleh pembunuh di kamar Mariyah.


Malam itu keduanya sengaja menuju ke kamar Mariyah untuk mencari barang bukti lain yang tidak ada di kantor polisi.


Salah seorang saksi kasus itu mengatakan jika Mariyah mendatangi sebuah kamar rahasia sebelum ia ditemukan tewas.


Nina dan ayahnya kemudian menuju ruangan itu. Nina bertugas mencari tahu benda-benda apa yang ada di ruangan itu. Sedangkan Dado mengecek kamera cctv di ruangan itu.


Nina menemukan sebuah buku catatan harian Mariyah. Ia kemudian membaca buku itu sambil berlinang air mata.


Ia baru tahu jika Khalif lah yang berusaha membunuhnya malam itu, bukan hanya Khalif bahkan Dama yang kesal dengan keputusannya bahkan berusaha meracuni makanannya malam itu. Beruntung ia tak jadi memakannya karena ia melihat semuanya. Itulah sebabnya ia memilih menyerahkan semua warisannya kepadanya.


"Aku harap suatu hari Nina akan menemukan buku diary ini. Dan jika kau telah membaca buku diary ini maka kau akan mengetahui alasanku mengapa memilih bunuh diri dan menyerahkan semua kekayaan ku kepadamu. Aku ingin memberikan pelajaran kepada cucu kesayangan ku Khalif dan juga menantuku agar tidak tamak. Aku ingin mereka sadar jika tidak ada sesuatu yang didapatkan dengan mudah, semuanya didapat dengan penuh pengorbanan dan air mata. Semoga kau akan bijak menggunakan semua warisan yang ku berikan kepada mu,"


Nina kemudian menunjukkan buki diary yang ditemukannya.


"Kalau begitu aku akan mencarinya, aku yakin pisau itu pasti disimpan oleh salah satu orang yang disebut nenek. Kalau bukan Khalif berarti Ibu mertuaku yang menyimpan pisau itu,"


"Baiklah ayah harap kau secepatnya menemukan pisau itu karena waktu kita tinggal dua hari, jangan Sampai kau benar-benar akan ditetapkan sebagai tersangka jika tidak menemukan pisau itu," ucap Dado


"Tentu saja ayah, aku akan berusaha menemukan pisau itu apapun caranya. Demi nenek aku akan mengungkapkan Semuanya," jawab Nina.


Seseorang art diam-diam menguping pembicaraan Nina dan ayahnya.


Ia kemudian bergegas pergi saat keduanya keluar dari ruangan rahasia.


Wanita itu diam-diam melaporkan apa yang di dengarnya kepada Dama.


Mengetahui Nina berhasil menemukan bukti yang ditinggalkan Mariyah, maka dama pun segera menghubungi orang kepercayaannya.


Ia meminta pria itu untuk menyingkirkan Nina dan ayahnya.


"Sepertinya kali ini si upik abu sudah bertindak terlalu jauh hingga membuat aku merasa muak dengannya," ucap Dama


"Jadi apa yang harus aku lakukan Nyonya?" tanya pria itu


"Lakukanlah seperti biasanya, dan jangan sampai meninggalkan jejak sedikitpun. Alu harap kali ini aku melakukan sesuatu yang benar. Seperti pepatah yang mengatakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Dengan membunuh Nina, selain aku bisa menutup kasus Nenek, aku juga bisa mendapatkan Hawi Corporation dari tangan Broto. Karena wasiat Nenek tidak bisa di pakai lagi jika Nina sudah mati, hahahaha!" ucap Dama tertawa terbahak-bahak

__ADS_1


Pagi harinya Dama sengaja mengundang Nina kerumahnya, ia sengaja ingin menjebak Nina yang sangat ingin menemukan pisau yang dipakainya untuk menghabisi ibu mertuanya.


*Ting nong!


Seorang asisten rumah tangga segera berlari membukakan pintu untuk Nina.


Ia kemudian mempersilakan wanita itu masuk dan memberitahukan kedatangannya kepada Dama.


"Akhirnya kau datang juga Nina, aku sudah tidak sabar untuk mengajakmu mencoba resep baru yang sudah aku pelajari selama aku di luar negeri kemarin," ujar Dama


"Resep baru apa Ibu?" tanya Nina


"Resep masakan lah, memangnya apa lagi," jawab Dama


"Memangnya sejak kapan Ibu suka memasak?" tanya Nina lagi


"Setelah Khalif sakit dan divonis mengidap Leukimia membuat aku begitu sedih. Aku berpikir jika itu mungkin salahku karena selama ini tak pernah memasakan dia makanan yang sehat.


Setelah mendengar dari Adi jika Al sekarang membutuhkan makanan yang lembut dan sehat. Maka aku memutuskan untuk memasak sendiri makanan untuk Khalif. Karena aku tahu sekarang ia tidak boleh mengkonsumsi makanan yang memakai bahan-bahan berbahaya seperti MSG apalagi yang mengandung pengawet. Untuk itulah selama aku di Italia kemarin, aku memutuskan untuk belajar memasak dengan chef terbaik di sana. Aku harap resep pertamaku ini akan sukai oleh khalif.


Karena aku sengaja memilih membuat bubur dengan menggunakan bahan-bahan spesial. Aku yakin dia pasti akan senang saat mencoba bubur Italy buatanku itu. Untuk itulah kau juga harus belajar. Membuatnya karena aku sering bepergian ke luar negeri maka kau yang harus membuatkan bubur untuknya saat aku tidak ada," ujar Dama


"Kenapa Ibu tidak meminta chef Juni untuk memasaknya saja. Bukankah Ia adalah chef terbaik di Indonesia yang ibu pekerjakan di sini. Jadi untuk apa Ibu repot-repot belajar memasak di Itali, kalau Ibu memiliki seorang chef terbaik seperti Chef Juni..


Aku yakin chef Juni tidak akan menggunakan bahan-bahan pengawet ataupun MSG saat membuat makanan untuk Khalif. Apalagi jika kita memberitahunya kalau Khalif mengidap penyakit leukemia," terang Nina


"Ah benar juga, Kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke sana, apa karena aku terlalu mengkhawatirkan Al hingga menjadi oleng seperti ini," tukas Dama


"Sepertinya begitu,"


"Baiklah kalau begitu sebaiknya aku pergi saja ke klinik kecantikan untuk melakukan treatment perawatan kulit, sudah lama juga aku tak melakukan perawatan. Apa kau mau ikut?" tanya Dama


"Tidak usah Bu, aku di rumah saja. Masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini," jawab Nina


"Baiklah kalau begitu, hati-hati du rumah ya?"


Dama segera mengambil tas kecilnya dan bergegas meninggalkan Nina.


Ia kemudian menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengawasi gerak-gerik Nina.


Seperti yang di prediksi Dama, Nina segera masuk ke kamarnya untuk mencari barang bukti yang dicarinya.


Setelah berhasil menemukan pisau di kamar itu ia kemudian bergegas pergi untuk menemui Ayahnya.


Sebuah mobil jep terlihat mengikuti mobil taksi yang digunakan Nina.

__ADS_1


__ADS_2