
"Akhirnya kau datang juga Nina, aku sudah tidak sabar untuk mengajakmu mencoba resep baru yang sudah aku pelajari selama aku di luar negeri kemarin," ujar Dama
"Resep baru apa Ibu?" tanya Nina
"Resep masakan lah, memangnya apa lagi," jawab Dama
"Memangnya sejak kapan Ibu suka memasak?" tanya Nina lagi
"Setelah Khalif sakit dan divonis mengidap Leukimia membuat aku begitu sedih. Aku berpikir jika itu mungkin salahku karena selama ini tak pernah memasakan dia makanan yang sehat.
Setelah mendengar dari Adi jika Al sekarang membutuhkan makanan yang lembut dan sehat. Maka aku memutuskan untuk memasak sendiri makanan untuk Khalif. Karena aku tahu sekarang ia tidak boleh mengkonsumsi makanan yang memakai bahan-bahan berbahaya seperti MSG apalagi yang mengandung pengawet. Untuk itulah selama aku di Italia kemarin, aku memutuskan untuk belajar memasak dengan chef terbaik di sana. Aku harap resep pertamaku ini akan sukai oleh khalif.
Karena aku sengaja memilih membuat bubur dengan menggunakan bahan-bahan spesial. Aku yakin dia pasti akan senang saat mencoba bubur Italy buatanku itu. Untuk itulah kau juga harus belajar. Membuatnya karena aku sering bepergian ke luar negeri maka kau yang harus membuatkan bubur untuknya saat aku tidak ada," ujar Dama
"Kenapa Ibu tidak meminta chef Juni untuk memasaknya saja. Bukankah Ia adalah chef terbaik di Indonesia yang ibu pekerjakan di sini. Jadi untuk apa Ibu repot-repot belajar memasak di Itali, kalau Ibu memiliki seorang chef terbaik seperti Chef Juni..
Aku yakin chef Juni tidak akan menggunakan bahan-bahan pengawet ataupun MSG saat membuat makanan untuk Khalif. Apalagi jika kita memberitahunya kalau Khalif mengidap penyakit leukemia," terang Nina
"Ah benar juga, Kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke sana, apa karena aku terlalu mengkhawatirkan Al hingga menjadi oleng seperti ini," tukas Dama
"Sepertinya begitu,"
"Baiklah kalau begitu sebaiknya aku pergi saja ke klinik kecantikan untuk melakukan treatment perawatan kulit, sudah lama juga aku tak melakukan perawatan. Apa kau mau ikut?" tanya Dama
"Tidak usah Bu, aku di rumah saja. Masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini," jawab Nina
"Baiklah kalau begitu, hati-hati du rumah ya?"
Dama segera mengambil tas kecilnya dan bergegas meninggalkan Nina.
Ia kemudian menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengawasi gerak-gerik Nina.
Seperti yang di prediksi Dama, Nina segera masuk ke kamarnya untuk mencari barang bukti yang dicarinya.
Setelah berhasil menemukan pisau di kamar itu ia kemudian bergegas pergi untuk menemui Ayahnya.
Sebuah mobil jep terlihat mengikuti mobil taksi yang digunakan Nina
Sebuah jeep melesat mengikuti kemanapun Nina pergi.
Nina terus menoleh kearah belakang. Iya tahu jika seseorang sedang mengikutinya. rasa dirinya berada dalam bahaya Lina kemudian menghubungi Panji dan meminta mengantarkan barang bukti ke kantor sang ayah.
Taksi Nina kebutuhan menuju ke apartemen Panji. Setibanya di sana Nina segera turun dan berpindah ke mobil Panji.
Saat mobil Panji berlalu meninggalkan apartemen kembali mobil jeep itu mengikuti mereka.
"Apa itu mobilnya?" tanya Panji mengarahkan spionnya kepada Nina
"Benar, mobil itu yang terus mengikuti ku semenjak keluar dari rumah," jawab Nina
"Sebenarnya apa yang kau bawa, hingga membuat mobil itu terus mengikuti mu?" tanya Panji
"Aku membawa sebuah pisau yang akan menjadi barang bukti untuk menentukan jika aku tidak bersalah dalam kasusnya kematian Nenek Mariyah.
Menurut buku diary nenek, pisau itu adalah pisau yang digunakan oleh nenek untuk bunuh diri. Jadi jika dalam pisau tersebut ditemukan sidik jari nenek, maka aku bisa bebas dari tuduhan itu. Untuk itulah aku perlu mengantar barang bukti ini kepada ayah," jawab Nina
__ADS_1
"Darimana kau dapatkan pisau itu?" tanya Panji lagi
"Dari kamar ibu mertuaku," jawab Nina seketika membuat Panji langsung menghentikan mobilnya.
"Jika pisau itu ada di kamar Dama berarti kemungkinan besar nenek tidak bunuh diri," Panji kemudian meminta Nina untuk mengeluarkan pisau itu
"Tapi dari buku diary ini nenek mengatakan jika dia bunuh diri," timpal Nina kemudian memberikan buku dary itu kepada Panji.
Panji kemudian membaca buku di hari itu.
"Jika Nenek benar-benar bunuh diri lalu kenapa Dama harus menyembunyikan pisau ini, bukankah dia dan p Khalif bukan pelakunya??" Panji mencoba memecahkan teka-teki kematian nenek
"Mungkin karena ia merasa bersalah telah berusaha membunuh nenek dengan meracuni makanannya. Atau ia melakukannya untuk menyelamatkan Khalif, karena dari buku diary itu kita tahu jika Khalif berusaha membunuh nenek dengan melemparkan pisau kearahnya." jawab Nina
"Benar juga," Panji kemudian menoleh kearah mobil Jeep yang terus mengikutinya.
Ia melihat beberapa orang pria di dalam mobil itu.
"Aku yakin jumlah mereka pasti lebih banyak, bisa saja komplotan mereka saat ini tengah menunggu di luar,"
Janaka kemudian menghubungi ayah angkatnya David. Ia sengaja meminta bantuan lelaki tua itu untuk berjaga-jaga.
Setelah mengirim lokasinya kepada sanga ayah angkat, Panji kembali menyalakan mobilnya dan melesat menuju kantor kejaksaan tempat dimana Dado bekerja.
Namun sebuah truk tronton tiba-tiba menabrak mobil Panji dari samping.
*Braakkk!!
Mobil panji terhempas hingga menabrak bahu jalan.
"Nina, apa kamu baik-baik saja?" ucap Panji berusaha membangunkan Nina yang pingsan
Panji kemudian segera turun untuk menghadapi mereka.
Panji tampaknya tak asing dengan orang-orang yang kini mengepungnya itu.
"Sepertinya aku mengenal mereka, mereka adalah orang-orang yang sama yang dulu mencoba membunuh ku saat di rumah sakit. Jadi orang yang berusaha menyingkirkan aku adalah Dama," ucap Dama tampak mengepalkan tangannya.
*Hiaat!!
Panji segera menyerang satu persatu pria yang berusaha menyerangnya. Panji yang harus menghadapi mereka seorang diri terpaksa melepaskan gesper kulit yang dipakainya sebagai senjata untuk menghadapi mereka.
Meskipun kemampuan bela diri Panji sudah di atas rata-rata namun menghadapi para penjahat yang jumlahnya begitu banyak membuat pemuda itu kewalahan.
Bukan hanya kalah jumlah, bahkan para penjahat itu menggunakan senjata tajam yang membuatnya semaki kewalahan menghadapinya.
Beruntung David datang tepat waktu untuk membantunya. Kedua pria itu saling bahu membahu menjatuhkan satu persatu para penjahat itu.
Namun semakin lama jumlah mereka semakin banyak meskipun kedua orang itu sudah menghabisinya satu persatu.
"Sebaiknya kau pergi dan selamatkan gadis itu, biar ayah yang akan menahan mereka disini," ucap David
Panji kemudian memindahkan ke mobil dan melesat meninggalkan tempat itu. Melihat Panji berusaha kabur, salah seorang penjahat segera mengejarnya dengan menggunakan mobil jeep.
Panji sengaja menambah kecepatan mobilnya agar bisa melarikan diri dari kejaran sang musuh. Ia sengaja menghentikan mobilnya di depan kantor polisi dan meminta bantuan kepada mereka untuk membawa Nina ke rumah sakit.
__ADS_1
Dengan menggunakan mobil polisi Panji kemudian membawa Nina menuju ke rumah sakit.
Ia tak lupa menghubungi David setibanya di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Panji
"Syukurlah aku berhasil melarikan diri dari mereka meskipun harus mengalami luka-luka tapi aku beruntung karena masih bisa selamat," ujar David
Lelaki itu kemudian mematikan ponselnya setelah meyakinkan Panji kalau dia baik-baik saja. David kemudian menghampiri seorang pria yang ia anggap sebagai ketua dari geng itu.
Ia kemudian menarik kerah baju pria itu dan mendongakkan kepalanya.
"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu!" seru David
Pria itu tetap mengunci mulutnya dan tak mau menjawab pertanyaan David.
David kemudian melepaskan pria itu. Ia kemudian melepaskan kemejanya dan memperlihatkan tato di punggungnya kepada pria itu.
"Jika kau memang seorang gengster kau pasti mengenal lambang tato ini?" ucap David kemudian membalikkan badannya
Pria itu seketika langsung bersujud di depannya setelah melihat tato David.
"Maafkan aku ketua!" seru pria itu terus membenturkan kepalanya di tanah.
"Aku sudah malang melintang di dunia gengster, jadi aku tahu semua orang-orang yang menggunakan jasa mereka. Kau tinggal sebutkan saja kata sandinya," ujar David
"Luis Vuilt*n," jawab pria itu
"Dama, kenapa kau masih saja belum berubah!" ujar David
Ia kemudian meninggalkan tempat itu setelah berhasil membantai semua anggota gengster suruhan Dama.
*Rumah sakit Harapan Kasih
Mendengar Nina mengalami kecelakaan Khalif buru-buru mengunjungi istrinya itu di rumah sakit tempat dia dirawat.
Ia begitu marah saat melihat Panji menemani sang istri sendirian.
"Ah sial, kenapa kau tidak memberitahukan aku jika Nina mengalami kecelakaan!" seru Khalif menarik kerah baju Panji
"Untuk apa, Bukankah selama ini kau tidak pernah memperdulikan dia .Jadi untuk apa aku memberitahumu. Jangan bilang sekarang kau sengaja peduli dengannya hanya untuk pencitraan saja, seperti yang selalu kau lakukan selama ini," jawab Panji dengan santai
Pemuda itu kemudian menyingkirkan tangan Khalif dari bajunya. Melihat Panji mulai berani meremehkannya, Alif pun langsung melepaskan tinju ke arahnya. Bila biasanya Panji tidak pernah melawan saat Khalif memukulnya, tapi kali ini ia sengaja menangkis serangan saudara tirinya itu, hingga membuat Khalif semakin marah. Ia terus memukulinya hingga membuat suasana gaduh di ruangan itu.
Beruntung Seorang perawat datang ke ruangan itu untuk mengecek kondisi Nina yang tak kunjung siuman.
Wanita itu kemudian berusaha memisahkan mereka berdua. Namun meskipun sang perawat sudah memisahkan mereka, kedua pria itu tetap saja saling pukul dibelakangnya hingga membuat sang perawat murka dan kemudian mengusir keduanya yang dianggap hanya mengganggu ketenangan pasien.
Kedua pria itu kembali saling adu mulut di depan ruang perawatan Nina hingga membuat perawat itu memanggil seorang sekuriti untuk mengusir kedua pria itu.
Saat kedua pria itu pergi, diam-diam Dama memasuki ruang perawatan Nina.
"Bagaimana bisa kau Adolf gagal menjalankan misinya. Jika Adolf gagal maka aku pun harus ikut campur untuk menghapus kasus ini untuk selama-lamanya," ucap Dama
Wanita itu kemudian mengeluarkan sebuah pengharum ruangan yang sudah diisi dengan racun yang mematikan.
__ADS_1
Ia kemudian menyalakan pengharum ruangan itu dan bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
"Selamat tidur panjang Nina, semoga kau akan bertemu dengan nenek di alam baka!"