
Khalif menatap nanar wanita di depannya. Tatapan mata itu seolah-olah hendak menelan Mutia hidup-hidup membuat wanita itu seketika memucat.
Ia berusaha mundur menjauh darinya.
"Katakan padaku, apa arti semua ini?" tanya Khalif mendekati Mutia
Mutia masih bingung harus menjawab apa, keringat dingin mulai membasahi keningnya saat Khalif mulai menarik lengannya.
"Jawab Mutia!" seru Khalif dengan suara tinggi yang mampu membuat seorang Mutia langsung menunduk ketakutan
Khalif mendongakkan wajah gadis itu, "Katakan padaku kenapa kau berpura-pura menjadi istriku!" Kali ini Khalif mencekik leher Mutia hingga membuat gadis itu kesulitan bernafas.
"Ibu...ibu mu yang menyuruhku!" ucap Mutia dengan suara terbata-bata
Khalif segera mendorong wanita itu hingga membuat Mutia hampir saja terjatuh.
Wanita itu terbatuk-batuk sambil mengatur nafasnya yang hampir saja putus jika Al tak melepaskannya.
Khalif yang geram segera pergi meninggalkan ruangan itu.
Ia pergi menuju ke paviliun Dama yang tak jauh dari rumahnya. Dengan wajah memerah ia mendobrak pintu masuk kediaman ibunya membuat Dama segera berlari keluar dari kamarnya.
"Apa yang terjadi denganmu nak, kenapa kau tampak berantakan seperti ini?" tanya Dama tampak mengusap wajah Khalif yang terlihat memerah
Khalif langsung menepis lengan ibunya membuat Dama seketika kaget melihat sikap kasar putranya.
"Pasti ada sesuatu denganmu hingga membuat mu seperti ini. Katakan pada Ibu apa yang membuat mu semarah ini sayang?" tanya Dama lagi
Kali ini berusaha bersikap lembut untuk menurunkan emosi putranya yang sudah di ubun-ubun.
"Berhentilah mengkhawatirkan aku ibu, aku sudah muak dengan basa-basi mu. Aku tidak tahu kenapa kau selalu saja membuat hidupku hancur apa kau belum puas membuat ku jadi seperti ini!" seru Khalif dengan air mata yang mulai membasahi pipinya
"Apa maksudmu nak, ibu benar-benar tak mengerti?" tanya Dama lagi
"Kenapa ibu menyuruh Mutia berbohong kalau dia adalah istriku, sebenarnya apa rencana Ibu hingga menyuruh dia pura-pura menjadi istriku!" seru Khalif
Sial, rupanya wanita iblis itu memfitnah ku. Dia dan Naira itu sama saja, sama-sama Iblis berbahaya yang ingin mengadu domba aku dengan Khalif,
Dama tampak mengeratkan giginya saat mengetahui Mutia berusaha memfitnahnya.
Ia kemudian mengambil nafas panjang dan berusaha menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Apa kau percaya jika ibu yang merencanakan semua ini?" tanya Dama bersikap setenang mungkin
"Aku tahu Ibu, dan ibu adalah orang yang bisa melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya," jawab Khalif
"Untuk apa aku meminta Mutia melakukan hal itu jika tujuan Ibu sudah ada dalam genggaman ku. Kau sudah berhasil menjadi CEO Hawi Corporation jadi apalagi yang aku inginkan. Selama ini aku melarang mu menikahi Naira karena aku ingin kau menjadi CEO Hawi Corporation, bahkan aku memintamu menikahi Mutia demi mendapatkan perusahaan itu dari ayahmu, lalu apa keuntungan ku menyuruh mu menikah dengan Mutia. Pakai otakmu, itu hanya akal-akalan Mutia saja agar kau tidak memutuskan hubungan dengannya, apalagi setelah ia tahu jika Naira akan menjadi ancaman terbesarnya untuk memiliki dirimu," terang Dama
"Mutia dan Naira adalah wanita iblis yang akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan, jadi jauhi mereka!" imbuh Dama
Kini emosi Khalif mulai mereda setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dan mengatur nafasnya.
Dama segera menyuruh asisten rumah tangganya untuk membawakan air minum untuknya.
"Percayalah pada ibu, apapun yang aku lakukan semuanya demi kebaikanmu," ucap Dama berusaha menenangkan putra tunggalnya itu
"Lalu Nina, kenapa wanita itu diam saja!"
Khalif kemudian segera bangun dari duduknya dan keluar dari kediaman Dama.
Ia kemudian menoleh kearah Nina yang terlihat sedang menyirami bunga di halaman rumahnya.
Ia kemudian menghampiri wanita itu dan menariknya.
Khalif tak menjawab pertanyaan Nina dan terus menarik gadis itu.
Ia kemudian memasukkan Nina kedalam mobil sportnya dan melaju kencang meninggalkan kediamannya.
Karena Khalif melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Nina ketakutan dan menutup matanya saat mobil yang di tumpanginya hampir menabrak sebuah sepeda motor di depannya.
"Tolong jangan buat aku jantungan please, aku masih belum mau mati!" teriak Nina berusaha membujuk Khalif menghentikan mobilnya.
*Ciitt!!
Khalif benar-benar menghentikan mobilnya hingga membuat Nina terbentur dashboard.
*Dug!
"Aww, apa kau sudah gila!" seru Nina sambil memegangi keningnya
"Kau yang sudah membuat ku gila, apa kau sengaja ingin membuat ku gila!" seru Khalif membuat Nina begitu takut melihat sosoknya yang terlihat begitu marah dengannya
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Nina
"Kau, kenapa kau tidak bilang dari awal jika kau adalah istriku, dan kenapa kau malah membiarkan wanita-wanita itu mendekati ku, apa sebenarnya yang kau inginkan Nina??" tanya Khalif mendekatkan wajahnya kepadanya.
Nina bisa merasakan betapa frustasi dan tertekannya Khalif dari pandangan mata pria itu.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongi mu. Aku melakukan semua itu karena aku memiliki alasan," jawab Nina berusaha membela dirinya
"Apa kau melakukannya karena ingin bercerai dariku?" tanya Khalif menarik dagu wanita itu
Nina seolah tak bisa berkutik mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Kau benar, aku memang ingin bercerai darimu, bukankah itu yang kau inginkan?" jawab Nina membuat Khalif seketika berkaca-kaca
Ia melepaskan gadis itu dan berteriak histeris meluapkan kemarahannya.
Melihat Khalif menangis tersedu-sedu membuat Nina tak tega melihatnya.
Nina kemudian menarik gagang pintu mobilnya untuk keluar namun siapa sangka Khalif justru menahannya.
Ia menarik gadis itu dan menciumnya membuat Nina seketika membelakakan matanya.
"Maafkan aku," ucap Khalif menatapnya sendu
Nina seolah tak percaya mendengar pria itu meminta maaf kepadanya.
Suasana canggung membuat Nina berusaha mencari alasan untuk meninggalkan Khalif.
Namun siapa sangka Khalif justru mengungkit ucapan dokter Adi yang mengatakan jika ia harus tetap bahagia agar sel kankernya tidak bangun lagi. Tentu saja hal itu membuat Nina merasa tak enak hati karena telah membuatnya bersedih.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Nina
Khalif tersenyum menatap wajah gusar Nina.
"Ikutlah denganku!" seru Khalif kemudian kembali melajukan mobilnya.
Ia menghentikan mobilnya di sebuah villa.
Ia kemudian menyuruh Nina untuk turun dan mengajaknya masuk.
"Aku anggap hari ini adalah hari pertama pernikahan kita jadi aku ingin menghabiskan malam ini bersama mu di villa ini," ucap Khalif seketika membuat Nina terperanjat
__ADS_1
"Tapi ... pernikahan kita juga bukan pernikahan sungguhan, kita hanya menikah kontrakan...jadi jangan salah menilai pernikahan kita," ucap Nina mencoba mencari alasan agar bisa pergi dari tempat itu.
"Aku tidak peduli, yang jelas kau harus menemaniku di sini jika tidak ingin aku bersedih lagi!" jawab Khalif