My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 36


__ADS_3

"Aku hanya ingin memberikan kesempatan kepada mu untuk bisa menikahi wanita yang kau cintai. Bukankah itu yang selama ini kau inginkan," ujar Nina seketika membuat wajah Khalif merah padam


"Apa kau bilang, kau akan mengizinkan aku menikah dengan Mutia, atau kau menginginkan aku menceraikan mu?" tanya Khalif dengan nada tak percaya


"Yang jelas aku hanya ingin nenek tahu kalau kau tidak bahagia dengan ku dan aku ingin memberikan izin kepada mu untuk menikahi Mutia di depannya !" ucap Nina seketika membuat Khalif panas dingin di buatnya.


Nina segera membalikkan badannya dan kembali ke meja makan diikuti Khalif yang mengikutinya dari belakang.


Ia kemudian mulai menuangkan nasi ke atas piring suaminya tak lupa menambah lauk pauk kesukaan Khalif di atasnya.


"Thanks," jawab Khalif terdengar hambar


"Sebenarnya ada surprise apa sampai kau mengumpulkan kami di sini?" tanya Mariyah tampak begitu penasaran


"Benar sekali, aku juga penasaran," sahut Dama menimpalinya


"Sepertinya kalian sudah tak sabar untuk mendengar kabar yang mungkin akan membuat kalian sedikit terguncang," jawab Nina sengaja membuat Khalif semakin deg-degan


Ia kemudian menoleh kearah Mutia yang masih terlihat tegang hingga belum menuangkan makanan ke piringnya.


"Sepertinya bukan hanya nenek dan Ibu yang penasaran, tapi tamu spesial kita juga sama, sampai ia lupa menuangkan makanan ke piringnya," ujar Nina


Ia kemudian menyendok nasi dan menuangkannya ke piring Mutia.


"Apa segini cukup atau kurang?" tanya Nina


"Cukup," jawab Mutia tampak tegang


"Jangan lupa cicipi semua makanan yang ada di sini. Kebetulan semuanya aku yang masak. Dan semuanya sengaja saya masak spesial untuk menyambut kedatangan mu malam ini," imbuh Nina tersenyum simpul menatapnya


Nina kemudian menceritakan jika ia dan Mutia adalah sahabat dekat, bukan hanya itu ia bahkan sengaja mengambil jurusan yang sama saat kuliah karena ia begitu mengagumi Mutia.


"Nenek baru tahu kalau Kalian ini ternyata sahabat dekat, andai saja Janaka masih ada mungkin kalian akan lebih senang karena bisa menjadi saudara meskipun hanya saudara ipar,"


Nina tampak terkejut saat mengetahui jika almarhum tunangan Mutia adalah anggota keluarga Wiraatmadja.


"Jadi Janaka itu saudaranya Al?" tanya Nina tampak terkejut


"Benar, hanya saja mereka beda Ibu. Maaf kalau nenek tak pernah menceritakan tentang Janaka padamu," jawab Mariyah


"Tidak papa Nek, tentu saja nenek pasti punya alasan kenapa tidak menceritakannya kepada ku. Lagipula aku aja yang terlalu kudet sampai saudara suami sendiri aku tidak tahu," jawab Nina


Nina kembali menatap tajam kearah Mutia yang tampak mulai menikmati makanannya.


"Jadi kapan kau akan memberitahu kami tentang kejutan itu?" tanya Dama

__ADS_1


"Oh benar, hampir saja aku lupa,"


Seketika Khalif segera berhenti makan dan mengambil ponselnya.


Ia buru-buru meminta Mutia untuk segera pulang karena takut Nina akan mengatakan sesuatu tentang mereka kepada nenek dan ibunya.


Mutia segera mengakhiri makanya dan berpamitan kepada Mariyah.


"Maaf nenek, sepertinya aku tidak bisa mengikuti jamuan makan malam ini sampai selesai karena ibu saya mendadak sakit dan sekarang dilarikan ke rumah sakit," ujar Mutia dengan wajah panik


"Ibu??, bukankah kau seorang yatim piatu. Lalu ibu siapa yang sakit?" ucap Nina membuat wajah Mutia seketika merah padam karena malu


"Maksud ku Ibu Lina, meskipun ia hanya tanteku tapi aku sudah menganggapnya seperti ibu kandung sendiri," jawab Mutia


Mutia kemudian buru-buru pergi, setelah Mariyah mengijinkannya pergi.


"Jadi apa kejutannya?" tanya Khalif menyunggingkan senyumnya


"Hmm, sebenarnya aku masih berharap nenek akan memberiku kesempatan untuk bula madu bersama Al lagi. Soalnya pas bulan madu kemarin kan kami belum sempat ngapa-ngapain karena harus buru-buru pulang karena nenek sakit," tutur Nina


Seketika Mariyah tertawa mendengar ucapan polos cucu menantunya itu.


"Astaghfirullah, aku tak menyangka jika gagalnya bulan madu akan membuatmu menjadi wanita yang begitu vulgar!" cibir Dama


"Alhamdulillah, akhirnya aku tidak sia-sia menyiapkan semua makanan ini sendirian," ucap Nina kemudian memeluk Mariyah


"Makasih ya nek, makasih banyak karena sudah ngertiin Nina," ucapnya lirih


"Iya sayang, semoga kali ini bulan madu kalian berjalan lancar dan saat pulang kau akan memberikan kabar gembira untuk nenek mu ini,"


"Aamiin," jawab Nina begitu bahagia


Setelah acara makan malam Nina pun kembali ke kamarnya.


"Kau pasti sangat kecewa karena rencanamu gagal. Sayang sekali, padahal kau sudah mempersiapkannya dengan matang tapi sepertinya kau perlu belajar lagi untuk menghadapi aku," ujar Khalif


"Tapi setidaknya aku bisa menghabiskan waktu bersama mu saat bulan madu nanti," jawab Nina kemudian merebahkan tubuhnya di sofa


"Kau pikir aku sudi satu kamar denganmu nanti," jawab Khalif


"Kita lihat saja nanti," jawab Nina kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut


Malam itu Panji sengaja mendatangi apartemennya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di sana. Namun setibanya di sana ia begitu terkejut saat mengetahui seseorang sudah menghuninya.


"Bagaimana anda bisa menempati apartemen ini?" tanya Panji

__ADS_1


"Tentu saja karena aku sudah menyewanya dari pemiliknya,"


"Tapi setahuku, pemilik apartemen ini sudah meninggal. Lalu siapa yang menyewakan apartemen ini padamu?" tanya Panji


"Aku menyewa apartemen ini dari seorang wanita yang mengaku sebagai calon istri pemilik apartemen ini."


Tentu saja jawaban itu membuat Panji tampak kaget bukan main.


"Bagaimana bisa Mutia menyewakan apartemen yang bukan miliknya,"


Panji kemudian mendatangi pihak pengelola apartemen untuk menanyakan tentang apartemennya tersebut.


Ia semakin terkejut saat mengetahui jika Mutia sudah mengklaim sebagai ahli waris atas apartemen tersebut.


"Aku tidak menyangka ternyata kau tidak sebaik yang ku kira. Selama ini aku mengira jika kau tulus mencintai aku, tapi ternyata kau hanya mengincar hartaku,"


...🍂🍂🍂...


Keesokan harinya Nina mengemasi pakaiannya dan memasukannya kedalam koper.


Setelah ia selesai berkemas. Ia kemudian memasukkan semua barang-barang bawaannya kedalam bagasi mobilnya.


Kali ini Khalif sengaja meminta Nina untuk pergi bersamanya dan melarang Panji mengawal Nina.


Kali ini Nina memang memilih menghabiskan bulan madu mereka di Bali.


Merasa ada yang janggal saat Khalif memutuskan untuk pergi berdua dengan Nina membuat Panji berinisiatif untuk menyusul mereka menggunakan penerbangan berikutnya.


Terlebih saat ia tahu jika Khalif tak mengajak Mutia bersamanya. Padahal mereka akan menghabiskan waktu yang cukup lama di Bali.


Setibanya di hotel tempat mereka menginap Khalif segera mengajak Nina untuk makan malam romantis dengannya.


Nina tampak begitu senang saat melihat kamar hotelnya berada tepat di dekat pantai sanur.


Ia bahkan bisa menikmati pemandangan eksotis saat matahari terbenam dari atas balkon kamarnya.


Selesai makan siang Nina merasakan kepalanya begitu pusing hingga ia buru-buru bergegas menuju ke kamarnya.


Entah kenapa ia merasa semua yang benda di sekitarnya tiba-tiba bergerak hingga membuatnya terjatuh.


*Byuurr!!!


"Tolong!!" seru Nina saat ombak besar menyeretnya ke tengah laut.


Sementara itu Khalif hanya berdiri memandangi istrinya terseret ombak tanpa menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2