My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 38


__ADS_3

"Dia menikahi Nina bukan untuk memenuhi permintaan ayahnya tapi karena dia ingin menjadi CEO Perusahaan seperti permintaan mu. Kamu lah yang memaksanya menikah hingga Al menjadi seperti ini. Sekarang aku tahu kenapa Nina berusaha bunuh diri, itu semua karena kesalahan mu!" seru Mariyah


"Semua ini tidak akan terjadi jika Ibu tidak mengangkat kembali Mutia menjadi sekretaris Al. Ibu tidak tahu perempuan macam apa dia. Dia adalah Iblis yang berusaha mendekati Al setelah gagal menjadi istri Janaka," jawab Dama


"Jangan pernah menimpakan kesalahan kepada orang lain. Meskipun itu benar adanya tapi tetap saja kau yang salah, andai saja kau tak memaksa Al menikahi Nina, semua ini tak akan pernah terjadi," tutur Mariyah


Dama yang kesal dengan sikap Mariyah yang tetap menyalahkannya kemudian keluar dan membanting pintu ruangan tersebut.


Mariyah tampak menangis sambil mengusap dadanya.


"Bagaimana bisa aku memiliki menantu tamak sepertinya??"


...🍂🍂🍂...


*Bali


Setelah mendengar kabar sakitnya Mariyah, Nina memutuskan untuk kembali ke Jakarta.


Ditemani Panji Nina segera menjenguk Mariyah setibanya di Jakarta.


Namun Mariyah sudah pulang saat ia menjenguknya.


Mariyah memang memutuskan pulang lebih awal agar ia bisa menemui Dado Aryakunto ayah Nina dan menyampaikan berita tentang kematian putrinya.


Namun Dado tak percaya saat mendengar kabar itu dari Mariyah.


Ia yakin jika Nina baik-baik saja di Bali.


"Saya tahu benar siapa putriku, dia tak mungkin melakukan hal-hal konyol hanya karena masalah sepele seperti ini. Mungkin dia terlihat rapuh dan cengeng tapi sebenarnya ia adalah perempuan yang kuat seperti almarhum ibunya. Dia bisa menahan semua kesedihannya dan menutup rapat-rapat masalahnya agar tidak seorangpun mengetahuinya. Dia sangat menjaga perasaan orang-orang yang dicintainya sampai rela mengorbankan kebahagiaannya itulah Nina," ucap Dado tampak berkaca-kaca


"Kau benar, aku juga sempat tak percaya saat mendengar kabar tersebut. Tapi aku juga harus menerima kenyataan saat mengetahui Nina tak bisa lagi di hubungi,"


Mariyah kemudian memerintahkan Broto untuk memberikan ponsel dan surat wasiat Nina kepada ayahnya.


Dado tampak memperhatikan dengan seksama surat wasiat dari putrinya itu.

__ADS_1


"Sebesar apapun usaha orang yang membuat surat ini, tapi sebagai ayahnya aku tahu benar jika surat ini bukan tulisan tangan Nina," ucap Dado


Pria itu kemudian masuk ke kamar Nina dan mengambil sebuah buku diary usang milik putrinya tersebut.


Ia kemudian membuka buku itu dan membandingkan tulisan di surat itu dengan tulisan di dalam buku diary milik Nina.


"Sekilas memang sama tapi perbedaannya adalah penulis huruf a," ucap Dado


Mariyah segera meminta Broto mengambilkan kacamata baca miliknya.


Ia kemudian memakai kacamata tersebut dan mulai membanding-bandingkan dua tulisan tersebut.


"Tentu saja tulisan itu direkayasa, karena Al sengaja ingin menutupi kejahatannya!" seru Nina tiba-tiba memasuki ruangan itu


"Nina, benarkah itu kamu nak!" seru Mariyah tak percaya saat melihatnya


"Iya nek, ini Nina. Aku masih hidup, dan aku tidak pernah bunuh diri," jawab Nina kemudian memeluk erat tubuh wanita tua itu


"Syukurlah kau masih hidup, nenek begitu frustasi saat mendengar kau bunuh diri karena cemburu dengan Mutia," ujar Mariyah menatapnya sendu


Mariyah kembali memeluknya untuk memberikan kekuatan kepada Nina. Ia tahu benar jika Nina sangat butuh tempat mengadu saat ini.


Mariyah kemudian mengajak Nina duduk, "Sekarang kau bisa ceritakan semuanya kepada nenek, mungkin dengan begitu, bisa mengurangi sedikit bebanmu," tukas Mariyah


Nina kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya di Bali, Mariyah tampak meneteskan air mata saat mendengar pengakuan Nina. Wanita itu tak menduga jika cucu kesayangannya akan berubah menjadi seorang pria kejam seperti itu.


"Maafkan aku nak, maafkan nenek yang tak peka dengan hubungan kalian. Andai saja nenek bisa tahu di hari kau mengundang Mutia mungkin semua ini tak akan terjadi padamu," ujar Mariyah


"Sekarang apa rencana mu?" tanya Mariyah


"Tentu saja aku harus kembali ke rumah ku nek, aku tidak bisa membiarkan Al menang setelah berusaha membunuhku untuk kedua kalinya. Jujur saja sebenarnya aku ingin sekali berpisah dengannya nek, tapi setelah nenek memberitahu jika Al adalah dalang dari insiden di hari pernikahan ku. Hatiku rasanya sakit sekali nek saat tahu orang yang paling aku cinta, orang yang aku idolakan ternyata sangat membenciku dan berusaha ingin membunuhku," ucap Nina tersedu-sedu hingga membuat Mariyah dan ayahnya ikut menangis mendengarnya


"Kalau aku boleh memilih aku juga tak mau menikah dengannya apalagi saat aku hanya dijadikan alat untuk mendapatkan warisan dari ayahnya," imbuhnya mencoba menahan rasa sakit yang sudah tak terbendung dalam dirinya


Nina berkali-kali mencoba menahan pedih hatinya dengan memukul-mukul dadanya.

__ADS_1


"Sebaiknya untuk saat ini kau tidak perlu pulang ke rumah mu dulu. Tinggallah di sini untuk sementara waktu sampai hatimu benar-benar tenang," ucap Mariyah


"Tidak Nek, aku tidak bisa tenang sebelum menyelesaikan masalahku ini. Aku harus menyelesaikan masalahku dengan caraku sendiri nek, untuk itulah aku harus kembali," jawab Mariyah


"Maaf nek, bukan Nina tak mendengarkan perintah nenek, tapi kali ini Nina benar-benar harus kembali ke rumah itu, jadi tolong ijinkan aku nek," ucap Nina tampak memohon


"Nenek hanya tak mau melihat kamu menderita sayang, tapi semuanya nenek kembalikan kepada mu," jawab Mariyah


Wanita itu kemudian pergi berpamitan dengan Dado, sementara Nina memilih kembali ke kediamannya bersama dengan Panji.


Dama dan Khalif begitu terkejut saat melihat Nina memasuki kediaman mereka.


Dama bahkan tak henti-hentinya bersyukur karena dengan kembalinya Nina, maka Khalif akan tetap menjadi CEO perusahaan.


"Syukurlah kamu selamat Nina," ucap Dama kemudian memeluknya


Berbeda dengan Dama yang sangat senang melihat kembalinya Nina, Khalif justru berusaha mengusirnya.


"Kenapa kau memilih kembali ke rumah ini setelah tahu apa yang aku lakukan padamu, apa kau sengaja kembali ke sini untuk membalas dendam kepada ku?" ucap Khalif


"Aku kembali karena aku masih menjadi istri sah mu. Aku baru akan meninggalkan rumah ini jika kita sudah bercerai," jawab Nina dengan santai


"Kalau begitu mulai sekarang aku akan menjatuhkan talak kepada mu," tantang Khalif


"Khalif, apa-apaan ini, jangan sembarangan mengucapkan kata talak!" seru Dama begitu geram mendengar ucapan putranya


Nina menanggapi ucapan suaminya itu dengan sinis.


"Kau pasti begitu ingin bercerai dariku bukan, tapi sayangnya kau tidak bisa menceraikan aku tanpa alasan yang jelas," jawab Nina kemudian melenggang pergi menuju ke kamarnya.


Khalif segera mengejar wanita itu dan mengusirnya pergi dari kamarnya.


Ia bahkan melemparkan semua barang-barang milik Nina keluar dari kamarnya.


"Meskipun kau bersikeras untuk tetap menjadi istriku, tapi aku tidak sudi tinggal bersamamu!" seru Khalif kemudian mengunci kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2