My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 31


__ADS_3

Setibanya di Jakarta, Nina segera menuju ke rumah sakit tempat Mariyah di rawat. Ia memilih bermalam di rumah menemani sang nenek daripada tidur di kamar mewahnya.


Meskipun Broto sudah melarangnya untuk menginap namun Nina bersikeras untuk menjaga sang nenek yang dianggap sebagai nenek kandungnya sendiri.


"Iya gak papa kok, lagian Khalif pasti sibuk dengan pekerjaannya jadi lebih baik aku merawat nenek saja," ucap Nina


Melihat sikap Nina yang tetap bersikeras untuk menjaga sang nenek, Broto pun tak bisa melarangnya.


Semalaman di rawa Nina, pagi harinya Mariyah pun mulai siuman. Wanita itu langsung memeluk erat Nina saat melihatnya.


Ia menangis tersedu-sedu di pelukan cucu menantunya itu.


Melihat kesedihan Mariyah membuat Nina berusaha menenangkan wanita itu.


"Nina baik-baik saja kok nek, jadi nenek jangan sedih," ucap Nina kemudian mengusap air mata wanita itu.


Melihat ketulusan Nina saat menghiburnya semakin membuat Mariyah terharu.


"Terimakasih nak, meskipun kau hanya seorang menantu tapi kau begitu peduli padaku lebih dari keluarga ku sendiri. Nenek janji selama aku masih hidup aku akan selalu menjaga dan melindungi mu dari orang-orang jahat yang ingin mengusir mu dari kediaman Wiraatmadja," ucap Mariyah


Wanita itu segera melepaskan pelukannya saat melihat kedatangan Dama dan Khalif.


Ia bahkan meminta Nina untuk menunggu di luar karena ia ingin berbicara pribadi dengan menantu dan cucunya itu.


Alih-alih menunggu di luar Nina justru jalan-jalan di depan rumah sakit untuk mencari makanan.


Sementara itu Mariyah yang sudah tahu jika Khalif lah yang berusaha membunuh Nina dihari pernikahannya langsung menampar wajah pria itu hingga lebam.


*Plaakkk!!


"Dasar tak tahu diri. Aku kira kau tulus mencintainya tapi ternyata kau tega menyakitinya!"


Seketika wajah Khalif memucat mendengar ucapan Mariyah.


Kenapa nenek seperti ini padaku, apa dia tahu hubungan ku dengan Mutia??


Tatapan mata penuh kebencian Mariyah membuat Khalif semakin merasa terancam.

__ADS_1


Seketika ia teringat perkataan ibunya yang mengatakan jika kedudukannya sebagai CEO Hawi Corporation belum aman karena ada Mariyah yang siap menjungkirkan singgasananya.


Selesai memarahi Khalif Mariyah oun berpesan kepadanya untuk memperlakukan Nina dengan baik. Ia bahkan mengancam tak segan untuk memecatnya dari Hawi Corporation.


Dama tampak kebingungan melihat amarah Mariyah yang tak biasa. Sama seperti Khalif Dama mengira jika Mariyah sudah mengetahui hubungan khalif dengan Mutia.


"Ini semua karena kamu. Aku yakin jik Al mewarisi sikap jahat mu, makanya ia berusaha untuk membunuhnya,"ujar Mariyah dengan nada tinggi


"Tentu saja tidak seperti itu ibu. apapun yang diperbuat oleh Khalid itu adalah murni atas inisiatifnya sendiri bukan menipu apalagi dia mewarisi sifat jahat ku. itu benar-benar tak mungkin," jawab Dama


"Apapun yang terjadi aku tidak mau melihat Al bersikap seperti itu lagi kepada Nina. Dan jika kejadian itu sampai terjadi lagi, maka kau harus bersiap-siap untuk menjadi wanita penebusan dosa bagi putra kesayangan mu Khalif," terang Mariyah


Mendapatkan tekanan berat dari ibu mertuanya membuat Dama semakin kesal dengan Mutia. Meskipun ia sudah berhasil memenjarakan gadis itu kini ia berniat untuk memecat Mutia daei posisinya sebagai sekretaris Hawi Corporation.


Sementara itu dengan bantuan pengacara yang diberikan Khalif, Mutia pun bebas dari segala tuduhan .


Namun siapa sangka saat ia kembali ke Hawi Corporation justru harus merasa sedih karena kehilangan pekerjaannya.


"Makanya jadi orang jangan sombong. Aku tak peduli siapapun dirimu, aku pastikan kau tidak akan pernah menang melawanku!" seru Dama dengan tatapan penuh kebencian


Mutia yang tak terima dengan perlakuan Dama segera melaporkan kejadian itu kepada Mariyah.


"Bukankah dulu kau bilang memberikan pekerjaan itu karena Janaka. Jika kau memang merasa bersalah padanya dan ingin membuatnya bahagia maka kembalikan posisi sekretaris itu kepada ku," Mutia bahkan sengaja menggunakan kelemahan Mariyah untuk bisa menjadi sekretaris Khalif lagi.


Tak tega mendengar cerita Mutia yang didzolimi oleh Dama membuat Mariyah kembali mengangkatnya sebagai sekretaris Khalif.


Pagi itu Mutia sengaja menyapa Dama dengan membuatkan secangkir kopi kegemarannya saat ia mengunjungi putranya Khalif.


"Selamat pagi nyonya, silakan dinikmati kopinya," ujar Mutia tersenyum kepadanya


Senyuman Mutia seolah menjadi senjata yang telak membuat wanita paruh baya itu merasa tidak nyaman melihatnya.


Dama bahkan melemparkan kopi buatannya dan memilih pergi meninggalkan ruangan itu meskipun belum bertemu dengan Khalif.


Mutia merasa senang melihat kemarahan wanita itu. Ia mengira jika dirinya sudah berhasil mengalahkannya.


"Sekarang kau sudah tahu siapa aku nyonya. Aku memang terlihat lemah tapi aku tidak akan pernah menyerah saat berhadapan dengan wanita jahat seperti dirimu," tukas Mutia

__ADS_1


Mengetahui Mutia kembali bekerja sebagai sekretaris Khalid membuat Dama semakin meradang. Apalagi setelah ia tahu jika yang mengangkat kembali Mutia menjadi sekretaris adalah Mariyah sang ibu mertua.


Siang itu juga, ia sengaja menemui Mariyah untuk mengklarifikasi keputusannya mengangkat kembali Mutia sebagai sekretaris Khalif.


Bukan hanya itu saja ia bahkan meluapkan kemarahannya dengan memarahinya hingga memancing kemarahan Mariyah yang membuat keduanya saling beradu mulut.


"Kenapa Ibu berani mengangkat kembali Mutia menjadi sekretaris padahal ibu tidak tahu alasan aku memecatnya!" seru Dama


"Kau memecatnya karena kau membencinya. Karena Mutia adalah calon istri Janaka yang berusaha melaporkan mu dan Khalif ke polisi karena berusaha membunuhnya!" jawab Mariyah dengan nada sinia


Dama berusaha menjelaskan kepada Mariyah tentang alasannya memecat Mutia. Namun wanita itu tak mau mendengarnya hingga membuat Dama semakin kesal dan memutuskan untuk tak melanjutkan perdebatan dengannya.


Karena ia tahu jika mertuanya itu tak pernah menyukainya. Bukannya mendapatkan simpati darinya, Dama justru berpikir akan mendapatkan murkanya jika ia menceritakan alasan sebenarnya kepada Mariyah.


Karena ia tahu jika mertuanya itu selalu menganggap jika dirinya sengaja menzalimi Mutia karena benci dengan Janaka.


Mengetahui reaksi Mariyah yang begitu berapi-api membelanya, membuat Dama mulai menyadari jika Mutia benar-benar wanita yang berbahaya.


Ia sengaja menggunakan kelemahannya untuk membuat Mariyah berpihak kepadanya.


"Kau memang benar-benar ular yang pandai menjilat. Kali ini aku akui kalah darimu. Tapi jangan pikir kalau aku akan menyerah begitu saja dan membiarkan mu mendekati putraku,"


Ia kemudian memilih untuk beristirahat di kamarnya untuk menghilangkan rasa kesalnya.


Saat melihat Nina sedang merawat tanamannya Dama pun mendekatinya.


"Apa kau tidak bosan seharian di rumah?" tanyanya lirih


"Tentu saja bosan, hanya saja mau gimana lagi. Aku kan sudah jadi ibu rumah tangga jadi ya harus betah di rumah," jawab Nina


"Kenapa kau tidak bekerja saja?"


"Memangnya boleh?" jawab Nina penuh harap


"Kenapa tidak, lagipula kau belum punya anak jadi aku yakin Al pasti tak keberatan jika kamu bekerja,"


"Kalau begitu bantu aku agar Al mau mengijinkan aku bekerja di Hawi Corporation?" jawab Nina dengan wajah berseri-seri

__ADS_1


"Kenapa tidak, aku pasti akan membantumu untuk membujuk Al agar mengijinkan mu bekerja sebagai tenaga ahli Hawi Corporation," jawab Dama


__ADS_2