
Hujan turun semakin deras malam ini. Seorang gadis nampak meluruhkan tubuhnya ditepi jalan yang nampak sepi. Badannya mengigil hebat dengan bibir yang terus bergetar menandakan bahwa dirinya sekarang benar-benar merasa kedinginan. Air matanya terus berderai namun samar akan air hujan, kedua tangannya mendekap tubuhnya berharap bisa mengurangi hawa dingin yang seakan menusuk hingga tulang-tulangnya.
Dialah Aracha Deswinta Putri-seorang remaja SMA yang baru saja di DO dari sekolahnya dan juga diusir oleh orang tuanya karena sebuah inseden yang sedang menimpanya. Archa alias-Acha seorang gadis yang selalu ceria, bahkan terkenal suka menebar gombalan kepada teman-teman laki-lakinya kini sifatnya itu berubah 180 derajat setelah sebuah kejadian tak terduga yang sudah merenggut kesuciannya, dan kini-Acha gadis ceria itu dinyatakan positif hamil yang dimana usia kandungannya sudah mengijak usia ke-6 minggu lamanya.
Acha mengingat kejadian sebelum dirinya terdampar dipinggir jalan seperti seorang gelandangan. Ibunya itu begitu tega mengusirnya malam-malam bahkan dalam keadaan yang sedang hujan. Mengingat itu, hati Acha berdenyut nyeri, sangat-sangat nyeri.
Tubuh Acha tersungkur diatas halaman rumahnya yang berpafing, air matanya sudah mengalir sejak ibunya menjenggut rambutnya turun dari mobil sepulang ia dari sekolahnya. Mendengar kabar bahwa Acha di DO dari sekolahnya karena hamil, Mira-yang notabenya adalah ibu kandung dari Acha terkejut luar biasa.
Acha menangis tersedu-sedu tidak berani menatap sang mama yang memasang wajah murka apalagi menatap warga yang sudah mulai berkerumunan menonton dirinya seraya berbisik-bisik melemparkan pertanyaan kenapa Mira tega melakukan itu kepada putrinya.
"Kamu bener-bener tidak tahu diri ya?!" bentak Mira yang tidak mendapatkan balasan apa-apa dari Acha. Acha hanya bisa pasrah jika mamanya kembali mempermalukan dirinya, setelah disekolahnya yang tadi sempat mengundang perhatian seluruh siswa maupun siswi Angkasa 12 kini, mamanya mempermalukan dirinya didepan para tetangga.
"Kamu lahir saja sudah membuat malu, sekarang saat kamu sudah menginjak remaja pun masih membuat malu saya!"
Hati Acha nyeri luar biasa, seperti ada belati putih yang menikam dadanya tepat dimana jantungnya berada saat kalimat yang menyakitkan itu lagi-lagi terlontar dari mulut sang mama. Semua orang tentu saja tahu fakta bahwa Acha adalah anak Mira yang terlahir bersama dengan seorang laki-laki yang meniduri dirinya satu malam. Dan sampai detik ini, Acha masih belum tahu siapa ayah kandungnya.
"Lebih baik kamu pergi sekarang juga! saya tidak mau melihat kamu berlama-lama di rumah saja!" final Mira lantas bergegas masuk kedalam rumahnya tidak lupa pula mengunci pintu rumahnya.
Acha yang masih menangis menatap nanar pintu rumahnya yang sudah tertutup dengan rapat. Indera pendengarannya masih mampu mendengar para bisikan warga yang mulai menggosipkan dirinya yang ternyata hamil diluar nikah.
"Tidak nyangka ya, gadis yang terlihat baik-baik dan polos tidak tahunya malah hamil diluar nikah," itulah kalimat menyakitkan yang masih mampu Acha dengan sebelum akhirnya gadis itu memilih untuk beranjak dari tempatnya dan berlalu membawa kopernya.
Acha mengigit bibir bawahnya kuat-kuat tidak peduli jika nanti bibirnya akan terluka karena ulahnya. Tangannya tergerak untuk meremas dadanya yang terasa sakit dan sesak luar biasa. "Tuhan, bolehkah aku menyerah saja sampai disini? Semua ini terlalu menyakitkan, aku sudah lelah dengan semua ketidak adilan yang aku dapatkan," batin Acha masih dengan isak tangisnya.
Acha merasakan tubuhnya sangat lemas dan kepalanya pusing luar biasa. Samar-samar gadis itu melihat sebuah cahaya yang tiba-tiba menerangi jalannya namun tidak berselang lama cahaya itu kembali menghilang dan lagi-lagi tergantikan oleh kegelapan. Kesadaran Acha terenggut setelah lama di timpa air hujan.
***
__ADS_1
Acha nampak masih setia memejamkan matanya, sudah hampir dua puluh empat jam lamanya Acha memejamkan matanya hingga kini kelopak mata yang masih tertutup dengan sempurna perlahan terbuka dan memperlihatkan netra coklatnya.
Acha menatap asing langit-langit kamar yang masih nampak buram di penglihatannya sampai dengan sebuah suara berat terdengar menyapa. "Kamu tidak apa-apa?"
Acha melirik laki-laki pemilik suara baritone tersebut, dari wajahnya laki-laki itu masih nampak remaja dan juga-tampan. "Aku baik-baik aja, kamu pasti yang udah nolongin aku kan? Makasih ya," ujarnya dengan suara yang teramat lirih dan juga parau.
"Hm," laki-laki itu hanya bergumam sebagai tanggapan. Melihat Acha yang ingin merubah posisinya menjadi duduk, laki-laki yang belum diketahui namanya itu dengan segera megulurkan tangannya untuk membantunya.
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya laki-laki itu selepas membantu Acha mencari posisi duduk yang nyaman.
Acha menggelengkan kepalanya pelan pertanda ia tidak membutuhkan apa-apa. Melihat itu, laki-laki yang belum di ketahui namanya itu mengambil segelas susu yang tersimpan di atas nakas sebelah tempat tidur.
"Minumlah susu! Ini untuk bayimu," mendengar itu Acha sontak menoleh kearah dimana laki-laki tampan mendudukkan dirinya. "Kamu tahu?" tanyanya.
"Hm. Kemarin dokter memeriksamu," balasnya.
Mendengar itu malah membuat air mata Acha kembali mengalir dengan derasnya membuat laki-laki yang belum di ketahui namanya itu dilanda panik seketika. "Kenapa nangis?"
"Bayi itu tidak bersalah, biarkan dia tetap hidup," laki-laki itu berujar dengan nada dingin membuat Acha kemudian menolehnya.
"Tapi bayi ini adalah aib, bayi ini sudah menghancurkan hidupku, dia merenggut masa mudaku dan semua kerja kerasku berakhir dengan sia-sia," serunya masih dengan derai air mata.
"Seharusnya lo udah harus tahu konsekuensinya sebelum melakukan hal itu," suara itu masih terdengar begitu dingin. Apalagi dengan panggilan yang sudah di rubah dari kamu menjadi elo.
Acha menggelengkan kepalanya. "Ini bukan yang gue inginkan. Gue dipaksa, semuanya di renggut paksa tanpa gue minta dan tentunya tanpa bisa gue hindari."
Dari situ laki-laki itu mulai paham bahwa perjalanan hidup seorang Acha tidaklah sederhana dan mudah tentunya. "Semua sudah terjadi maka biarkan yang terjadi itu terjadi. Lebih baik lo tebus dosa lo itu dengan menjaga baik-baik bayi dalam kandungan lo. Dia tidak salah dan dia berhak untuk hidup."
__ADS_1
Hati Acha mencelos mendengar ucapan dari laki-laki yang tidak ia kenal. Laki-laki itu benar kalau anak dalam kandungannya ini memang tidaklah salah dan juga memiliki hak untuk hidup. Tapi, untuk apa ia dan bayinya hidup kalau hanya untuk mendengarkan gunjingan orang-orang apalagi sudah tidak ada yang menginginkannya untuk tetap bertahan di dunia yang sudah menjadi saksi bisu penderitaannya.
Acha kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa, aku tida bisa mempertahankan dia bahkan mempertahankan nyawaku sendiri sekalipun. Semua terlalu berat untuk aku hadapi sendiri. Di dunia ini, sudah tidak ada yang mengharapkan diriku apalagi bayiku. Jadi, untuk apa kita tetap hidup?" pikiran Acha begitu kalut hingga membuatnya tidak mampu lagi untuk berfikir jernih.
"Semua orang hanya berlomba-lomba untuk menyakitiku, tidak ada yang menyayangiku entah itu keluargaku sendiri atau bahkan orang lain dan dia yang merenggut paksa kehormatanku," imbuhnya.
Entah kenapa, melihat Acha seperti itu laki-laki itu merasa begitu tidak tega. Ia seperti turut merasakan sakit yang dirasakan oleh Acha padahal dia sendiri belum mengenalnya. Gelas berisi susu yang semula berada dalam genggamannya kini berpindah di atas nakas. Tanpa terlebih dahulu meminta ijin, laki-laki itu tiba-tiba merengkuh begitu saja tubuh rapuh Acha yang kini bergetar hebat dalam dekapannya.
"Ada, gue. Gue menginginkan lo dan bayi lo. Jadi, gue minta kalian bertahanlah untuk gue," entah mendapat dorongan dari mana laki-laki itu bisa mengatakan kalimat seperti itu. Yang jelas itu adalah kalimat yang timbul dari hatinya.
Acha yang mendengar itu sontak mengurai pelukannya. "Apa kamu serius?" tanyanya yang kemudian dijawab dengan sebuah sebuah anggukan. "Gue akan menjaga kalian berdua, tidak akan membiarkan orang lain memperlakukan lo dengan buruk selagi masih ada gue di samping lo," ujarnya dengan mantap.
"Tapi... aku tidak mengenalmu," ujar Acha begitu lirih.
"Yoga," ujarnya kemudian memperkenalkan dirinya.
...•...
...•...
...•...
...Jadi, gimana? Masih mau lanjut apa stop sampai disini aja nih?...
...Baca lanjutan novelnya di...
__ADS_1
NO GHOSTING SUDAH ADA STOK SAMPAI ENDING