My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 65


__ADS_3

Terpecahkannya kasus kematian Mariyah juga membawa dampak positif bagi Hawi Corporation.


Keberhasilan Nina yang berhasil mengungkapkan jika ia dan suaminya tidak bersalah dalam kasus ini memberi kepercayaan kepada pihak Investor untuk kembali menanamkan modalnya di perusahaan itu.


Memiliki pemimpin muda yang kompeten membuat harga saham perusahaan mulai menguat meskipun tidak terlalu banyak.


Broto yang begitu senang dengan kinerja Nina kemudian meminta ia untuk menjadi CEO perusahaan untuk menggantikan dirinya.


Lelaki itu kemudian memberitahukan jika ia sebenarnya hanya di beri amanah untuk menjaga perusahaan itu sampai Nina atau Khalif siap menjadi pemimpin perusahaan itu.


Sebagai seorang yang sudah mengabdikan hidupnya untuk keluarga Wiratmaja Broto sangat berharap agar Nina mau menerima tawarannya untuk menjadi CEO Hawi Corporation.


Namun gadis itu malah menyarankan untuk memberikan posisi itu kepada suaminya. Karena ia merasa jika Khalif lah yang lebih tepat untuk menjalankan perusahaan.


Nina mengatakan jika dirinya akan fokus untuk memperbaiki hubungannya dengan Khalif.


"Apa kau mulai mencintainya?" tanya Broto


"Entahlah, aku tidak bisa menjawab sesuatu yang belum pasti. Yang jelas saat ini aku berjanji akan mengembalikan kehidupan Khalif seperti dulu sebelum ia menikah denganku. Aku merasa bersalah karena ia berubah jadi seperti ini karena diriku


Tim penyidik kemudian mempersiapkan sebuah untuk mencari keberadaan sang asisten rumah tangga .


Mereka mulai dengan melacak keberadaan asisten rumah tangga yang dimaksud oleh Mariyah.


Dengan bantuan badan intelejen Negara tentu saja mereka dapat menemukan Sri dengan mudah.


Bukan hanya itu saja mereka juga menggunakan tim intel untuk menemukan pisau tersebut.


Usaha yang maksimal dari pihak kepolisian berhasil membuahkan hasil. Mereka akhirnya berhasil menemukan pisau yang digunakan oleh Mariyah untuk bunuh diri di rumah seorang asisten rumah tangga keluarga Wiraatmadja.


Mereka kemudian membawa pisau itu pisau itu ke laboratorium forensik untuk mengecek sidik jari yang menempel di atasnya.


Dengan teknologi yang dimiliki oleh badan forensik nasional, mereka benar-benar menemukan sidik jari Mariyah yang memang menempel di pisau itu.


Selain hanya sidik jari Mariyah yang ditemukan di pisau itu, mereka juga berhasil mengidentifikasi bekas daerah yang menempel di pisau itu adalah milik Mariyah. Meskipun pisau itu sudah lama menghilang namun Sri sangat pandai dalam menyimpan barang bukti itu hingga tidak merusak sidik jari ataupun noda darah yang menempel pada pisau itu.


ini dengan bukti-bukti yang otentik.


Pihak kepolisian juga segera mencabut status tersangka Khalif. Mereka kemudian memberikan surat bebas kepada Khalif setelah ia terbukti tidak bersalah. Kasus kematian Mariyah pun resmi ditutup. Dan pihak kepolisian memberikan penghargaan khusus kepada Nina yang sudah membantu aparat kepolisian untuk memecahkan misteri kasus kematian Mariyah.


Karena berkat keberanian Nina mereka bisa mengungkapkan misteri kematian Mariyah.


*Flashback sebelum operasi.


"Kenapa kau harus hadir dalam kehidupan ku??. Kau tahu jika kedatangan mu di dalam hidupku membuat hidupku hancur. Sekarang kau lihat sendiri kan jika aku sudah sekarat. Jadi sebaiknya pergilah dari hidupku, carilah kebahagiaan hidup mu sendiri karena aku tahu kau tidak akan bahagia jika terus bersamaku," ucap Khalif kemudian mengembalikan surat gugatan cerai itu kepada Nina


"Aku tahu kau memutuskan semua ini karena kau tengah frustasi dengan penyakit mu. Tapi aku akui jika apa yang kau katakan memang benar, gara-gara aku hidupmu jadi menderita. Gara-gara aku kau tidak bisa hidup bersama wanita yang kau cintai, semuanya gara-gara aku. Bukan aku egois karena tidak mau menandatangani surat gugatan cerai darimu, tapi aku merasa karena momennya tidak tepat. Aku ingin menyelesaikan tugas-tugasku dulu baru aku kan menandatangani surat itu. Untuk sekarang biarkan aku merawat mu sampai kau sembuh dulu. Aku janji setelah kau sembuh, aku akan menandatangani surat cerai itu dan benar-benar pergi dari hidupmu," ucap Nina kemudian meninggalkan Khalif.


...🍀🍀🍀...


Nina tampak masih khusuk berdzikir di depan ruang operasi. Sementara Dama masih sibuk mondar-mandir di depan ruang operasi untuk menghilangkan rasa nervousnya.


Sesekali wanita itu menatap ponselnya untuk melihat sudah berapa lama ia menunggu operasi Khalif.


"Sudah dua jam lebih tapi operasinya belum juga selesai, bagaimana nasib putraku!" ujar Dama kemudian menangis tersedu-sedu


Nina berusaha menenangkan wanita itu dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.


Tidak lama Hilman menghampiri Dama. Pria itu kemudian mengajak Dama untuk berbicara empat mata di kantin rumah sakit.


Hilman sengaja datang untuk memberitahukan tentang kebebasan Khalif karena polisi sudah berhasil memecahkan kasus kematian Mariyah.


"Jadi Ibu benar-benar meninggal karena bunuh diri, haish wanita tua itu kenapa selalu saja menyebalkan. Bukan hanya saat dia masih hidup bahkan setelah mati pun ia tetap menyebalkan dengan misteri kematiannya yang membuatku hampir kembali menjadi seorang kriminal. Tapi aku penasaran bagaimana Nina bisa selamat saat aku memberikan racun di ruangannya??. Apa dia benar-benar memiliki seorang malaikat pelindung yang selalu melindunginya saat ia berada dalam bahaya??" tutur Dama


"Sebaiknya mulai sekarang Nyonya harus lebih menjaga sikap anda kepada Nina. Meskipun gadis itu terlihat seperti gadis lugu tapi sebenarnya ia sangat genius seperti ayahnya Dado Aryakunto yang selalu berhasil menyelesaikan kasus-kasus besar dan penting lainya yang tidak bisa di pecahkan oleh pengacara lain. Asal Nyonya tahu Dado dan Nina juga yang sudah berjasa menyelesaikan kasus kematian Mariyah. Selain itu dari kasus kematian Nyonya Mariyah anda mendapatkan beberapa penilaian negatif dari pihak kepolisian, jadi berhati-hatilah," terang Hilman


"Sepertinya Nina akan jadi boom waktu yang bisa kapan saja melemparkan aku keluar dari keluarga Wiraatmadja,"

__ADS_1


Selesai mendengarkan penjelasan dari pengacaranya, Dama. Memilih berjalan-jalan untuk mencari udara segar.


"Nina, Nina, Nina, sepertinya aku terlalu meremehkan dia. Sekarang ia sudah banyak tahu tentang kejahatan ku. Sepertinya aku memang harus menyingkirkan gadis itu agar tak membuat masalah suatu hari nanti,"


Saat Dama hendak menghubungi Adolf tiba-tiba seorang pria menabraknya hingga ponselnya jatuh ke lantai.


*Brakkk!


"Ah dasar brengsek, kalau jalan itu pakai mata dong!" seru Dama mendorong pria itu saat membantunya mengambil ponselnya yang jatuh di lantai.


"Maaf nyonya saya tidak sengaja," ucap lelaki itu kemudian memberikan ponsel Dama kepadanya.


"David??"


Karena familiar dengan wajah pria itu Dam kemudian mendongakkan wajah pria itu agar ia bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu.


Seketika Netranya membulat sempurna saat melihat pria didepannya.


"David, apa kau benar-benar David?" ucap Dama kemudian mengusap wajah pria itu


Tak jauh berbeda dengan wanita itu, David juga begitu terkejut saat melihat sosok Dama ada di depannya.


"Maaf sepertinya anda salah orang," jawab David berusaha menghindar darinya


"Jangan bohong David, aku sudah mengenalmu selama puluhan tahun mustahil aku tidak mengenalimu!" sahut Dama


Ia bahkan nekat membuka kancing baju pria itu membuat semua orang langsung memperhatikannya.


"Apa yang kau lakukan!" hardik David berusaha mencegah Dama membuka kemejanya


"Tentu saja aku harus membuktikan sendiri apa kau benar-benar David yang ku kenal atau bukan," jawab Dama


Dama tak kehilangan akal saat David melarangnya membuka kancing kemejanya.


Ia kemudian mengambil pisau kecil dari tas selempangnya dan merobek kemeja bagian belakang David.


"Ternyata kau benar-benar David," ucap Dama setelah melihat tato yang ada di punggung pria itu.


Dama tampak berkaca-kaca dan tak percaya melihat pria yang ia cintai berdiri di depannya.


"Kenapa kau begitu jahat kepadaku," ucap Dama sambil memukuli pria itu


"Kenapa kau tidak memberitahu aku jika kau berhasil selamat dari kecelakaan itu, kenapa kau malah menghilang dan meninggalkan aku sendirian!" seru Dama menangis tersedu-sedu


David yang tak tega melihat kesedihan Dama, kemudian mencoba menenangkannya.


"Maafkan aku yang sudah meninggalkan mu, aku hanya ingin kau berubah dan aku berusaha mengakhiri semuanya dan mulai menata kehidupan ku yang baru. Aku sudah lelah dengan kehidupan keras seorang gengster yang selalu membuat ku hidup dalam kegelisahan. Aku ingin hidup tenang dan menikmati sisa hidupku itulah alasan ku memilih menepi dan meninggalkan semuanya termasuk dirimu," ucap Davi kemudian melepaskan pelukannya


"Apa sekarang kau sudah menikah?" tanya Dama tiba-tiba membuat David langsung menyunggingkan senyumnya


"Memangnya ada wanita yang mau menjadi istri lelaki tua yang tak punya pekerjaan seperti diriku?" jawab David balik bertanya


"Ternyata benar hanya aku satu-satunya wanita bodoh yang selalu berharap menjadi istri mu suatu saat nanti," jawab Dama


Sementara itu dari kejauhan Panji tampak mengamati keduanya.


Ia kemudian menghampiri David dan memberikan hasil ct scan miliknya.


"Panji??, siapa dia dan apa hubungan mu dengan bodyguard menyebalkan ini!" cibir Dama menatap sinis kearah Panji


"Dia anak angkat ku, kebetulan ia memiliki nasib yang hampir sama denganku untuk itulah aku sengaja mengangkatnya menjadi putraku. Selama ini dialah yang membuat hidupku menjadi lebih bermakna, aku jadi tahu bagaimana rasanya menjadi ayah, dan aku juga merasa hidup ku lebih berguna karena bisa membantunya saat ia mengalami kesusahan," jawab David


"Pantas saja Adolf gagal mengeksekusi Nina, ternyata David yang membantunya," gumam Dama


Wanita itu kemudian menatap lekat amplop coklat yang dipegang oleh David.


"Apa kau sakit?" tanya Dama

__ADS_1


"Biasa penyakit orang tua," jawab David berusaha menyembunyikan kondisinya dari Dama


"Jangan bohong. Kalau kau hanya sakit biasa tidak mungkin kau harus melakukan CT Scan segala!" cibir Dama


David tersenyum melihat kekhawatiran wanita itu. Ia kemudian menjelaskan jika CT Scan itu untuk mengetahui luka tembak di kepalanya.


Dama Seketika merasa bersalah saat mendengar ucapan David.


Ia masih ingat dengan jelas bagaimana saat David menyelamatkannya dari tembakan seorang gengster.


"Maafkan aku," ucap Dama dengan penuh penyesalan


"It's ok, semuanya akan baik-baik saka. Kalau begitu aku pamit dulu," ucap David kemudian meninggalkan Dama


Sementara itu Operasi Khalif pun selesai, Dokter Adi kemudian memindahkan Khalif ke ruang perawatan.


Ia kemudian mengajak Nina untuk berbicara empat mata.


Kali ini dokter Adi memberitahu Nina jika operasi pengangkatan sel kanker Khalif sudah berhasil. Ia menyarankan untuk segera mencari donor sumsum tulang belakang jika ingin kondisi Khalif segera pulih dan bisa kembali sehat seperti dulu lagi.


"Kalau begitu aku bersedia menjadi pendonor nya," ujar Nina


"Tapi Nina, biasanya hanya keluarga yang bisa menjadi pendonor karena memiliki kecocokan dengan pasien. Tingkat kecocokan bagi pendonor selain keluarga sangat sedikit jadi kecil kemungkinannya kau bisa menjadi pendonor untuk Khalif. Tapi kalau kau memaksa juga, kau bisa melakukan serangkaian tes untuk memastikan apa struktur sumsum tulang belakang kalian cocok atau tidak. Sementara ini aku aku akan membujuk Tante Dama agar mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Khalif," ujar Adi


"Baik dok," Nina kemudian segera mengikuti dokter Adi menuju ke laboratorium.


Nina mulai menjalani serangkaian tes agar bisa menjadi pendonor untuk Khalif.


Sementara itu Dokter Adi kemudian menemui Dama dan mengajaknya berbicara.


Pria itu kemudian menceritakan tentang kondisi Khalif pasca operasi. Ia juga meminta Dama untuk menjadi pendonor bagi Khalif jika ia menginginkan putranya sembuh.


"Apa tidak ada cara lain Di?" tanya Dama


"Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Al Tante. Kondisinya sudah sangat lemah hingga mustahil untuk melakukan kemoterapi lagi," sahut dokter Adi


"Baiklah, kalau begitu aku akan mencari seseorang yang mau menjadi pendonor untuk Khalif," jawab Dama


Wanita itu kemudian menanyakan kepada dokter Adi apa ia sudah memberitahu Nina tentang hal itu.


Adi pun memberitahu Dam jika Nina malah sedang mengikuti serangkaian tes agar ia bisa menjadi pendonor bagi suaminya.


"Haish si Upik Abu itu tetap saja berusaha menjadi pahlawan kesiangan walaupun tahu peluangnya sangat sedikit. Apa ia belum sadar juga jika apapun yang dilakukannya tidak akan merubah perasaan Al kepadanya. Kadang aku kasian juga padanya, tapi di sisi lain aku sangat membencinya karena ia sudah merebut warisan yang seharusnya menjadi milikku dan Al," ujar Dama


Ia kemudian mengunjungi Khalif di ruangannya.


Ia melihat putranya itu masih belum sadarkan diri pasca operasi.


"Cepatlah sehat, kali ini ibu janji akan menuruti apapun keinginan mu termasuk bercerai dari Nina. Ibu sadar jika selama ini aku terlalu mengekang mu hanya demi harta sehingga kau tidak bisa menikmati kehidupan mu sendiri. Aku tidak sadar telah menjadikan mu sebagai boneka ku agar bisa tetap hidup mewah. Maafkan ibu sayang, doakan saja semoga ibu bisa mendapatkan donor untuk dirimu," ucap Dama kemudian mencium kening Khalif


Dama kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan Khalif dan menghubungi Adolf.


Kali ini ia menghubungi pria itu untuk membantunya mencari donor untuk Khalif.


"Aku akan memberikan bonus besar jika kau berhasil mendapatkan donor untuk Khalif," tukas Dama


"Baik Nyonya,"


Sementara itu Nina baru saja selesai melakukan serangkaian tes untuk menjadi donor untuk Khalif.


Nina kemudian mengunjungi Khalif untuk mengetahui kondisinya. Ia mengusap lembut wajah suaminya yang terlihat pucat.


"Andai saja aku tidak datang ke acara ulang tahun ayahmu dan menerima tawaran menjadi karyawan Hawi Corporation, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu. Maafkan aku Al, kali ini aku berjanji akan mengembalikan kehidupan mu seperti dulu lagi,"


Nina kemudian memilih membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an di samping Khalif, ia berharap semoga Khalif bisa segera sadar setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci.


.

__ADS_1


__ADS_2