My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 69


__ADS_3

Mutia tampak membereskan barang-barangnya meskipun sambil menggerutu.


Panji yang melihatnya segera membantunya.


"Lalu apa rencanamu setelah ini, apa kau punya tempat tinggal lain?" tanya Panji


"Terpaksa aku harus menempati apartemen yang ku sewakan," jawab Mutia


Wanita itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Maaf ya, atas ke tidak nyamannya," ucap Mutia mengakhiri obrolannya


Ia kemudian menghubungi jasa pindah rumah untuk mengangkut barang-barangnya.


"Sepertinya kita akan jarang bertemu setelah ini," ucap Mutia tampak gusar


"Jangan sedih tentu saja aku akan sering mengunjungi mu nanti," jawab Panji


"Benarkah??"


"Tentu saja," jawab Panji kemudian mengantarkan Mutia ke rumah barunya.


Setibanya di sana, Mutia langsung menjamu Panji dengan memasak makan malam untuknya.


Saat Mutia sedang sibuk memasak, sesuai misinya Panji berusaha mencari surat-surat kepemilikan apartemennya yang ada di tangan Mutia.


Setelah mengacak-acak seisi kamar Mutia, akhirnya Panji berhasil juga mendapatkan surat yang dicarinya.


"Masakannya sudah matang, ayo makan!" seru Mutia menghampiri Panji di kamarnya


Beruntung Panji sudah membereskan semuanya, sehingga Mutia tak curiga padanya.


"Ish ngapain sih kamu beres-beres kamarku segala, gak usah repot-repot lagi. Sudah jangan dilanjutkan, biar nanti aku saja yang melanjutkannya. Sekarang lebih baik kita makan dulu," ucap Mutia kemudian mendorongnya keluar dari kamarnya.


"Tapi...."


"Udah gak papa," sahut Mutia kemudian menyuruhnya duduk.


Mutia bahkan segera menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring Panji.

__ADS_1


"Sekarang ayo makan yang banyak!" ucap Mutia


...🍀🍀🍀...


Sementara itu Khalif terkejut saat melihat Nina ada di rumahnya.


"Kau??, kenapa kau ada di rumah ku??" tanyanya dengan wajah penasaran


Nina tampak kebingungan saat mencari alasan untuk memberi penjelasan kepada Khalif.


"Aku..., aku...."


Melihat Nina yang tampak gagap membuat Naira langsung melihat kedalam gudang.


Wanita itu tak percaya saat melihat gudang yang beralih fungsi sebagai kamar pribadi Nina.


"Apa kau tinggal di sini?" tanya Naira sinis


"Aku bisa menjelaskannya nanti," jawab Nina kemudian mengajak Naira untuk berbicara empat mata dengannya.


Ia berusaha menjelaskan kepada Naira semuanya namun gadis itu langsung mencegahnya.


Ia kemudian mengajak Khalif pergi dari ruangan itu.


"Sebaiknya kamu tunggu di luar dulu, karena aku yakin sekarang kamarmu pasti sangat kotor dan berantakan setelah lama kau tinggalkan," ucap Naira


Ia segera masuk ke kamar itu. Naira tampak termangu saat menatap photo pengantin Nina dan Khalif yang terpajang di dinding kamar itu.


"Ternyata dugaanku benar, Al sudah menikah dan wanita itu adalah istrinya," ucap Naira tampak berkaca-kaca


"Aku tidak perduli apapun yang terjadi padanya, yang jelas sekarang aku tak mau lagi kehilangan dia." Naira kemudian segera naik keatas Kursi dan menurunkan foto tersebut.


Ia bahkan menyembuhkan foto itu di bawah tempat tidur Khalif.


Setelah memastikan tidak ada lagi jejak Nina yang tertinggal di kamar itu, ia kemudian mempersilakan Khalif untuk segera masuk ke kamarnya.


"Sudah bersihkan?" ucapnya dengan wajah ceria


"Hmm, thanks Nai," jawab Khalif kemudian segera merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Ah nyaman sekali, sudah lama aku tak merasakan kenyamanan seperti ini," ucap Khalif


Melihat Khalif yang tengah beristirahat, Naira kemudian keluar dan menemui Nina yang masih membereskan barang-barangnya.


"Maaf jika aku, sedikit kasar padamu. Jangan salah sangka aku melakukan semua itu bukan karena aku tidak menyukaimu, aku melakukannya demi kebaikan Khalif. Mungkin berat bagimu karena suamimu tak mengenalimu lagi, tapi itulah takdir kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Jadi demi kebaikan Khalif, sebaiknya kau segera pergi dari sini!" ucap Naira


"Tentu saja," jawab Nina kemudian segera mengangkat kopernya


Namun saat ia akan pergi meninggalkan gerbang kediaman keluarga Wiraatmadja, seorang kepala pelayan memintanya untuk tetap tinggal di rumah itu.


Kepala pelayan menunjukkan surat wasiat dari Mariyah yang memintanya untuk menempati kediamannya setelah ia meninggal.


Nina menangis tersedu-sedu setelah membaca wasiat tersebut.


"Nenek, terimakasih sudah mempersiapkan semuanya untukku. Bahkan aku aku sendiri tidak membayangkan hal ini akan terjadi, tapi nenek bahkan sudah memprediksi semuanya," ucap Nina


"Sebaiknya anda segera masuk nona, karena tidak baik jika anda terus berada di luar rumah," jawab Kepala Pelayan


Ia kemudian membantu Nina membawakan barang-barangnya menuju ke dalam paviliun Mariyah.


Sementara itu Dam segera menemui Khalif saat mengetahui Naira kembali dari luar negeri.


Dama begitu tampak menahan amarahnya saat melihat Naira bersama dengan Khalif sedang menikmati makan malamnya.


"Selamat malam Ibu, sudah lama tak bertemu, sepertinya anda semakin cantik saja," sapa Naira menyunggingkan senyumnya


"Tidak usah basa-basi, apa tujuanmu kembali lagi ke rumah ini!" seru Dama


Naira segera menyudahi makannya dan menghampiri wanita itu.


"Sepertinya ibu lupa jika ibu tidak boleh berteriak-teriak di depan Al. Haruskah aku mengingatkan ibu jika Al sekarang harus selalu bahagia, apa ibu akan membuat Al di rawat di rumah sakit lagi dengan membuatnya bersedih karena harus berpisah denganku lagi?" tanya Naira


"Dasar Iblis, kau ternyata memanfaatkan kelemahan Al untuk kembali lagi ke rumah ini. Ingat Nai, aku tidak akan membiarkan ular seperti mu mendekati putraku!" seru Dama


Ia kemudian segera pergi dan segera menghubungi Nina.


Wanita itu kemudian melampiaskan kemarahannya kepada Nina dengan terus menyalahkannya karena meninggalkan Khalif bersama dengan Naira.


"Apa kau ini wanita bodoh, kenapa kau bisa meninggalkan suamimu dengan wanita lain!" seru Dama

__ADS_1


__ADS_2