My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 79 (REVISI)


__ADS_3

Dado terlihat mencermati tulisan tangan yang diserahkan oleh pengacara Mutia.


Pria paruh baya itu tampak meneliti setiap detil dari tulisan itu.


"Sepertinya ini memang bukan tulisan Mutia, walaupun sekilas tulisan ini tampak mirip tapi ada satu perbedaan pada penulisan huruf a," ucap Dado


Dado kemudian meminta pengacara Mutia untuk pergi, ia berjanji akan membantu Mutia.


Lelaki itu kemudian menghubungi Nina untuk memberitahukan kepadanya jika Mutia bukanlah orang yang sudah memalsukan tulisannya.


"Maaf jika ayah harus membela Mutia, bukan ayah tidak berempati padamu tapi karena ayah juga tak bisa melihat orang yang tak bersalah didzolimi," ucap Dado meminta maaf


"Iya ayah, tidak masalah. Terimakasih sudah memberitahu Nina jika Muti bukanlah pelakunya, dengan begitu aku jadi tahu jika ada orang lain yang menginginkan Nina tak bersatu dengan Khalif," jawab Nina


Setelahnya Dado berpamitan meninggalkan Nina yang masih setia menunggu suaminya.


"Ayo dong sayang bangun, sampai kapan kau akan tetap tidur seperti ini?" Nina tampak mengusap wajah Khalif yang masih belum sadarkan diri


Ia kemudian berdoa semoga suaminya juga cepat sembuh. Nina tampak mengusap lembut kepala suaminya,


"Semoga kau cepat pulih dan bisa beraktivitas seperti dulu lagi," saat hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba Nina melihat jemari Khalif bergerak-gerak.


"Kamu udah sadar Al??" tanya Nina dengan wajah tak percaya


Ia berpikir untuk memanggil dokter Adi untuk memberitahukan kondisi suaminya, namun dengan cepat lengan Khalif menahannya.


Khalif yang sudah membuka matanya kemudian menggelengkan kepalanya seolah memintanya untuk tidak memberitahu siapapun.


Nina tersenyum kemudian duduk di sampingnya.


"Apa kamu haus?" tanyanya lirih


Khalif pun mengangguk, Nina mengambilkan segelas air dan memberikannya kepada pria itu.


Setelah menghabiskan satu gelas air, Khalif tampak menggerakkan tangannya yang sudah lama tak di gerakkan.

__ADS_1


Nina bahkan membantunya untuk melemaskan otot-otot kakinya dengan memapahnya berjalan bolak-balik di dalam ruangan.


Khalif tampak terengah-engah dengan keringat yang mulai bercucuran.


"Cukup," ujarnya lirih


Nina kemudian berpamitan untuk membeli makanan. Khalif tampak duduk termenung menatap kalender yang ada di meja.


Lelaki itu mengambil kalender meja itu dan menandai sebuah angka yang tertera di sana.


" Hampir dua hari aku di sini, bagaimana bisa," ucapnya getir


Tidak lama Nina kembali dengan membawa dua bungkus makanan di tangannya.


"Kamu mau bubur apa nasi?" tanyanya


"Bubur," jawab Al


Nina segera membuka box putih itu dan menyuapi khalif dengan sabar.


"Tidak usah, aku sudah sembuh jadi kita pulang saja," jawab Khalif


"Tapi...." Nina tampak ragu saat Al mengajaknya untuk pulang.


Ia melihat kondisi suaminya seperti yang tampak pucat dan lemah. Nina khawatir Khalif masih belum sehat betul sehingga membuatnya sedikit khawatir.


Namun ia tak bisa menahan keinginan Khalif yang memang ingin pulang.


Ia pun diam-diam meninggalkan ruang perawatan malam itu juga tanpa diketahui oleh para suster dan dokter penjaga.


Setibanya di rumah ia mengantar Khalif ke kamarnya.


"Sekarang Istirahat saja, nanti kalau ada apa-apa panggil saja aku," ucap Nina kemudian merapikan selimut Khalif dan membalikan badannya


"Kamu mau kemana?" tanya Khalif

__ADS_1


"Aku juga harus beristirahat agar bisa merawat mu lagi besok," jawab Nina tersenyum simpul padanya


"Tidurlah di sini, bukankah kita masih suami istri?" ucap Khalif menatapnya sendu


Nina hanya tersenyum dingin menanggapi ucapan suaminya itu.


Tapi kamu masih sakit dan aku tidak bisa mengganggumu di sini," tolak Nina


"Justru kau akan membuatku semakin sakit jika tak mau menemaniku malam ini," Khalif kemudian menarik lengan Nina hingga wanita itu jatuh ke sampingnya.


Khalif tersenyum simpul menatap wajah lelah istrinya.


Ia mengusap lembut wajah Nina kemudian merapikan rambutnya.


"Kau pasti sangat lelah hari ini, sampai matamu menghitam seperti ini. Sekarang Istirahatlah sayang," ucap Khalif Seketika membuat Nina bergetar.


Wanita itu tak percaya saat mendengar pria di depannya itu memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia bahkan tak menyangka Khalif akan tersenyum kepadanya yang membuatnya sedikit deg-degan.


Perlakuan lembut Khalif membuatnya seketika luluh, hingga membuat ia pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya.


Nina masih terjaga, ia masih belum bisa memejamkan matanya karena terlalu nervous saat berada di pelukan suaminya.


Malam itu Khalif memeluknya erat sehingga membuat ia tak bisa bergerak.


Ia kini bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang memiliki aroma khas hingga membuatnya merasa nyaman di pelukannya.


Ia bahkan bisa mendengar denyut jantung suaminya itu karena telinganya menempel tepat di dadanya.


Nina pun akhirnya tertidur pulas setelah menahan kantuk semalaman.


Saat itulah Khalif terbangun dan menatapnya sendu.


"Maafkan aku sayang," ucapnya lirih sambil mengecup keningnya


Ia kemudian mengusap lembut rambut istrinya itu sambil terus memandangi wajah cantik Nina.

__ADS_1


__ADS_2