
"Dia adalah Hamzah Surya Atmaja pengacara keluarga Wiraatmadja yang baru," jawab Broto
"Cih, sepertinya kau sekarang bertingkah seperti bos besar setelah kematian nenek ku. Jangan pikir kau bisa menyingkirkan aku setelah mengganti semua orang ku dengan orang-orang kepercayaan mu," tukas Khalif kemudian meninggalkan ruangan itu.
Broto kemudian meminta Hamzah untuk memberikan salinan surat wasiat Mariyah kepada Khalif.
"Dia harus tahu isi wasiat itu agar tidak bertingkah arogan lagi, sudah saatnya ia mengakhiri semua keegoisannya jika ingin tetap menjadi keluarga Wiraatmadja,"
Hamzah kemudian bergegas menyusul Khalif di ruangannya.
Khalif begitu murka saat mengetahui Mariyah tidak mewariskan apapun untuknya. Bukan itu saja, Ia bahkan tak menduga jika Mariyah benar- benar mengambil jabatannya dan menjadikannya sebagai komisaris rendahan.
Ia seketika mengamuk di ruang kerja Broto. Entah kenapa rasa iri kini mengisi seluruh kepalanya.
Ia menatap sinis kearah Nina yang mendapatkan banyak warisan dari sang nenek.
"Aku heran, sebenarnya aku atau dia yang menjadi cucunya. Kenapa nenek begitu sayang dan peduli kepadanya daripada aku. Dan lagi, kenapa dia juga yang paling banyak mendapatkan harta warisan miliknya. Apa sebenarnya yang sudah kau lakukan padanya. Apa kau menggunakan guna-guna untuk memikatnya??" ujar Khalif memandang sinis kepada Nina seolah gadis itu sudah menguranginya.
"Sebaiknya kau introspeksi diri. Ingat-ingat apa yang sudah kau lakukan hingga membuat nenek menjadi murka padamu," jawab Broto kemudian mendorong Khalif keluar dari ruangannya
"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkan kalian mencuri harta milikku. Kau pikir aku tidak berani melawan mu tantang Khalif. Bisa saja kalian memalsukan surat wasiat itu. Apalagi aku tahu jika kau dulu adalah seorang mafia, jangan pernah remehkan aku Broto!" ujar Khalif menepuk bahu pria tinggi besar itu.
Setelah puas mengacau, Khalif pergi dengan penuh dendam. Ia kemudian menemui Dama di ruangannya.
"Apa kau sudah membaca surat wasiat itu?" tanya Dama
"Hmm, tapi aku tak percaya nenek akan membuat warisan seperti itu, aku yakin Broto sudah menyabotase surat wasiat itu. Bagaimana mungkin nenek hanya mewariskan aku sebuah perusahaan kecil dan memberikan Jawi Corporation kepada Nina yang bukan siapa-siapa. Bukankah itu tidak masuk akal?" tanya Khalif
Dama tampak mencerna ucapan putra tunggalnya itu.
"Apa kau masih belum sadar juga apa yang sudah kau lakukan sampai membuat nenek murka seperti itu?" tanya Dama dengan tatapan gemas
"Mutia maksudnya??. Tidak mungkin kan dia dendam hanya karena aku menyakiti Nina. Lagipula dia kan istriku lalu kenapa nenek yang marah saat aku menyakitinya!" jawab Khalif
Entah kenapa Dama begitu kesal mendengar jawaban Khalif. Ia sampai melemparkan buku kearah putranya itu.
__ADS_1
"Dasar bodoh, kenapa kau masih belum sadar juga!" seru Dama sambil memukulinya dengan buku-buku yang tebal kepadanya
Khalif berusaha menutupi wajahnya saat Dama terus melampiaskan kemarahannya dengan terus memukulinya.
"Sudah ibu, cukup!" seru Khalif
"Harusnya kau mulai sadar setelah semua ini. Nenek sengaja memberi pelajaran kepadamu dengan tidak memberikan warisan kepada mu, harusnya kau mulai berpikir dari sini,"
"Aku sudah berpikir kalau semua ini adalah ulah Broto, aku yakin ia sengaja menyabotase semuanya agar aku terlihat salah di depan media," lagi-lagi Khalif berusaha menimpakan semua yang dialaminya kepada Broto hingga membuat Dama semakin kesal dengannya.
"Sepertinya otak kamu sudah gak waras semenjak mengenal Mutia, dasar j*lang sialan!"
Dama kemudian membuka tas kecilnya serta mengeluarkan ponselnya.
"Halo Hilman, apa kita bisa ketemu hari ini?" tanya Dama
"Tentu saja, dimana kita bisa bertemu?" jawab Hilman
"Malam ini di rumahku saja," jawab Dama setelah itu mengakhiri pembicaraannya
"Jangan lupa datang ke rumah ibu nanti malam, ingat jangan pernah membawa wanita itu atau aku akan membunuhnya," ancam Dama kemudian meninggalkannya
"Sebenarnya ada apa, kenapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya Mutia
"Nenek memberikan hampir tujuh puluh persen hartanya kepada Nina. Ia bahkan memberikan Hawi Corporation kepadanya," jawab Khalif dengan nada getir
"Nina memang selalu pandai mengambil hati setiap orang, karena itulah kekuatannya. Lalu apa rencana mu selanjutnya. Apa kau akan mempertahankan rumah tanggamu dengannya?" tanya Mutia
Khalif tampak berpikir keras, sebenarnya pria itu sangat ingin menceraikan Nina, tapi melihat kondisinya seperti itu membuai tetap harus mempertahankan Nina meskipun ia membencinya.
Mutia seolah tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya itu.
"Sepertinya aku sudah tahu jawabannya, sekarang terserah kamu saja, aku tidak peduli;" sahut Mutia kemudian pergi meninggalkannya
...🍀🍀🍀...
__ADS_1
Mendengar Nina mendapatkan hampir semua warisan dari sang Nenek, Panji pun menemui gadis itu dan mengucapkan selamat kepadanya.
"Sebenarnya aku sangat sedih saat mendengar kau dituduh membunuh nenek. Tapi setelah tahu ia mewariskan hampir semua hartanya kepadamu, itu sudah membuktikan kalau kamu bukan pelakunya. Selamat ya Nin, semoga kau bisa mewujudkan keinginan Nenek untuk memajukan perusahaan ini," ujar Panji
"Terimakasih Panji," jawab Nana
"Kalau begitu aku pamit dulu, aku harus membereskan barang-barang ku sebelum pergi,"
"Memangnya kamu akan pergi kemana?" tanya Nina
"Karena Khalif akan di mutasi dari jabatannya, tentu saja aku juga akan mengalami hal yang sama, atau mungkin di pecat. So aku harus bersiap-siap sekarang," jawab Panji
"Siapa bilang kau akan di mutasi?" jawab Nina membuat Panji tampak terkejut.
Nina kemudian menjelaskan kepada Panji jika ia hanya ingin memutasi Khalif dan juga Mutia sesuai amanah sang nenek.
"Jadi aku tidak dimutasi?" tanya Panji
Nina menggelengkan kepalanya.
"Kau akan menjadi sekretaris Pak Broto mulai hari ini, dan juga karena pak Broto hanya menginginkan satu orang sekretaris jadi kau akan menempati ruang kerja Mutia," jawab Nina
"Terimakasih atas informasinya, kalau begitu aku tetap akan membereskan barang-barang ku dan memindahkannya ke ruangan baru ku," jawab Panji
"Ok," jawab Nina kemudian
melambaikan tangannya
Di tempat berbeda, Mutia tampak membereskan barang-barangnya sambil menggerutu. Tentu saja ia tak terima saat Broto memutuskan menurunkan jabatannya menjadi karyawan biasa.
Merasa memiliki kompetensi kerja yang tinggi, Mutia bahkan mengajukan protes kepada Broto. Namun pria itu justru menawarkan ia untuk mengundurkan diri jika tak mau menjadi karyawan Hawi Corporation.
Dengan wajah dongkol Mutia segera kembali ke ruangannya. Ia melihat Panji tengah membereskan barang-barangnya di ruangannya.
"Dasar penjilat, kau pasti senang kan karena sudah berhasil menduduki posisi tinggi daripada menjadi seorang bodyguard," cibir Mutia
__ADS_1
"Saya turut prihatin mendengar kau mendapatkan mutasi. Aku harap kau akan segera kembali mendapatkan posisimu secepatnya," jawab Panji
"Tentu saja, kau lihat saja, aku pasti akan mendapatkan posisiku ini tidak lama lagi," jawab Mutia