My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 34


__ADS_3

Hari itu Nina sengaja memilih pulang cepat. Ia sengaja ingin membuat surprise untuk suaminya tersebut.


Sepulang bekerja ia sengaja menyempatkan diri untuk mampir ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan.


Nina memang sengaja ingin memperbaikinya penampilannya agar suaminya mau meliriknya. Ia sadar jika Mutia jauh lebih cantik dan stylish darinya hingga membuat Khalif tergila-gila dengannya.


"Mulai sekarang aku akan mencoba tampil cantik demi kamu," ucap Nina


Selain merubah penampilannya, Nina juga sengaja menyiapkan makan malam spesial untuk suaminya.


Nina begitu deg-degan saat hendak meminta suaminya untuk makan malam bersama dengannya. Meskipun ia tahu Khalif sangat sibuk, namun ia berharap Khalif akan menyempatkan sedikit waktunya untuk makan malam berdua dengannya.


"Halo sayang, hari ini aku sengaja masak makanan kesukaan kamu. Kamu bisa kan meluangkan waktu untuk kita makan malam bersama?" tanya Nina penuh harap


"Hmm, nanti aku usahakan, tapi aku tidak janji," jawab Khalif begitu singkat


Meskipun demikian Nina tetap senang mendengarnya.


Pukul setengah delapan malam Nina menunggu dengan cemas kedatangan suaminya.


Wanita itu dengan sabar menunggunya di meja makan sambil sesekali memandangi layar ponselnya, berharap Khalif akan menghubunginya.


Hingga pukul sembilan malam Khalif belum juga pulang bahkan ia tak mengabarinya. Nina ingin sekali menghubunginya namun ia takut jika mengganggunya.


Tidak lama ponselnya bergetar membuat Nina buru-buru mengangkatnya. Ternyata hanya pesan singkat. Seketika wajah Nina berubah murung saat mengetahui jika suaminya tak bisa pulang karena masih harus menyelesaikan pekerjaannya.


Nina pun meninggalkan ruang makan dan duduk melamun di depan beranda rumahnya.


Ia kemudian membalas pesan Khalif dengan menanyakan kepadanya sudah makan atau belum. Lalu Khalif pun membalas jika ia belum sempat makan malam karena terlalu sibuk.


Nina kemudian berpikir untuk mengantarkan makan malam Khalif ke kantor sekaligus ia bisa membantunya jika suaminya itu memerlukan bantuan darinya.


Dengan penuh semangat Nina segera memasukan semua makanan yang ada di meja makan ke rantang yang sudah ia persiapkan.


Ia kemudian meminta Panji untuk mengantarnya.

__ADS_1


Setibanya di gedung Hawi Corporation, Nina segera menuju ke ruang kerja Khalif. Karena suasana kantor yang sepi Panji pun mengawal Nina hingga sampai ke depan ruangan Khalif.


Nina sedikit curiga saat melihat lampu ruangan Khalif padam.


"Katanya dia masih banyak pekerjaan tapi kenapa ruangannya gelap,"


Nina membuka perlahan pintu ruangan itu, ia begitu terkejut saat melihat Khalif dan Mutia tidur di sofa tanpa sehelai benangpun.


*Praangg!!


Seketika rantang di tangan Nina jatuh membuat Mutia terbangun dan terkejut melihat Nina berdiri di depannya.


"Nina??"


Air mata Nina jatuh berderai membasahi wajahnya. Wanita itu sejenak terdiam dan tak dapat berkata-kata saat melihat suaminya memeluk wanita lain.


"Maaf jika aku sudah menganggu istirahat kalian," ucap Nina kemudian bergegas pergi


"Nina tunggu Nina!" seru Khalif segera bangun dan memakai celananya


*Grep!!


Ia meraih lengan istrinya itu dan menahannya.


"Sebenarnya apa maksudmu datang ke kantor ku malam-malam begini, apa kau sengaja ingin memata-matai ku. Lalu melaporkan kejadian ini kepada Nenekku!" seru Khalif


"Jawab Nina!" seru Khalif dengan nada tinggi


"Untuk apa aku memata-matai suamiku sendiri, toh aku sebenarnya sudah tahu hubungan kalian. Jika aku memang berniat melaporkannya kepada Nenek, sudah daru dulu aku lakukan. Tapi aku tidak mau melakukannya karena aku sangat menyayangi nenek. Aku tak mau membuat penyakit jantungnya kambuh dengan memberitahu kebusukan perilaku cucu semata wayangnya," jawab Nina mencoba menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun


"Jangan munafik, aku tahu wanita miskin sepertimu akan melakukan apapun demi untuk mendapatkan suami tajir seperti diriku. Aku yakin kau tak berani melaporkan kepada nenek karena kau takut aku akan menceraikan mu dan kau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dariku bukan?"


Nina yang tak tahan mendengar ucapan Khalif pun melayangkan tamparannya ke wajah suaminya itu.


*Plaakkk!!

__ADS_1


Nina memang sudah tak bisa menahan kemarahannya apalagi saat mendengar tuduhan Khalif yang mengira jika dirinya menerima pinangannya hanya karena menginginkan hartanya.


Khalif yang tak terima dengan perlakuan Nina mencoba membalas tamparannya. Namun Panji tak tinggal diam, ia segera menahan lengan Khalif saat ia hendak menampar Nina.


Khalif Pun begitu geram saat mengetahui Panji berusaha menghalanginya. Ia kemudian mendorong pemuda itu dan melepaskan tinjunya. Beruntung Panji berusaha menangkis serangannya.


Kesal karena Panji selalu berhasil mematahkan serangannya membuat Khalif pun memakinya.


"Kau ini hanya seorang bodyguard jadi jangan ikut campur urusan kami jika tak mau aku pecat!" hardik Khalif


"Kau tidak bisa memecatnya karena Panji itu bukan bawahanmu. Yang bisa memecatnya hanyalah Nenek!" bela Nina


Khalif tersenyum kecut saat mendengar pembelaan dari istrinya.


"Melihat dia begitu peduli denganmu, dan begitu juga yang yang begitu keras membelanya aku curiga kalian memiliki hubungan spesial juga. Tidak mungkin ada api tanpa ada asap bukan. Apa hal ini juga yang membuatmu berusaha mencari kesalahan ku??. Kau sengaja mencari kesalahan ku demi menutupi aib mu sendiri!"


"Jangan memutar balikkan fakta. Bahkan orang bodoh pun tahu kalau yang dilakukan Panji adalah sebatas profesionalisme seorang bodyguard yang melindungi majikannya," jawab Nina kemudian pergi meninggalkan Khalif dan Mutia.


Namun Mutia segera mengejarnya dan bersimpuh di kakinya.


"Nina aku mohon jangan laporkan kejadian ini kepada Nenek,"


Nina menghela nafas mendengar ucapan Mutia.


"Asal kau tahu jika aku dan Al sudah saling jatuh cinta jauh sebelum ia memutuskan untuk menikahi mu,"


"Lalu apa hubungannya denganku, apa aku harus memberikan ijin kepada kalian untuk tetap menjalin hubungan?" jawab Nina balik bertanya


"Setidaknya setelah tahu jika suamimu tidak mencintaimu dan terpaksa hidup menderita denganmu kau akan memberikannya kesempatan untuk hidup bahagia bersamaku," jawab Mutia seketika disambut gelak tawa Mutia


"Wah aku tidak menyangka seorang Mutia Nugraheni seorang brand ambassador kampus terkemuka di Jakarta yang terkenal begitu pintar dan elegan bisa berkata seperti itu pada sahabat karibnya sendiri. Aku benar-benar tak menyangka Mut jika kau akan tega menjadi pelakor di kehidupan rumah tangga ku. Meskipun kau dan Khalif adalah sepasang kekasih tapi tidak seharusnya kau menjadi egois dengan tetap menginginkan dia karena Khalif sudah menjadi suami orang. Apa kau begitu frustasi karena gagal menjadi menantu konglomerat hingga kau begitu berambisi merebut suami sahabat mu sendiri?" jawab Nina


"Tapi kau juga harus sadar Nin, seberapa kuat kau berusaha mempertahankan rumah tangga mu Khalif tidak akan pernah mencintaimu. Jadi daripada hidup di dalam Neraka bukankah lebih baik kau melepaskannya, toh ada yang bilang cinta itu tak bisa dipaksakan so jangan terlalu berharap," jawab Mutia kemudian segera bangun setelah mendengar ucapan Nina. Wanita itu tersenyum simpul dan menggandeng lengan Khalif. Ia sengaja memamerkan kemesraan di depan Nina.


"Baiklah kalau itu yang kalian inginkan, aku akan mengabulkannya," tantang Nina

__ADS_1


__ADS_2