
Sore itu Mariyah mengunjungi Nina di rumah sakit. Wanita itu langsung memeluk erat Nina setibanya di sana.
"Maafkan nenek ya kalau baru bisa jenguk kamu, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Mariyah
"Alhamdulillah kondisiku sudah membaik," jawab Nina tersenyum senang
"Syukurlah, semoga kamu cepat pulih agar bisa cepat pulang,"
"Iya Nek, ini aku udah sehat dan sore ini juga bisa pulang," jawab Nina
"Sungguh, apa kepala kamu sudah gak sakit lagi?"
"Sudah nek, semalem bahkan udah di CT scan dan hasilnya ok," jawab Nina mengerlingkan matanya
"Beruntung nenek memiliki menantu yang kuat kaya kamu,"
Nina kemudian membereskan barang-barangnya dibantu oleh Mariyah.
Sore itu ia pulang di temani Mariyah dan juga ayahnya yang mengantarnya.
Dalam perjalanan pulang Mariyah menanyakan tentang orang yang menolong Nina kepada Dado. Saat mendengar cerita dari besannya tersebut ia berniat untuk mengundang Pemuda itu dan berterimakasih kepadanya.
Mariyah kemudian meminta Broto untuk mengundang pemuda itu ke rumahnya.
Setibanya di kediaman Wiraatmadja, Mariyah langsung menunjukan kamar pengantin Nina. Wanita itu terkejut bukan main saat melihat kamarnya yang begitu luas dan mewah.
"Wah luas sekali, sepertinya kamar ini sama seperti luas ruang tamu dan dapur rumah aku," ucap Nina kemudian merebahkan tubuhnya di kasurnya
"Kasurnya empuk banget, pasti nyaman banget kalau tidur di sini sama Mas Al," ucapnya tersipu malu
Tidak lama Mariyah kembali menemuinya dan meminta Nina untuk bersiap menghadiri acara makan malam bersama keluarga besar Wiraatmadja.
Nina tampak memeriksa lemari pakaiannya. Ia kembali terperanjat saat melihat koleksi gaun mewah lengkap dengan aksesoris mahal yang tersedia di sana.
Selesai berganti pakaian ia kemudian duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Khalif.
"Kenapa jam segini dia belum pulang kerja, apa dia sibuk banget sampai pulang telat," ucapnya sambil terus menoleh jam tangan tangannya
Tidak lama seorang asisten rumah tangga masuk ke ruangannya dan meminta Nina untuk segera bergabung dengan keluarga Wiraatmadja lainnya di meja makan.
Nina begitu terkejut saat melihat Khalif sudah duduk di meja makan.
"Kamu sudah pulang?" tanya Nina kemudian mencium punggung tangan suaminya
Khalif terlihat kaget saat tiba-tiba Nina mencium tangannya. Semua orang tampak memperhatikan keduanya hingga membuat Khalif merasa risih.
"Gimana kepalamu, apa masih sakit?" tanya Khalif
__ADS_1
"Masih sih kadang-kadang," jawab Nina lirih
"Syukurlah,"
Khalif sengaja menarikan kursi untuknya dan memperlakukan Nina seperti seorang ratu saat acara makan malam bersama keluarga besarnya. Ia bahkan mengambilkan menu makanan untuk Nina.
Nina tampak begitu bahagia malam itu. Selesai acara makan malam selesai Khalif mengajaknya masuk ke kamar mereka.
Nina tampak berdebar-debar saat Khalif memintanya untuk memakai gaun tidur pemberiannya.
Nina tampak mengamati tubuh mungilnya di depan cermin. Sementara Khalif keluar dari kamar mandi.
Dadanya berdegup kencang saat melihat pria itu hanya memakai handuk saja hingga terlihat perut sixpack Khalif yang membuatnya seketika membalikkan badannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Khalif saat melihat Nina terus membelakanginya
"Gak papa, aku hanya belum terbiasa dengan situasi ini," jawabnya lirih
Khalif kemudian berdiri dibelakangnya dan memeriksa bekas luka di kepala istrinya itu.
"Kapan akan lepas perban?" tanya Khalif
"Lusa, sekalian ngecek jahitannya," jawab Nina.
"Sebaiknya kau banyak istirahat agar lukamu cepat sembuh,"
"Iya,"
"Maaf aku belum bisa tidur telentang karena luka di kepala ku," ucap Nina tampak tak enak hati saat harus memunggungi suaminya.
"Tidak masalah, namanya juga lagi sakit," jawab Khalif kemudian mematikan lampu kamarnya dan mulai memejamkan matanya
Sementara itu Nina masih belum bisa tidur tampak membalikkan badannya dan menatap Khalif yang sudah terlelap.
"Maafkan aku karena belum bisa menjalankan kewajiban ku sebagai istrimu," ucapnya lirih
Pagi itu semua orang sibuk mempersiapkan pelantikan CEO baru Hawi Corporation.
Dama tampak berkali-kali harus mengganti pakaiannya karena merasa tidak cocok.
Dama tampak memarahi asistennya karena tak bisa membantunya memberikan pilihan.
Nina yang melihatnya segera menghampirinya.
"Maaf boleh saya memberi saran?" tutur Nina
"Hmm, katakan saja," jawab Dama
__ADS_1
"Sepertinya ibu lebih cocok memakai blazer berwarna merah dengan paduan shall bunga-bunga kecil agar terlihat lebih segar," ucap Nina
Dama segera mengambil blazer warna merah dan memakannya.
"Wah kau benar, terimakasih Nina," jawab Dama
"Kalau boleh tahu memangnya ada acara apa Bu, sampai Mas Al berangkat subuh-subuh?" tanya Nina
"Tentu saja dia harus berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan pelantikannya menjadi CEO Perusahaan. Kau juga harus bersiap-siap untuk menghadiri acara-acara penting perusahaan," jawab Dama
"Oh begitu rupanya, semoga saja acara lancar,"
"Aamiin," jawab Dama kemudian bergegas pergi
Nina kemudian menuju meja makan. Ia melihat menu sarapan pagi yang begitu beraneka ragam di meja itu, namu tak ada seorangpun yang duduk di sana.
"Sayang sekali, menu sebanyak ini. Tapi tak ada satupun yang mencicipinya,"
"Benar sekali Nin, biasanya nenek selalu sarapan sendirian, Tapi kini ada kamu yang menemani," jawab Mariyah menghampirinya.
"Bagaimana kalau mulai sekarang menu sarapan hanya dimasak saat orang akan sarapan sesuai request seperti di restoran gitu nek, jadi gak mubazir kan nek," tandas Nina
"Benar juga, good idea Nina. Biar nanti nenek yang akan bicara dengan Chef Juni," jawab Mariyah
...----------------...
*Gedung Hawi Corporation
Sementara itu Khalif tengah menikmati sarapannya dengan Mutia di ruang kerjanya. Setelah Sarapan Mutia bahkan menemaninya menghapal pidato yang akan di bacakan saat acara pelantikan.
"Aku nervous sekali hari," ucap Khalif tampak tegang
"Jangan nervous dong sayang, kan ada aku. Aku pasti doain semoga semuanya lancar hari ini," ucap Mutia kemudian memeluknya
Dama yang tak sengaja melihat mereka merasa kesal.
"Dasar ular, ternyata dia masih berusaha mendekatinya meskipun tahu Khalif sudah menikah," tutur Dama
Mutia yang mengetahui Dama memperhatikan mereka sengaja membuatnya semakin geram. Ia sengaja mencium bibir Khalif sebagai support agar ia tidak tegang lagi.
"Terimakasih sayang, berkat kamu rasa nervous ku sedikit berkurang," ucap Khalif kemudian meninggalkannya
Dama segera mengikuti Khalif menuju ruang rapat. Meskipun ia sangat membenci Mutia, tapi pagi itu ia enggan membahasnya karena tak mau membuat mood Khalif menjadi jelek.
Acara pelantikan berjalan lancar, namun Dama harus menelan kekecewaan saat Khalif memilih Mutia sebagai sekretarisnya daripada Broto.
"Kau tidak bisa memilih wanita itu sebagai sekretaris mu. Aku tahu kau menyukainya, tapi kau tidak bisa memakai perasaan mu dalam urusan pekerjaan karena itu bisa menjadi Boomerang yang akan menghancurkan dirimu sendiri," tukas Dama berusaha menasihatinya
__ADS_1
"Maaf Ibu tapi aku mengangkat Mutia menjadi sekretaris pribadi karena prestasinya bukan karena masalah pribadi. Kenapa sih ibu masih membencinya. Ibu... sekarang aku sudah menikah dengan Nina jadi ibu jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam dengan Mutia," jawab Khalif
"Kau boleh saja membohongi orang lain tapi tidak dengan ibumu ini. Kalau sampai aku memergoki kau dan Nina, atau aku mengetahui kalian memiliki scandal maka bersiaplah untuk hengkang dari perusahaan ini. Aku tidak peduli kau anak kandung ku atau bukan, karena bagiku lebih baik membuang benalu yang bisa menghancurkan perusahaan ku," ancam Dama