My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 37


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba semua benda tampak bergerak, apa aku mabuk??" Nina tampak memegangi kepalanya yang terasa pusing dan berat


Ia kemudian memegangi besi pembatas balkonnya sambil mencoba mengucek-ngucek matanya karena pandangannya mulai kabur.


"Al, kamu dimana!" seru Nina sambil tangannya berusaha menggapai sesuatu di dekatnya


Khalif hanya terdiam tanpa mempedulikan ucapannya Nina terus berjalan hingga menuju ke pinggir kolam renang yang menghadap ke laut dan tak memiliki pembatas.


Karena pandangannya yang mulai kabur Nina pun terperosok hingga terjatuh ke pantai.


*Byuur!!!


"Tolong!!"


Nina berusaha bangun, namun tiba-tiba ombak besar menggulungnya hingga ke tengah laut.


Sementara itu samar-samar Nina melihat suaminya hanya berdiri termangu menatapnya tanpa berusaha menyelamatkannya.


Meskipun Nina tidak ahli berenang namun ia berusaha sekuat mungkin untuk kembali ke bibir pantai.


Namun karena ombak besar terus mengombang-ambingnya hingga ia kehabisan tenaga dan tenggelam.


Setibanya di Bali, Panji langsung mencari hotel tempat Khalif menginap.


Panji sengaja menginap di hotel tempat mereka menginap.


Ia berusaha menghubungi Nina, namun tak pernah ada jawaban darinya.


"Kenapa ia tak mau mengangkat teleponku,"


Panji tak putus asa ia meminta seorang pelayan hotel untuk memberikan pesan kepada Nina. Namun tetap tak ada balasan darinya.


Panji yang mulai curiga kemudian menyamar menjadi seorang room boy.


Ia mengetuk pintu kamar Nina dengan membawa peralatan kebersihan. Tanpa curiga Khalif pun membiarkannya masuk.


Panji semakin curiga saat tak melihat keberadaan Nina di sana.


"Jika ia tidak ada di kamarnya lalu dia dimana?"


Siang itu Panji kemudian memutuskan untuk mencarinya di pantai. Ia berpikir jika Nina mungkin bosan dan memilih jalan-jalan ke pantai.


Ia menyusuri pantai namun tak menemukan Nina sampai ia mulai putus asa.


Sementara itu tak jauh dari tempat Panji, tampak seorang nelayan menemukan Nina yang terdampar di bibir pantai.


Ia begitu terkejut saat melihat Nina yang terdampar dan tak seorangpun yang melihatnya.


Ia kemudian memeriksanya untuk memastikan Nina masih hidup atau sudah mati.


"Dia masih hidup," ia begitu terkejut saat tahu wanita yang ditemukannya masih hidup


Ia kemudian membawanya ke puskesmas setempat.


"Kondisi pasien sangat kritis, setelah mengalami hipotermia. Namun aku salut padanya karena ia begitu kuat hingga tetap bisa bertahan setelah lama terombang-ambing di lautan," ucap sang dokter


"Syukurlah," ucap pria itu kemudian melihat Nina yang sudah dipindahkan ke bangsal perawatan pasien


"Kasian sekali, sepertinya ada sesuatu yang membuat mu bertahan hingga begitu keras melawan kematian," ucap pria itu kemudian mengusap wajahnya


...🍁🍁🍁...


Panji yang tak kunjung menemukan Nina kemudian berinisiatif untuk memeriksa semua rumah sakit yang ada disekitar hotel.


Panji tampak tak kenal lelah memeriksa satu persatu rumah sakit hingga klinik kesehatan yang ada di sana.


Namun sayangnya ia tak menemukan Nina hingga membuatnya semakin frustasi.


"Tidak mungkin Khalif membunuhnya dan membuang jasadnya bukan. Lalu apa yang harus aku katakan kepada nenek?" Panji tampak begitu frustasi dengan keadaan itu.


Panji kemudian kembali ke hotel. Ia masih mencoba untuk berpikir jernih.


Namun tiba-tiba ia melihat Mutia mendatangi Khalif dan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Seketika Panji merasa lemas melihat keduanya.


"Jadi benar Nina menghilang, kau benar-benar Iblis Al. Teganya kamu menyingkirkan istrimu sendiri hanya demi seorang selingkuhan," .


Sementara itu Nina perlahan membuka matanya. Wanita itu tampak mengamati keadaan di sekelilingnya.


"Dimana aku, apa aku sudah mati?" ucap Nina dalam hati


Tiba-tiba seorang perawat menghampirinya.


"Syukurlah kau sudah sadar," ucap perawat itu kemudian memeriksanya.


Setelah memastikan semuanya baik, perawat itu kemudian memanggil dokter untuk memeriksa lebih lanjut.


Sang dokter kemudian datang dan mengecek kondisinya.


"Kondisinya sudah membaik, hanya saja dia sedikit trauma sepertinya," ucap sang dokter kemudian memberitahu sang nelayan untuk lebih sering mengajaknya berbicara dan menemaninya


Benar saja, saat nelayan itu menghampirinya Nina terlihat sedang menangis tersedu-sedu.


"Katakan padaku apa yang terjadi padamu hingga kau terdampar di bibir pantai?" tanya pria tua itu


Namun Nina masih tak menjawabnya dan terus terisak membuat pria itu kemudian memeluknya.


"Sepertinya kau mengalami trauma yang sangat mendalam hingga membuat mu seperti ini,"


Pria itu kemudian mengajak Nina pulang ke rumahnya setelah dokter mengijinkan ia pulang.


Kedatangannya di sambut oleh istri nelayan itu yang begitu senang menyambut kedatangan mereka.


"Anggap saja kami seperti keluarga mu sendiri, kebetulan Ibu tak punya anak jadi kau boleh memanggilku ibu," ucap wanita itu kemudian mengajak Nina duduk di kursi ruang tamu.


Ia kemudian menyisir rambut Nina dan merapikannya.


Ia bahkan mengajaknya jalan-jalan ke pantai sore itu.


"Laut memang sangat indah dan menenangkan bagi siapapun yang memandangnya. Namun siapa bisa mengukur dalamnya lautan. Ia bahkan bisa tampak sangat mengerikan saat sedang murka, namun begitu menawan dan menyejukkan saat ia tenang," ucap wanita itu mencoba menghibur Nina


"Terimakasih Ibu," ucap Nina lirih


Wanita itu begitu bahagia mendengar suara Nina.


"Sama-sama anakku," ucap wanita itu kemudian memeluknya.


Keduanya kemudian duduk di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam.


Sementara itu Panji mencoba menerobos masuk kamar Khalif saat ia pergi meninggalkan kamarnya.


Pria itu berusaha memastikan keberadaan Nina.


Ia menemukan barang-barang Nina masih ada di sana bahkan ponselnya juga. Namun ia tak melihat wanita itu di sana.


"Jika semua barang-barang mu ada di sini, lalu kemana dirimu,"


Saat Panji menuju ke kolam renang ia tampak berdiri di tepi kolam itu sambil memandangi pemandangan laut dari tempat itu.


Pandangannya seketika tertuju kepada dua orang wanita yang duduk di pinggir pantai.


"Nina??"


Ia segera keluar dari kamar itu dan berlari menghampiri mereka. Panji berlari sekencang-kencangnya menerobos kerumunan orang yang sengaja memenuhi pantai untuk melihat sun set.


"Nina," ucap Panji menepuk bahu seorang wanita yang dikiranya sebagai Nina.


"Maaf anda salah orang,"


Panji kembali mencari wanita yang dilihatnya dari atas kolam renang. Namun ia tak menemukan wanita itu hingga membuatnya frustasi.


Saat ia tampak frustasi seorang Wanita menepuk bahunya.


"Apa ini milik anda?" ucap wanita itu menunjukkan saputangan kepadanya


Panji tercengang saat melihat wanita itu, hingga ia tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Nina??"


Seketika Nina langsung menangis saat menatap sosok pria di depannya itu.


Tangisnya seketika meledak membuat Panji langsung memeluknya.


"Syukurlah kau baik-baik saja, aku begitu takut saat tak menemukan mu dimana-mana," ucap Panji


"Apa kau kerabatnya?" tanya istri nelayan menghampiri Keduanya


"Dia adalah majikan saya dan saya adalah bodyguard nya. Kebetulan aku sedang mencarinya karena aku sempat hilang kontak dengannya," jawab Panji


Wanita itu kemudian mengajak Panji ke kediamannya dan menceritakan semuanya tentang Nina.


Sementara itu Khalif dan Mutia berencana untuk kembali ke Jakarta malam itu.


Setibanya di Jakarta Khalif segera menemui Mariyah bersama Mutia.


Seolah tahu apa yang terjadi antara Khalif dan Nina. Wanita itu kemudian menanyakan keberadaan Nina.


"Lalu dimana istrimu sekarang?" tanyanya tampak berkaca-kaca


"Nina bunuh diri setelah mengetahui hubungan kami,"


*Deg!


Seketika Mariyah langsung pingsan setelah mendengar jawaban Khalif.


"Dasar brengsek, apa yang kalian lakukan sampai membuat nenek pingsan!" seru Dama segera mendorong keduanya dan mencoba membangunkan Mariyah.


"Ibu bangun Ibu, Ibu sadarlah!" serunya berusaha membangunkan wanita itu


"Cepat hubungi ambulance, jangan diam saja!" seru Dama dengan nada tinggi


Khalif segera menelpon ambulans dan tidak lama ambulance datang dan membawa Mariyah ke rumah sakit.


Mengetahui Mariyah collapse setelah mendengar pengakuan Khalif membuat Dama meradang.


Wanita itu kemudian memaki habis-habisan putranya itu.


"Aku tidak mau mendengar alasan apapun darimu. Aku hanya ingin kau segera memutuskan hubungan mu dengan jal*ng itu jika kau masih ingin menjadi CEO Hawi Corporation,"


"Tidak Ibu, kali ini aku lebih memilih kembali menjadi seorang pembalap dari pada harus mengikuti kemauan Ibu. Lagipula aku lebih merasa bahagia saat menjadi pembalap daripada harus menjadi seorang CEO yang hidup menderita seperti di neraka," jawab Khalif kemudian menggandeng erat lengan Mutia


"Silakan saja, tapi kau harus tahu jika wanita itu pun akan meninggalkan mu saat kau tidak lagi menjadi seorang CEO. Karena selama ini ia hanya mengincar kekayaan mu saja bukan hatimu, camkan kata-kata ku itu!" seru Dama


"Terserah ibu mau bilang apa, aku percaya Mutia tulus mencintai ku apa adanya," jawab Khalif


"Well, kita lihat saja nanti, biar waktu yang akan menjawab semuanya. Asal kau tahu setelah kejadian ini mungkin kita tidak akan mendapatkan apapun dari Hawi Corporation, karena Nenek pasti akan mengambil alih perusahaan itu. Jadi selamat bersenang-senang," ujar Dama kemudian meninggalkan mereka


Kabar sakitnya Mariyah seketika tersebar ke Media hingga membuat saham perusahaan seketika ambruk.


Tentu saja hal itu membuat Broto harus bekerja ekstra keras untuk menstabilkan harga saham perusahaan.


Pria itu diam-diam menemui Mariyah.


"Apa yang harus aku lakukan nyonya?" ucap Pria itu


Mariyah yang sudah siuman menyerahkan sebuah surat wasiat kepadanya.


"Jalankan saja seperti rencana awal kita. Surat itu akan membantu mu untuk menjalankan perusahaan kita," jawab Mariyah


"Baik Nyonya,"


Saat Broto keluar Dama yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka segera menghentikannya dan merebut dokumen yang dibawanya.


Ia membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan isinya, seketika wajahnya memerah saat membaca surat itu.


Ia segera masuk dan menghampiri Mariyah.


"Ibu, haruskah kau berbuat sejauh ini hanya karena kematian Nina. Ingat Ibu, dia sudah berusaha menikahi Nina untuk memenuhi pesan almarhum ayahnya, lalu kenapa kau tega mengambil kembali perusahaan itu darinya!" seru Dama meluapkan kekecewaannya


"Dia menikahi Nina bukan untuk memenuhi permintaan ayahnya tapi karena dia ingin menjadi CEO Perusahaan seperti permintaan mu. Kamu lah yang memaksanya menikah hingga Al menjadi seperti ini. Sekarang aku tahu kenapa Nina berusaha bunuh diri, itu semua karena kesalahan mu!" seru Mariyah

__ADS_1


__ADS_2