
"Aarrgghhh!!"
Suara teriakan Dama membuat seisi rumah keluar dari kamarnya termasuk Mariyah.
Wanita itu tampak begitu kesal dan terus menggerutu.
"Dasar menantu gak tahu diri, bagaimana bisa malam-malam begini dia teriak-teriak seperti orang kesetanan!"
Ia langsung menghampiri Dama serta berusaha memukulnya dari belakang.
Namun belum sempat ia memukulnya, Mariyah tampak shock saat melihat sosok putranya tergeletak di lantai.
"Han!!" serunya kemudian segera duduk disampingnya dan memeriksanya.
"Kenapa kau diam saja, cepat telpon ambulans!" serunya kepada membantunya
Dama buru-buru menghubungi ambulans menggunakan ponsel suaminya.
Tidak lama sebuah ambulance datang, beberapa tim medis segera membuka pintu mobil dan dua orang anak assisten rumah tangga Handoko memindahkan Handoko ke ranjang pasien.
Bunyi sirine ambulance seakan mengisyaratkan bahwa malam itu adalah malam terakhir untuk Handoko menginjakan kakinya di istananya.
Pria itu tak tertolong setelah terkena serangan jantung saat menuruni tangga rumahnya. Meskipun para dokter ahli sudah mengupayakan pengobatan terbaik tetap saja Tuhan menentukan lain.
"Pada hari Senin, tanggal 29 Mei tahun 2023 pukul 23.30 waktu Indonesia bagian barat, Tuan Handoko dinyatakan meninggal dunia karena serangan jantung," ucap seorang dokter mengumumkan kematian pasien
Seketika tangis Dama pecah kala mendengar suaminya meninggal dunia.
Bukan hanya Dama namun Mariyah pun begitu terpukul dengan kepergian putra tunggalnya itu. Khalif tampak memeluk erat ibunya dan berusaha menenangkannya. Meskipun ia terlihat tegar dan tak menitikkan air mata, namun batinnya begitu sesak saat mengetahui sang ayah tiada.
Ia yang baru mengetahui jika ayahnya ternyata begitu menyanyinya harus menelan pil pahit karena kehilangan sosoknya untuk selamanya.
Padahal ia baru ingin memeluknya dan mengatakan jika ia juga sangat menyayanginya, namun Tuhan seperti tak mengijinkannya.
Khalif buru-buru pergi ke toilet saat dokter memanggil sang ibu.
Ia mulai menumpahkan kesedihannya itu di dalam sepi.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah, maafkan aku yang tak pernah menyadari kasih sayang mu. Maafkan aku yang selalu membuat mu marah. Andai saja kau memberitahu ku lebih awal mungkin hubungan kita tak berakhir seperti ini. Kenapa kau harus pergi disaat aku ingin menunjukkan jika aku juga sangat menyayangi mu dan bisa menjadi anak yang bisa membanggakan bagimu," Khalif tampak memukul-mukul dadanya yang terasa sesak hingga ia sulit bernafas.
Kabar kematian Handoko membuat Mutia semakin frustasi. Bagaimana tidak selama ini hanya Handoko yang mau mendengarnya. Namun sekarang ia merasa semua usahanya sia-sia untuk mencari keadilan untuk Janaka.
Ia tahu benar jika dirinya tak mungkin bisa menang melawan keluarga besar Wiraatmadja.
"Tapi aku tak boleh menyerah, aku harus tetap berusaha apapun hasilnya. Aku tak bisa membiarkan mereka tertawa bahagia setelah menghancurkan hidupku seperti ini," Mutia segera berganti pakaiannya dengan gaun putih dan kacamata hitam yang membuatnya terlihat modis.
Berbeda dengan Mutia, Nina tampak enggan mendatangi kediaman keluarga Wiraatmadja meskipun ia mendapatkan undangan dari Hawi Corporation.
"Kenapa kau masih belum siap-siap sayang?" tanya Dado
"Males ah ayah, lagipula aku ini bukan siapa-siapa dan juga kehadiran ku gak penting juga. Jadi gak masalah kan kalau aku tidak datang, yang penting kan aku tetap mendoakan Pak Handoko," jawab Nina
"Ingat sayang, kamu datang ke sana bukan sebagai Nina yang patah hati karena gagal berpacaran dengan Khalif. Kamu... datang ke tempat itu sebagai Nina karyawan Hawi Corporation. Masa pimpinan mu meninggal kamu tak mau pergi melayat. Apa kau ingin kehilangan pekerjaan mu??. Ingat... sekarang cari kerja susah, kamu beruntung loh sudah dapat kontrak kerja meskipun masih kuliah. Jadi jangan sia-siakan kesempatan itu. Oh iya... kalau kamu tak mau melihat wajah si Khalif sebaiknya pakai kacamata hitam dan pura-pura agar ia tak mengenali mu," jawab Dado kemudian memakaikan kacamata hitam padanya.
"Ish, apaan sih ayah!" seru Nina segera membuka kacamatanya.
Dengan bujukan Dado, Nina akhirnya datang juga ke acara pemakaman Handoko.
Seperti saran dari Ayahnya, Nina tampak memakai kacamata hitam saat berpapasan dengan Khalif. Khalif seketika mendengus kesal saat melihat Nina yang langsung membalikkan badannya saat berpapasan dengannya.
Selesai mendoakan Handoko, Nina buru-buru bergegas pulang. Namun seseorang tiba-tiba menariknya, membuat gadis itu seketika terkejut dibuatnya.
Namun ia langsung bernafas lega saat mengetahui yang menariknya adalah Mariyah.
"Nenek!" seru Nina kemudian membuka kacamatanya
"Aku hampir saja tak mengenalimu jika kau tak membuka kacamata hitam mu itu," ucap Mariyah
"Lalu kenapa nenek menarik ku kalau tak mengenaliku?" tanya Nina
"Aku kira kau penyusup," jawab Mariyah seketika membuat Nina tertawa terbahak-bahak
Buru-buru Mariyah menutup mulut gadis itu, "Jangan tertawa seperti ini saat kau sedang bertakziah, dasar gak sopan!" cibir Mariyah
"Maaf Nek, aku kelepasan. Abis nenek lucu sih," sahut Nina
__ADS_1
"Benarkah??" tanya Mariyah membuat Nina langsung mengangguk
"Baru kali ini ada orang yang mengatakan itu, dan aku senang sekali mendengarnya. Tidak ku sangka kau pandai mengambil hatiku,"
"Ah Nenek bisa saja," sahut Nina kemudian mendorongnya hingga membuat Mariyah hampir jatuh jika saja tidak di tangkap oleh seorang pemuda.
"Maaf Nek aku gak sengaja," ucap Nina buru-buru menghampirinya
Melihat kedatangan Dama dan Khalif membuat pemuda itu segera pergi.
"Iya aku tahu, beruntung ada di...." ucap Mariyah terkejut saat melihat pemuda yang menolongnya sudah pergi
"Kemana dia, kenapa ia buru-buru pergi padahal aku belum berterima kasih padanya," imbuhnya
"Oh mas-mas yang tadi, mungkin dia buru-buru kali nek karena banyak yang harus dikerjakan," jawab Nina
"Memangnya kau tahu siapa dia?" tanya Mariyah
"Engga sih, tapi kalau dari pakaian yang dipakainya dia seperti salah seorang karyawan di sini," jawab Nina
Tiba-tiba Dama datang dan kembali memarahi Nina.
"Kamu lagi, kenapa sih kamu suka sekali membuat keributan di rumahku. Lagipula bukannya kau dan Khalif sudah putus, terus ngapain lagi datang ke sini!" seru Dama
"Maaf jika aku sudah membuat acara ini jadi kacau, seperti biasa saya datang ke sini karena undangan dari Hawi Corporation," jawab Nina kemudian memberikan undangan yang diterimanya kepada Dama
"Astaga, kenapa sih dia begitu menyukai gadis kampungan seperti dirimu. Memangnya apa istimewanya dirimu sampai ia sudah mati pun masih mengundangnya ke sini!" celetuk Dama
"Jangan sembarangan bicara, jaga etikamu!" seru Mariyah membuat Dama seketika terdiam
Wanita itu kemudian mengajak Nina pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Mutia yang baru saja tiba segera menghampiri jenazah Handoko yang masih di semayamkan di ruang utama.
"Kenapa Tuan begitu cepat pergi. Lalu bagaimana nasib kasus Janaka jika Tuan pergi, tolong katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa memberikan keadilan untuk putramu yang ada di surga bersama mu," ucap Mutia dengan penuh emosi hingga membuat beberapa orang langsung menoleh kearahnya
Ia seketika bangun dan memanfaatkan rasa penasaran para pelayat dengan menyiramkan darah segar yang ia bawa ke tubuhnya.
__ADS_1
"Aku harap kalian tidak lupa jika Khalif Wiraatmadja adalah pembunuh saudara tirinya Janaka Wiraatmadja!" serunya
Tentu saja aksi protes Mutia membuat Dama segera memerintahkan anak buahnya untuk mengusir gadis itu dari kediamannya.