
"Apa kamu gila!" seru Dama langsung memarahi Nina sengaja menemui menantunya itu di rumahnya.
Dama mengira jika Nina merasa frustasi hingga melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan cinta dari suaminya.
"Aku tahu kau terpaksa melakukan hal itu untuk mendapatkan perhatian dari Khalif. Tapi tidak begitu juga caranya Nina. Kau tahu jika kau bisa membunuh dirimu jika tetap melanjutkan rencana konyol mu itu!" seru Dama dengan nada kesal
Nina hanya menanggapi santai ucapan ibu mertuanya itu. Ia tahu meskipun Dama tak menyukainya tapi kali ini wanita itu benar-benar tulus mengkhawatirkan dirinya.
"Tentu saja, aku masih waras Ibu. Aku mengambil keputusan ini dengan pikiran jernih setelah memikirkannya masak-masak. Tentu saja sebagai wanita biasa aku juga tak mau berbagi suami dengan wanita lain. Tapi karena mereka sudah terang-terangan mengumumkan hubungan mereka aku juga tidak bisa tinggal diam. Aku tak mau orang-orang memiliki stigma negatif terhadap Hawi Corporation karena sikap Khalif kali ini. Ibu tahu kan kalau para netizen itu sangat sensitif dengan isu perselingkuhan. Aku takut komentar miring para netizen yang sebentar lagi akan menghujat Khalif bisa berpengaruh terhadap harga saham perusahaan. Kita sudah melihat sendiri bagaimana dahsyatnya kekuatan warga 62 yang hanya dalam waktu singkat bisa merubah nasib seseorang hanya dengan menggerakkan jari-jari mereka di media sosial," ujar Nina kemudian menuangkan minuman dingin untuk mertuanya itu
"Silakan diminum Ibu," ucap Nina kemudian duduk di sofa.
Dam segera mengambil minumannya dan meneguk habis dalam satu tegukan.
Wanita itu menatap iba kearah menantunya yang berusaha bersikap tegar meski ia tahu jika Nina pasti sedang menahan sakit yang teramat berat atas keputusan yang dibuatnya.
"Meskipun kita tidak terlalu dekat, tapi pintu rumah ku selalu terbuka jika kau ingin berkeluh kesah atau sekedar meminta nasihat dariku," ucap Dama
"terima kasih atas perhatiannya ibu aku pasti akan menemui mu jika aku benar-benar membutuhkan bantuan mu," jawan Nana
Melihat kondisi Nana, Dama tahu jika menantunya itu butuh waktu untuk sendiri. Ia kemudian meninggalkan sebuah buku bacaan sebelum pergi.
"Aku tahu benar bagaimana perasaan mu saat ini, karena aju Aku juga pernah mengalaminya. Dulu saat aku berada di posis mu, aku selalu menghabiskan waktuku dengan membaca buku itu untuk menghilangkan semua kesedihanku. Karena aku berpikir hanya dengan membaca buku Aku bisa mengurangi kesedihan ku. Karena waktu itu aku tak punya tempat untuk mengadu ataupun teman yang bisa di jadikan berbagi cerita. Jadi yang aku bisa lakukan saat itu hanya membaca buku motivasi ini. Aku berharap dengan membaca buku ini kau akan kuat menghadapi semuanya yang kau alami sekarang ini.
__ADS_1
Jadi aku harap kau juga bisa kuat dalam menghadapi ujian ini, dan percayalah jika akan ada turunan setelah kau melewati sebuah tanjakan. Jadi bersabarlah karena Tuhan tak pernah tidur ia pasti akan mendengar setiap doamu, jadi jangan patah semangat. Mintalah kepada Tuhan agar semua masalah mu cepat selesai dan diberikan jalan terbaik," ujar Dama
"Terimakasih banyak atas nasihatnya ibu," ucap Nana kemudian mengantar Dama hingga ke depan pintu
💕💕💕
Sementara itu Mariyah langsung menemui Khalif setelah mendengar laporan dari Broto.
Ditemani oleh Broto Mariyah mendatangi apartemen Mutia.
Mutia segera bergegas membukakan pintu saat melihat Mariyah memencet bel apartemennya.
"Selamat malam nenek," ucap Mutia menyapanya dengan ramah.
"Aku tak menyangka ternyata kau tega menusukku dari belakang. Selama ini aku sudah menganggap mu seperti cucuku sendiri, tapi apa balasan mu... Kau malah merebut suami adik iparmu yang juga sahabat mu sendiri, benar-benar tidak punya hati!" cibir Mariyah membuat Nana hanya menanggapi seketika menunduk mendengar makian dari wanita tua itu.
Melihat Khalif baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan piyama membuat Mariyah semakin meradang, wanita itu langsung menampar wajah cucu semata wayangnya itu dengan begitu keras hingga ia sendiri merasa kesakitan.
"Ternyata kau masih belum puas juga menyakiti Nina, sekarang kau berusaha mencoreng nama baik keluarga Wiraatmadja. Sebenarnya apa yang kau inginkan dengan mengumumkan hubungan gelap kalian. Kau benar-benar sudah melanggar larangan dalam keluarga kita untuk tidak berselingkuh. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang," ucap Mariyah tampak memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing
"Tapi aku tidak berselingkuh dengan Mutia nenek, aku sudah berhubungan dengan Mutia dan berjanji akan menikahinya sebelum menikah dengan Nina. Lalu surat wasiat itu memaksa ku untuk menikahinya dan meninggalkan kekasihku, Jadi menurut nenek ini salah siapa. Katakan padaku ini salah siapa!" jawab Khalif dengan suara lantang menunjukkan kemarahannya.
"Tentu saja ini salahmu, andai saja kau menolak menikahi Nina semua ini tidak akan terjadi!" sahut Mariya
__ADS_1
Khalif tertawa keras seolah menyalahkan Mariyah atas apa yang menimpanya.
"Apa nenek lupa kalau nenek juga yang tetap bersikeras untuk tidak memberikan posisi CEO kepadaku jika aku tidak menikahi Nina padahal aku sudah memberitahu nenek jika aku sudah memiliki seorang kekasih. Jadi secara tidak langsung nenek juga bersalah karena sudah membuat Nina menderita bukan??" jawab Khalif menimpakan kesalahannya kepada Mariyah.
"Kau memang sudah dibutakan cinta sehingga percuma saja aku menasihati mu," ujar Mariyah kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu
"Apa kau yakin Nina benar-benar akan mengijinkan kita menikah?" tanya Mutia
"Entahlah, aku tidak tahu apa yang dipikirkan gadis bodoh itu. Mungkin saja sekarang ia mencari dukungan agar semua orang menyalahkan aku. Kau lihat sendiri kan baru saja Nenek datang menceramahi ku, sebentar lagi Ibu pasti akan datang dan menampar pipi kiriku," jawab Khalif
"Tapi bisa saja jika Nina sekarang merasa frustasi hingga akhirnya memberikan izin kepada mu untuk menikahi aku, agar kau tak menceraikannya seperti tempo hari,"
"Tidak mungkin, dia tahu benar jika aku tidak akan menceraikannya selama aku masih ingin menjadi CEO Hawi Corporation," jawab Khalif
"Lalu kapan kau akan menikahi aku?" tanya Mutia menyandarkan kepalanya di dada Khalif
"Entahlah, yang jelas aku pasti akan menikahi mu hanya saja aku belum tahu kapan waktunya," jawab Khalif mengusap lembut rambut kekasihnya itu
"Kenapa tidak sekarang saja, toh Nina sudah merestui hubungan kita,"
"Tidak bisa sayang, aku takut ini jebakan," timpal Khalif
"Tidak mungkin Al, aku tahu benar sifat Nina. Sebagai sahabatnya aku tahu jika Nina bukan orang yang akan melakukan kecurangan demi untuk kebahagiaannya, aku yakin sekali jika ia serius kali ini. Jadi mari kita gunakan kesempatan ini untuk menikah," imbuh Mutia
__ADS_1