
Broto segera menemui Nina di ruang interogasi. Setelah mendengar kabar penangkapan gadis itu.
Lelaki itu tampak memberikan dukungan kepadanya dengan membawakan seorang pengacara handal untuk membantunya.
"Maaf kalau aku terlambat datang," ujar Broto duduk di depan Nina
"Tidak apa-apa, terimakasih sudah datang dan menjengukku," jawab Nina
"Aku harap kau mendengarkan semua nasihat dari Pak Hamzah. Dia adalah pengacara hebat yang akan membantu membebaskan mu. Dia juga akan mendampingi mu selama interogasi jadi jangan takut, aku yakin sekali jika kau tidak bersalah dan akan segera dibebaskan," ujar Broto
"Aamiin," jawab Nina
Tidak lama ayah Nina juga mengunjunginya.
Pria itu langsung memeluk erat putrinya dengan penuh haru
"Sabar ya nak, ayah tahu kamu tidak bersalah, apapun yang terjadi kau harus sabar dan ayah akan selalu mendampingi mu," ujar Dado
Hamzah begitu terkejut saat tahu Nina adalah putri Dado Aryakunto, seorang pengacara handal sekaligus mantan hakim agung.
"Lama tak bersua Pak Aryakunto, bagaimana kabar anda?" sapa Hamzah
"Alhamdulillah, aku sehat," jawab Dado
Hamzah kemudian memperkenalkan Dado kepada Broto. Broto tampak tak percaya mendengar ucapan Hamzah.
"Jika Nina adalah putri Pak Arya, sebaiknya biar dia saja yang mendampinginya. Aku yakin dia akan membebaskan Nina dengan cepat serta menguak misteri kasus pembunuhan Nenek Mariyah dengan cepat," terang Hamzah
"Baiklah kalau begitu, mohon bantu kami untuk menemukan siapa pembunuh Nyonya Mariyah," ujar Broto
"Sebenarnya aku enggan untuk terjun lagi sebagai seorang pengacara, tapi demi putri kesayangan ku maka aku tidak punya pilihan lain," jawab Dado
"Alhamdulillah kalau begitu, semoga kasus ini segera beres," tutur Hamzah
Hari itu juga Dado Aryakunto segera mengambil alih kasus kematian misterius Mariyah. Dengan keahliannya sebagai seorang pengacara handal ia berhasil membebaskan Nina meskipun tanpa jaminan.
Malam itu Khalif dan Mutia terlihat berpesta untuk merayakan keberhasilan mereka dalam memenjarakan Nina.
Khalif bahkan sengaja mengajak Mutia untuk menginap di rumahnya malam itu.
Nina membuka pelan pintu rumahnya. Terlihat bekas makanan berceceran di ruang tamu. Ia juga melihat botol minuman keras tergeletak diatas meja.
"Kemana para pelayan, kenapa mereka tak membersihkan ruangan ini," gumam Nina sambil membereskan piring dan gelas yang ada di meja
__ADS_1
Ia kemudian mengambil sapu untuk membersihkan makanan yang tercecer di lantai.
Selesai bersih-bersih Nina segera menuju ke kamarnya. Saat melewati kamarnya ia terkejut saat mendengar suara ******* seorang wanita dari dalam kamarnya.
Nina berjalan mendekati pintu kamarnya yang terbuka.
*Deg!!
Seketika ia segera memalingkan wajahnya saat melihat Mutia dan Khalif sedang bercinta di kamarnya.
Ia buru-buru pergi masuk ke dalam gudang yang di jadikan kamarnya. Malam itu Nina menangis sejadi-jadinya melihat bagaimana Khalif sudah berani membawa Mutia pulang ke rumahnya.
Mutia tampak membangunkan Khalif yang masih terlelap meski jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Sayang bangu, apa kamu tidak mau berangkat kerja?" tanya Mutia menciumi leher pria itu
"Memangnya jam berapa sekarang," jawab Khalif segera meraih ponselnya
"Jam 7,"
"Hadeeh kenapa gak bangunin gue, hari ini aku ada rapat dengan para pemegang saham," jawab Khalif segera bergegas menuju kamar mandi
Sementara itu Nina segera keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Gadis itu mendengus kesal saat melihat tak ada makanan di meja makan.
"Selamat pagi Muti, apa tidurmu nyenyak semalam?" sapa Nina yang sedang membuat nasi goreng
Mutia terlihat sedikit canggung melihat Nina di sana. Tapi ia berusaha tenang seperti biasanya.
"Alhamdulillah aku tidur nyenyak semalam," jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun
"Syukurlah kalau begitu, bagaimana rasanya tidur di peraduan milik sahabat mu?" tanya Nina dengan tatapan sinis
"Biasa saja," jawab Mutia mengangkat bahunya
Nina tersenyum simpul mendengar jawaban sahabatnya itu. Meskipun ia benar-benar kesal dengannya, namun ia berusaha menahan perasaannya. Bahkan jari-jarinya terasa gatal ingin mencakar wajah Mutia yang terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah sedikitpun padanya.
Ia kemudian menuangkan nasi buatannya kedalam piring dan membawanya ke meja makan.
Mutia kemudian mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
Sementara itu Khalif buru-buru menarik kursi dan segera duduk di depan Nina.
"Maaf aku tidak tahu kalau kau akan pulang hari ini, jadi aku hanya membuat sarapan untuk diriku sendiri," jawab Nina segera mengambil piringnya saat Khalif hendak mengambilnya.
__ADS_1
Seketika wajah Khalif langsung memerah menahan malu.
"Dimana para pelayan kenapa tak satupun yang kelihatan!" serunya mencoba mengalihkan perhatian
"Sepertinya kau lupa kalau kau menyuruh mereka untuk libur hari ini," jawab Nina kemudian mengunyah makanannya.
"Kalau kau lapar, kau bisa memasak sendiri sarapan pagimu, jangan lupa buatkan juga sarapan untuk kekasihmu," celetuk Nina Kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya
"Sepertinya yang diucapkan Nina benar, cepat buatkan sarapan untukku," titah Khalif
Nina menyunggingkan senyuman sinis saat melihat Mutia dengan enggan melangkah ke dapur.
"Sepertinya pagi ini pencernaan ku kurang baik," ucap Nina kemudian menyudahi sarapannya.
Ia sengaja meninggalkan Khalif yang terus memelototi makanannya.
...🍀🍀🍀...
Khalif terlihat berlari menuju ruang rapat. Dengan nafas yang memburu ia segera menarik kursinya dan duduk di sebelah Broto.
Tidak lama seorang wanita memberikan map kepadanya dan menyuruhnya tanda tangan.
Khalif tampak tercengang saat membaca dokumen didepannya itu.
"Apa rapatnya sudah berakhir??" tanyanya menatap satu persatu para pemenang saham di sana.
"Sudah selesai, kau bisa membaca hasil rapatnya di notulen rapat yang akan kau tandatangani," jawab Broto sinis
Khalif langsung menggebrak meja rapat dan melempar notulen rapat yang ada di mejanya.
"Jadi kalian mengundang ku kesini hanya untuk menggulingkan aku dari jabatan ku!" serunya menatap sinis kearah Broto
"Itu sudah menjadi wasiat dari Nenek anda Nyonya Mariyah, untuk lebih jelasnya pengacara perusahaan akan membacakan wasiat terakhir Nyonya Mariyah kepada anda dan juga ibu anda," jawab Broto
"Aku tahu semua itu hanya rekayasa yang kau lakukan untuk melengserkan aku bukan, jangan salah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan jabatanku kepada mu Broto. Lagipula sesuai dengan wasiat ayah aku masih menjadi pewaris sah Hawi Corporation, karena Nina masih menjadi istri ku," jawab Khalif
"Apa kau lupa kalau dalam surat wasiat itu disebutkan jika Nyonya Mariyah berhak merubah wasiat itu jika kau melakukan kesalahan," ucap Hamzah
"Siapa kamu, dan apa hak mu berkata seperti itu padaku!" Hardik Khalif mencengkeram leher pengacara itu
"Dia adalah Hamzah Surya Atmaja pengacara keluarga Wiraatmadja yang baru," jawab Broto
"Cih, sepertinya kau sekarang bertingkah seperti bos besar setelah kematian nenek ku. Jangan pikir kau bisa menyingkirkan aku setelah mengganti semua orang ku dengan orang-orang kepercayaan mu," tukas Khalif kemudian meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1