My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 39


__ADS_3

Nina berusaha menahan dirinya saat menerima perlakuan kasar suaminya.


Mariyah yang melihatnya tak sanggup menahan kesedihannya melihat perlakuan Khalif terhadap Nina.


Ia bahkan mengikuti Nina diam-diam saat gadis itu memilih tidur di gudang.


Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.


Nina tampak membersihkan gudang di sebelah kamarnya dan menyulapnya menjadi kamar tidurnya.


Meskipun hanya tidur beralaskan barang-barang bekas ia terlihat nyaman dan pulas.


Panji begitu trenyuh saat melihat Nina tidur di lantai beralaskan kardus bekas kardus. Ia buru-buru keluar untuk mengambil selimut di kamarnya.


Ia kemudian menyelimuti Nina dengan selimut miliknya.


Khalif yang tak sengaja melihatnya diam-diam mengambil gambar Panji yang sedang menyelimuti istrinya itu.


"Aku memang tak memiliki bukti untuk menceraikan dirimu, tapi mulai hari ini aku akan mengumpulkan bukti-bukti agar bisa menceraikan dirimu," ucap Khalif menyeringai


Keesokan harinya Nina sengaja bangun lebih pagi agar bisa mandi menggunakan kamar mandi di dapur yang biasanya dipakai oleh para asisten rumah tangga.


Selesai mandi ia segera membereskan gudang yang sudah disulap menjadi kamarnya dan segera menuju meja makan.


Ia tampak menyunggingkan senyumnya dan menyapa ibu mertuanya saat melihatnya di meja makan.


Nina tetap terlihat ceria seperti biasa hingga membuat Khalif langsung meninggalkan meja makan saat wanita itu duduk di sampingnya.


"Dasar muka tembok, masih saja berani duduk di sini padahal tidak ada seorangpun yang menginginkan mu ada di sini!" celetuknya melirik sinis kearah Nina


Nina hanya membalas celetuknya suaminya dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Sepertinya kau sangat sibuk hari ini sampai-sampai kau tak sempat sarapan. Ups aku lupa, sepertinya aku lupa kalau ada seseorang yang sudah menunggumu untuk sarapan bersama," ucap Nina membuat Khalif langsung menarik sudut bibirnya dan bergegas pergi


"Sepertinya kau mulai menikmati peperangan terbuka ini?" sindir Dama sembari memasukkan nasi ke piringnya


"Ya begitulah Ibu, sekarang aku sudah berada di tengah lautan, kapal yang ku naiki sudah terbakar, jadi mau tidak mau aku harus melawan musuh di depan untuk merebut kapal mereka. Karena tak mungkin aku kembali ke daratan tanpa kapal karena aku tak bisa berenang," jawab Nina membuat Dama tertegun mendengarnya


"Good choice, aku harap kau tidak mati dalam pertempuran nanti," jawan Dama


Nina tampak mencari Mariyah yang tak terlihat di meja makan pagi itu.


"Sepertinya Ibu ada urusan penting di kantor hingga memilih berangkat ke kantor pagi-pagi buta," ucap Dama


...🍀🍀🍀...


*Gedung Hawi Corporation


Susana tegang tampak terlihat dari wajah-wajah para direksi dan dewan komisaris yang berkumpul di ruang rapat.


Pagi itu Mariyah sengaja mengadakan rapat darurat untuk membahas tentang penurunan harga saham perusahaan.


Bukan tanpa alasan Mariyah mengadakan rapat mendadak seperti ini, sebagai salah seorang founder Hawi Corporation dan pemegang saham terbesar ia memang mempunyai hak istimewa untuk mengadakan rapat darurat.


Kali ini wanita itu sengaja menggunakan hak istimewanya untuk membahas tentang penurunan saham perusahaan.


Ia bahkan mengumumkan pembicaraannya dengan para pemegang saham mayoritas perusahaan yang menginginkan adanya perubahan dalam manejemen perusahaan.


Mariyah kemudian mengumumkan akan mengangkat seorang komisaris independen yang akan bertugas mengawasi kinerja para direksi dalam melakukan pengelolaan perusahaan, sehingga dapat melindungi kepentingan investor, stakeholders dan perusahaan itu sendiri.


"Seperti yang kita tahu dalam situasi perusahaan saat ini tentu saja membuat para investor merasa was-was saat hendak berinvestasi di perusahaan kita. Bukan hanya investor tapi juga para pemilik saham, khususnya pemilik saham minoritas. Jadi untuk memberikan kepercayaan dan kenyamanan kepada mereka kita perlu memiliki seseorang yang bisa menghandle mereka. Tentu saja orang ini haruslah orang yang tidak memiliki hubungan atau terafiliasi dengan pemegang saham mayoritas. Jadi saya mewakili para pemegang saham bersepakat untuk mengangkat Nina Aryakunto sebagai Komisaris Independen Hawi Corporation!" seru Mariyah


Sebagian besar direksi dan komisaris setuju dengan keputusan para pemegang saham dan mendukung program mereka. Namun beberapa dari mereka juga ada yang tidak setuju khususnya Dama yang menganggap Mariyah sengaja menggunakan perasaan pribadi saat memilih Nina sebagai Komisaris Independen.

__ADS_1


Menurutnya Nina terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk menjadi seorang komisaris independen.


"Belum memiliki pengalaman, inilah yang membuat sebagian perusahaan di Indonesia tidak berkembang karena mereka lebih memilih orang-orang yang memiliki pengalaman kerja hanya berdasarkan selembar kertas tanpa memberikan kesempatan kepada para generasi muda atau pemula yang baru merintis kariernya. Meskipun Nina belum memiliki pengalaman tapi ia sudah menunjukkan kemampuannya dalam merekrut seorang investor. Kalian tidak tahu bukan bagaimana ia membuat nyaman seorang Mr. Anderson yang terkenal sangat pemilih dalam berinvestasi, bisa dia taklukkan. Lalu pengalaman macam apa lagi yang diperlukan oleh Nina untuk menjadi seorang Komisaris Independen!" jawab Mariyah membuat Dama seketika terdiam.


"Baiklah karena tidak ada lagi yang bertanya, saya anggap semuanya setuju," tukas Mariyah mengakhiri rapat pagi itu.


Setelah rapat usai Dama langsung menemui Khalif di ruangannya dan menyampaikan rasa kecewanya kepada putranya itu.


Ia bahkan berkali-kali menyalahkan Khalif yang dianggap sudah membuat Mariyah sangat marah hingga membuatnya mengangkat Nina sebagai Komisaris Independen.


"Kau tidak tahu kalau sebenarnya Ibu secara tidak langsung ingin melengserkan posisi mu sebagai CEO dan mungkin akan menggantinya sebentar lagi,"


"Tapi tidak semudah itu untuk memberhentikan posisi ku, apalagi saat mereka tidak melihat kekurangan ku," jawab Khalif seketika membuat Dama tertawa


"Kekurangan, kau bilang tak punya kekurangan?" tanya Dama mengerutkan keningnya


Ia seakan tak percaya mendengar pertanyaan bodoh itu dari putranya tersebut.


"Apa kau lupa, kalau kau tidak bisa menghandle Mr. Anderson. Kau lebih memilih bersenang-senang dengan jal*ng sialan itu daripada membujuk bule itu untuk berinvestasi di perusahaan kita. Kesalahan mu yang kedua adalah kau menjadi bodoh karena dibutakan oleh cinta sehingga kau tidak sadar telah membuat bumerang yang akan menyerang mu sendiri. Kau harus waspada terhadap Nina mulai sekarang, karena kau akan hancur seketika saat ia mulai menunjukkan bukti-bukti perselingkuhan mu dengan sekretaris mu itu," terang Dama kemudian meninggalkan ruangan itu.


Sementara Khalif sengaja meluapkan kemarahannya dengan memporak-porandakan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.


Ia benar-benar tak mengira jika Nina akan membuat hidupnya benar-benar kacau.


Sementara itu Nina tampak kaget saat Mariyah menemuinya dan menyampaikan kabar pengangkatannya sebagai Komisaris Independen perusahaan.


"Tapi nek, apa aku bisa mengemban tugas besar ini?" tanya Nina


"Tentu saja sayang, aku yakin kau pasti akan mampu membuat perusahaan ini bangkit kembali. Sebelumnya nenek minta maaf karena sudah membuatmu memikul tanggung jawab besar sebagai seorang komisaris independen.


Aku sangat berharap jika kau mampu membantu perusahaan ini bangkit kembali dari keterpurukan," tukas Mariyah menggenggam erat jemari Nina

__ADS_1


"Insya Allah nek, aku akan berusaha mewujudkan keinginan nenek, tapi aku juga butuh bantuan darimu agar bisa bekerja dengan maksimal," jawab Nina


"Tentu saja sayang," jawab Mariyah kemudian memeluknya erat


__ADS_2