My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 57


__ADS_3

*Ciit!!


Khalif menghentikan motornya tepat di depan Nina membuat gadis itu langsung mengerutkan keningnya.


"Naik motor??" Nina tak percaya kalau Khalif akan menggunakan motornya untuk bekerja


"Memangnya kenapa, apa kau tidak suka?"


"Bukan begitu hanya saja untuk saat ini kau tidak boleh terlalu capek, jadi tentu saja akan berbahaya jika kau naik motor saat kondisi mu masih lemah seperti ini," tukas Nina dengan suara lirih.


"Apa kau lupa kalau aku seorang pembalap. Kenapa kau begitu mencemaskan aku seolah aku akan mati jika menggunakan sepeda motor ini!" seru Khalif


"Asal kau tahu kalau kematian tak ada hubungannya dengan penyakit. Karena bisa saja orang yang penyakitan justru memiliki umur yang panjang, sedangkan orang yang sehat dan masih muda tiba-tiba saja meninggal," jawab Khalif


"Iya, terserah kau sajalah. Tidak guna juga aku berdebat denganmu," jawab Nina


Ia segera naik dan duduk dibelakang Khalif. Seperti biasa Nina tampak enggan memeluk Khalif.


Melihat Nina yang seolah menjaga jarak dengannya membuat Khalif langsung melesatkan motornya dengan kecepatan tinggi membuat Nina hampir saja terjatuh.


Gadis itu kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Khalif.


"Dasar munafik!" cibir Khalif


Karena sudah lama tak menggunakan sepeda motornya, Khalif sengaja menggunakan kesempatan itu untuk mengetes skill pembalapnya.


Ia sengaja menambah laju kendaraannya untuk melibas semua pengendara mobil yang ada di depannya. Khalif bahkan sengaja menerobos lampu merah hingga nyaris tertabrak mobil yang melaju kencang dari arah samping.


Nina menjerit ketakutan saat melihat kejadian itu sambil memeluknya erat. Berbeda dengan Nina yang sepanjang perjalanan terlihat tegang dengan terus memeluknya, Khalif justru tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar suara jerit ketakutan istrinya itu.


*Ciitt!!


Tiba-tiba Khalif segera menghentikan motornya saat sebuah mobil patroli polisi menghadangnya.


Dua orang polisi segera turun dan menghampiri Khalif. Mereka menyuruh lelaki itu untuk segera turun dari motornya.


"Anda kami tilang karena sudah melanggar rambu-rambu lalu lintas," ucap sang polisi kemudian memberikan surat tilang kepadanya


"Sekarang mari ikut kami ke kantor polisi," ucap polisi satunya


"Maaf pak saya tidak bisa ke. Kantor polisi sekarang karena sedang buru-buru. Santai saja aku pasti akan membayar denda tilang setelah urusan ku selesai," jawab Khalif


"Tidak bisa, anda sudah membahayakan banyak pengguna jalan jadi kami tidak bisa membiarkan anda pergi begitu saja, jadi selesaikan masalah ini dulu baru pergi,"


Tiba-tiba Khalif ponsel Khalif berdering membuat pria itu meminta izin untuk mengangkat telpon masuk.


"Halo Max, maaf sepertinya aku mengalami gangguan teknis di jalan jadi bisa gak kau ulur waktu perlombaannya," ucap Khalif


Khalif tampak sedikit kesal saat kedua polisi itu terus memintanya untuk segera ke kantornya.


"Sepertinya aku juga yang harus bergerak!" gerutu Nina


Seketika Nina langsung memegangi perutnya dan berakting layaknya orang yang sedang hamil.


"Ada apa denganmu, kenapa wajahmu berubah pucat?" tanya Khalif terlihat panik saat melihat wajah Nina yang memucat seperti sprei


"Sepertinya bayi yang ada di kandungan ku mengalami kontraksi, jadi kamu harus segera membawaku ke rumah sakit," ucap Nina dengan suara lirih


"Bayi??" seketika wajah Khalif berubah memucat mendengar pengakuan Nina


Tampaknya Khalif benar-benar percaya dengan akting Nina hingga membuatnya begitu sedih saat mendengar Nina hamil.


"Bagaimana bisa aku menghamilinya hanya dengan sekali tusuk, sepertinya tamatlah riwayat ku kali ini," seru Khalif kemudian menepuk-nepuk pipinya

__ADS_1


Melihat Khalif yang justru frustasi membuat Nina kembali berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Aduh perutku, sakit sekali, sepertinya aku akan segera keguguran kalau kau tidak segera membawaku ke rumah sakit!" seru Nina kemudian menarik Khalif dan menyuruhnya untuk segera naik ke atas motornya


"Tapi...." ucap Khalif tampak ragu saat melihat kedua polisi di depannya


"Apa kalian tega melihat aku kehilangan bayiku!" hardik Nina mendatangi kedua polisi itu


"Tentu saja tidak Ibu, silakan lanjutkan perjalanan kalian," ujar sang polisi kemudian membiarkan mereka pergi


"Semoga bayi kalian selamat, begitu pun dengan ibunya!" seru sang polisi melambaikan tangannya kearah Nina


"Cepat jalan!" seru Nina menepuk pundak suaminya


Khalif pun segera melajukan motornya meninggalkan tempat itu.


"Kenapa lambat sekali, kalau begini anakku bisa mati karena kau terlalu lelet!" gerutu Nina membuat Khalif langsung menambah kecepatannya


"Ya Allah semoga saja mereka baik-baik saja," ujar sang polisi


"Bagaimana perutmu apa masih sakit?" tanya Khalif


"Tentu saja tidak, sekarang cepatlah kau bisa terlambat menemui Tuan Nakamura jika terus mengemudi sambil bicara," jawab Nina


"Lalu bagaimana dengan anak kita, bukankah kita harus ke rumah sakit dulu untuk menyelamatkannya?" tanya Khalif lagi


"Dasar bodoh kau pikir aku bisa hamil hanya dengan tidur sekali denganmu, yang benar saja!" cibir Nina


"Jadi kau tidak hamil?" tanya Khalif


"Tentu saja," jawab Nina singkat


"Syukurlah kalau begitu, aku kira kau benar-benar hamil!" ujar Khalif merasa lega


"Cih, kau pasti merasa kesal saat aku hamil. Tenang saja sampai kapanpun aku tidak akan hamil anakmu," jawab Nina


"Kau bilang ingin menemui Tuan Nakamura, tapi kenapa kau malah mengajakku ke sirkuit. Jangan bilang kau akan beradu balap untuk mendapatkan uang untuk investasi?" ucap Nina


"Kau benar, aku memang akan memulai kembali debutku sebagai pembalap. Aku ingin menggunakan kesempatan yang tersisa ini untuk menikmati hidupku. Dan yang kedua aku juga tidak membohongi mu karena aku memang akan menemui Tuan Nakamura di sini, ia sudah setuju untuk berinvestasi di perusahaan kita tapi dengan syarat baku harus mengalahkan pembalapnya. Itulah kenapa aku mengajakmu ke sini?" jawab Khalif


Max segera menyambut kedatangan Khalif dan mengajaknya menuju ke boot Mereka.


"Apa dia istrimu?" tanya Max


"Benar, kenalkan dia Nina istriku," ujar Khalif memperkenalkan Nina kepada rekan kerjanya


"Nina,"


"Max,"


Khalif segera menuju ke ruang ganti setelah salah seorang kru memberikan pakaian balapnya.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja?" tanya Nina begitu khawatir


"Everything is ok, trust me ( Semuanya akan baik-baik saja, percayalah padaku)" jawab Khalif


Nina bahkan terus mengikuti kemanapun suaminya pergi karena takut kondisinya ngedrop saat ia tengah mengendarai sepeda motornya.


"Sebaiknya aku telepon dokter Adi saja," ucap Nina saat Khalif terus mengabaikan peringatan darinya


Ia kemudian menghubungi dokter Adi untuk memberitahukan tentang Khalif.


"Tidak masalah jika ia kembali ke sirkuit lagi, yang penting ia harus rutin minum obat dan melakukan kemoterapi sesuai jadwal yang sudah di berikan. Semoga saja dengan ia kembali menjadi pembalap akan membuat semangat hidupnya bangkit lagi hingga mempercepat kesembuhannya," jawab dokter Adi

__ADS_1


"Aamiin," jawab Nina merasa lega


Max kemudian menyuruh Nina untuk duduk di ruang VIP agar bisa menyaksikan suaminya bertanding dengan nyaman.


"Sebaiknya kau menonton di sini saja, karena di sini lebih nyaman daripada harus mendengar teriakan para supporter di tribun," ucap Max


"Terimakasih," ucap Nina kemudian duduk di kursi sambil menatap ke layar besar yang menyiarkan pertandingan suaminya.


"Semoga semuanya berjalan lancar ya Allah, berikan keselamatan dan kemenangan untuk suamiku aamiin,"


Max tersenyum simpul saat mendengar doa Nina. Lelaki itu kemudian keluar dan menemui Khalif yang sedang melakukan pemanasan.


"Sepertinya kali ini kau harus menang Bro," ujar Max


"Tentu saja, karena seorang Khalif tak bisa menerima kekalahan," jawab Khalif


"Ok, kita tunggu saja sebentar lagi," Max kemudian meninggalkan Khalif saat pertandingan akan segera dimulai.


Suara pistol memberikan pertanda jika pertandingan sudah di mulai.


Khalif terlihat memacu sepeda motornya berusaha menyalip semua pembalap yang ada di depannya.


Meskipun ia start di urutan ke 20 namun Khalif mampu melibas beberapa orang rivalnya hanya beberapa menit setelah lomba di mulai. Di lap ke tiga Khalif bahkan berhasil menduduki posisi ke tiga membayang-bayangi pembalap Nakamura yang ada di urutan pertama.


Saat berada di tikungan tajam tiba-tiba saja Khalif merasakan kepalanya terasa pusing hingga membuatnya nyaring terlempar dari sirkuit karena diserempet oleh pembalap lain.


Tentu saja kejadian itu membuat Nina seketika cemas.


Beruntung Khalif bisa kembali ke sirkuit dan melanjutkan perlombaannya.


Kali ini ia harus berusaha keras untuk bisa kembali ke posisinya.


Khalif sengaja membahayakan Nina benar-benar hamil dan sedang kesakitan karena mengalami kontraksi.


"Kenapa kau melajukan motormu seperti siput. Apa kau ingin membunuh aku dan bayimu!" hardik Nina membuat Khalif segera menambah kecepatan motornya .


*Nguuungg!!


Ajaib, hanya dengan membayangkan makian Nina, Khalif langsung bisa menyingkirkan beberapa pembalap lain hingga ia kembali ke posisinya.


Kali ini Khalif kembali membayangkan jika Nina memukulinya bahkan mencekiknya karena ia tak kunjung tiba ke rumah sakit.


"Cepat tambah lagi kecepatannya, apa kau sudah bosan hidup!" seru Nina membuat Khalif lagi-lagi menambah kecepatannya.


*Nguuungg!!!


Kali ini Khalif benar-benar berhasil berada di urutan pertama.


Namun tiba-tiba ia ambruk saat berada di pemberhentian.


Nina segera turun ke bawah untuk melihat kondisi Khalif.


"Sudah ku bilang jangan bertanding, tapi kay tetap saja ngeyel. Jadi begini kan jadinya!" seru Nina memarahi Khalif sambil menangis tersedu-sedu


Khalif seketika membuka matanya saat mendengar omelan Nina.


Ia bahkan masih sempat tersenyum dan membalas makiannya.


"Kenapa aku sekarang lebih senang mendengar omelan mu!" seru Khalif membuat Nina semakin marah hingga menampar wajahnya


"Dasar brengsek kau masih saja bercanda di situasi kritis seperti ini!" cibir Nina


"Maafkan aku Nin, sepertinya aku tak bisa mendapatkan investasi dari Tuan Nakamura karena aku tak sanggup lagi melanjutkan pertandingan ini. Tubuhku terasa sangat lemah, aku bahkan tak punya tenaga untuk berdebat denganmu," ucap Khalif dengan suara yang sangat pelan

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal dia cuma harus menyelesaikan dua lap terakhir pertandingannya," ucap Max


"Kalau begitu biar aku saja yang akan menggantikannya!" seru Nina


__ADS_2