My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 13


__ADS_3

Mendengar kabar kematian ayahnya membuat Janaka begitu sedih, meskipun ia belum pulih benar, ia memutuskan untuk hadir di rumah duka.


Dengan bantuan seseorang ia berhasil menyusup masuk ke rumah itu dan menyamar menjadi seorang pelayan.


......................


Dama tampak emosional saat melihat kedatangan Mutia. bagaimanapun juga ia tak mau jika acara berkabung suaminya menjadi ajang perdebatan para wartawan untuk membuka kembali kasus yang sudah ia tutup.


"Bagaimana bisa Iblis itu muncul di sini!" seru Dama


Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk mengusir gadis itu dari istananya.


Keributan di ruang utama membuat Mariyah ikut keluar dan menanyakan jatidiri Mutia kepada Broto.


Broto menjelaskan kepadanya tentang Mutia, dan Mariyah mulai mengerti kenapa gadis itu sampai bertindak seperti itu di acara tersebut.


Mutia berusaha melepas diri saat mereka menyeretnya keluar. Bukan hanya itu saja, ia bahkan sengaja di bungkam karena terus menghujat dan menuding Khalif sebagai pembunuh calon suaminya Janaka.


Sementara itu di sudut ruangan tampak seorang pemuda terus menatap kearah Mutia yang di seret keluar oleh anak buah Dama.


"Terimakasih kau selalu membelaku Mut, terimakasih juga kau sudah berusaha mencari keadilan untukku. Tunggu aku sebentar lagi. Aku pastikan akan mengganti semua kesedihan mu saat ini dengan kebahagiaan," ucap pemuda itu kemudian mengusap air matanya


Ia buru-buru menurunkan topinya dan bergegas pergi. Namun Janaka tak sengaja menabrak Khalif yang buru-buru keluar untuk melihat aksi Mutia.


"Maaf Tuan," ucap Janaka menundukkan wajahnya


"Ah sial, makanya kalau jalan pakai mata, untung aku lagi baik hari ini. Kalau tidak aku sudah pecat kamu sekarang juga!" hardik Khalif


Pemuda itu buru-buru pergi keluar rumah.

__ADS_1


Ia tertegun saat melihat gaun Mutia berlumuran darah di depannya. Lelaki itu buru-buru membuka jasnya dan berusaha memakaikannya kepada gadis itu. Namun sayangnya Mutia langsung menolaknya.


"Kau pikir aku akan luluh hanya karena sikap picisan mu ini!" seru Mutia kemudian mendorong tubuh lelaki itu dan bergegas pergi meninggalkannya


"Entah kenapa semakin ia menolak ku semakin membuat ku menyukainya. Kau memang gadis yang tangguh Mut, andai saja kau mau menerima cintaku," ucap Khalif tak berkedip melihat kepergian Mutia hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.


Sementara itu Mariyah kemudian meminta Nina meletakkan sebuah bunga mawar putih di samping jenazah Handoko sebelum ia pulang.


Saat ia hendak memasuki ruangan utama ia melihat seseorang tengah memarahi Janaka yang menyelinap masuk ke tempat itu.


"Kau pikir siapa dirimu hingga berani masuk ke ruangan ini. Ingat hanya tamu undangan dan keluarga yang boleh masuk ke ruangan ini. Pelayan seperti dirimu dilarang masuk ke sini kecuali kau memang ditugaskan di sini!"


Janaka hanya menunduk dan tak berani bersuara saat kepala pelayan memarahinya.


Melihat hal itu Nina segera membelanya dan mengatakan jika Ia yang memerintahkannya masuk ke ruangan itu untuk menata bunga mawar yang diberikan oleh nenek Mariyah.


Kepala pelayan kemudian meminta maaf kepada Janaka dan mengijinkannya untuk membantu Nina merangkai bunga mawar untuk menghias ruangan itu.


"Sama-sama, aku juga Terimakasih karena kau sudah menyelamatkan nenek saat hendak jatuh tadi. Kalau bukan karena dirimu mungkin aku sudah diusir oleh nyonya Dama karena mencelakai nenek," jawab Nina


Janaka kemudian membantunya untuk merangkai bunga. Namun Nina merasa ada sesuatu yang aneh saat Pemuda itu justru Mendokan Handoko dan menyisipkan bunga mawar di samping jenazahnya.


"Semoga ayah bahagia karena bisa bertemu dengan ibu di surga. Jangan lupa berikan mawar putih ini untuknya karena aku tahu ia lebih menyukainya daripada dirimu," ucap Janaka kemudian mengusap air matanya


"Ayah???" Nina terlihat memutar bola matanya saat mendengar Janaka berkali-kali memanggil Handoko dengan sebutan ayah. Awalnya ia curiga kepadanya, namun segera menepisnya dan berusaha berpikir positif.


"Mungkin saja karena pak Han begitu baik kepadanya sampai ia menganggapnya seperti ayah sendiri, makanya ia memanggil dia ayah. Karena mustahil orang mati bangkit lagi hanya untuk menyampaikan belasungkawa atas kematian ayahnya,"


Nina kemudian meninggalkan Janaka dan menemui Mariyah untuk berpamitan.

__ADS_1


...----------------...


Setelah acara pemakaman selesai, Mariyah memanggil Dama dan juga Khalif.


Ia kemudian menanyakan kepada mereka tentang kematian Janaka. Dama menjelaskan jika kematian Janaka adalah kecelakaan begitupun dengan Wilantika. Namun Mariyah yang sudah membaca artikel beberapa media masa merasa jika menantunya itu berbohong.


Ia tahu jika Dama sengaja menutupi sesuatu darinya.


"Meskipun aku tidak merestui pernikahan Han dengan Tika tetap saja aku juga tak pernah bisa mengabaikan Janaka. Tetap saja aku dia adalah bagian dari keluarga ini dan aku tak bisa membiarkannya di dzolimi hanya karena kesalahan ibunya. Aku tahu kalian pasti sangat membencinya apalagi saat tahu Han memberikan Hawi Corporation kepadanya. Tapi tetap saja kalian tidak dibenarkan untuk membunuhnya," ucap Mariyah


Wanita itu tampak berkaca-kaca dan menyeka air matanya. Ia tak mengira jika harta membuat keluarganya menjadi tamak dan serakah hingga saling bunuh.


"Sekarang aku tahu kenapa malam itu Han begitu marah hingga tak mempedulikan kesehatannya. Dia pasti sangat sedih melihat kalian yang bertikai hanya untuk mendapatkan sebuah harta yang sebenarnya bukan untuk kalian," kenang Mariyah


"Maafkan kami Ibu, tapi aku Khalif melakukan semua itu karen Mas Han selalu menganak emaskan Janaka. Andai saja Mas Han bisa adil terhadap kami mungkin semua ini tak akan terjadi," ucap Dama mencoba membela diri.


Mariyah tak bisa menjawab ucapan Dama karena ia juga mengerti perasaan Dama.


Melihat Mariyah mulai melunak dan tak melanjutkan pembahasan tentang Janaka, membuat Dama merasa menang.


Meskipun Mariyah adalah seorang mertua yang killer namun Dama tahu benar jika wanita itu begitu menjunjung tinggi nama baik keluarga. Tentu saja Dama yakin jika Mariyah tidak akan mengungkap kasus kematian Janaka meskipun ia memang kecewa dengannya.


"Jangan khawatir Nak, aku tahu nenek mu ada di pihak kita. Ia tak akan mungkin menyeret kita ke penjara karena tak mau nama baik keluarga Wiraatmadja akan ternoda," ucap Dama menghibur Khalif


Ia meminta putranya itu untuk tetap tegar dan bersiap untuk menjadi CEO HAWI Corporation.


Ia bahkan meminta Khalif untuk beristirahat dari dunia balap dan mulai fokus untuk memimpin perusahaannya.


Kabar Khalif yang memilih berhenti menjadi pembalap demi menjadi CEO Hawi Corporation menjadi headline news semua media massa dan online pagi itu.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Mutia semakin kebakaran jenggot. Bagaimana bisa ia membiarkan pria yang sudah membunuh calon suaminya juga mencuri perusahaannya.


"Aku harus melakukan sesuatu?"


__ADS_2