My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 76. REVISI ( Silakan dibaca )


__ADS_3

Panji tak menyangka jika Broto mengetahui identitas dirinya. Ia tak bisa mengelak saat pria itu mengungkapkan semua bukti-bukti jika dia adalah Janaka.


"Seperti yang kau inginkan, aku tidak akan memberitahukan identitas aslimu kepada siapapun, aku akan menutupinya rapat-rapat seperti yang kau lakukan selama ini. Aku tidak tahu apa motiv mu kembali ke tempat ini dengan menjadi orang lain. Seperti yang kau tahu, perusahaan sedang collapse dan kami sangat membutuhkan orang-orang seperti dirimu untuk mengupgrade perusahaan. Jadi tolong bantu kami dan kembalilah menjadi CEO Hawi Corporation. Aku tahu hanya kamu yang bisa membuat perusahaan ini kembali bangkit," ucap Broto


"Tapi bagaimana dengan Al, aku tidak mau berselisih dengan dia lagi, apalagi saat kondisinya sedang memperihatinkan seperti sekarang," tukas Panji


"Kalian berdua akan menjadi CEO perusahaan ini, kalian adalah ahli waris yang sah jadi aku tidak akan membiarkan salah satu kalian merasa di kucilkan atau tidak di akui," Broto kemudian memberikan buku agenda milik Handoko kepada Panji


Panji membaca sebuah tulisan yang sudah ditandai oleh Broto, seketika air matanya menggenang di sudut matanya.


Pemuda itu tak bisa berkata-kata selain menahan sedih setelah membaca penyesalan sang ayah.


"Semoga setelah membaca pesan itu, kau tidak lagi membenci Al, Ibu Dama ataupun almarhum ayahmu. Semua yang terjadi adalah takdir Tuhan jadi aku harap kau bisa legawa menerima semua ini. Sekarang Al sedang sekarat, jadi aku ingin kau menggantikannya memimpin perusahaan ini untuk sementara waktu," tukas Broto sambil menepuk-nepuk pundak Panji.


Panji mengangguk setuju, dan mengembalikan buku agenda Handoko kepada Broto.


"Kalau kau ingin membacanya silakan, kau boleh mengembalikannya setelah selesai membaca buku itu," tukas Broto kemudian meninggalkannya.


#Rumah Sakit Harapan Kasih


Nina segera berlari menuju ruang perawatan Khalif setibanya di rumah sakit.


Semua orang tampak memperhatikan Nina yang berlari tanpa menggunakan alas kaki. Ia tampak terengah-engah setibanya di bangsal perawatan Khalif. Dama segera mengajaknya masuk untuk melihat Khalif yang masih terbaring koma.


"Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Nina sambil mengatur nafasnya


"Semua ini karena kamu, kenapa kay tega melakukan ini terhadap Al Nina!" seru Dama menatap Nina dengan tatapan penuh kebencian


"Apa maksudmu Ibu aku tidak tahu!" seru Nina


"Aku tahu kau mungkin sangat membenci Al, tapi kau tidak bisa menceraikannya dalam keadaan seperti ini. Kau tahu saat ini Al tidak boleh bersedih agar ia bisa sembuh dari penyakitnya. Tapi kau malah meminta cerai di saat seperti ini, lihat sekarang Khalif koma dan mungkin dia tidak akan bangun lagi. Apa kau puas sekarang!" seru Dama kembali menyalahkan Nina

__ADS_1


"Maaf Ibu, aku tidak pernah meminta cerai darinya, lagipula kemarin seharian aku bersama Al di villa lalu bagaimana aku meminta cerai darinya?" jawab Nina


Dama yang begitu geram kemudian mengambil sebuah kertas yang berisikan pernyataan Nina yang menyerahkan kepemimpinan Hawi Corporation kepada Khalif dan meminta pria itu untuk menceraikannya.


Nina seketika tertawa kecil setelah membaca surat itu. Tentu saja hal itu membuat Dama semakin kesal dengan menantunya itu.


"Sepertinya dia sudah gila, apa perlu kita panggilkan Dokter spesialis penyakit jiwa," ucap Dama kepada asistennya


"Apa ibu percaya jika surat ini adalah buatanku?" tanya Nina


"Tentu saja, di situ sudah ada tanda tanganmu, lagipula Broto tak mungkin membohongi Al apalagi sampai membahayakan keselamatannya," tukas Dama


"Sudah ku duga. Tapi asal ibu tahu jika surat ini bukanlah buatanku," jawab Nina kemudian merobek-robek surat tersebut


"Aku akan mencari sendiri siapa pembuat surat palsu ini yang sengaja ingin mengadu domba aku dengan Al," Nina kemudian bergegas pergi namun ia menghentikan langkahnya saat melihat Broto berdiri di depan pintu bersama Panji.


"Kau tidak perlu repot-repot mencari pelakunya, jika memang itu bukan surat buatanmu maka biarkan aku yang akan mencari siapa dalang di balik keributan ini. Kau hanya perlu mendampingi Al sampai sembuh itu saja," jawab Broto


Panji kemudian mendekati Nina dan memintanya untuk mempercayai Broto.


" Bagaimana bisa anda tidak langsung memberikan surat itu kepada Al tanpa memeriksa dulu atau mengkonfirmasi denganku, jika memang anda seorang assisten CEO yang bisa diandalkan harusnya anda tidak melakukan kesalahan fatal seperti ini!" seru Nina meluapkan kemarahannya kepada Broto


"Maafkan saya yang sudah ceroboh kali ini," jawab Broto menundukkan kepalanya


"Apa kau tahu kalau tindakan gegabah mu ini bisa menghilangkan nyawa suamiku, dan gara-gara kecerobohan mu kau bahkan bisa membuat ku menjadi seorang janda!" imbuh Nina


"Sekali lagi saya minta maaf, saya akan menerima konsekuensi apapun yang anda berikan termasuk jika anda ingin memberhentikan saya dari pekerjaan saya," jawab Broto


"Wah gampang sekali kau minta dipecat dari pekerjaanmu. Apa kau sengaja melakukan ini untuk lari dari tanggung jawabmu!" sahut Nina


"Meskipun saya dipecat tapi saya akan mencari pelaku pembuat surat palsu itu sampai ketemu," jawab Broto

__ADS_1


"Good, kalau begitu lakukanlah!" seru Nina kemudian meminta pria itu pergi.


Namun sebelum pergi Broto meminta berbicara dengan Nina empat mata.


Lelaki itu kemudian menyampaikan jika ia telah memerintahkan Panji untuk menjadi CEO Hawi Corporation sementara menggantikan Al yang sedang sakit dan juga agar Nina bisa fokus mengurus suaminya tanpa memikirkan pekerjaan.


Nina tampak menyunggingkan senyum sinis saat mendengar penjelasan Broto.


"Wah kau memang luar biasa Pak Broto, meskipun kau sudah di pecat tapi kau tetap bisa memerintahkan orang semau mu. Sepertinya orang-orang seperti dirimu memang harus disingkirkan dari Hawi Corporation," ucap Nina


"Maaf jika saya lancang, tapi semua ini saya lakukan demi perusahaan kita. Saya tidak mau perusahaan ikut tumbang hanya karena para pewarisnya juga tumbang. Semua keputusan yang saya buat adalah semata-mata untuk menyelamatkan perusahaan dan tidak ada maksud lain dibalik itu," tegas Broto


"Ok, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, tapi ingat jangan pernah melarang ku untuk melakukan sesuatu karena aku tidak suka," jawab Nina kemudian meninggalkan Broto


Lelaki itu hanya menghela nafas mendengar jawaban Nina.


"Kenapa anda begitu keras kepala Nyonya,"


Saat Nina kembali menemui Khalif di ruangannya, ia melihat Panji tampak menitikkan air mata saat berdua dengan Khalif.


Ia bahkan mendoakan adiknya itu begitu lama hingga membuat Nina tampak curiga kepadanya.


Panji segera mengusap air matanya saat melihat Nina menghampirinya.


"Aku kira kamu sudah pulang," ucap Nina menatap aneh terhadap Panji


"Aku sengaja menunggumu sebelum kembali ke kantor,"


"Kenapa?" tanya Nina penasaran


"Aku tahu kamu pasti kecewa dengan keputusan Pak Broto, jika kau keberatan kau tidak perlu lengser dari posisi mu yang sekarang. Lagipula aku meras lebih nyaman menjadi sekretaris CEO daripada harus menjadi CEO perusahaan. Meskipun hanya sementara tapi bagiku itu terasa cukup lama, dan aku tak mau membuat hubungan kita merenggang hanya karsna masalah ini," ucap Panji

__ADS_1


__ADS_2