My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 28


__ADS_3

Panji masih tak menduga jika Mutia memiliki hubungan spesial dengan Khalif. Berkali-kali ia mencoba menepis kenyataan itu dan mengira jika mereka dekat karena sebatas rekan kerja. Tapi tetap saja hati kecilnya merasa kecewa dan sakit hati saat melihat wanita yang dicintainya bersama pria lain.


Namun Panji menyadari jika kesedihannya tak sebanding dengan Nina yang sudah menjadi istri sah Khalif.


Panji tampak memperhatikan wanita itu yang tampak menangis tersedu-sedu di kegelapan. Ingin rasanya ia membantu memberikan support namun ia sadar jika dirinya hanya seorang bodyguard.


Ia pun memilih meninggalkannya agar Nina bisa meluapkan kesedihannya.


Malam semakin larut, Namun Nina masih tak bisa memejamkan matanya. Hatinya terlalu sakit sampai ia tak bisa tidur karena terus memikirkan suaminya.


Pukul setengah empat pagi, Khalif tampak mengendap-endap memasuki kamarnya.


*Krieet!!


Khalif membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati agar tak mengeluarkan bunyi yang bisa membangunkan istrinya.


Menyadari jika Khalif pulang, Nina yang masih terjaga segera menarik selimutnya dan pura-pura tidur.


Sementara itu Khalif menoleh kearah Nina dan memastikan wanita itu tak menyadari kedatangannya.


"Syukurlah dia gak bangun,"


Setelah mengganti pakaiannya, Khalif pun membaringkan tubuhnya di samping Nina.


Saat Ia hendak memejamkan matanya, ponselnya tiba-tiba berdering, "Iya sayang aku sudah sampe, dan seperti biasa Nina tidur begitu pulas tanpa menyadari kedatangan ku," ujarnya lirih.


Cukup lama Khalif berbincang dengan Mutia hingga membuat Nina semakin sedih saat mendengar kemesraan keduanya.


Pagi itu Nina sengaja menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga besar Wiraatmadja tanpa bantuan Chef Juni.


Ia mencoba menghilangkan kesedihannya dengan memasak.


Ia bahkan sengaja mengajak Khalif untuk sarapan meskipun suaminya itu berusaha menolaknya dengan alasan ada meeting pagi.


Nina menarik lengan Khalif dan menyeretnya menuju meja makan.


Khalif merasa begitu kesal dengan sikap Nina pagi itu yang tak sepatuh biasanya.

__ADS_1


Namun ia tak berani memarahinya karena Mariyah selalu membelanya.


Dama tampak terkejut saat melihat Khalif ada di meja makan. Wanita itu untuk pertama kalinya memuji kehebatan Nina yang berhasil mengumpulkan keluarga Wiraatmadja untuk sarapan bersama dengan formasi lengkap.


"Kamu memang the best Nin, meskipun kau terlihat sedikit kampungan dan norak tapi ku akui kamu sangat pintar karena bisa membawa Khalif ke meja makan ini," puji Dama


"Ah, Ibu terlalu memuji," jawan Nina tersenyum simpul


Selesai sarapan, Mariyah memberikan sebuah pengumuman mengejutkan. Wanita itu sengaja meminta Khalif untuk cuti dan menyerahkan tugas-tugas kantor kepada Broto.


Wanita itu mengatakan jika dirinya ingin segera menimang cucu maka dari itu ia meminta Khalif dan Nina untuk pergi bulan madu.


Tentu saja permintaan itu langsung ditolak oleh Khalif dengan berbagai alasan. Namun bukan Mariyah namanya jika harus kalah dengan alibi yang diberikan oleh Khalif.


"Broto adalah seorang pemimpin yang capable. Bahkan di bandingkan dengan ayahmu sebenarnya ia lebih mampu dalam mengurus perusahaan, jadi kau tidak perlu khawatir. Dia pasti akan bisa mengurus semuanya dengan cepat dan tepat," tutur Mariyah


"Tugas kamu sekarang hanya perlu menikmati bulan madu kalian dan membahagiakan istrimu. Semoga saja Tuhan memberkati kalian dan memberikan bonus berupa bayi mungil yang akan menjadi penerus keluarga Wiraatmadja. Karena hanya itu yang bisa kau lakukan sekarang jika ingin tetap menjadi CEO Hawi Corporation," imbuh Mariyah


Mendengar kata-kata Mariyah membuat Khalif tak bisa menolak keinginan wanita itu.


Meskipun berat hati ia harus melakukan semua perintahnya, tentu saja karena saat ini hanya Mariyah yang memiliki kuasa penuh atas Hawi Corporation.


Ia yakin dengan adanya bulan madu ini akan membuat hubungan Khalif dan Mutia sedikit merenggang.


Selesai sarapan pagi Nina segera berkemas. Karena ia akan berbulan madu ke luar negeri Nina pun memilih pakaian yang sesuai dengan musim di sana. Sementara itu Khalif memilih bersembunyi untuk menghubungi Mutia.


Ia harus berusaha keras untuk membujuk Mutia yang tiba-tiba merajuk saat ia memberitahu akan pergi berbulan madu ke Jepang selama satu minggu.


Mutia yang tahu jika Khalif begitu mencintainya sengaja membuatnya kebingungan dan terus merasa bersalah karena sudah membuatnya marah.


"Mut, ayo dong angkat teleponnya!" ucap Khalif


Karena merasa frustasi dengan sikap Mutia yang tak mau mengangkat teleponnya juga membalas pesan singkatnya. Khalif memutuskan untuk pergi menemuinya.


"Nin, tolong bantu packing pakaian ku karena aku ada urusan penting. Karena urusan ku ini sedikit ribet jadi mungkin aku langsung ke bandara saja dan kita ketemu di sana," tukas Khalif yang dijawab anggukan oleh Nina.


Khalif pun kemudian bergegas meninggalkannya untuk menemui Mutia.

__ADS_1


Nina menatap sendu kepergian suaminya. Ia tak menyangka ternyata Khalif memang lebih peduli dengan Mutia daripada dirinya.


Nina segera mengusap air matanya dan membereskan semua barang-barang Khalif ke dal kopernya.


Selesai melakukan packing, Ia segera menyuruh Panji untuk membawa semua koper miliknya ke dalam bagasi.


Mariyah terlihat menunggunya di depan pintu kamarnya.


"Dimana Alif, kenapa dia tidak kelihatan?" tanya Mariyah


"Dia sudah jalan duluan karena harus menyelesaikan urusannya lebih dulu," jawab Nina


"Oh begitu rupanya. Kalau begitu sebaiknya Panji juga ikut kamu ke Jepang," ujar Mariyah


"Kenapa dia ikut, bukankah aku hanya pergi berdua dengan Khalif?" tanya Nina tampak terkejut mendengarnya


"Entah kenapa aku begitu khawatir denganmu. Melihat Khalif yang suka gak jelas pergi meninggalkan mu seperti sekarang membuat aku khawatir. Aku harap dengan adanya Panji dia akan bisa menjaga dan menemanimu saat kau sendirian. Lagipula kita belum memberi hadiah kepadanya karena sudah menyelamatkan mu tempo hari,"


"Hadiah???" Nina tampak tak mengerti


"Oh iya, Nenek lupa memberitahu mu kalau Panji ini adalah orang yang sudah menolong mu saat kau terpeleset di kamar mandi pada hari pernikahan mu," jawab Mariyah


Nina begitu terkejut saat tahu jika Panji adalah orang yang menolongnya. Iapun kemudian berterima kasih kepadanya.


"Maaf kalau aku terlambat berterima kasih padamu," ucap Nina


"Tidak apa Nyonya," jawab Panji singkat


"Kalau gitu, Nina berangkat dulu ya Nek, doakan Nina semoga selamat sampai tujuan," tandas Nina berpamitan


"Iya sayang, aku doakan semoga kamu bisa menikmati bulan madumu bersama suami mu. Jangan lupa kabari nenek jika sudah tiba di sana," jawab Mariyah


"Baik Nek," sahut Nina kemudian segera masuk ke dalam mobilnya


Mariyah pun melambaikan tangannya melepas kepergiannya.


Setibanya di Bandara, Nina menunggu cukup lama kedatangan suaminya.

__ADS_1


Karena pesawat sudah akan berangkat Nina pun menghubungi Khalif. Namun siapa sangka Khalif justru memintanya untuk berangkat lebih dulu dan ia akan menyusulnya menggunakan pesawat selanjutnya.


"Sorry Nin, urusanku belum kelar jadi sebaiknya kau berangkat lebih dulu. Aku janji akan menyusulmu menggunakan penerbangan selanjutnya," ucap Khalifah kemudian mematikan ponselnya.


__ADS_2