
"Aku tahu kamu pasti kecewa dengan keputusan Pak Broto, jika kau keberatan kau tidak perlu lengser dari posisi mu yang sekarang. Lagipula aku meras lebih nyaman menjadi sekretaris CEO daripada harus menjadi CEO perusahaan. Meskipun hanya sementara tapi bagiku itu terasa cukup lama, dan aku tak mau membuat hubungan kita merenggang hanya karsna masalah ini," ucap Panji
Nina tak menyangka jika Panji memiliki hati yang bersih dan tidak tamak.
"Apa kau tak menyesal memberikan semuanya kepadaku?" tanya Nina
"Untuk apa aku menyesal, Toh perusahaan ini bukan milikku," jawab Panji kemudian bergegas pergi
Nina yang penasaran mengikuti pria itu. Panji pun menghentikan langkahnya dan menolehnya kebelakang.
Nina hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya saat pria itu memergokinya.
"Sebaiknya kau jaga Al, sepertinya dia sangat membutuhkan mu saat ini," ucap Panji
Nina mengangguk kemudian segera memutar badannya kembali ke bangsal perawatan Khalif.
Ia kemudian duduk di samping suaminya yang terbaring Nina menggenggam erat jemari pria itu.
"Kamu pasti sangat membenciku karena surat itu kan, kamu tidak perlu takut karena sekarang aku ada di sini untuk menemani mu," ucap Nina kemudian meletakkan telapak tangan Khalif ke pipinya.
*******
Sementara itu Mutia tampak tercengang saat kembali ke apartemennya. Ia melihat beberapa petugas pengelola apartemen tengah mengeluarkan barang-barangnya.
"Apa-apaan ini, kenapa kalian masuk ke rumahku tanpa izin!. Dan juga ini...Siapa yang mengizinkan kalian mengeluarkan semua barang-barang ku!" seru Mutia begitu geram
Salah seorang pengelola apartemen kemudian memberikan surat pemberitahuan pengosongan apartemen dari pemilik apartemen itu kepada Mutia. Namun Mutia yang sedang emosi langsung merobeknya.
"Pemilik apartemen ini adalah aku jadi yang berhak menempati apartemen ini adalah aku. Kalaupun ada yang mengaku-ngaku sebagai pemilik apartemen ini aku yakin dia adalah seorang penipu, karena almarhum kekasihku tak punya kerabat ataupun saudara," ucap Mutia
"Tapi pemilik sah apartemen ini sudah mewariskan apartemen ini kepada seseorang,"
"Katakan padaku siapa dia, dan bila perlu pertemuan dengan bajing*n yang mencoba menipu kalian itu!" tantang Mutia
Pengelola apartemen kemudian menghubungi Panji sab memberitahukan tentang Mutia kepadanya.
"Baiklah aku akan segera ke sana pak," ucap Panji
Panji kemudian melesatkan mobilnya menuju ke apartemen Mutia.
Sementara itu Mutia tampak menunggu kedatangan pemilik apartemen miliknya dengan penuh cemas. Ia bahkan berkali-kali menggerakkan jari tangannya diatas meja karena tak sabar menunggu kedatangan pria itu.
__ADS_1
"Aku yakin penipu itu tidak akan datang, dia pasti sangat takut saat harus berhadapan denganku," ucap Mutia berusaha memprovokasi pihak pengelola Apartemen.
Tidak lama seorang pria tampan datang memasuki ruangan itu.
Mutia tampak tercengang melihat wajah rupawan yang tersenyum simpul menatapnya.
"Panji??" wanita itu benar-benar tak menyangka jika Panji adalah pemilik apartemen kini.
"Pagi Mut, maaf sudah membuat mu terkejut," ujar Panji kemudian duduk di sampingnya
Mutia yang penasaran dengan sosok Panji pun menanyakan bagaimana pemuda itu bisa menjadi ahli waris Janaka mantan kekasihnya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Naka, soalnya setahu aku dia itu anak tunggal dan tak punya saudara?" ucap Mutia dengan nada meragukan pria itu
"Ayahku adalah kakak dari Ibunya Janaka. Meksipun mereka beda ibu tapi karena mereka saudara seayah maka pihak pengacara Janaka menghubungi ayahku dan menyerahkan hak waris apartemen kepadaku," jawab Panji
"Masa sih Naka punya Om, setahu aku ibunya Naka itu anak tunggal dan gak punya saudara kandung ataupun tiri,"
Menjawab kecurigaan Mutia Panji pun menyerahkan akta keluarga besarnya kepada gadis itu.
Meskipun Mutia masih tak percaya dengan dokumen yang diberikan oleh Panji, namun ia berusaha mengalah untuk saat itu.
**********
Sementara itu Broto mulai menyelidiki siapa pengirim surat palsu yang mengatasnamakan Nina.
Di bantu oleh Panji ia mulai mengecek cctv ruang kerjanya. Broto tampak terkejut saat melihat wanita yang memasuki ruangannya secara diam-diam sambil menutupi wajahnya.
"Apa kau mengenalinya?" tanya Broto melirik kearah Panji
"Dari gesture dan cara berjalannya aku yakin itu adalah Mutia, tapi aku tidak yakin karena tidak bisa melihat wajahnya," jawab Panji
"Benar, kita tidak boleh asal tuduh. Kalau begitu biar aku akan menyerahkan bukti kepada pihak berwajib," ucap Broto kemudian membawa rekaman cctv berikut dengan bukti surat asli yang diterimanya ke kantor polisi.
Sementara itu Mutia tampak kembali menempati rumah kecilnya yang sudah lama ia tinggalkan.
"Sial, kenapa aku bisa kembali lagi ke tempat ini," gerutu Mutia
Saat ia sedang sibuk membereskan barang-barangnya tiba-tiba dua orang polisi datang ke menyambangi kediamannya dan memberikan surat penangkapan untuknya.
Tentu saja Mutia begitu shock saat tahu dia dituduh sebagai orang yang menyebabkan Khalif koma dirumah sakit.
__ADS_1
"Ini fitnah pak, aku sama sekali tidak pernah memberikan surat pernyataan itu. Lagipula aku tidak tahu menahu tentang urusan mereka jadi tolong lepaskan aku pak!" ucap Mutia mengiba
"Anda bisa menjelaskan nanti di kantor. Selain itu anda juga bisa menghubungi pengacara untuk membantu Anda saat proses penyidikan berlangsung. Untuk saat ini saya harap anda bisa bisa lebih kooperatif agar Anda bisa mendapatkan keringanan karena sudah bersikap kooperatif kepada aparat kepolisian," ucap sang polisi kemudian memborgol Mutia dan membawanya ke kantor polisi.
Ditempat berbeda, Naira tampak membakar beberapa sebuah sepatu dan pakaian di belakang tempat tinggalnya.
"Semuanya sudah berakhir sekarang. Satu persatu orang-orang yang sudah mengacaukan hidupku akan aku singkirkan, jadi bersiaplah," ucap Naira.
Gadis itu kemudian merapikan dan pergi menjenguk Khalif.
Setibanya di rumah sakit Nina langsung mempersilakannya masuk untuk menjenguk Khalif. Berbeda dengan Nina Dama justru langsung mengusirnya saat mengetahui Naira menjenguk putranya.
"Jangan pernah menemui putraku lagi karena aku tidak sedih jika Alif harus kembali lagi dengan perempuan sundal sepertimu," hardik Dama mendorong Naira keluar dari ruang perawatan Khalif
Wanita itu menyeringai saat menoleh kearah Dama. Ia mengepalkan tangannya sambil menatap tajam kearah Dama wanita yang selalu menentang hubungannya dengan Khalif selama ini..
"Aku pastikan kau akan menyesal telah memperlakukan aku dengan buruk selama ini Ibu. Sepertinya percuma saja aku berbuat baik kepadamu karena sampai kapanpun seorang sampah seperti dirimu pasti tidak akan bisa mengenali sebuah berlian yang ada di depanmu," tukas Naira kemudian meninggalkan ruangan itu.
Naira yang begitu kesal sengaja mengemudi kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Ia bahkan langsung membanting pintu apartemennya Setibanya di sana.
Wanita itu melampiaskan kemarahannya dengan memecahkan semua barang pecah belahnya ke lantai.
Setelah merasa cukup puas ia kemudian menghubungi seseorang dan bersiap-siap pergi untuk menemuinya.
Saat keluar dari apartemennya ia melihat Panji membuang sebuah box di tempat sampah yang membuat perempuan dua puluh tiga tahun itu begitu kepo.
Ia segera mengambil box hadiah yang masih terlihat baru itu dari tong sampah.
Naira begitu terkejut saat tahu isi box tersebut.
"Aish, aku kira isinya barang-barang berharga, tapi ternyata cuma sampah," ucap Naira
Saat ia hendak menaruh kembali box hadiah itu ke tempat sampah ia menemukan sebuah flashdisk yang tertinggal di box tersebut.
"Sepertinya dia lupa jika barang berharganya ikut terbuang bersama sampah,". Naira kemudian berniat untuk memberikan flashdisk itu kepada Panji.
Namun saat ia hendak mengetuk pintu apartemen Panji, suara ponselnya berdering.
Seorang pria mengabarinya jika ia sudah menunggunya di lobby. Katena terburu-buru ia pun memilih pergi dan mengembalikan flashdisk itu nanti.
__ADS_1