My Crazy Wife

My Crazy Wife
Bab 27


__ADS_3

"Sayang sepertinya malam ini aku gak bisa dinner bareng kamu,_" ucap Khalif merapikan pakaiannya


"Kenapa, apa kamu ada acara keluarga?" tanya Mutia bergelayut manja sambil merapikan pakaian Khalif


"Hmm, nenek memintaku untuk dinner dengan Nina," jawab Khalif


Seketika Nina langsung memasang wajah jutek dan memalingkan wajahnya darinya.


"Kenapa sih harus ada Nina yang selalu merebut semua yang aku mau!" seru Mutia dengan nada geram


Melihat Mutia merajuk, Khalif pun berusaha untuk menenangkannya.


"Siapa bilang Nina merebut aku dari kamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah berpaling darimu dan akan selalu setia padamu," ucap Khalif memeluknya dari belakang


"Baiklah kau boleh dinner dengan Nina tapi aku harus ikut," ucap Mutia kemudian membalikkan tubuhnya


"Bagaimana mungkin, gimana kalau Nina gak suka terus lapor ke nenek, itu bisa bahaya sayang,"


"Jangan sampai Nina tahu kalau aku datang bersamamu," jawab Mutia


Khalif mengangguk setuju setelah Mutia memberitahu rencananya. Keduanya kemudian bergegas pergi menuju ke restoran yang sudah dipesan oleh Mariyah.


Mutia sengaja memilih sebuah tempat yang agak jauh dari tempat Nina dan Khalif. Mengetahui mobil Nina memasuki halaman restoran, Khalif pun segera turun dan duduk manis di meja yang sudah dipesan.


Ia langsung melambaikan tangannya kearah Nina saat wanita itu memasuki bibir pintu restoran.


Seperti biasa Ia berusaha memperlakukan Nina bak seorang Ratu. Mulai dari menarikkan kursi untuknya, dan juga memotong-motong steak untuknya. Hal itu selalu membuat Nina tersanjung dan merasa menjadi wanita paling beruntung karena memiliki suami yang sempurna seperti Khalif.


Bagaimana tidak di matanya selain tampan dan tajir, Khalif juga adalah seorang suami yang romantis saat bersama dengannya, meski terkesan dingin.


Namun ia bisa memakluminya karena mereka kan belum lama mengenal dan masih baru menjadi pasangan suami istri jadi wajar saja jika kadang Khalif masih merasa canggung dan memperlakukannya dengan dingin.


Ia yakin lambat laun sikap dingin Khalif akan mencair dan berubah menjadi suami yang hangat.


Meskipun ia tengah bersama dengan Nina namun matanya terus tertuju ke arah ponselnya.


"Nin, aku ke toilet bentar ya," ujar Khalif saat menerima notifikasi pesan singkat dari Mutia


Lelaki itu buru-buru menghampiri Mutia dan menikmati menu makanan yang dipesannya. Mutia tak malu-malu saat menyuapi Khalif ataupun sebaliknya.


Semetara itu di saat bersamaan Panji tak sengaja melihat mereka berdua. Ia tak menyangka jika Mutia dan Khalif begitu dekat hingga mereka terlihat begitu bahagia saat menikmati kebersamaannya tanpa menghiraukan Nina yang tampak kebingungan karena Khalif tak kunjung kembali.


Setelah makanannya selesai Khalif kembali menemui Nina.


"Maaf ya lama, soalnya aku sembelit," ucap Khalif mencoba mencari alasan agar istrinya tak curiga dengannya

__ADS_1


"Oh begitu rupanya. Apa aku perlu membelikan obat pencahar di apotek?" tukas Nina yang begitu khawatir


"Tidak usah, sebenarnya aku masih ada stok di mobil hanya saja aku malas mengambilnya," jawab Khalif


Selesai makan Khalif meminta Nina untuk pulang lebih dulu. Ia beralasan jika dirinya masih memiliki pekerjaan yang belum terselesaikan.


Tanpa curiga Nina pun menurutinya.


Seperti biasa Khalif sengaja pulang larut untuk menghindari Nina.


Akan tetapi malam itu Nina masih terjaga tentu saja hal itu membuat Khalif kesal.


"Ah sial, kenapa dia belum tidur," gerutu Khalif


Nina segera bergegas menyambut kedatangan Khalif dengan mencium punggung tangannya.


"Kamu pasti capek ya, apa kamu mau minuman hangat?" tanya Nina


"Gak usah," tolak Khalif kemudian mengeluarkan laptopnya dan membukanya.


"Apa pekerjaan mu belum selesai?" tanya Nina


"Hmm," jawab Khalif singkat


"Gak usah, sebaiknya kamu istirahat saja. Aku gak mau nenek marah padaku karena kamu sakit, setelah bergadang menemani aku" tolak Khalif


Nina tak ada pilihan lain selain menuruti perintah suaminya.


Keesokan harinya Khalif sudah pergi ke kantor sebelum istrinya bangun.


Siang itu Nina ingin memberi kejutan kepada suaminya dengan membawakan bekal makan siang untuknya.


Namun sayangnya Nina harus kecewa karena Khalif baru saja pergi saat ia tiba di kantornya.


"Harusnya aku memberitahunya dulu jika aku akan datang jadi gak begini deh jadinya," keluh Nina


"Kenapa kau tidak menyusulnya saja," ucap Broto menghampirinya


"Memangnya dia belum pergi?" tanya Nina begitu sumringah


"Aku tadi masih melihatnya di parkiran," jawab Broto


"Kalau begitu aku pamit pergi dulu Pak" ucap Nina kemudian berlari menuju ke parkiran.


Namun terlambat karena Khalif sudah mengemudikan mobilnya meninggalkan parkiran.

__ADS_1


Nina tak menyerah ia kemudian meminta Panji untuk mengejar mobil Khalif agar ia bisa memberikan bekal makan siangnya.


Karena Khalif adalah mantan pembalap maka Panji pun tak bisa mengejarnya.


Panji menghentikan mobilnya saat melihat mobil Khalif terparkir di halaman sebuah apartemen mewah.


"Bukankah ini apartemen, lalu kenapa Khalif ke sini?" tanya Nina begitu curiga


Panji berusaha menahan Nina agar tidak turun dari mobilnya, namun wanita itu tetap bersikeras untuk melihat apa yang dilakukan suaminya di apartemen mewah tersebut.


Nina begitu terkejut saat melihat Mutia keluar dari mobil Khalif dan keduanya berjalan memasuki apartemen tersebut.


Nina tetap mengikuti mereka meskipun Panji sudah berusaha menahannya.


"Sebaiknya kita pulang saja nyonya, mungkin Tuan ada pekerjaan penting di sini hingga ia melewatkan makan siangnya," ucap Panji


"Tapi kenapa harus di apartemen. Itu benar-benar gak masuk akal. Mana ada seorang CEO menemui rekan bisnisnya di Apartemen, bukankah itu mencurigakan?" jawab Nina


Seketika Nina langsung merasa lemas saat melihat Mutia dan Khalif masuk ke sebuah apartemen mewah.


"Tidak mungkin, tidak mungkin mereka berdua ada affair bukan?" ucap Nina dengan mata berkaca-kaca.


Panji segera menarik Nina dan memeluknya saat melihat Mutia keluar dari apartemennya.


"Sayang kamu mau pesan yang rasa apa?" tanya Mutia dengan manja


"Sayang??" Nina tampak begitu kaget saat mendengar Mutia memanggil suaminya dengan panggilan sayang. Air matanya seketika menetes membasahi pipinya.


Wanita itu tak menyangka jika Khalif dan Mutia memiliki hubungan spesial.


Nina menangis tersedu-sedu dan memukul-mukul dadanya yang terasa perih saat mengetahui kenyataan pahit tersebut.


Meskipun demikian Nina masih berusaha tegar dan berpikir positif jika mungkin saja penilaiannya salah.


Namun rasa ingin tahunya membuat ia mendatangi kantor pemasaran dan menanyakan siapa pemilik apartemen tersebut.


Seperti di tusuk ratusan jarum, Nina merasa dadanya begitu sakit saat mengetahui apartemen tersebut adalah milik Mutia.


Ia berjalan sempoyongan saat meninggalkan apartemen mewah tersebut. Nina bahkan sengaja membuang bekal makan siangnya yang sudah ia buat spesial untuk Khalif.


Siang itu hujan turun begitu Deras, Namun Nina memilih berjalan di bawah deras hujan untuk menghilangkan kesedihannya.


Panji buru-buru berlari membawakan payung untuknya.


"Apapun yang terjadi Nyonya harus kuat," ucap Panji kemudian memberikan sapu tangannya kepada Nina

__ADS_1


__ADS_2